
Duarr
Gelembung air milik Zeno yang menyusut, dengan ruang udara yang ada di dalamnya semakin sempit, membuat gelembung Zeno meledak, mengakibatkan Grisha dan juga Ryan terlempar tidak begitu jauh.
Zeno memasukkan pedangnya ke selongsong kembali. Menarik napas yang begitu panjang untuk menggunakan teknik kedua pemberian dari pendiri negara. Dengan memfokuskan aliran orka di kedua jarinya yang saling berdekatan, membuat jarinya terlindungi oleh air.
“Air:Aliran pemecah batu, tahap pertama.” Zeno kemudian melangkahkan kakinya ke depan, dan kembali melakukan pertarungan dengan Grisha dan juga Ryan. Kali ini Zeno benar-benar akan menyerang titik vital Grisha dengan tekniknya kali ini.
Teknik ini benar-benar mematikan menurut Zeno, walaupun hanya dengan tahap pertama, bisa-bisa aliran orka seseorang terkena efek ini akan putus. Tetapi untungnya kala itu, saat melawan pendiri negara, aliran orka Zeno masih bisa mengalir walaupun terkena teknik tersebut yang berada di tahap sembilan.
Grisha memutahkan seteguk darah setelah teknik Zeno tepat mengenai perut Grisha. Walaupun jarinya tidak menembus perut, tetapi setidaknya hal tersebut berhasil membuat organ dalam Grisha terluka berat.
Ryan tidak punya pilihan lain setelah melawan Zeno, dia kemudian melepaskan seekor beast kera yang sepertinya sama seperti milik Zayn dulu, yaitu dilapisi oleh bulu berapi.
Begitu juga dengan Grisha, Grisha yang nampak begitu lemah juga mengeluarkan seekor beast raja kera yang memiliki fisik seperti beast milik Ryan, ditambah milik Grisha begitu besar dengan mahkota diatas kepalanya.
“Aku teringat dengan kata-kata mu dimana kau mengajakku untuk berburu elemental beast.” Kata Zeno dengan begitu dingin.
Ryan tertawa dengan begitu keras, dimana dia mengingat saat Zeno masih sangat polos dan begitu lugu, sehingga sangat mudah untuk ditipu.
“Tunggu apalagi Aram, serang bocah itu!” Perintah Ryan kepada beastnya.
“Raja kera, ayo habisi anak itu.” Kata Grisha yang juga memerintah beastnya.
“Manusia melawan manusia, beast melawan beast, jangan pikir aku tidak mempunyai hal tersebut.” Kata Zeno dengan tatapan sinis.
__ADS_1
“Kiba, kau bisa keluar.” Sambungnya.
Angin berputar tepat dihadapan Zeno, seekor harimau putih keluar dari pusaran angin tersebut dengan gigi taring yang begitu tajam, air liurnya menetes tepat di ujung gigi taringnya.
“Kiba selalu hadir untuk melindungi tuan.” Kata Kiba dengan suara yang begitu menggema, membuat merinding Grisha dan juga Ryan.
“Hanya seekor kucing berelemen angin berani melawan sang raja kera berelemen api?” Kata Raja kera begitu meremehkan.
“Padahal saudaramu yang sepertinya sudah mati mengenalku dengan begitu baik.” Ucap Kiba kepada raja kera.
“Kiba, kau bisa melawan dua sekaligus?” Tanya Zeno kepada Kiba.
“Serahkan itu kepadaku.” Kiba mengaum seakan menantang dua kera tersebut.
Hal tersebut membuat Ryan dan juga Grisha berputus asa, kini tidak ada cara lagi bagi mereka berdua untuk membunuh Zeno. Harapan mereka hanyalah satu, menunggu para beast mereka menang melawan beast Zeno, sehingga para beast tersebut akan sangat mudah membunuh Zeno.
Tetapi Zeno juga tahu harapan mereka, jadi Zeno mundur dan bersandar di dinding sambil berkata, “Kita lihat saja pertarungan beast kita, kalau beast kalian menang, maka beast kalian juga mudah untuk melawanku, tetapi jika beast ku yang menang, maka kematian kalian akan datang.”
Grisha dan Ryan menghela nafas dengan ketakutan, dia telah melihat sendiri bahwa beast mereka juga hampir kewalahan menghadapi Kiba seekor diri.
