
"Kau benar-benar jahat sekali." Kata seseorang yang sedang duduk bersila di sebuah dimensi yang begitu terang, bahkan tidak ada batas sama sekali di tempat tersebut yang membuat orang itu seolah duduk melayang.
Orang itu juga menatap wanita cantik yang tiba-tiba muncul di dimensi tersebut, dengan air mata yang menetes membasahi pipinya seolah larut dalam sebuah kesedihan. Namun, saat menghadap ke pria di hadapannya, dia mengusap air matanya seakan-akan tidak ingin memperlihatkan kesedihannya.
"Zhuo maafkan aku. Tapi aku menuruti apa yang kau ucapkan. Anak adalah anugerah, namun engkau adalah seseorang yang aku pilih." Kata wanita tersebut yang tidak lain merupakan Arina.
"Apa engkau tidak kasihan kepada Zeno? Dia baru merasakan rasanya berkumpul kepada keluarga. Namun, kau meninggalkannya begitu saja." Zhuo berdiri dari duduk silanya, menghampiri Arina yang termenung lesu karena kebingungan mengenai apa yang dia lakukan.
"Apa kau tidak tahu sayang? Zeno bekerja keras untukmu, dia bahkan menghancurkan kekaisaran hanya karena ingin mendapatkan penawar tersebut. Tapi dengan mudah kau menghancurkannya." Zhuo tersenyum sambil mengangkat dagu Arina dengan perlahan.
"Benarkah?" Arina begitu terkejut saat mendengar apa yang Zhuo katakan. Dia menggertakkan giginya karena memiliki sifat yang tidak menghargai sama sekali. Menyesal? Namun Arina tidak memiliki penyesalan sama sekali saat mati dan tidak memakan penawar yang Zeno berikan. Apa yang dia sesali adalah menghancurkan bunga tersebut, mungkin jika dia bisa mengulang waktu, dia akan menerima bunga tersebut bukan untuk sebagai penawar, namun karena sebuah cinta.
Selain itu, Arina juga kaget saat mendengar bahwa Zeno menghancurkan sebuah kekaisaran. Tentunya itu merupakan sebuah hal yang mengejutkan, apalagi yang melakukan hal tersebut adalah seorang remaja yang baru saja menginjak 16 tahun hari ini.
"Sudahlah, lupakan saja." Zhuo memeluk Arina yang kebingungan, "Kau tidak perlu menyesalinya, kau melakukan itu karena ingin terus bersamaku? Aku benar-benar menghargainya." Zhuo semakin memeluk dengan begitu erat, sehingga Arina kesulitan untuk bernapas. "Selain itu, aku benar-benar berterima kasih kepadamu karena menjaga Zeno tanpa diriku sebelumnya. Kau benar-benar bisa membuat anak kita menjadi sehebat itu."
"Tidak perlu berterima kasih, itu memang sudah kewajiban. Sehingga Zeno memiliki keberanian seperti dirimu." Jawab Arina.
"Selain itu aku menyelesaikan sebuah tugas dari seseorang." Sambung Arina dengan begitu lirih, sambil membalas pelukan Zhuo.
"Apa?" Zhuo mendengarnya, namun tidak terlalu jelas.
"Tidak, lupakan saja." Arina tersenyum sambil memejamkan matanya, merasakan sebuah kehangatan dari pelukan jenderal Zhuo.
__ADS_1
"Seseorang?" Arina membatin sambil tersenyum tipis, "Sepertinya terlalu hina apabila menyebutnya dengan sebutan 'seseorang'."
"Apa kita kau ingin menunggu ketiga anak kita, agar kita bisa berkumpul kembali?" Jenderal Zhuo melepaskan pelukannya dan menatap Arina.
Arina hanya mengembungkan pipinya sambil menatap sinis Zhuo, dengan sedikit marah, dia berkata, "Apa kau berharap bahwa anak kita akan mati dengan begitu cepat?"
"Tidak, maksudku kita akan menunggunya disini terlebih dahulu. Walaupun itu selama puluhan tahun." Zhuo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Biarkan mereka seperti ini dengan pasangan mereka. Selain itu, kita akan bermesraan di alam kematian sana tanpa ada yang mengganggu."
"Kau benar, sayang." Zhuo menjawab dengan begitu singkat.
Hingga pada akhirnya, tubuh mereka berdua perlahan menghilang dengan berubah menjadi serpihan cahaya. Disusul dengan dimensi tersebut yang hancur dan berubah menjadi sebuah tempat gelap yang sama sekali tidak memiliki sebuah ruang dan waktu.
