
Turse kali ini diikat di sebuah kursi dengan Faturt yang telanjang dada dan duduk di ranjang tidurnya. Dia hanya bisa tersenyum sambil menatap penuh nafsu Turse yang membuat Turse sendiri merasa sangat jijik. Turse juga berusaha memberontak dari cengkraman golden ring yang semakin menyusut.
Faturt berdiri dan berjalan ke arah Turse. Walaupun wajah Turse dipenuhi dengan sebuah luka lebam, namun Faturt seakan tidak peduli. Wajar, begitulah apabila seseorang sudah bernafsu. Tidak peduli kondisi orang tersebut.
Turse masih memberontak, namun sekuat apapun dia memberontak, golden ring semakin mencekamnya dengan begitu erat yang membuat dirinya merasa kesakitan. Kakinya juga dicengkram oleh golden ring yang membuat dirinya tidak bisa menendang Faturt.
Faturt mencoba menyentuh wajah Turse yang lebam akibat pukulan dari sang kaisar dengan tangannya. Selain itu, dia juga melakukan hal yang sangat menjijikkan, mengusap sebuah darah yang keluar dari wajah Turse dan menjilatnya dengan penuh nafsu.
Tentu saja, Turse sebenarnya ingin muntah, tetapi karena mulutnya yang diikat oleh sebuah kain, dia kesulitan untuk melakukan hal tersebut. Merasa serba salah, banyak bergerak untuk memberontak akan membuat ring golden tersebut mencengkram Turse semakin erat, namun jika dia tidak bergerak, dia seperti tidak berusaha untuk mempertaruhkan harga dirinya.
“Aku akan mencoba melepaskan bajumu.” Faturt berbicara. Dia mulai mengambil belati di meja belakang Turse dan hendak merobek baju yang Turse kenakan.
Namun, Faturt tidak menyangka, sebuah sambaran petir tiba-tiba masuk melewati jendela kamarnya, bahkan dinding yang melekat pada jendela kamar harus hancur akibat sambaran yang dahsyat tersebut. Tidak, Faturt tersadar bahwa itu bukan sambaran petir biasa, melainkan seseorang yang masuk dengan cepat sambil meninggalkan sebuah jejak sambaran petir.
Dan tentunya apa yang dia pikirkan benar, seseorang kini telah berada di depannya sambil mengayunkan sebuah pedang berwarna biru. Secara spontan, Faturt langsung mengangkat belatinya untuk melindungi dirinya dari pedang tersebut.
“Bodoh!” Seseorang yang tidak lain merupakan Zeno berteriak sambil mengayunkan pedangnya tanpa berpikir lebih panjang lagi.
Faturt langsung berteriak dan melompat ke belakang, belati yang dia pegang terlempar di saat berhadapan dengan Ice Sword. Namun, dia berteriak bukan karena belati tersebut terlempar dan membuatnya ketakutan, namun lenganya putus dengan kondisi masih memegang belati yang digunakan untuk melawan Zeno.
__ADS_1
Lebih tepatnya, Ice Sword yang Zeno ayunkan berhasil memutuskan lengan Faturt hingga dia terkejut dan secara spontan melompat ke belakang, dengan menumpahkan banyak darah yang membuat Faturt tidak bisa berhenti untuk berteriak karena kesakitan. Zeno melangkahkan kakinya menuju Faturt, namun dari luar kamar ada beberapa prajurit yang mencoba untuk mendobrak kamar Faturt.
Tentu saja Zeno tidak diam saja, dia berbalik badan dan mengulurkan tangannya ke arah pintu yang sebentar lagi hancur. Kemudian tidak menunggu lama, Zeno langsung mengeluarkan sebuah sambaran petir, pusaran angin dan juga air secara bergiliran ke arah pintu tersebut.
Mungkin tidak hanya pintunya yang hancur, namun beberapa prajurit juga terkapar lemas dengan beberapa dari mereka hangus terkena sambaran petir. Benar-benar, sepertinya kali ini Zeno sudah tidak memiliki ampun lagi kepada kekaisaran ini.
Kemudian Zeno menciptakan sebuah segel tangan menggunakan salah satu tangannya, hal tersebut membuat Zerno mengeluarkan lima klon dirinya yang bergerak keluar dari kamar Turse. Tidak hanya itu saja, mungkin kali ini Zeno lebih dianggap seperti orang gila, bahkan Faturt yang melihatnya berhenti berteriak dengan wajah pucat seputih kertas.
