
“Jenderal Zhuo, Nyonya Arina, untungnya kalian selamat.” Turse menghela napas dengan lega melihat bahwa orang tua Zeno masih selamat.
“Zeno, di mana Zeno?” Arina berkata dengan panik, dia melihat teman-teman Zeno, namun tidak ada Zeno. Hal itu lah yang membuat Arina khawatir mengenai keberadaan Zeno, pasalnya, teman-teman Zeno pasti selalu bersama di dekat Zeno.
Sebelum Turse menjawab, dua orang tiba-tiba mendarat tepat di hadapan mereka semua. Hal itu membuat Zhuo dan yang lainnya menjadi bersiaga, Zhuo melakukan itu karena dia merasa bahwa dua orang yang ada di hadapannya tampak asing. “Lyana, Turse, Selena dan kau Nora, sebaiknya kau mundur. Bawa ibu Zeno pergi dari sini.”
Zhuo menghela napas dan memasang kuda-kuda, tampaknya Zhuo benar-benar sangat yakin, bahwa dua orang yang ada di hadapannya merupakan pelaku utama dari kehancuran ini. Dia hanya bisa menggertakkan giginya dan emosi, karena pesta yang seharusnya berakhir dengan baik, justru berakhir dengan kehancuran.
“Elderic, sepertinya kita harus membunuh orang ini terlebih dahulu.” Kata Alie begitu dingin menatap Zhuo yang cukup berani menghadangnya.
“Sebaiknya kau membunuh mereka berempat, jangan biarkan mereka kabur.” Elderic mengangkat pedangnya dan bersiap untuk melawan jenderal Zhuo, sedangkan Alie, dia hanya menghela napas kesal karena diperintah untuk membunuh anak-anak dan satu orang wanita dewasa yang sepertinya tidak memiliki kemampuan apapun.
Melihat Alie yang melesat ke arah Arina yang dibawa lari oleh Turse dan yang lainnya, Zhuo memunculkan sebuah es yang mencengkram kaki Alie. Tapi sayangnya, Zhuo terlempar begitu jauh saat menahan pedang Zhuo yang tiba-tiba muncul dari sisi kanan.
Alie segera menghancurkan es yang menjerat kakinya dengan mudah, kemudian dia melesat ke arah Arina dengan menjulurkan tombak kegelapannya.
Turse dan Lyana berhenti sejenak, mereka berbalik badan dan memutuskan untuk melawan Alie yang sudah mendekat dengan cepat. Sedangkan Nora dan Selena, mereka masih membawa Arina pergi menjauh dari medan pertempuran.
“Kemampuanku adalah panahan, aku akan mundur lima langkah untuk membantumu berhadapan langsung dengan wanita itu. Apakah kau setuju? Namun sebelum itu, aku akan menembakkan racun pelumpuh untuknya.”
Lyana mengangguki apa yang di ucapkan oleh Turse. Walaupun mereka berdua baru mengenal, tapi mereka yakin untuk bisa bekerja sama mengalahkan wanita yang tidak lain merupakan Alie.
__ADS_1
Turse menembakkan satu anak panah sebelum dia mundur lima langkah. Di tambah Lyana yang menebaskan sebuah energi angin berbentuk bulan sabit ke depan untuk menyerang Alie.
Di ujung tombak Alie, muncul sebuah lubang hitam yang menyerap serangan Lyana, bahkan anak panah es diserap dengan mudah oleh lubang hitam tersebut.
“Apa?” Turse ternganga seolah tidak percaya, tidak mungkin elemen diserap dengan mudah itu. Mungkin hanya satu kemungkinan yang masuk akal, yang mana menurutnya musuh memiliki elemen kegelapan. Untuk memastikan hal tersebut, Turse menembakkan panah berulang kali ke arah Alie, begitu juga dengan Lyana yang berlari ke arah Alie untuk menyerang secara langsung.
>>//<<
Aurrora dan Fang Tan bernapas dengan tidak teratur, dia tidak menyangka bahwa musuh yang dia hadapi benar-benar sangat kuat. Bahkan Aurrora harus terluka pada bagian lengan karena pedang milik musuh mereka, yaitu pedang Imora yang memiliki kegelapan yang sangat pekat.
“Sial, bertarung dengan gaun benar-benar sangat merepotkan.” Aurrora berdecak kesal, dia memandangi suaminya di belakang yang benar-benar sudah sangat kritis.
