
Saat ini Zeno sudah sampai di perbatasan antara Southern empire dan Northen empire. Wajah kaisar Aurrora langsung tersenyum saat melihat dia sudah bergerak sejauh ini. Tapi saat dia semakin jauh untuk bergerak, dia juga melihat kepulan salju yang tebal. Aurrora menyipitkan matanya setelah ada yang aneh, tetapi beberapa saat dia menyadari bahwa jauh di hadapannya merupakan pasukan kavaleri dengan salah seorang yang memimpin di depan.
“Tanda-tanda perlawanan sudah nampak, apa yang harus kita lakukan?” Tanyanya sambil menatap Zeno.
Zeno melirik ke belakang dan memperhatikan puncak gunung. Dia juga mengerti bahwa di hadapannya sudah ada tanda-tanda musuh yang juga menyerang melakukan pertahanan. Menyadari bahwa ini merupakan medan yang cocok untuk sasaran para menahan, Zeno tersenyum sambil mengangkat tangannya. “Berhenti!”
Sejumlah 200.000 pasukan kavaleri berhenti setelah terdapat isyarat dari Zeno. Mungkin sangat aneh bagi orang yang tidak mengerti dan tidak mengetahui rencana yang sebenarnya. Padahal musuh sudah berada di depan mata yang seharusnya tidak berhenti dengan mudah, bagaimanapun hal tersebut seperti sosok yang ingin menyerah dan seolah-olah takut.
Dan itu benar-benar terjadi pada jenderal Gare, dia hanya tersenyum karena melihat pasukan yang jauh di hadapannya berhenti tanpa sebab. Hal itu membuat jenderal Gare semakin percaya diri bahwa pasukan milik kaisar Aurrora merasa takut karena melihat pasukan milik jenderal Gare sebanyak dua kali lipat dari pasukan milik Aurrora.
“Lihat! Mereka semakin takut, percepat kuda kalian, jangan biarkan mereka berbalik arah dan kabur.” Teriak jenderal Gare.
500.000 pasukan berteriak dengan penuh semangat, pasalnya kemenangan mudah sudah berada di hadapannya. Tetapi mereka benar-benar tidak tahu bahwa rasa percaya diri mereka membuat mereka justru jatuh ke ambang kekalahan.
-----
Saat ini Turse sudah berada di atas gunung dengan 30.000 pasukan yang telah bersembunyi di balik lebatnya hutan yang berada di atas gunung. Walaupun begitu, dia sebagai pemanah yang memiliki mata elang dapat melihat bahwa pasukan kedua sedang berhenti karena memperhatikan pasukan musuh yang sedang mendekat. Turse mengerti, bahwa hal itu bukan karena pasukan kedua menyerah, tetapi menunggu pasukan pemanah untuk menghujani anak panah kepada musuh.
“Aku akan menembakkan satu racun kepada pemimpin mereka terlebih dahulu, yaitu racun yang sama dengan racun yang mengenai tuan Zeno. Setelah satu panah berhasil ku tembakkan, maka kalian bisa menembakkan anak panah.” Teriak Turse sambil menarik busur yang perlahan muncul sebuah anak panah yang terbuat dari es.
Seluruh pasukan mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Mereka hanya mengarahkan busur panah ke atas dengan tali busur yang mereka tarik. Sama seperti milik Turse, anak panah es muncul saat mereka menarik tali panah.
__ADS_1
Melihat kondisi pasukan musuh yang hampir mendekati pasukan kedua, Turse menembakkan anak panah tepat ke arah jenderal pemimpin sebagai sasaran. Kemudian hal itu diikuti oleh seluruh pasukan yang menembakkan anak panah ke atas yang pada akhirnya juga jatuh ke arah pasukan musuh.
-----
“Aurrora...! kenapa kau berhenti? Apakah kau sudah takut?” Teriak jenderal Gare yang sudah mengangkat pedangnya.
Namun, di sela-sela kesenangannya, dia terkejut saat anak panah menancap tepat di lengannya. hal itu membuat wajah bahagianya memudar dan menyadari bahwa dia sudah masuk ke dalam jebakan,
Tidak percaya, dia melihat ke atas dan memperhatikan bahwa ribuan anak panah siap menghujani pasukan yang ia pimpin. Jenderal Gare begitu panik, dia mencoba mengeluarkan sebuah es dari tangannya sebagai pertahanan, tetapi itu sudah mustahil karena dirinya sudah terkena racun dari Turse.