Sebenarnya Kiba bisa saja membunuh dua beast tersebut dengan mudah, dengan angin Kiba yang beracun dan siapa saja yang menghirupnya, maka akan menjadi lemah bahkan kematianlah dampak terbesarnya, tetapi Kiba hanya bersenang-senang seakan mempermainkan mereka supaya mereka larut dalam emosi.
“Sialan.” Teriak raja kera yang telah dipermainkan Kiba. Dia benar-benar terbawa emosi yang membuat bulu apinya membesar. Hawa panas juga semakin meningkat membuat suhu didalam ruangan begitu tinggi.
Semua orang yang berada di kamar tersebut bermandikan keringat bahkan Zeno sekalipun. “Kiba, cepat selesaikan.” Teriak Zeno dengan mengelap keringat di keningnya, dia benar-benar tidak terlalu suka dengan suhu panas yang membuatnya berkeringat.
__ADS_1
“Baiklah tuan.” Kiba melepaskan sebuah hembusan angin yang begitu lembut, dia hanya mengarahkan hembusan angin tersebut hanya kepada Raja kera dan Aram yang merupakan Beast milk Ryan.
Ribuan jarum seakan menusuk Raja kera dan Aram, membuatnya begitu kesakitan dan tidak sanggup untuk berdiri dan melawan. Teknik ini merupakan milik Kiba yang pernah digunakan Zeno waktu dirinya tidak tersadar dan larut dalam emosi. Dengan kata lain, sebenarnya saat ini Zeno tidak teringat bahwa dirinya pernah menggunakan teknik milik Kiba tanpa mempelajarinya terlebih dahulu.
Perlahan Beast milik Ryan tergeletak di lantai, dengan bulu apinya yang juga padam membuat Ryan memutahkan seteguk darah. Bagaimanapun juga, jika Beast milik seseorang mati, maka orang tersebut akan mengalami luka dalam yang begitu parah.
Zeno tersenyum lebar, kini hanya sisa satu beast yaitu sang raja kera yang masih bertahan. Namun, perlahan-lahan api bulu kera tersebut juga memadam membuatnya seperti kera biasa namun begitu besar.
Kematian beast raja kera membuat Grisha juga memutahkan seteguk darah, badannya begitu lemas dan tidak sanggup untuk melawan kembali karena luka yang begitu dalam.
Zeno kemudian bergegas kembali mengangkat pedangnya, berjalan ke arah Grisha yang sangat tak berdaya dan menebas salah satu kaki serta satu tangan Grisha yang membuatnya tidak sanggup untuk berdiri.
Ryan yang sempat melihat tangan dan kaki ayahnya terlepas begitu murka, dia lantas menyerang Zeno yang kala itu sedang fokus untuk menebas seluruh anggota badan Grisha. Tanpa berpikir panjang, serta tergesa-gesa dan larut dalam emosi, Ryan tidak peduli apa yang akan terjadi dengan dirinya.
Zeno berbalik badan setelah menyadari bahwa Ryan menyerang Zeno dari belakang. Dengan sangat cepat, Zeno menusukkan pedangnya yang bersimbah darah tepat ke arah dada Ryan. Dengan jantung yang tertusuk, tubuh Ryan tergeletak di tanah dengan kondisi sangat kritis.
“Tidak....!” Teriak Grisha begitu pedih saat melihat anaknya sebentar lagi akan menghadapi kematian apabila tidak segera ditolong, ditambah dengan kehilangan tangan dan kakinya membuatnya tambah kesakitan yang begitu besar.
“Maafkan aku Zeno, aku benar-benar meminta maaf, bagaimanapun juga kau dibesarkan di sini, jadi mengapa engkau tega melakukan sesuatu hal seperti ini.” Kata Grisha menangis dengan begitu kencang sambil memohon kepada Zeno.
Zeno tersenyum lebar sambil menggeleng-gelengkan kepala, dia begitu mengingat kekejaman ayah angkatnya dulu yang selalu menyiksanya tanpa belas kasihan, ditambah dengan ibunya yang selalu disiksa juga membuat Zeno begitu sedih.
Kali ini ayah angkatnya tepat dihadapan Zeno, dengan menunggu sisa-sisa kehidupan yang tidak akan lama lagi. Menyesali kesalahan yang telah ia lakukan kepada Zeno dan ibunya.
“Maafkan aku, ayah.” Kata Zeno dengan begitu datar menghunuskan pedangnya tepat pada jantung Grisha, membuatnya tak berdaya dan kehilangan nyawa tepat di tangan anak angkatnya.
__ADS_1