“Bodoh, kau akan mati dibuatnya. Kakek mu bisa bertahan setidaknya setengah hari. Dan kita akan mengalahkannya.”
Seluruh orang saat ini berada dalam masalah besar, bahkan Zabuto mengeluarkan pasukan aliansi untuk menyerang pasukan milik Yin shan yang juga ikut menyerang. Mereka sungguh tidak menyangka, bahwa negara Api benar-benar melakukan peperangan tanpa melalui deklarasi. Mereka juga tidak menyangka, bahwa negara Api mempunyai seseorang yang berasal dari benua luar untuk menyerang benua lima negara.
Apalagi pasangan suami istri yang baru saja resmi menikah, sang kaisar negara petir, yaitu Rouya harus bersedih setelah melihat ibunya tidak tersadarkan diri. Di sisi lain, dia dan Yuna harus berhadapan dengan wanita yang ujung bibirnya memiliki bekas luka robek yang tidak lain merupakan Azela.
Terutama Zeno saat ini, tidak ada teman, namun harus berhadapan dengan pemimpin utama mereka, yaitu Danze. Yaah walaupun bisa dibilang Zeno saat ini sedang di bantu oleh Kiba, tetapi mereka berdua cukup kesulitan untuk melawan Danze.
Beberapa menit yang lalu, Zeno juga mengeluarkan naga kembarnya untuk membantu Genbu untuk melawan Gryphon. Bagaimanapun, Genbu sangat dirugikan saat melawan Gryphon yang terbang, sehingga mengeluarkan Kirin dan juga Uron yang bisa terbang cukup untuk membantu Genbu.
__ADS_1
“Tebasan kegelapan tahap kelima, tebasan pemecah bulan..”
“Tebasan tak terlihat, tahap ke empat.”
Danze dan Zeno, keduanya sama-sama melancarkan tebasan mereka ke depan. Sayangnya Zeno benar-benar sangat dirugikan, memang, tebasan kegelapan milik Danze berhasil di tahan oleh Ice Sword, sehingga tidak berhasil menebas tubuhnya, tapi lagi-lagi dia terpental jauh. Sedangkan tebasan tak terlihat bisa di tahan dengan mudah dengan pedang yang dilapisi oleh sebuah kegelapan milik Danze tanpa terlempar.
Kiba melesat ke belakang Danze untuk menyerangnya dari belakang, sedangkan Zeno, dia segera berdiri dan menyerang Danze dari arah depan. Namun sebelum itu, dia melancarkan beberapa teknik pembantu untuk melemahkan Danze terlebih dahulu.
“Earthquake.”
Sebuah gempa muncul, Danze tidak bisa menjaga keseimbangan, sedangkan di belakangnya, terdapat Kiba yang sudah mengeluarkan cakar dan gigi taring yang tajam. Walaupun begitu, dia masih cukup tenang, dia mengeluarkan sebuah tali kegelapan yang menjerat kaki Zeno dan tubuh Kiba.
“Dasar bodoh ...!” Danze menarik tali kegelapan dan berusaha membenturkan Zeno dan Kiba secara bersamaan.
Zeno terkejut, dia segera menarik tali kegelapan itu untuk kembali menyeret Danze sebelum dirinya bertabrakan dengan Kiba. Sayangnya, Zeno tidak bisa memegang tali tersebut. Hal itu membuatnya menggertakkan giginya sebelum beberapa detik dia dan Kiba berbenturan.
Zeno yang terjatuh di sebelah Kiba segera berdiri, begitu juga dengan Kiba. Walaupun tubuh mereka merasakan sakit yang luar biasa, setidaknya mereka tidak menyerah untuk mengalahkan Danze. Gempa yang dibuat Zeno juga berakhir, dia juga merasa bahwa teknik ini akan sia-sia di hadapan musuh.
Zeno mengatur napasnya, dia berpikir sejenak untuk mengalahkan Danze. Berkali-kali berniat mengalahkannya, namun tidak berhasil. Bagaimana tidak, semenjak tadi, Zeno belum berhasil menggores Danze sedikitpum. Hal itulah yang membuat Zeno benar-benar kesal karena musuh yang dia hadapi benar-benar sangat kuat.
Danze tidak tinggal diam, ujung pedangnya memunculkan sebuah kegelapan yang memanjang. “Matilah, kemampuan kita berbeda jauh” Danze berkata dengan santai, pedang yang memanjang karena kegelapan dia arahkan ke arah Zeno tanpa adanya rasa kasihan sama sekali.
__ADS_1