Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Pedang dua jiwa


__ADS_3

 


Para penonton, kedua pihak keluarga, mereka semuanya berdiri dari tempat duduk mereka, pandangan mereka kini benar-benar fokus ke depan, melihat sang pemenang yang kala itu sedang meraih tangan Lyana, menyuruhnya berdiri sehingga membuat hatinya tersentuh.


 


“Tidak perlu bersedih untuk kalah, seorang saudara tidak seharusnya seperti itu.”


 


Lyana menggapai tangan Zeno, kini ia berdiri di samping Zeno dengan rasa tidak kecewa sedikitpun. Padahal sebelumnya Lyana sempat tidak terima dengan kekalahannya, tetapi saat dirinya terhibur oleh Zeno, Lyana melupakan semua ketidak terimanya.


 


Tepukan tangan kembali memekakkan telinga, semuanya bersorak sambil memuji sang pemenang. Bukannya merasa bahagia karena dipuji, Zeno justru semakin risih dengan pujian itu, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk berjalan pergi meninggalkan lapangan.


 


“Kau mau kemana? Apa kau tidak mau hadiah?” Panggil Lyana.


 


Zeno menghentikan langkahnya, dia baru teringat bahwa pertandingan ini juga pastinya memiliki hadiah bagi sang pemenang, jadi dia membalikkan badannya dan berdiri di tengah lapangan. Tetapi masalahnya, sampai kapan dirinya akan berdiri sambil menunggu hadiah? Sambil melihat beberapa penonton yang terus bersorak sambil memuji-muji dirinya, membuat Zeno tidak habis pikir.


 


“Lantas kenapa kau masih berada disini?” Zeno melihat Lyana yang seolah-olah sedang menunggu sesuatu, padahal dirinya bukan pemenang yang seharusnya tidak lagi mengharapkan sebuah hadiah.


Lyana menghiraukan ucapan Zeno, dia tetap berdiri di belakang Zeno. Sebenarnya dia ingin tahu lebih dekat, hadiah apa yang diberikan oleh kedua Kekaisaran kepada Zeno.


Beberapa orang penting dari kedua kaisar akhirnya turun dari tempat duduk mereka menuju ke tengah lapangan colloseum, dengan seorang prajurit yang tak dikenal Zeno yang membawa sebuah pedang yang begitu besar berwarna putih mengkilap. Pantulan cahaya dari pedang tersebut sangat menyilaukan mata Zeno, membuat Zeno membuka sedikit mulutnya karena begitu terkejut setelah melihat pedang yang begitu indah.


Fang Yoshi, serta Kaisar Hanzi, mereka berdua berdiri tepat di hadapan Zeno, memberinya sebuah ucapan selamat kepada Zeno. Fang Yoshi sebagai kakek Zeno yang berasal dari ayah mengambilkan sebuah pedang yang dibawa oleh prajurit tersebut, dan diberikan oleh Zeno.


 


Zeno yang melihat itu segera berjongkok dan langsung menerima hadiah yang sangat berharga. “Sebuah kehormatan bagi anda, saya Fang Zeno benar-benar menghargai hadiah yang kalian berikan.” Kata Fang Zeno sambil memejamkan matanya.


 


Zeno mengangkat pedang yang baru saja diberikan kepadanya, rasanya agak berat dan dingin, membuat tangannya sedikit bergetar. Lambang elemen air dan angin di kedua sisi tersebut seketika agak bercahaya saat dipegang Zeno.


 

__ADS_1


Cahaya lambang berwarna putih, serta biru, membuat seluruh orang yang melihat seketika terkesima. Terutama para tetua dari kedua pihak keluarga yang tahu persis mengenai pedang yang dibawa Zeno.


 


“Pedang dua jiwa, itulah namanya, cocok digunakan oleh elementalist air, maupun angin. Lambang akan bercahaya sesuai elementalist sang pengguna. Karena kau memiliki kedua elemental tersebut, otomatis kedua lambang juga akan bercahaya. Tetapi sebelumnya itu sangat aneh, lambang tersebut akan bercahaya apabila sang pengguna menggunakannya sampai meneteskan darah lawan menggunakan pedang tersebut.” Kata Fang Yoshi.


 


“Maksudnya?” Zeno mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti apa yang Fang Yoshi jelaskan.


 


“Seharusnya, kedua lambang tersebut akan bercahaya apabila kau sudah meneteskan darah lawan menggunakan pedang tersebut. Tetapi, pedang tersebut sudah bercahaya sebelum syarat sang pengguna terpenuhi.” Sambung kaisar Hanzi.


 


Zeno memperhatikan pedang itu dengan seksama, memang tidak ada yang aneh dari pedang tersebut kecuali dua lambang yang bercahaya. “Sudah pasti ini pedang hebat.” Katanya sambil memperhatikan keseluruhan pedang tersebut.


 


“Zeno, kau sudah berkali-kali membuatku terkejut, sebenarnya kau ini siapa?” Batin Fang Yoshi yang memperhatikan keseluruhan tubuh Zeno, dia sangat yakin bahwa cucunya yang satu ini seseorang yang sangat istimewa, atau mungkin reinkarnasi dari sang dewa, itulah yang dipikirkan oleh Fang Yoshi.


