
Sayangnya, Turse sama sekali tidak bisa membedakan, mana tubuh asli atau bukan. Bahkan, saat Turse menghadapkan mata anak panah kepada mereka satu persatu, tidak ada raut wajah yang berubah dari mereka, sehingga Turse juga sulit membedakan mana tubuh yang mencurigakan atau tidak.
Hal itu membuatnya menggertakkan gigi dibalik wajah yang begitu cantik dengan rambut panjang yang terurai.
Mau bagaimana lagi, kesempatan yang ada hanyalah menebak, walaupun cara itu tidak akan berhasil sepenuhnya, setidaknya mencoba bukankah hal yang salah daripada tidak sama sekali. Lagipula, sepuluh musuh yang mengelilinginya semakin menarik anak panah mereka sehingga tidak ada waktu yang banyak bagi Turse.
Suara anak panah lepas dari busurnya, Turse sudah membulatkan tekad untuk menebak salah satu dari mereka. Apa yang hanya dia lakukan adalah yakin.
Anak panah tersebut sudah menancap ke salah satu tubuh, tapi siapa yang menyangka, tebakan Turse benar-benar salah, bagaimana tidak, tubuh yang terkena anak panah Turse menghilang dan berubah menjadi serpihan cahaya.
“Bodoh!” Kesembilan tubuh langsung menembakkan anak panah yang dilapisi oleh cahaya tanpa berpikir panjang.
Turse tidak membuang-buang kesempatan lagi, dia mengeluarkan bongkahan es di hadapannya, kemudian dia berbalik badan dan menarik anak panah dengan begitu cepat, sehingga lima anak panah sekaligus muncul dan melesat menghancurkan anak panah yang datang. Tentu saja, sebelumnya dia memposisikan busur panah secara horizontal, sehingga dengan mudah lima anak panah melesat ke arah yang berbeda-beda.
Lima anak panah milik musuh hancur dan tepat sasaran. Kemudian, Turse menarik anak panah dengan cepat sama seperti tadi untuk menghancurkan lima tubuh yang Turse tidak tahu mana di antara mereka kloningan ataupun tubuh asli.
“Kloningan semua.” Turse kembali menarik tali busur dan muncul dari balik bongkahan yang tadi dia ciptakan untuk melindungi diri dari anak panah musuh dari sisi lain.
Kali ini empat anak panah yang diciptakan Turse melesat dan akan menghantam sisa musuh.
Tapi sayangnya, Turse sedikit terkejut bahwa semua tubuh yang mengepung dirinya tadi adalah kloningan semua. Buktinya, seluruh tubuh yang terkena anak panah milik Turse langsung hancur menjadi cahaya.
“Dasar licik, kau menyuruhku menebak salah satu yang asli. Tapi kau membuatnya palsu semua.” Kata Turse dengan nada tinggi. “Keluar!” Tegas Turse.
“Kau tidak akan bisa lari dari pemanah terhebat di benua Artrik sepertiku.” Turse sedikit menyombongkan diri, dia melakukan itu berharap musuh yang dia hadapi muncul karena merasa diremehkan.
__ADS_1
“Jebakan apalagi yang akan kau buat haa?” Turse berteriak kasar, “Kau tidak akan mungkin bisa mengeluarkan kloningan lagi, membuat kloningan benar-benar menguras Orka yang banyak. Dan apa yang akan kau lakukan?”
Tidak ada respons dari siapapun, apapun. Yang ada hanya kesunyian hutan yang ada lereng gunung Apiluc. Dia juga tidak tahu, di mana tuan Zeno berada, yang pasti dia yakin bahwa Zeno juga bertarung dengan musuh.
Kemungkinan terbesar, musuh Turse sudah kabur, tapi itu hanya kemungkinan besar dan Turse masih tidak menghilangkan kewaspadaannya. Karena, musuh yang dia hadapi benar-benar licik menurutnya.
“Atsuba!” panggil Turse kepada beastnya.
Tanpa berbicara banyak, Atsuba sang flamingo keluar dari tubuh Turse dengan begitu indah layaknya burung flamingo pada umumnya.
“Bukankah kau bisa merasakan orang di sekitar dengan memanfaatkan angin di sekitar?” Tanya Turse dengan nada yang sedikit datar, tatapan matanya begitu sinis.
“Tentu saja nona.”
“Lakukan!” Perintah Turse.
