
Walaupun pria tua itu meminta dirinya dibunuh, tetapi saat ia diserang Selena, ia juga menghindari serangan Selena. Hal tersebut membuat Selena tidak habis pikir dengan tingkah pria tua itu.
"Kakek tua, apa maksudmu? Jika kau ingin dibunuh maka menyerahlah, bukan malah menghindar semua serangan ku." Teriak Selena.
"Memang, aku ingin kalian membunuhku, tetapi rasanya itu terlalu mudah jika tidak ada perlawanan." Kata pria tua dengan tawa yang begitu keras.
Sedangkan Zeno, dia diam dan hanya melihat pertarungan Selena dan pria tua setelah Sambaran petir itu berhenti. Bagaimanapun juga ia tidak tertarik untuk membunuh pria tua, karena seharusnya pria tua itu harus tetap hidup dan menjaga reruntuhan ini. Karena reruntuhan ini termasuk bagian dari artefak kuno yang masih ada di negeri petir.
Selain itu juga, dia juga tertarik untuk melihat pertarungan Selena dan pria tua itu sendiri. Hal itu membuat Zeno tak henti-hentinya untuk memuji Selena yang memang pandai bermain pedang.
"Hey anak muda! Apa kau tidak ingin membunuhku?" Sahut pria tua itu sambil sibuk menghindari serangan pedang Selena.
"Aku tidak tertarik sama sekali untuk membunuhmu. Ketahuilah pak tua, kau sebenarnya harus hidup sampai kau mati karena rusaknya dirimu, karena reruntuhan ini harus kau jaga!"
"Memangnya apa apa di reruntuhan seperti ini? Bukankah ini hanya sebuah kediaman terbengkalai yang tidak ada apa-apa?" Jawab pria tua itu.
Zeno menghela napas panjang, kemudian ia berkata, "Sangat disayangkan apabila reruntuhan yang ada semenjak ratusan tahun yang lalu tidak ada yang menjaga, bukankah ini akan menjadi artefak kuno negara petir?"
"Setidaknya cerita mengenai anak kecil yang membantai keluarganya sendiri bukanlah dongeng belaka, sebuah reruntuhan ini, serta dirimu yang menjaga, merupakan sebuah bukti yang kuat bahwa dongeng itu nyata."
"Lagipula, itu akan menjadi pelajaran bagi anak-anak muda, bahwa kesombongan bukanlah hal yang perlu diperlihatkan, kesombongan tidak akan pernah abadi. Bukankah begitu Sura Zanfal?"
Pria tua itu terkejut setelah Zeno berkata-kata dengan menyebut namanya, ia begitu bingung, bagaimana Zeno bisa tahu namanya adalah Sura? Padahal semenjak tadi, pria tua yang bernama Sura tidak pernah memberitahukan namanya sama sekali.
Kebingungan itu, membuat Sura begitu lengah. Akibatnya, sebuah tebasan berhasil Selena daratkan pada bagian lengan Sura, sehingga Sura nampak kaget dan sempat meloncat kebelakang.
Darah segar mengucur keluar dari lengan Sura, menandakan bahwa ia memang seorang manusia dan bukan roh, karena pada dasarnya, roh tidak akan bisa mengeluarkan darah sama sekali.
__ADS_1
"Bagaimana kau bisa tahu namaku?" Tanya Sura dengan memegang lengannya.
Walaupun Sura diam ditempat, Selena tetap melangkahkan kakinya dan mengayunkan pedangnya ke arah Sura.
"Selena hentikan!" Teriak Zeno.
"Apa? Dia hanya akan menghambat kita untuk keluar dari sini." Kata Selena yang sekejap berhenti setelah Zeno berteriak.
"Tahan pedangmu itu." Sahut Zeno.
"Sura, itulah nama yang aku lihat sekejap di sebuah lembaran, aku tidak sengaja menemukan lembaran tersebut saat menelusuri reruntuhan ini." Kata Zeno.
"Menurut lembaran, Sura adalah anak yang sangat kurang berbakat dalam menguasai dua elemen bawaan keluarga Zanfal, hal tersebut membuat keluarga Zanfal sebagai keluarga terkuat malu. Tetapi demi menutupi itu, seluruh keluarga Zanfal melakukan eksperimen kepada Sura, yaitu memasukkan seekor beast kepada Sura secara paksa." Sambungnya dengan menatap serius pak tua Sura.