 


Semua orang kembali bertepuk tangan kesekian kalinya, Zeno bahkan sampai sakit telinga karena tepukan tangan yang terlalu sering dilakukan semenjak pembukaan turnamen.


 


“Tuan Akram, ada berita yang begitu penting!”


 


Suasana hening, menjadi pecah ketika terdapat seseorang yang datang tepat pada sebuah bangunan besar yang begitu menyeramkan, dikelilingi oleh pepohonan yang begitu rindang menandakan bahwa bangunan tersebut terletak ditengah hutan yang merupakan hutan elemental beast.


 


“Sebaiknya ceritakan berita penting itu, atau aku akan membunuhmu.” Suara yang begitu menggema membuat seseorang yang baru datang membawa berita tersebut langsung menelan ludah.


 


“Keluarga Agalia sudah hilang, tidak ada satu orang pun yang hidup di keluarga Agalia!” Akram menggebrak meja dihadapannya, memang pada kala itu terdapat sebuah jamuan yang terdiri dari beberapa orang selain Akram.


 

__ADS_1


Lebih tepatnya mereka semua bukan orang, mereka semua adalah gabungan dari beast mereka yang telah menyatu secara keseluruhan. Seperti Akram Agalia yang telah menyatu seutuhnya dengan beast keranya. Sehingga tidak aneh, bahwa beberapa orang yang sedang makan jamuan memiliki bentuk fisik yang begitu aneh, begitu juga orang yang baru datang membawa berita tersebut.


 


Akram keluar dari kursinya, berjalan dengan sangat bengis kearah orang yang baru datang dan membawa kabar buruk bagi Akram. Tatapan mata merah Akram membuat orang tersebut seketika merinding dan takut akan Akram yang menuju ke arahnya, entah nasib apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri.


 


“Jaga ucapanmu itu! Geldhe” Akram mencekik leher Geldhe yang berwujud seperti beruang.


Geldhe ingin bicara dan menjelaskan kepada Akram, tetapi Akram sudah mencekiknya membuat Geldhe berbicara dengan terputus-putus. Tetapi sepertinya, Akram sendiri juga tidak memberinya kesempatan untuk berbicara, sehingga Geldhe memilih untuk tidak melanjutkan penjelasannya.


 


“Akram, biarkan Geldhe berbicara!” Kata orang yang  masih duduk di belakang, dengan rupa manusia dengan kepala banteng sebagai kepalanya.


 


Akram menghela nafas, ia kemudian melepaskan Geldhe  yang kala itu tercekik oleh tangan Akram. Geldhe hanya bisa terbatuk-batuk, rasanya begitu lega saat Akram masih memberinya kesempatan.


 


Padahal Geldhe sendiri tahu, sebagai bawahan kelompok organisasi Taruz yang berisi Akram dan beberapa orang lainnya, Akram lah yang tidak pernah memberi ampun kepada musuhnya, sekalipun musuhnya itu berlutut bahkan sampai rela menyembah, Akram tetap membunuhnya. Tetapi untungnya Geldhe tidak melakukan kesalahan, dia hanya membuat Akram tidak suka mendengar berita Geldhe yang secara tiba-tiba.


 


“Aku tidak tahu tuan Akram, tetapi saat aku berada di perbatasan, aku tidak sengaja mendengar dari orang yang berlalu lantang di wilayah aman, bahwa keluarga Agalia telah dibantai.” Geldhe menjelaskan dengan suara yang begitu takut.


 


“Tidak bisa dibiarkan! Aku harus segera mencari siapa dalang dibalik pembantaian keluarga Agalia.” Amarah Akram, membuat seluruh bulu keranya menjadi api yang begitu panas. Geldhe yang berada di dekatnya seketika langsung mundur beberapa langkah demi menghindari panasnya bulu kera milik Akram.


 


Sebenarnya mengapa Akram sendiri sangat marah saat keluarga Agalia terbantai? Karena Akram sendiri merupakan kakek Grisha Agalia, bisa dibilang bahwa Akram saat ini telah berumur ratusan tahun.


 


“Apa kau melupakan tugas kita Akram? Tugas kita adalah mencari keberadaan Ice sword, jadi jangan melakukan tugas apapun sebelum kita telah menemukan Ice sword!.” Sahut Gongnyu yang tidak lain merupakan si kepala banteng.


 


“Sampai kapan kita akan berusaha menemukan Ice sword? Kita telah berusaha mencari Ice Sword di benua es selama beberapa tahun, tapi apa hasilnya?” Kata Akram dengan begitu marah.

__ADS_1


 


“Akram, kau dibutakan oleh kemarahan, sehingga kau lupa apa tujuan kita mencari Ice sword. Kita beruntung telah menemukan Fire sword, jadi bersabarlah, tinggal satu langkah lagi kita akan bisa menguasai seluruh benua yang ada di dunia ini.”


__ADS_2