
Aurrora kembali terkejut, dia tidak menyangka ternyata terdapat beast mata-mata yang sedang memata-matai pasukan kedua ini. Hal itu tentu saja merupakan sesuatu yang buruk, mungkin jika gerak-gerik pasukan ini ketahuan, maka akan sangat merugikan bahkan akan kalah strategi. Bagaimanapun kunci kemenangan dalam sebuah pertempuran, adalah strategi yang sangat dirahasiakan oleh pihak musuh.
“Sudah lupakan saja, aku akan mulai bergerak menuju gerbang timur ibukota kekaisaran.”
Kaisar Aurrora mengangguk, dia sudah mengizinkan cucunya untuk bergerak terlebih dahulu ke arah timur. Tapi kaisar Aurrora benar-benar menegaskan agar Zeno berhati-hati, walaupun Zeno telah mengalahkan Akram, Kaisar Aurrora juga memberi sebuah pesan kepada Zeno agar menjaga diri dari sikap sombong, karena mereka juga tidak tahu seberapa kuat Rungdaf itu sebenarnya.
Zeno menerima pesan itu dengan senang hati, bagaimanapun apa yang dikatakan neneknya merupakan sebuah kebenaran. Sikap sombong merupakan sebuah bahan bakar kekalahan, sehingga Zeno benar-benar menjauh dari sikap itu. Mungkin hanya beberapa kali, itupun ia gunakan untuk menggertakkan mental musuh.
“Baiklah, 50.000 pasukan yang ditugaskan untuk ikut aku, sekarang kita bergerak ke arah timur ibukota untuk menuju wilayah Rungdaf secara langsung.” Zeno menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya, “Ku tegaskan sekali lagi, masuk ke dalam wilayah Rungdaf merupakan tugas yang sangat berat, karena hanya kematian kemungkinan terburuknya. Jadi siapa saja yang belum punya kesiapan, aku mengizinkan kalian untuk tidak ikut, atau mungkin kalian bisa pulang. Aku tidak pernah memaksa kalian untuk berperang.”
Menunggu lima menit, Zeno tidak melihat bahwa ada satu orangpun yang menyerah untuk mengundurkan diri. justru 50.000 pasukan tersebut langsung berdiri dengan menaiki kuda dan membentuk sebuah barisan di samping camp.
Zeno turut bangga kepada 50.000 pasukan yang sebelumnya duduk di tenda bersama pasukan utama kini tengah membentuk sebuah barisan siap perang yang menandakan bahwa tidak ada rasa takut dalam hati mereka.
Zeno bergerak dengan kuda dan langsung menuju ke depan barisan pasukan tersebut, wajahnya mungkin` terlihat tidak berekspresi. Sesiapa saja mungkin yang melihatnya, Zeno merupakan pemuda yang belum tumbuh dewasa dengan jiwa yang sangat mengerikan. Masih remaja saja sudah memiliki kemampuan mengerikan yang dapat membunuh puluhan ribu pasukan, bagaimana jika dewasa? Para pasukan terdepan hanya bisa menggelengkan kepala dan tidak bisa memikirkan bagaimana sosok Zeno apabila tumbuh dewasa.
“Mungkin keluarga kalian menunggu kepulangan kalian, dan bagaimana jika keluarga kalian yang tidak tidur beberapa malam karena menunggu kalian yang tidak pulang karena mati di medan pertempuran?” Zeno menggertak.
__ADS_1
Salah satu orang dengan barisan ke depan maju satu langkah dengan wajah yang sangat serius, “Kami tidak akan mundur dari pertempuran walaupun kematian merupakan resiko terberatnya. Kami tidak peduli apakah mereka menangis mengenai kematian kami, yang paling penting adalah keluarga kami tidak menangis dan aman di masa depan dari ancaman Northern di bawah kendali Rungdaf.”
Zeno turut senang, wajah yang tidak berekspresi kini berubah menjadi senyum cerah di wajahnya setelah mendengar apa yang menurutnya merupakan sebuah jawaban yang sangat tepat.
“Baiklah, kita berangkat!” Tegas Zeno.
50.000 pasukan berteriak dengan suara yang lantang, bahkan 150.000 pasukan utama yang masih duduk di tenda hanya bisa tersenyum dan menutup telinga mereka.
Kini 50.000 pasukan memacu kuda mereka dan bergerak ke arah timur untuk menuju gerbang ibukota bagian timur. Karena tujuan mereka kali ini hanya berfokus untuk melawan Rungdaf.