“Baru kali ini aku mengeluarkan tiga beast secara bersamaan tanpa menunggu seorang musuh mengeluarkan sebuah beast.”
Benar. Baik itu Kiba, Skarlos, maupun Azure, keduanya keluar dengan wujud yang sedikit besar. Bahkan ukuran Genbu sanggup membuat langit-langit kamar hancur, di sertai lantai kamar yang retak. Kemunculan Azure juga sempat membuat kamar Faturt kebanjiran karena air dengan volume besar muncul di saat Azure muncul.
“Baik tuan.” Jawab serentak mereka bertiga.
Seketika dinding kamar Faturt hancur sepenuhnya disaat ketiga beast Zeno keluar dengan amukan yang tidak biasa. Bahkan tuan dari mereka, yaitu Zeno seolah mengamuk dengan emosinya yang sudah tidak terkontrol lagi.
Zeno kembali berbalik badan, melihat kondisi tubuh Turse yang sangat buruk, padahal baru beberapa menit dia baru saja di culik. Hal tersebut membuktikan bahwa kekaisaran ini sedikit kejam dari apa yang Zeno pikirkan.
“Apa yang kau lakukan kepada Turse?” Tanya Zeno kepada Faturt dengan suara yang menggema.
__ADS_1
“Aku bersumpah, bukan aku yang membuat wanitamu itu terluka.” Kata Faturt dengan ragu, bahkan dia bergetar hebat saat melihat mata Zeno menyala seperti monster yang hendak mengamuk.
Zeno berjalan ke arah Faturt dan menginjaknya tepat di luka lengannya yang putus. Tentu saja, Zeno menginjaknya berulang kali sehingga darah di luka tersebut keluar dengan begitu deras. Selain itu, Faturt juga semakin berteriak kesakitan hingga Zeno merasa begitu risih. Sehingga, apa yang Zeno lakukan adalah menusuk pipi Faturt hingga menembus pipi sebelahnya. Hal itu, membuat Faturt berhenti berteriak karena mulutnya yang hancur. Mungkin dia masih bisa berteriak karena pita suaranya yang masih ada, tetapi karena mulutnya yang digunakan untuk berteriak merasa sangat sakit.
“Apa kau bilang? Bukan kau tidak membuat Turse terluka? Lantas kenapa kau bertelanjang dada dan mengikat Turse di kamarmu?” Zeno kembali menarik pedang yang menancap di pipi Faturt, kemudian tanpa rasa kasihan dia langsung menusuk milik Faturt yang membuat Turse melihatnya secara reflek memejamkan matanya karena itu dirasa mengerikan.
“Aku tidak akan membunuhmu sekarang juga.” Sambungnya dengan begitu dingin.
Zeno kemudian menghampiri Turse yang sedang dicengkeram lima buah golden ring yang sangat erat. Bahkan Turse kesulitan untuk bernapas karena perutnya yang tertekan oleh eratnya golden ring.
Hal yang pertama Zeno lakukan adalah membuka kain yang ada di mulut Turse. Kemudian, dia menghancurkan Golden ring menggunakan Ice Sword agar Turse terbebas kembali dan bisa bergerak.
Zeno menghela napas lega, saat melihat Turse yang berdiri dan tidak menunjukkan luka yang cukup serius. Mungkin hanya pipinya dan bibirnya yang lebam karena pukulan dari sang kaisar yang begitu kasar.
“Terima Kasih tuan, maaf karena telah merepotkanmu.” Zeno membersihkan darah yang ada di wajahnya menggunakan tangan.
“Tidak masalah. Sekarang apa yang kita lakukan adalah memberikan sebuah malam terakhir untuk kekaisaran ini.” Ujar Zeno dengan serius.
Turse mengangguk, kemudian dia mengeluarkan sebuah busur panah yang muncul di tangannya. Kemudian dia berbalik badan sambil menarik tali busur dengan panahnya yang tercipta dari embun es. Tentunya, dia melepaskan panah tersebut untuk memanah kaki tangan Faturt yang tersisa, hingga Faturt tidak bisa bergerak.
__ADS_1