Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Kemarahan Turse kepada Zeno


__ADS_3

Tepat sampai berada di wilayah Ampera Empire, Kirin benar-benar terkejut dan membuka mulutnya saat melihat bahwa istana kekaisaran sudah tidak berbentuk lagi. Lebih tepatnya, sudah hancur lebur beserta mayat-mayat yang terbunuh secara tidak wajar.


Mungkin yang terlihat adalah orang-orang dari pihak kerajaan provinsi yang merupakan bagian dari wilayah Ampera, para duke yang ada di dekat istana kekaisaran, serta warga yang kaget dan tahu saat mengetahui bahwa istana Ampera empire sudah tidak ada dalam waktu satu malam.


“Tunggu sebentar, Uron menghancurkan istana kekaisaran seorang diri?” Kirin berpikir dengan ragu. Masalahnya, tidak mungkin saudara kembarnya memiliki kemampuan di luar nalar seperti ini. Yang pasti, jika itu benar-benar terjadi, Kirin akan menghancurkan Nuvoleon karena keiriannya kepada Uron yang dapat menghancurkan istana beserta kekuasaannya.


“Lebih baik aku kembali kepada tuan terlebih dahulu. Lagipula, aku tidak percaya bahwa Uron melakukan hal tersebut.” Batin Kirin sambil memutuskan untuk menuju kekaisaran Nuvoleon.


Selain itu, dia juga menghela napas lega, membuang pikiran apakah yang meruntuhkan kekaisaran itu adalah Uron atau bukan? Yang paling penting, tuannya, yaitu Zeno sudah tidak memiliki urusan lagi di benua 99 cahaya karena masalah sebelumnya dengan dua kekaisaran yaitu Ampera dan Lumenlus empire.


......


Matahari memunculkan wujudnya di ufuk timur, Turse masih mengepal tangan Zeno yang kasar dan menunggu dia bangun. Tentunya, dia juga masih sedikit meneteskan air mata, yang membuat matanya memerah.


“Zeno bangunlah!” Turse memejamkan matanya, dia berkata seperti itu secara berulang kali semenjak Zeno pingsan. Anehnya, Turse tidak menyelipkan kata tuan sama sekali. Sehingga saat aneh apabila Zillie yang menemaninya mendengar perkataan tersebut.


“Apa kau bilang?”

__ADS_1


Tiba-tiba saat Turse memejamkan matanya, dia mendengar suara dari depannya yang membuat dirinya reflesk membuka matanya karena mengenal suara tersebut. Tentu saja, dia seketika tersenyum saat melihat Zeno sudah sadar dari pingsannya dengan menatap Turse tanpa berekspresi.


Spontan, Turse langsung duduk tegak dan langsung mengusap air mata dari kedua matanya seolah dirinya menunjukkan kepada Zeno bahwa dia tidak sedih sama sekali. Sama seperti Zeno, Turse juga memasang wajah tanpa ekspresi sama sekali sambil berkata, “Emm, maafkan aku, maksudku Tuan bangunlah.”


“Apanya? Kau bahkan berulang kali mengatakan Zeno bangunlah tanpa menyelipkan kata tuan.” Zillie memutar matanya sambil tersenyum tipis.


“Tidak, nona Zillie berbohong. Bagaimana mungkin aku seorang bawahanmu memanggil Anda dengan tidak formal. Nona Zillie berbohong.” Kata Turse sambil memandang sinis Zillie.


Zillie tidak mau berkata-kata lagi karena menatap Turse yang begitu sinis memandangnya, tentu saja Zillie langsung beranjak pergi meninggalkan mereka berdua, karena tidak mau mengganggu mereka.


“Maksudku, aku lebih suka dipanggil seperti itu. Zeno, tanpa ada selipan kata tuan sama sekali.” Zeno mencoba untuk bangun, dan dibantu oleh Turse.


“Jika Anda berniat untuk menyelamatkanku, ya selamatkan aku saja. Tidak perlu menghancurkan istana kekaisaran yang menculikku. Hingga pada akhirnya, Anda pingsan karena kehabisan Orka. Apakah menurut Anda itu lucu? Mengerahkan lima belas kloningan dan mengerahkan tiga beast secara bersamaan?” Sambungnya dengan nada yang cukup tinggi, bahkan para prajurit yang ada di luar ruangan untuk melakukan penjagaan hanya bisa terkejut dengan suara menggelegar seperti itu.