-----
“Akhirnya mereka bergerak, apakah mereka sangat bodoh? Membawa 50.000 pasukan untuk menuju wilayahku?” Tanyanya kepada diri sendiri sebelum dia melanjutkan ucapannya, “Baik itu 50.000, 100.000, 500.000 maupun sejuta, tidak akan ada yang bisa mengalahkan aku, si penyihir badai Rungdaf.”
Sosok tua tersebut merupakan Rungdaf, sosok terkuat yang berada di Northern. Bahkan kisar sendiri memperlakukan Rungdaf dan pengikutnya dengan lebih seperti tidak terikat dengan peraturan. Walaupun begitu, Rungdaf merupakan sosok baik di Northern, karena tidak pernah melanggar perturan bagaikan orang pada umumnya.
Tetapi sosok baik hanya berlaku mengenai peraturan, tetapi di masa depan, Rungdaf merupakan sosok yang sangat mengerikan selain Akram. Jika Akram bertujuan untuk mencari kedua the legendary Sword untuk menguasai dan menciptakan dunia yang penuh kedamaian dengan jalan kekerasan. Maka Rungdaf merupakan sosok sebaliknya, dia ingin menciptakan dan menguasai dunia dengan penuh kekerasan namun menggunakan jalan kedamaian.
__ADS_1
Itulah mengapa, Rungdaf tidak pernah membuat onar di Northern. Tetapi juga mempunyai cita-cita agar dunia yang ia kuasai penuh dengan kesengsaraan, dan penuh dengan kekerasan.
“Kedamaian merupakan jalan yang mudah untuk menuju kesengsaraan dan kekerasan. Orang yang berdamai, justru akan mudah untuk dihasut dan di adu domba dan menumbuhkan rasa saling tidak percaya diri. Berbeda dengan orang yang saling bermusuhan, maka memang awalnya tidak memiliki rasa saling percaya, jadi apa enaknya jika tidak ada sebuah adu domba?” Rungdaf memasang wajahnya seperti sedia kala, dia bisa merasakan pergerakan musuh dengan mengandalkan sebuah semilir angin.
“Nora, apakah 10.000 pasukan yang ada sudah kau siapkan? Bagaimanapun aku tidak ingin mendengar jawaban selain sudah.” Rungdaf berkata dingin di depan wanita cantik yang mengenakan topi penyihir.
“Sudah, aku sudah menyiapkan10.000 pasukan untuk melawan 50.000 pasukan yang akan datang dari arah timur.” Nora menjelaskan, “Tapi, bukankah 10.000 pasukan itu terlalu sedikit untuk melawan 50.000 pasukan? Setidaknya kita harus meminta bantuan kekaisaran untuk menggenapi pasukan kita.”
Mendengar hal tersebut, Rungdaf menjawab, “Kau sepertinya telah meremehkan pasukan penyihir kita. Bukankah kau telah menjadi tangan kananku selama lima tahun, mengapa kau belum menyadari hal tersebut? lagipula pasukan pihak kekaisaran sibuk mengurus pasukan musuh dari arah selatan.”
“Aku memang menyukai sebuah kedamaian di awal, namun pada akhirnya aku juga sangat senang dengan kekerasan. Jadi pastikan pasukan musuh tidak ada yang kembali.” Sambungnya.
Nora mengangguk dan undur diri dari hadapan Rungdaf, bersamaan dengan hal tersebut, Rungdaf memiliki firasat yang sangat buruk mengenai pertempuran ini. “Ini sangat aneh, aku dengar Akram telah mati di benua yang jauh dari sini. Tetapi mengapa Southern justru semakin berani? Di tambah mereka hanya membawa 50.000 pasukan untuk menuju ke sini seolah sedang meremehkanku.” Gumamnya dengan berpikir hati-hati.
“Nora, tunggu!” Panggil Rungdaf.
Nora menghentikan langkahnya dan berbalik arah ke hadapan Rungdaf, “Ada yang bisa kubantu?”
__ADS_1
“Ada yang aneh, sepertinya ada sosok kuat selain Akram, jadi aku yang akan memimpin pasukan ini secara langsung.” Ucapnya sambil berdiri dari kursinya dan berjalan melewati Nora.
Tepat saat Rungdaf melewati dirinya, Nora hanya bisa menggertakkan giginya dan bergumam, “Ada sosok kuat selain Akram? Wanita tua, memang dasarnya kau akan mati. Karena aku benar-benar muak dengan tujuan hidupmu yang tidak begitu jelas.”