
“Zen, karena kau terlalu ikut campur dengan urusan kami, maka akan ku pastikan bahwa kau akan mati di tempat ini.” Geldhe berdiri dari tempat jatuhnya.
“Aku sebenarnya juga tidak akan ikut campur apabila kau tidak main tangan. Setidaknya kau harus menjaga harga diri seseorang di depan umum.” Sahut Zeno sambil menurunkan kakinya, kemudian berjalan perlahan sambil menyeret katana yang masih di genggam tangannya.
“Siapa peduli.” Kata Geldhe sambil menjulurkan pedangnya di hadapan Zeno. Geldhe mengeluarkan sebuah teknik pada pedang yang ia julurkan. Mengakibatkan sambaran petir keluar dari ujung pedang Geldhe yang menyambar ke arah Zeno secara berulang kali.
Zeno menyipitkan matanya, bibir bawahnya telah dia gigit karena begitu kerepotan menghadapi sambaran-sambaran petir yang keluar dari ujung Zeno secara berulang kali. Terpaksa, dia harus mundur dan menjauh kembali untuk menjaga jarak dari petir. Karena bagaimanapun juga, jangkauan petir milik Geldhe sangatlah pendek jika tidak ada penghantar.
Beberapa meja dan kursi yang ada di kedai ini hanya bisa hangus karena terkena sambaran petir milik Geldhe. Zeno tidak bisa membayangkan apabila dampak dari serangan petir mengenai dirinya.
Geldhe tidak bodoh seperti yang Zeno kira. Saat Geldhe mengetahui Zeno menjaga jarak menghindari sambaran petir yang keluar dari ujung pedangnya, ia justru melangkahkan kakinya ke depan.
“Tunggu, apa?” Wajah Zeno begitu suram, ketika melihat Geldhe melangkahkan kakinya, membuat sambaran itu juga mendekat kearah Zeno.
Zeno juga sudah terpojokkan dengan sebuah tembok di belakangnya, membuatnya tidak bisa bergerak kemana-mana untuk menghindari sambaran petir yang semakin mendekati dirinya. Tetapi dia tidak berhenti disitu saja, dia kembali berpikir secara cepat sebelum sambaran petir itu mengenai Zeno.
“Anak kecil, jika kau bersedia untuk menjilat kakiku, maka aku akan menghentikan sambaran ini.” Kata Geldhe dengan tertawa begitu keras setelah melihat Zeno dipojokkan.
“Tidak semudah itu untuk membunuhku.” Kata Zeno dengan begitu dingin.
Zeno menaruh kembali katana yang ada di punggungnya, mengalihkan tangannya ke arah pedang dua jiwa. Sambaran yang Geldhe keluarkan hampir mengenai Zeno, tetapi jarak pada sambaran dengan wajah Zeno begitu dekat. Untungnya, Zeno berhasil menarik pedang dua jiwanya sekaligus menebaskan pedangnya ke depan.
Sebuah hembusan angin, begitu cepat mengarah ke arah Geldhe. Mengakibatkan Geldhe terpental ketiga kalinya. Sambaran petir yang mengarah ke Zeno juga menghilang dan tidak jadi mengenai Zeno.
__ADS_1
Mata Geldhe terbuka lebar saat mengetahui apa yang Zeno keluarkan, sesekali dia mengucek matanya agar yang ia lihat itu hanyalah bayang-bayang yang ada dipikirannya. Tetapi apa yang ia lihat Geldhe tetaplah merupakan pedang yang sama seperti saat Zeno mengeluarkannya di hadapan Geldhe.
“Tidak salah lagi, itu adalah.”
Zeno menebaskan kembali pedang dua jiwanya, aliran air begitu deras menabrak Geldhe sehingga tidak melanjutkan bicaranya.
“Baiklah, kalian boleh menyerang anak itu.” Teriak Geldhe kepada keempat bawahannya.
Seluruh bawahan Geldhe akhirnya bergerak maju menyerang Zeno. Tetapi itu merupakan sesuatu yang terlambat, karena seharusnya, Geldhe menyuruh bawahannya dari tadi. Sehingga saat Zeno sudah mengeluarkan pedang dua jiwanya, bawahan Geldhe diserang secara brutal.
Keadaan di dalam kedai semakin kacau dengan adanya serangan Zeno yang membabi buta, genangan air juga hampir memenuhi sudut ruangan karena terkena elemen air milik Zeno. Geldhe dan bawahannya juga tidak bisa menyerang lagi, karena serangan brutal dari Zeno yang menggunakan pedang dua jiwanya itu.
