Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Kita sudang menang, waktunya kembali (end)


__ADS_3

“Aku! Fang Zeno, atas nama ibuku aku berhasil menyelesaikan apa yang ku janjikan, menyelesaikan apa yang ku dendamkan. Maka dari itu, ibu, ayah, kakek, nenek, aku harap kalian bisa tenang di alam sana.” Zeno berteriak dan menghadap ke atas setelah melihat jasad Danze yang dia bunuh. Suaranya cukup menggelegar dan menembus langit kekaisaran yang membuat ibukota bergetar dengan begitu hebat.


Rasanya cukup lelah, rasa puas dan sedih bercampur aduk di dalam hatinya. Puas karena berhasil membunuh Danze, namun di sisi lain dia juga sedih karena mengingat kematian ibunya. Pertarungan tersebut juga membuatnya benar-benar lelah dan kehabisan napas, namun dia tidak memiliki niatan untuk pingsan, karena rasanya cukup aneh apabila dia adalah seorang kaisar dan penguasa namun dia pingsan.


Apa yang dia lakukan adalah kembali berjalan, meninggalkan jasad Danze untuk kembali ke pesisir, terbaring di atas kasur yang berada di dalam kapal untuk melepaskan penat. Namun, saat dia berjalan dia dihadapkan dengan Turse yang berdiri dengan tubuhnya yang juga dipenuhi luka. Turse sendiri tersenyum dan menghela napas, saat tahu bahwa Zeno tidak terjadi apa-apa.


Zeno yang melihat Turse masih hidup dan tersenyum, dia juga membalas senyuman itu dengan puas. Setidaknya, dia masih bisa bersandar di sebuah pundak apabila dia pingsan tanpa dia inginkan. Itulah mengapa, dia memerintahkan Uron untuk membawa Turse ke sini setelah gerbang runtuh, karena jika Turse tidak berada di sini, dia bingung ingin bersandar kepada siapa setela pertarungan itu nanti.


Sesuai apa yang dia pikirkan, namun tidak dia harapkan, saat dia berjalan ke arah Turse, tubuhya terhuyung-huyung dan ambruk ke depan seolah sudah tidak berdaya lagi. Untungnya, Turse berhasil menampani Zeno yang membuat Zeno seolah jatuh di dekapnya.


“seperti biasa, setelah melakukan sesuatu yang berat, Anda akan pingsan. Tapi tenang saja, pundakku juga bersedia untuk menjadi sandaran.” Kata Turse dengan lembut, “Tunggu sebentar, Anda tidak pingsan?” Turse mengerutkan dahinya, namun dia langsung kembali melebarkan senyuman puasnya saat melihat sang kaisar masih membuka matanya dan mencoba berdiri tegak di dekat Turse.


“Bagaimana mungkin, aku adalah seorang kaisar, apa kata rakyatku apabila aku pingsan?” Jawab Zeno dengan suara lirih pula.


“Anda terlalu berlebihan. Dan sudah saatnya kita pulang, laksamana sudah mempersiapkan kapal es nya untuk kita kembali menuju Glacies Empire menjadi seorang kaisar, dan sang tangan kanan.” Turse membantu Zeno untuk berjalan, karena Zeno tampaknya berjalan dengan terhuyung-huyung. “Anda tidak perlu membuat ratusan pasukan kita untuk berjalan di atas air lagi, jenderal Lois sudah mempersiapkan beberapa kapal milik mare Enbarum yang masih utuh.” Sambungnya.


Zeno menghela napas lega, setidaknya dia tidak terlalu berat memikirkan bagaimana para pasukan berkuda untuk pulang. Namun, dia berkata tidak sesuai Turse bahas, “Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Zeno mencoba mengumpulkan sebuah keberanian untuk berbicara kepada Turse di saat mereka berjalan.

__ADS_1


“Jika aku sebagai seorang anak tidak pernah merasakan kebahagiaan seorang keluarga, maka aku berharap bisa menciptakan kebahagiaan itu sendiri.” Zeno berhenti dan menghentikan langkah Turse. Kemudian, dua manusia itu saling berhadapan yang mana Turse memasang kebingungan di hadapan Zeno. padahal dia sendiri sebenarnya mengerti apa yang akan dikatakan oleh Zeno.


Walaupun begitu, dia berpura-pura bodoh dan mengeluarkan suara untuk bertanya, “Apa maksudnya itu?”


