
“Kau masih kuat untuk berdiri?” Kata Zeno sambil berlari ke arah Danze lagi dan lagi, dia kali ini juga tidak akan membiarkan Danze untuk beristirahat, apalagi untuk mengatur napasnya. Tidak peduli apakah Orka milik Zeno sendiri habis, pasalnya dia merasa bahwa energinya tidak terbatas, bagaimana tidak? Sebenarnya dari tadi Zeno menyerap energi alam baik itu elemen petir, angin air dan tanah. Itulah mengapa Zeno bisa kembali bertarung menggunakan elemen.
Namun, menyerap energi alam tersebut dia lakukan tanpa dia sadari, bahkan energi alam tersebut seolah masuk ke dalam dirinya, bukan dengan sengaja dia menyerapnya. Selain itu, dia juga tidak menyangka bahwa tadi dia bisa menggunakan elemen legendaris untuk ke sekian kali.
“Teknik berpedang, aliran angin, tenang mengerikan.”
Tepat saat Zeno menebaskan pedangnya ke arah Danze, Danze memang menahannya menggunakan pedang berbahan kegelapan miliknya, namun siapa yang menyangka, bahwa Danze merasakan sebuah embusan angin yang sangat nikmat hingga menimbulkan sebuah kantuk di matanya. Tapi dia tidak bisa untuk melawak seperti tidur di tengah pertarungan, dia harus fokus dengan Zeno yang ada di hadapannya.
“Akan aku lihat, apakah kau akan bertahan dengan teknik berpedang aliran elemen milikku? Sepertinya kau berhasil melewati dua aliran elemen milikku, tenang saja, teknik berpedang aliran angin akan menjadi sebuah mimpi buruk bagimu.” Kata Zeno sambil menekan pedang Danze dengan begitu keras, selain itu pedang Zeno juga dilapisi oleh elemen angin berwarna ungu yang berputar seperti sebuah gerigi yang berputar.
Danze tidak dapat menahannya, terpaksa dia harus mundur beberapa langkah untuk menghindari pedang milik Zeno.
Zeno tidak bodoh, saat Danze mundur, dia juga ikut maju untuk menyerang Danze. Walaupun Danze juga menahan pedang milik Zeno, setidaknya Danze tidak bisa menahan daya pukul pedang milik Zeno.
Selain itu, Danze yang kesulitan untuk menahan seluruh serangan pedang Zeno, dia juga disulitkan dengan angin berembus yang begitu tenang, sehingga dia merasa bahwa energinya berkurang secara drastis. Sebenarnya itu adalah perasaan Danze, angin lembut itu hanya membuatnya mengantuk seolah tidak memiliki energi sama sekali. Angin yang begitu tenang, namun sangat mematikan.
Merasa kantuk, Danze menggigit lidahnya hingga berdarah, hal tersebut dia lakukan agar rasa kantuknya berkurang. Sehingga dia lebih bersemangat untuk mengalahkan Zeno yang menyerang secara membabi-buta menggunakan Ice Sword.
“Mati kau Danze!”
__ADS_1
“Tang! Tang!”
Ucapan Zeno yang diselingi oleh suara dentuman pedang begitu jelas. Walaupun pedang Danze hanya berbahan sebuah kegelapan, tapi entah mengapa dia bisa menggunakannya seperti halnya sebuah benda padat seperti sebuah besi.
Zeno juga mengangkat ujung bibirnya saat melihat bahwa Danze benar-benar kewalahan dengan serangan pedangnya. Padahal, saat pertarungan pertamanya dengan Danze, Zeno merasa sangat kewalahan dengan segala serangan pedang milik Danze, tapi kali ini kondisi benar-benar terbalik, bahkan yang katanya Danze menggunakan mode terkuatnya sekalipun, Zeno bisa menghadapinya dengan begitu mudah.
“Cih, manusia rendahan! Beraninya kau mengalahkanku! Aku, kaisar Danze I’ftarthur, yang merupakan kaisar terkuat tidak akan kalah begitu saja!” Danze melepaskan sebuah aura kematian yang sangat mengerikan, bahkan Zeno sedikit terlempar namun tidak sampai terjatuh.
Bagi Zeno yang hanya terpental saja, Danze merupakan sosok yang masih mengerikan, mungkin apabila Zeno tidak berubah menjadi seperti ini, Zeno akan terlempar begitu jauh dan memuntahkan seteguk darah. Jadi dia berhenti untuk meremehkan Danze lagi walaupun itu hanya sebatas mengangkat ujung bibirnya.