Bersamaan dengan itu, Zeno masih menangis sambil memeluk ibunya yang terbaring dan tidak memiliki sebuah kekuatan sama sekali, napas, detak jantung, semuanya terhenti yang membuat Zeno memenuhi sebuah ruangan dengan tangisan.
"Ibu jahat, aku benar-benar membencinya." Zeno semakin memeluk erat ibunya. Dia sebenarnya tersadar, sekuat apapun dia membangunkan ibunya, ibunya sudah tidak akan bangun lagi. Namun, entah kenapa tubuhnya secara refleks mencoba untuk membangunkan ibunya seolah tidak ingin menerima kenyataan mengenai apa yang terjadi.
"Ibu jahat!" Zeno mengulangi ucapannya secara berulang kali.
Rasanya sangat berat, bahkan Zeno juga ingin ikut mati. Wajahnya memerah menandakan bahwa dia merasakan sebuah emosi yang tidak terkontrol pada tubuhnya.
"Tidak adil." Zeno menarik napas dengan sesak. Dia merasa bahwa dunia sangat tidak adil kepada dirinya. Bagaimana tidak, dirinya baru saja mengalami sebuah kebahagiaan yang baru saja dia alami, namun semua kebahagiaan itu seketika hilang begitu saja.
__ADS_1
Selain itu, ini adalah sebuah kado yang paling buruk yang pernah dia terima. Ulang tahun yang seharusnya dihadiahi sesuatu yang begitu bagus dan mengesankan, justru disuguhi peristiwa paling buruk dalam hidupnya.
Suasana benar-benar menjadi hening kecuali Isak tangisan Zeno. Sebagian keluarga Fang, Ares, serta kaisar negara air, angin, petir yang melihatnya. Mereka terdiam seribu bahasa saat melihat sebuah kejadian yang tidak begitu mengesankan. Yuna, dia juga tiba-tiba pingsan saat mengetahui sebuah kenyataan yang tidak bisa dia terima.
Turse, Kirin dan Uron, semuanya melihat tuannya dengan begitu sedih. Bahkan Turse juga tidak bisa membendung air mata dan menangis seolah merasakan apa yang Zeno rasakan.
Zeno mencoba untuk berdiri, dia menghentikan tangisannya dan menelan ludah secara kasar. Mencoba mengikhlaskan apa yang terjadi barusan, namun, rasanya begitu sulit, seakan bahwa ini adalah sebuah mimpi buruk baginya.
Tubuhnya terasa begitu panas, dengan energi kehidupan seolah mengalir bersamaan dengan sebuah aliran darah.
"Danzeee!" Zeno berteriak dengan begitu keras, bahkan seluruh keluarganya tampak bergetar mendengarnya. "Aku bersumpah, aku akan membunuhmu dengan cara yang paling mengenaskan. Memang, memang bukan kau yang membunuh ibuku, namun, jika bukan karena kau! Ibuku tidak akan begini." Nada suaranya yang tinggi, perlahan merendah karena dia tidak kuasa saat menyebut ibunya.
Namun, dia kembali berteriak sambil mengulurkan tangannya ke arah dinding kamar yang ada di barat. Namun, dinding kamar itu bukan pembatas antara ruangan lain dengan kamar Arina, melainkan kamar Arina dengan luar istana.
"Jangan berpikir bahwa kau bisa lari dari hadapanku Danzeee!"
Seketika, sebuah cahaya muncul dari telapak tangan Zeno, memunculkan sebuah sinar gamma yang menghancurkan dinding kamar dalam sekejap.
Seluruh orang yang melihatnya begitu terkejut saat Zeno mengeluarkan sebuah elemen cahaya. Banyak dari mereka yang mengusap matanya karena begitu silau saat melihat ledakan cahaya yang begitu mengerikan.
Bahkan, Turse yang melihatnya saja langsung membuka mulutnya dan terkejut mengenai apa yang dia lihat. Dia juga mencoba mengusap matanya sekaligus menghapus air mata, memastikan bahwa kerusakan di dinding akibat cahaya yang dikeluarkan Zeno hanyalah ilusi belaka.
Namun, kerusakan itu tampak begitu nyata yang menandakan bahwa Zeno memang mengeluarkan sebuah ledakan cahaya barusan.
__ADS_1
"Bangkit ketika seseorang mengalami musibah yang besar?" Zeno berdecak sebelum melanjutkan ucapannya, "Benar-benar sangat kejam."