Timur, barat, Utara maupun selatan, Atsuba bisa merasakan hewan dan tumbuhan apa yang di terpa angin, selama angin itu masih satu hembusan menuju Atsuba. Namun, Atsuba juga memiliki batasan dalam melacak, sehingga dia tidak bisa melacak seseorang yang sangat jauh.
Atsuba yang telah melacak, namun tidak menemukan siapa-siapa, menjawab dengan nada rendah. “Dia sudah tidak ada.”
Turse benar-benar sangat kecewa, musuh yang dia hadapi ternyata sudah kabur tanpa sepengetahuan dirinya. Tapi dia juga sangat beruntung, karena tidak mati di tangan kloningan yang tidak ada apa-apanya.
“Tunggu sebentar!” Sahut Atsuba, dia diam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, “Dari arah selatan, ada yang menuju ke sini.”
“Apa?” Turse tidak tinggal diam, tanpa ragi dia menghadap ke selatan sambil menarik tali busurnya dengan sangat panjang, sehingga anak panah yang muncul pun juga sangat panjang.
__ADS_1
“Dia masih berani kembali?” Batinnya saat mendengar pergerakan, yang mana pergerakan tersebut menuju ke sini. Lagi pula, dari arah selatan merupakan semak-semak yang membuatnya kesulitan untuk melihat, siapa yang datang.
Tanpa ragu, dia melepaskan anak panahnya, dia juga tersenyum kecil saat yakin bahwa anak panahnya kali ini tidak akan melesat, walaupun musuh berada di balik semak sekalipun.
“Apa-apaan ini?” Zeno tiba-tiba keluar dari semak-semak sambil membawa anak panah yang patah, sepertinya dia menyadari bahwa Turse sedang menembakkan anak panah ke arah dirinya, sehingga dengan mudah, Zeno bisa mematahkan anak panah tersebut dengan sangat mudah.
Melihat hal terpenting, Turse tersentak kaget saat tahu siapa yang keluar dari semak-semak di hadapannya, tentu saja dia merasa sangat bodoh karena memanah tuannya tanpa dengan sengaja, merasa bersalah, dia menundukkan badannya berkali-kali sambil berkata, “Maafkan aku tuan, maafkan aku, aku pikir Anda tadi seorang musuh.”
“Racun apa yang kau berikan pada anak panahmu ini?” Wajah Zeno terlihat sangat buruk dengan mengerutkan dahinya, dia juga menunjukkan luka kecil yang ada pada telunjuknya.
Melihat hal itu, Turse menutup mulutnya karena tidak bisa untuk tidak terkejut. Ia tidak tahu, bahwa anak panahnya mengenai jari tuannya. Dia juga kesulitan untuk menjelaskan kepada tuannya, racun apa yang di berikan kepada anak panah itu?
Mau tidak mau, Turse harus menjelaskan, daripada dia harus melihat Zeno marah besar kepada dirinya.
Dengan nada yang sangat berat, Turse berkata, “Racun tersebut akan membuat Anda mengalami kejang-kejang dalam beberapa menit lagi. Tapi tenang saja, aku akan mencari penawar dengan cepat, karena gunung Apiluc sepertinya kaya akan penawar racun.” Dengan begitu panik, dan juga rasa bersalah, dia segera pergi untuk mencari penawar racun yang dia miliki.
“Diam di tempat!” Teriak Zeno.
Mendengar hal itu, Turse langsung terdiam dengan tubuh yang bergetar hebat. Dia juga melihat Zeno dengan wajah yang tak biasa menghampiri dirinya.
Melihat nonanya dalam bahaya, Atsuba langsung berdiri di hadapan Turse dan mengepakkan sayapnya sambil berkata, “Nona ini salahku, jadi Anda tidak perlu merasa bersalah.”
“Atsuba pergi!” Teriak Turse, “Tuan Zeno tidak memiliki urusan denganmu, dia sedang menghukumku.” Sambungnya.
Dengan begitu keras kepala Atsuba masih berani menghadang Zeno. Dengan terpaksa, Turse menariknya tanpa ragu. Sehingga kali ini, hanya ada Zeno yang tampak emosi, dengan Turse yang ketakutan di hadapannya.
__ADS_1
Zeno mengangkat tangannya dan mengarahkannya ke arah Turse. Hal itu membuat Turse memejamkan matanya karena tahu apa yang akan terjadi, yaitu sepertinya dia merasa bahwa dirinya akan dipukul.