“Kau nanti tidak akan hanya menjadi tangan kanan seorang kaisar terkuat.” Zeno memegang kedua tangan Turse yang sangat dingin. Mungkin karena Turse gemetar dengan detak jantungnya yang berdebar begitu kuat. “Aku akan menunggumu setidaknya sampai kita berumur 18 tahun, dan ....” Sebelum melanjutkan ucapannya, dengan penuh keberanian Zeno menempelkan dahinya di dahi Turse, “Jadilah permaisuriku.”


“Ka-kaisar?” Turs berkata dengan gugup, jantungnya semakin berdebar kencang setelah Zeno mengatakan hal demikian, namun dia langsung memejamkan matanya setelah Zeno memberikan sebuah isyarat.


Begitupun dengan Zeno, setelah memberikan sebuah isyarat dari matanya, dia juga memejamkan matanya perlahan dan mendekatkan bibirnya ke arah bibir Turse secara perlahan-lahan.


“Hei Selena, Lihat! Turse tampak lucu saat pipinya memerah karena malu.” Nora berlagak senang di samping Selena.


“Ahhh, lihatlah, mereka akan berciuman.” Ucap Nora yang bertingkah aneh seolah kegirangan.


Mendengar hal itu, Zeno langsung membuka matanya dan menarik kepalanya. Padahal, hanya kurang beberapa inci saja, bibir mereka berdua sudah bersentuhan. Mungkin karena ada Nora yang berlagak aneh, sehingga membuat Zeno sangat malu.


“Kapan-kapan saja ya Turse, sudah saatnya kita kembali.” Katanya sambil menggandeng tangan Turse yang mana wajah Turse sendiri terlihat sangat sinis seolah penuh emosi. Apalagi ketika memandang Nora.

__ADS_1


......


Beberapa jam kemudian, setelah pasukan Glacies pergi, jasad Danze yang tidak utuh perlahan-lahan menghilang. Tidak hanya itu saja, kepala patung Yashimaru juga memancarkan sebuah kegelapan seolah habis menyerap jasad Danze. Padahal bisa dibilang, kedua benda tersebut dalam kondisi berjauhan.


Tidak lama kemudian, semua serpihan patung Yashimaru tampak diselimuti kegelapan yang sangat pekat. Semua serpihan itu melayang ke atas secara perlahan sesaat sebelum melesat menembus langit dan menyebar secara acak.


Semua orang yang ada di situ, lebih tepatnya pada rakyat yang menjadi sangat kebingungan karena kekaisaran mereka hancur, mereka juga terkejut dengan puluhan kegelapan yang memancar ke atas. Tidak, lebih tepatnya itu adalah seluruh serpihan patung Yashimaru yang dilapisi oleh kegelapan dan elemen api, sehingga tampak memancar.


.....


“Berita buruk, dan baik bercampur menjadi satu. Aku tidak menyangka saat patung Yashimaru dihancurkan, dia masih berusaha untuk menyerap jasad Danze, sehingga dia bangkit dalam kondisi serpihan tubuhnya menyebar.” Luna menghela napas, sambil membuka matanya perlahan-lahan, memperlihatkan bola matanya yang berkilau dengan begitu cantik yang menempal pada wajahnya yang sangat elok. “Selain itu, tampaknya aku akan memiliki seorang menantu yang cukup kuat dengan anakku.”


Kemudian, dia tersenyum sambil melanjutkan ucapannya, “Elemen kegelapan dan api milik Yashimaru, tidak akan bisa kembali lagi kepadaku atau Zeno yang merupakan anak dan jiwa yang kuciptakan secara pribadi, hal itu disebabkan karena kutukan Yashimaru. Namun, aku berharap Zeno menyegel kedua elemen tersebut ke tubuh istrinya suatu saat nanti.” Dewi Luna kembali menghela napas, “Dengan begitu, anak mereka akan memiliki delapan elemen karena faktor keturunan. Air, Angin, Api, Tanah, Petir, Cahaya, Kegelapan, ditambah dengan elemen racun, akan ada dalam tubuh anak mereka, atau cucuku.”


“Walaupun, mereka akan berhadapan dengan Yashimaru terlebih dahulu. Tidak, Yashimaru membutuhkan waktu yang lama untuk menemukan serpihan tubuhnya, sehingga aku akan membiarkan Zeno bersenang-senang di dunia ini selama sepuluh tahun lamanya.”


“Tentunya, aku akan memberitahu Zeno, melalui alam mimpi untuk tidak memiliki anak sebelum mengalahkan Yashimaru dan menyegel dua elemen tersebut di tubuh Turse. Mungkin rasanya cukup berat dan sangat egois, tetapi ini demi mereka agar anak mereka memiliki kekuatan elemen yang hebat, lebih hebat dari siapapun yang membuat mereka bangga.”

__ADS_1


(End)


__ADS_2