Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Penculikan Turse


__ADS_3

Saat ini Turse sedang duduk dengan tubuhnya yang dicekam oleh Golden Ring yang bercahaya sehingga dia tidak bisa bergerak. Dengan mulutnya yang terikat sebuah kain membuat dirinya tidak bisa berteriak. Memang, saat ini Turse tidak ada hasrat untuk berteriak atau meminta tolong, dia hanya menatap kebencian kepada keluarga inti Forjen yang memandangnya dengan sinis.


Di hadapan Turse, terdapat seorang kaisar dengan mahkota emasnya yang bercahaya, jubah berwarna yang menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang kaisar. Apakah Turse saat itu takut berhadapan dengan seorang kaisar? tentu saja tidak, hal itu cukup membuat kaisar Hang Forjen merasa sedikit geram.


Selain kaisar Hang Forjen, disampingnya terdapat Fathurt Forjen yang merupakan kakak Hole yang sedang memeluk ibunya yang tengah menangis saat mendengar anaknya, Hole telah terbunuh. Terlihat sehat, tidak seperti apa yang Hole katakan, bahkan ibunda Hole tidak memiliki luka apapun yang membuat Turse ingin memukul mulut Hole sekali lagi.


Tidak hanya keluarga inti yaitu kaisar, ibu Hole dan kakak Hole, namun ada beberapa anggota keluarga Forjen lainnya yang mengepalkan tangannya dan ingin sekali untuk menghabisi Turse.


“Buka ikatan di mulutnya!” Hang Forjen memerintah.


Seorang prajurit yang ikut berkumpul langsung melangkahkan kakinya dan melepaskan ikatan kain di mulut Turse.


Turs bernapas lega, saat ikatan tersebut di buka. Namun sepertinya dia akan menghadapi sebuah masalah baru yang akan membuatnya merasa kerepotan. Entah, dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya, akan tetapi dirinya masih tidak memiliki ketakutan sama sekali. Berharap Zeno datang untuk menyelamatkannya? Tentu saja Turse tidak ingin menjadi seorang wanita manja, selama dia bisa berusaha sendiri, kenapa harus menunggu bantuan lain? Walaupun dia sedikit yakin bahwa Zeno akan menolongnya.


Setidaknya, dia tidak akan mengandalkan bantuan Zeno. Kali ini dia akan mencoba untuk melawan apabila dia akan disakiti. Tidak peduli di hadapan keluarga bangsawan atau tidak, dia juga perlu mempertaruhkan harga diri walaupun nyawa balasannya.


Tiba-tiba, Hang Forjen langsung memukul wajah Turse hingga bibirnya mengeluarkan darah. Pria paruh baya itu sepertinya tidak peduli, apakah di hadapannya seorang wanita atau bukan. Benar-benar tidak memiliki hati nurani sama sekali.

__ADS_1


“Apakah menurutmu seseorang yang mencelakai putra kaisar akan dibiarkan hidup begitu saja?” Hang Forjen menggertak, dia ingin melihat apakah Turse masih cukup berani saat digertak oleh seorang kaisar?


“Siapa peduli? Anakmu bahkan lebih buruk dari sampah. Mengatakan bahwa ibunya sakit parah, padahal kenyataannya?” Turse meludah di lantai istana kekaisaran.


Melihat hal itu, seluruh keluarga Forjen dan para prajurit yang melihatnya cukup terkejut saat melihat sebuah keberanian yang dilakukan oleh seorang wanita. Yaitu perkataannya yang tidak begitu enak di dengar oleh kaisar, serta tindakannya yang meludah di lantai istana kekaisaran membuat kaisar seolah diremehkan.


Hang Forjen memperhatikan ludahan Turse, wajahnya menjadi begitu buruk saat lantai istana di kotori dengan ludah yang begitu menjijikkan. Tentu saja Hang Forjen langsung berdiri dan menampar Turse berulang kali, hingga menyebabkan bibirnya lebam.


“Dasar wanita j*l*ng. Apa kau tahu? Harga dirimu tidak cukup untuk membayar para pelayan yang membersihkan istana ini. Aku ingin kau menjilati ludahmu kembali hingga bersih!” Hang Forjen memegang kepala Turse dan mendorongnya hingga ke lantai tepat ludah Turse itu berada.


Turse hanya bisa menggertakkan giginya, dia masih berusaha melepaskan Golden ring di tubuhnya yang membuat dirinya tidak bisa bergerak. Wajahnya yang menghadap ke lantai meneteskan darah dari bibirnya yang lagi-lagi mengotori lantai kekaisaran.