“Bodoh! Mundur....!” Teriak jenderal Gare.
Yang pasti pemanah tidak menyerang sekali serang, mereka kembali menembakkan anak panah berulang kali kepada pasukan musuh sehingga mengakibatkan setengah dari pasukan musuh mati sebelum melakukan perlawanan.
Hal tersebut sangat di untungkan bagi pasukan kedua, pasalnya pasukan kedua sudah tidak perlu repot-repot untuk berperang dan mengangkat pedang karena terdapat pasukan pemanah yang sedang menguasai gunung perbatasan.
“Seluruh pasukan, mundur!” Teriak jenderal Gare.
Jenderal Gare sudah tidak bisa berbuat apa-apa, separuh dari pasukan mati sia-sia dan belum melakukan perlawanan apapun. Hal itu membuat dirinya geram dan menggertakkan giginya karena melihat tingkah licik dari Aurrora.
Zeno tidak membiarkan hal tersebut terjadi, dia turun dari kuda yang ia tumpangi dengan wajah yang begitu kejam.
__ADS_1
Zeno mengulurkan kedua tangannya ke depan. Seperti biasa, dia bergumam, “Angin: sayatan seribu angin, tahap keempat. Heftiga Windblatt.”
Tiba-tiba angin begitu kencang membentuk sebuah badai, lebih tepatnya badai salju besar terbentuk di hadapan Zeno. Seluruh pasukan yang berada di barisan ke depan sampai harus menutup wajah mereka menggunakan sebuah lengan. Perlahan, angin tersebut menjauh dari pasukan kedua dan menuju pasukan musuh yang dipimpin oleh jenderal Gare yang mana saat ini pasukan tersebut tersisa setengah dari pasukan yang dikerahkan.
Jenderal Gare menoleh ke belakang saat melihat bahwa angin kencang menuju pasukannya, melihat hal tersebut, jenderal Gare berteriak, “Lari secepatnya!”
Tapi itu sangat mustahil, hampir seluruh pasukan dibabat habis dengan luka sayatan yang muncul di tubuh mereka saat angin tersebut mendekat. Bahkan ada juga yang tubuhnya terpotong menjadi beberapa bagian kecil bagaikan hewan ternak setelah di sembelih.
“Lighting movement.” Zeno bergerak secepat kilat sambil menarik pedangnya.
Pergerakan Zeno bagaikan sebuah sambaran petir yang menggelegar, hal itu membuat Zeno sudah berada di keributan angin, lebih tepatnya di samping jenderal Gare. Tanpa ragu lagi saat memiliki celah, Zeno langsung memutar pedangnya sambil menebaskan ke arah leher sang jenderal.
Sedikit menyadari bahwa ada sebuah musuh yang bergerak secepat kilat, jenderal Gare langsung mengulurkan sebuah tangan dan berencana mengeluarkan sebuah teknik. “Ice Wall.” Tetapi dia sangat terkejut saat elemennya tidak bereaksi.
Zeno tersenyum dan mengetahui bahwa itu merupakan ulah Turse. Bersamaan dengan itu, Ice Sword berhasil membuat kepala jenderal menggelinding di bawah kaki kuda dengan mata terbuka seolah tidak percaya apa yang terjadi.
Zeno kembali menginjak tanah dan bergerak secepat kilat kembali ke tempat asalnya. Angin kencang juga sedikit reda dengan menyisakan pasukan musuh yang sangat sedikit berbanding jauh saat menuju ke sini. Mungkin hanya terhitung sekitar 20.000 pasukan yang mundur.
Melihat hal itu, kaisar Aurrora dan pasukan terdepan hanya membuka mulutnya lebar. Dia masih bingung, memangnya apa fungsinya membawa sebuah banyak pasukan jika akhirnya begini? Bahkan pasukan kedua sama sekali belum mengangkat pedang mereka.
“Kau, kau sepertinya lebih berbahaya dari Rungdaf.”
__ADS_1