Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Berangkat menuju gunung Apiluc


__ADS_3

Hingga pada akhirnya, di tengah panasnya terik matahari yang bersinar tepat di atas kepala mereka, mereka memutuskan untuk pergi menuju gunung Apiluc.


Memang, Zeno setuju apabila diri mereka bertiga segera berangkat menuju gunung, tapi dia merasa bahwa Hole cukup bodoh, bagaimana tidak, Zeno sebenarnya kurang setuju apabila berangkat pada siang dengan terik sang surya yang menyengat.


Tapi mau bagaimana lagi, Zeno hanya mengangguk dan berpura-pura bodoh dengan segala keputusan Hole. Begitu juga dengan Turse, dia juga merasa bahwa Hole tidak memiliki aturan sama sekali, pergi pada siang hari seakan menyiksa diri membuat Turse hanya menggelengkan kepala.


Tidak ada kereta kuda, tidak ada transportasi lainnya, Hole memilih untuk jalan kaki dengan alasan dia tidak memiliki uang. Padahal, alasan Hole cukup membuat Zeno menjadi tidak habis pikir. Cukup aneh, tapi Zeno hanya menahannya dan tidak menanyakan hal tersebut kepada Hole.


Selain itu, beberapa alasan yang menyebabkan Hole tidak ingin naik kereta kuda atau sejenisnya, dia mengatakan bahwa para kusir tidak akan setuju apabila mengantar diri mereka menuju gunung Apiluc, karena para kusir tahu sendiri kondisi Apiluc pada tiga hari kedepan.


Terlihat cukup masuk akal, bahkan Zeno bisa menerimanya mengenai alasan kedua tersebut. Tapi Zeno masih merasa cukup aneh kepada Hole.


"Kau punya beast?" Tanya Zeno kepada Hole yang ada di sampingnya.


"Tidak, aku hanyalah seseorang yang begitu lemah, sehingga aku tidak memiliki beast yang cocok untukku." Jawab Hole.


Zeno menghela napas kesal, jika berjalan terus seperti ini benar-benar akan menguras energi yang sangat banyak.


Selain itu, tidak mungkin dia mengeluarkan Seiryu agar di tunggangi oleh Hole, yang mana karena ukurannya yang sedikit besar akan membuat orang-orang ketakutan.


Selain itu, tidak mungkin juga dia membagi tunggangan dengan Kiba. Hal itu dia merasa cukup aneh.


"Kau merasa tidak bisa berbagi untuk menunggangi Kiba tuan?" Kata Turse seolah bisa membaca pikiran Zeno.


"Kau tahu itu." Zeno menjawabnya dengan malas.


"Baiklah kalau begitu." Turse hendak mengeluarkan Atsuba.


"Tunggu Turse!" Zeno menahannya setelah melihat tingkah Turse yang hendak mengeluarkan flamingonya.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi setidaknya jangan keluarkan beastmu di tempat umum seperti ini." 

__ADS_1


"Memangnya kenapa, tuan?" Turse begitu penasaran, mengapa tuannya melarang dirinya untuk mengeluarkan beast di tempat umum seperti ini. Selain itu, dia merasa bahwa memiliki beast juga harus memiliki aturan, hal itu sangat wajar karena dia memiliki beast juga baru-baru ini.


"Ayo ikut aku!" Zeno menarik tangan Turse dan mengajaknya untuk menuju suatu tempat.


Hole yang melihat itu, dia hanya bisa menggaruk kepalanya. Dia juga tiba-tiba merasa jengkel dan segera mengejar Zeno, karena yang dia takutkan, Zeno sedang mengkhianati dirinya dengan kabur dari sebuah perjanjian.


"Kenapa kita berada di tempat sepi tuan?" Turse mengangkat alisnya dan melihat kondisi sekitar.


"Jangan sekali-kali mengeluarkan beast di tempat umum. Itu akan memicu sebuah keributan yang akan terjadi, seperti beberapa elementalis yang memiliki beast akan muncul dan mencoba menantang beast mu dengan beast miliknya." Zeno menjelaskan.


Turse mengerti, dia baru tahu mengenai apa yang dijelaskan oleh Zeno. Dirasa tidak ada orang yang lewat, dia mengeluarkan Atsuba.


Perlahan percikan api dan hembusan angin muncul dan berkumpul menjadi satu, membentuk seekor burung yang sedikit besar, bahkan besarnya menyamai Turse. Tidak lain burung tersebut merupakan Flamingo atau Atsuba yang merupakan beast milik Turse.