Turse terbaring di lantai, wajahnya penuh luka akibat pukulan dari sang kaisar. Dia sebenarnya ingin mengeluarkan Atsuba, namun sepertinya golden ring tersebut diciptakan tidak hanya untuk membuat seseorang tidak bisa bergerak, melainkan memang digunakan agar seseorang yang dicekam dengan golden ring tidak bisa memunculkan beast mereka.


Hal tersebut cukup membuat Turse merasa benar-benar kesal. Apa yang harus dia lakukan? Golden ring yang ada di tubuhnya membuat pergerakannya terbatas, dan kesulitan untuk mengeluarkan elemen, apalagi elemen yang digunakan sebagai panahan seperti Turse. Namun, dia mencoba untuk berdiri, walaupun kakinya juga dicekam oleh Golden Ring, wajahnya menunjukkan bahwa dirinya benar-benar emosi dengan kelakukan kaisar yang menunjukkan sikap tidak bijaksana.


“Hey kaisar! apakah kau sangat lemah, sehingga menyerang seseorang yang pergerakannya terbatas seperti ini? Jika kau berani maka lawan aku tanpa alat pembatas pergerakan apapun!” Turse tersenyum dengan lebar.

__ADS_1


“Cih, apakah aku bodoh? Tentu saja saat aku melepaskan segel golden ring, kau akan lari.” Kaisar Hang berjalan ke arah Turse sambil mengepalan tangannya dengan niat memukul Turse kembali. Tidak, kali ini Hang tidak hanya berniat memukul Turse, namun membunuhnya. Terlihat dari kepalan tangan Hang yang bercahaya seolah memiliki kekuatan yang mengerikan saat dipukulkan sesuatu.


“Ayah cukup!” Faturt berteriak, dia sepertinya memiliki ide lain selain menghukum seseorang yang mencelakai adiknya dengan sebuah kekerasan. Namun dia tidak tahu, apakah ibunya akan mengizinkan ide yang dia berikan.


“Jangan bunuh dia terlebih dahulu. Biarkan aku mencicipinya untuk satu malam.” Faturt tersenyum lebar.


Hang hanya menghela napas, dia kemudian mengurungkan niatnya untuk membunuh Turse dalam sekejap. Setidaknya kali ini dia ingin menuruti permintaan anaknya, agar anaknya bisa mencicipi seorang wanita untuk satu malam. Apalagi, anaknya yang sudah tumbuh dewasa, jadi kaisar hanya mewajarkan saja, apalagi dia menganggap bahwa Turse merupakan wanita murahan.


Sedangkan ibu Faturt, dia pergi meninggalkan mereka karena ada sesuatu yang penting, yaitu menangisi kematian anaknya. Tentu saja, dia juga tidak peduli apakah Faturt melakukan hal yang aneh-aneh, lagipula dia sudah beranjak dewasa.


“Hey.” Teriak Turse, “Aku sarankan kalian tidak melakukan apa yang kalian pikirkan. Sudah, hal yang paling baik adalah membunuhku jika nyawa kalian masih bisa selamat.” Turse berkata dengan serius, “Aku katakan sekali lagi, dibandingkan dengan merusakku, aku sarankan kalian untuk membu ....” Turse tidak bisa melanjutkan ucapannya, pasalnya mulutnya kembali diikat dengan sebuah kain.


Kemudian Turse dibawa oleh prajurit mengikuti Faturt, lebih tepatnya menuju kamar Faturt. Sebenarnya Turse berusaha untuk memberontak, namun semakin dia memberontak, Faturt semakin menambah golden ring yang mencekam tubuh Turse dengan begitu erat.


Turse menatap salah satu prajurit yang terdiam sambil menyipitkan matanya memperhatikan Turse, dia juga melihat bahwa tangan prajurit tersebut mengeluarkan sebuah sambaran petir. Namun, Turse memberikan sebuah isyarat agar prajurit tersebut tenang dan tidak membuat kerusuhan terlebih dahulu.


Prajurit tersebut mengangguk, kemudian dia menghilangkan efek petir di tangannya dan pergi meninggalkan tempat. Dengan perasaan yang sedikit marah, dia membatin, “Persetan dengan tugas mata-mata, sebaiknya aku akan kembali dengan tangan kosong, namun segera melaporkan kejadian tersebut kepada tuan.”

__ADS_1


Namun, saat kakinya melangkah beberapa langkah, dia tersenyum lebar dan melanjutkan apa yang dia batin, “Tidak, sepertinya akan ada sebuah pertunjukkan besar di kekaisaran ini.”


__ADS_2