Zeno menghampiri Geldhe yang duduk lemas, sambil mengatakan. “Aku akan melepaskanmu, aku juga tidak melarangmu untuk menagih hutang seseorang, kembalilah lain kali jika pemilik kedai ini memiliki uang. Maafkan aku jika aku ikut campur. Ingatlah, jika kau memiliki dendam kepadaku, kau bisa mencariku. Tetapi, aku tidak akan membiarkan kau bisa membalas dendam kepadaku.”
Walaupun begitu, Zeno sudah tahu pasti bahwa Geldhe dan bawahannya akan kembali kehadapannya untuk membawa dendam. Tetapi Zeno tidak bisa membunuh Geldhe sekarang untuk memutus akar balas dendam. Pasalnya, Zeno tidak memiliki alasan apa-apa untuk membunuh Geldhe, tidak ada kesalahan sebenarnya yang Geldhe lakukan kepada Zeno sehingga membuat Zeno begitu marah. Lagipula dia hanya kurang senang melihat tingkah Geldhe memukul dan mempermalukan seseorang, sehingga ia memberinya sebuah pelajaran.
“Tidak semudah itu, siapa saja yang berurusan dengan Geldhe, maka orang itu harus mati.” Geldhe berdiri dengan badan gemetar. Tubuhnya perlahan dipenuhi dengan bulu rambut berwarna coklat, serta wajahnya kini juga perlahan berubah menjadi seperti hewan buas yaitu beruang.
“Tuan Geldhe, apa yang terjadi pada anda?” Tanya bawahan Geldhe dengan begitu panik setelah mengetahui perubahan fisik yang terjadi pada Geldhe.
“Kiba, apa yang terjadi padanya?” Tanya Zeno penasaran.
“Dia sepertinya telah mengalami penggabungan dengan beast nya tuan.” Jawab Kiba.
__ADS_1
Zeno lantas beranjak dan keluar dari kedai itu, karena bisa jadi Geldhe akan membuat kedai itu roboh.
“Anak kecil, kau mau lari kemana. Grrrrrr.”
Seluruh orang yang melihat hal tersebut juga berlari ketakutan dari area kedai dengan penginapan. Seseosok Geldhe telah bergabung menjadi beastnya membuat orang kocar-kacir, beberapa elementalist disekitar itu yang mempunyai sebuah beast juga merasa terkejut setelah melihat penggabungan antara beast. Karena peristiwa tersebut baru terjadi kali ini di negara ini. Bahkan Zeno baru tahu bahwa seseorang juga bisa bergabung dengan beastnya secara penuh.
“Aku akan menghindari kerumunan agar tidak ada korban. Karena sepertinya itu merupakan teknik yang sangat berbahaya.” Batin Zeno.
“Kiba, apakah kita bisa menggabungkan diri?” Tanya Zeno kepada Kiba.
“Akh, maafkan aku tuan, tetapi kita belum bisa melakukan itu. Karena kita telah menjadi tuan dan beastnya bisa dibilang baru."
Duarr
Ledakan petir milik Geldhe telah mengenai Zeno yang sedang berlari menghindarinya, sehingga membuat Zeno tersungkur di atas tanah. Dia sejenak juga merasakan efek kejut akibat tegangan petir yang mengenai tubuhnya, tetapi untungnya efek itu hanya sekilas, sehingga Zeno tidak terlalu lemas setelah merasakan sambaran petir milik Geldhe.
“Tidak ada yang bisa mengalahkanku saat aku memasuki penggabungan beast, yang bisa mengalahkanku hanyalah tuan Akram saja. Grrrr.” Teriak Geldhe yang berdiri di hadapan Zeno.
“Akram?” Zeno memutar matanya, wajahnya nampak kebingungan karena ia seperti mengenali nama itu.
Geldhe mengeluarkan sebuah energi petir dengan berbentuk bola di antara kedua tangannya, lantas ia melemparkan energi itu ke arah Zeno. Suasana yang gelap berubah menjadi kilatan petir yang akan menyambar Zeno. Untungnya Zeno masih bisa meloncat ke samping walaupun ia terkena sedikit dari dampak sambaran petir yang menyambar pohon di belakang Zeno.
Kering, hangus, itulah pohon yang terkena sambaran bola petir milik Geldhe, Zeno tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika sambaran mematikan itu mengenai Zeno.
__ADS_1
“Sial, sepertinya aku terlalu meremehkan dia.”