"Aku bersedia Atsuba dinaiki oleh Hole, sedangkan aku, aku akan menaiki Kiba bersama dengan Anda." Turse memalingkan wajahnya dari hadapan Zeno.


Lagi-lagi Zeno menghembuskan sisa udara dari paru-parunya, "Seperti apa yang ku pikirkan, benar-benar merepotkan." Tapi berbagi tunggangan dengan Turse tidak masalah baginya, daripada harus berbagi tunggangan dengan Hole.


"Hey!" Teriak seseorang dari belakang mereka.


Zeno dan Turse berbalik badan dan mendapati Hole berwajah sangat masam, kerutan di dahinya benar-benar nampak menandakan bahwa Hole benar-benar jengkel.


"Aku tidak bermaksud." Jawab Zeno dengan singkat.


Bersamaan dengan itu, hembusan angin muncul dan berkumpul di satu titik di samping Zeno. Angin yang berkumpul perlahan membentuk menjadi seperti seekor kucing besar yang tidak lain itu adalah Kiba.


"Kiba siap menerima perintah dari tuan."


Melihat hal tersebut, Hole mundur perlahan dan menggertakkan giginya, selain itu dia juga bersiap menarik pedang apabila sewaktu-waktu beast milik Zeno melesat ke arahnya.


"Siapa yang menyangka, bahwa kau akan membunuhku di sini. Dan kau benar-benar berkhianat." Kata Hole dengan nada yang tinggi.

__ADS_1


Zeno dan Turse yang melihat Hole kini hanya bisa memandang satu sama lain dan berusaha menahan tawa. 


"Hole kau salah sangka." Zeno berusaha untuk tidak tertawa, "Kita akan menggunakan beast agar lebih cepat menuju gunung Apiluc." 


"Maksudmu?" Hole masih bersiap untuk menarik pedangnya.


"Naiklah ke burung tersebut." Perintah Zeno.


Dengan sedikit ragu, Hole berjalan perlahan ke arah flamingo dengan wajah yang tetap memasang kewaspadaan. Barangkali itu adalah jebakan, itulah yang dipikirkan oleh Zeno.


"Turse sesuai apa yang kau minta, naiklah ke ata Kiba." 


Turse mengangguk, dia segera menaiki Kiba sesuai apa yang dia inginkan sekaligus perintah dari Zeno. Sedangkan Hole, kini dia juga sudah menaiki Atsuba dengan wajah yang belum menghilangkan keraguan sama sekali.


Zeno juga segera menaiki Kiba dan duduk di belakang Turse, sambil berkata, "Jika kau bisa menahan kecepatan naga ku, tentu saja kau sudah bisa menahan kecepatan Kiba."


"Aku sudah terbiasa." Turse menjawab dengan singkat.


"Baguslah. Sangat disayangkan sekali, kau wanita pemberani tapi takut ketinggian." Zeno meledek.


Turse menoleh kebelakang sesaat sambil mengembung pipinya. 


Hingga akhirnya, dua beast tersebut terbang menuju ke arah timur sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Zeno. 


Dengan begini, waktu untuk menuju ke sana juga tidak akan terlalu lama, sehingga mereka harus menyiksa diri dengan berjalan di bawah terik matahari.


Memang, terbang seperti ini justru juga tidak ada bedanya, yaitu sama-sama terpapar. Tapi dengan kecepatan yang normal antara Kiba dan Atsuba, membuat semilir angin berhembus melewati pori-pori mereka, sehingga rasa gerah pun juga bisa diatasi dengan sangat mudah. 


Selain itu, Zeno juga bisa melihat pegunungan Apiluc dari ketinggian seperti ini. Gunung yang begitu hijau dengan hutan yang ada disekelilingnya, membuat gunung tersebut nampak sangat indah.


"Tuan, lihat!" Tiba-tiba, dari ketenangan yang baru saja dirasakan oleh Zeno, Turse berkata dengan nada tinggi sambil menunjuk ke arah Utara.

__ADS_1


Zeno pun menoleh dari arah Utara, dia melihat beberapa pasukan yang sepertinya milik Nuvoleon sudah bergerak menuju Utara gunung. 


Tidak sesuai dengan yang Hole pikirkan dan rencanakan, ternyata pasukan tersebut sudah bergerak hari ini bersamaan dengan diri mereka sendiri.


__ADS_2