Zeno hanya bisa mengelus kepalanya dengan menahan rasa sakit akibat pukulan Turse yang cukup keras. Dia benar-benar tidak menyangka, bahwa Turse bisa segalak ini kepadanya. Dia berpikir, kenapa Turse tidak mengucapkan rasa terima kasih, tetapi justru diperlakukan seperti ini? Namun, dia tidak memarahi Turse balik, karena apa yang dikatakan Turse memang benar, bahwa dia meratakan kaisar hanya karena Turse itu sendiri.


Walaupun begitu, dia menyampaikan beberapa alasan agar Turse percaya, mengapa dirinya meratakan Ampera selain untuk menyelamatkannya, “Kau ini terlalu besar hati. Aku meratakan istana Ampera hanya karena agar urusanku di benua ini cepat selesai, Nuvoleon juga tidak akan mengerahkan banyak pasukan.”

__ADS_1


“Jadi, Anda juga akan melakukan hal yang sama dengan kekaisaran Lumenlus? Yaitu meratakan kekaisaran seorang diri? agar urusan Anda selesai? Tidak, aku tidak akan mengizinkannya.” Turse berkata dengan begitu tegas.


Zeno hanya terdiam sambil menggaruk kepalanya, dia bingung apa yang dia jawab kepada Turse di saat dia marah besar seperti ini. Apa yang dia lakukan hanyalah terdiam dan mendengarkan ocehannya.


“Tuan!” Turse mendekatkan wajahnya ke arah Zeno dengan wajah yang begitu serius, “Jangan berpikir bahwa hanya Anda yang bisa memarahiku dan menegasiku. Aku juga bisa berbuat seperti itu kepada Anda, bahkan lebih parah lagi agar Anda tidak terlalu membahayakan diri sendiri.” Ancamnya dengan begitu lirih, bahkan Zeno yang mendengarnya hanya bisa tersenyum pahit sambil menundukkan kepalanya berulang kali.


“Sejak kapan aku pernah memarahi dia?” Batinnya dengan sangat ketakutan, bahkan jika dia memilih berhadapan dengan Danze seorang diri, atau terkena amarah Turse, dia memilih untuk berhadapan dengan Danze. Selain itu, dirinya juga kaget, saat melihat bahwa Turse yang pendiam dan tidak terlalu banyak bicara, bisa memarahi Zeno sampai seperti ini.


“Selain itu jujur, kenapa aku mengikuti Anda untuk menuju benua 99 cahaya? Itu bukan karena Anda akan tidak bisa mencari bunga teratai emas, melainkan kekhawatiran tangan kananmu yang begitu besar.” Turse masih terlalu banyak bicara kepada Zeno.


“Haha iya, a-aku mengerti.” Zeno berkata dengan gugup.


Tiba-tiba, Uron masuk ke dalam ruangan yang Zeno dan Turse tempati. Spontan, Turse langsung duduk di tempat dengan Zeno yang berusaha untuk menenangkan diri akibat amarah Turse yang begitu besar.


“Tuan, aku turut senang Anda sudah sadar. Tunggu sebentar, kenapa Anda seperti orang menggigil seperti itu? Apakah Anda masih tidak sehat?” Uron mengerutkan dahinya saat melihat Zeno yang bergidik. Padahal dia bergidik karena terkena amarah seorang wanita.


“Tidak ada Uron. Dan yang lebih penting kita tinggal menunggu Kirin tiba.” Kata Zeno.

__ADS_1


Tidak lama setelah Zeno berbicara seperti itu, Kirin tiba-tiba tiba dengan tergesa-gesa, bahkan dia tampak panik. Namun, setelah melihat kondisi Zeno, dia sedikit menjadi tenang. “Aku mendengar dari nona Zillie, bahwa Anda pingsan, benarkan itu?” Kirin memastikan.


“Benar, tuan baru saja meratakan istana dan kekuasaan Ampera malam tadi. Mengeluarkan lima belas kloningan dan juga tiga beast secara bersamaan.”


__ADS_2