"Entah bagaimana kau bisa membunuh keluarga Zanfal yang pasti itu karena dendam, aku tidak tahu itu. Tetapi itulah mengapa kau dan beast mu seakan-akan tidak memiliki kepedulian satu sama lain, karena di antara kalian berdua menjalani kontrak tidak dari dalam hati, tetapi karena paksaan." Kata Zeno yang masih menyambungkan ceritanya.
"Itu sudah lama sekali, sekitar ratusan tahun yang lalu, jadi apa gunanya cerita seperti itu." Sahut pak tua Sura.
"Jadi apa maksudmu menceritakan itu kepadaku?" Tanya pak tua Sura dengan mengerutkan kepalanya.
"Tidak ada, tetapi apa kau tahu? Ada catatan kecil di belakang lembaran. Kau ingin tahu?" Tanya balik Zeno.
Sebelum Sura membuka mulutnya, Zeno malah terlebih dahulu menjawab pertanyaannya nya sendiri.
"Sura anak yang malang, Sura anak yang kuat, walaupun Sura tidak berbakat seperti yang lainnya, tetapi Sura anak yang sabar. Sura harus hidup walaupun seseorang ingin membunuh Sura, ibu akan selalu berada di samping Sura." Kata-kata Zeno berhasil membuat pak tua Sura berkaca-kaca.
Pasalnya, semenjak ratusan tahun ia menjaga reruntuhan ini, ia tidak pernah menemukan sebuah lembaran yang berisi kata-kata seperti itu. Padahal, seluruh lembaran, gulungan teknik semuanya sudah habis lapuk termakan waktu.
__ADS_1
Sura tidak bisa menganggap bahwa cerita Zen adalah kebohongan, karena saat ia kecil, ia memang pernah mendengar kata-kata itu dari ibunya sendiri saat dirinya hampir terlelap tidur.
"Jadi kau harus tetap hidup pak tua, itu kata-kata ibumu bukan? Ibumu akan merasa sedih jika kau tidak berhasil hidup apabila ada orang yang ingin membunuhmu." Tegas Zeno kepada pak tua Sura.
Mata pak tua Sura meneteskan air matanya, air mata yang membasahi pipi, bahkan sampai janggutnya sanggup membuat Selena tersentuh.
Pak tua Sura kemudian menghampiri Selena secara perlahan-lahan, entah apa yang Sura itu lakukan, tetapi itu membuat Selena bersiaga dengan menggenggam erat pedangnya kembali.
Sura dengan sigap memegang pedang yang Selena genggam, anehnya Sura memegang tepat pada besi pedang tersebut, sehingga membuat tangan Sura berdarah. Tidak hanya itu saja, Sura juga menusukkan pedang Selena ke arah perutnya sendiri.
"Kakek tua, apa yang kau lakukan?" Teriak Selena begitu terkejut setelah apa yang Sura lakukan.
Tidak mau berhenti, Sura justru semakin mendorong dirinya, sehingga pedang yang Selena pegang berhasil menembus perut pak tua Sura.
"Pak tua, hentikan!" Teriak Zeno yang kemudian berlari ke arah Selena dan juga Sura.
Selena kini berusaha menarik pedangnya agar tidak dimainkan Sura untuk melukai dirinya sendiri, tetapi genggaman pak tua Sura sangat kuat, sehingga Selena tidak bisa menarik pedangnya.
Ketika Zeno sampai ke arah Sura dan Selena, Sura tergeletak dengan keadaan perut robek parah, bahkan organ dalam nya juga sangat terlihat jelas.
"Pak tua, apa yang menyebabkan kau melakukan ini." Kata Zeno menundukkan kepalanya, ia nampak terlihat sedih dengan kematian Sura.
Sesosok anak kecil keluar dari tubuh Sura, anak kecil itu melayang ke udara dengan tersenyum kepada Zeno dan juga Selena. Bisa dibilang bahwa anak kecil tersebut merupakan roh pak tua Sura.
Anehnya lagi, di samping roh Sura, perlahan muncul sebuah roh wanita yang sangat cantik, ia muncul dengan memeluk tubuh kecil Sura. Sura yang melihat itu juga membalas pelukan wanita itu.
"Selena, apa kau melihatnya?"
__ADS_1
"Yaa aku melihatnya."
Keduanya tampak meneteskan air mata melihat Sura yang memeluk rindu wanita dengan sebuah selendang di pundaknya. Perlahan, kedua roh tersebut menghilang meninggalkan Zeno, Selena serta jasad Sura sendirian.