“Aaaaa!!!!” Danze berteriak sekuat tenaga, dia melesat ke arah Zeno dengan niatan membunuhnya yang semakin pekat.
Zeno masih bersikap tenang, dia tidak begitu panik saat Danze bergerak ke arahnya begitu cepat. Bahkan kecepatan Danze meninggalkan sebuah bayangan yang begitu banyak, untungnya Zeno berhasil melihat pergerakan Danze, dan bisa membedakan, mana bayangan dan mana Danze yang asli.
“Tebasan kegelapan, tahap ketujuh. Ribuan tusukan kematian!”
Zeno membuka mulutnya lebar-lebar saat dia melihat bahwa di hadapannya terdapat ribuan pedang yang akan menghunusnya. “Bagaimana mungkin?” Zeno bertanya dalam hatinya, dia sedikit terkejut bahwa Danze bisa mengeluarkan ribuan pedang yang akan menusuk dirinya. “Tidak.” Zeno kembali membatin, setelah berpikir dalam waktu yang dekat, Danze tidak menciptakan ribuan pedang, melainkan ribuan pedang itu digerakkan ke kanan dan ke kiri dengan begitu cepat sehingga membentuk sebuah bayangan pedang.
Hal itu dibuktikan dengan Danze yang ada di belakang pedang yang mana tangannya juga begitu banyak, yang mana itu sebenarnya adalah tangan yang digerakkan dengan begitu cepat sehingga meninggalkan sebuah bayangan yang dapat membohongi mata.
__ADS_1
Zeno menarik napasnya begitu erat, dia menatap Danze begitu sinis sambil mengayunkan tangannya ke depan. Dia seakan tidak peduli dengan kedatangan Danze yang sudah ada di depan matanya.
Siapa yang menyangka, bahwa pergerakan Danze berhenti seketika, yang mana ujung pedangnya tepat akan mengenai mata Zeno. Bagaimana tidak, bongkahan es bercabang berwarna ungu tua muncul dari tanah dengan begitu cepat dan menusuk tubuh Danze.
Danze yang terkena dari bongkahan es yang memiliki cabang yang banyak, dia memuntahkan banyak darah. Organ dalamnya sepertinya telah hancur karena banyaknya cabang es yang menusuknya. Dia mengerang kesakitan karena tubuhnya akan hancur, bahkan salah satu cabang es yang lancip berhasil menembus kepalanya.
“Aku tidak menyangka bahwa kau masih hidup dalam kondisi seperti ini. Aku menjadi curiga bahwa kau sebenarnya adalah iblis.”
“Gryp... hon, to-tolong a-aku.” Danze berkata dengan terbata-bata seolah dia kesulitan untuk mengeluarkan suara.
Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, lagi pula Danze juga masih hidup, Zeno segera menebas kepalanya sebelum sesuatu yang terjadi muncul lagi.
Tapi saat Zeno ingin menebas kepala Danze, sosok burung rajawali setengah singa dengan luka yang tidak begitu banyak tiba-tiba muncul dengan begitu cepat dan menyerang Zeno. hal itu membuat Zeno terpaksa untuk muncul beberapa langkah agar tidak terkena dari serangan Gryphon.
“Sialan!” Zeno berdecak kesal saat melihat bahwa Gryphon menghancurkan bongkahan es dan membawa pergi Danze ke arah timur.
“Genbu, kenapa Gryphon bisa lolos?” Zeno menoleh ke arah Genbu dari kejauhan yang merupakan musuh Gryphon.
“Maafkan aku tuan, tapi Gryphon sangat lincah, bahkan Uron dan Kirinpun kesulitan untuk melawannya. Skarlos siap menerima hukuman dari tuan.” Teriak Skarlos dari kejauhan.
__ADS_1
Zeno menggertakkan giginya, dia berniat melesat ke arah Gryphon yang membawa pergi Danze. Namun, saat hendak melesat, tiba-tiba terdapat teriakan Nora dari belakang yang membuatnya tertahan untuk mengejar Gryhon. Bagaimanapun, Zeno tidak ingin bahwa Danze kabur hidup-hidup.
“Zeno, Nyonya Arina memuntahkan seteguk darah berwarna hitam!”