
“Watur!” Tegas Leght.
“Tunggu, tidak Watur, jangan!” Ert berkata.
Namun Watur tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ert, yang mana dia akan menghilangkan unsur elemen air yang terdapat pada elemen lumpur yang menenggelamkan mereka berlima hingga sampai bagian perut. Apalagi jika mereka banyak bergerak, maka mereka akan semakin tenggelam ke lumpur tersebut. Apalagi kondisi hujan rintik-rintik yang membuat lumpur itu semakin menjadi-jadi.
Tentu saja, setelah Watur melakukan apa yang dilakukan Leght, yang mana menghilangkan unsur elemen air dari elemen lumpur, justru akan semakin memperburuk keadaan. Yang mana, tubuh mereka terjebak ke dalam tanah padat yang membuat mereka sama sekali tidak bergerak sedikitpun. Ert hanya bisa menghela napas kesal kepada Leght, apalagi kepada Watur yang bertindak bodoh. Namun sebelum itu, dia mengarahkan batu tanah yang jatuh itu ke arah Zeno, yang sebelumnya akan jatuh ke arah mereka berlima.
Zeno memang menjauh, namun dia masih melihat dari kejauhan bahwa mereka berlima justru terjebak oleh tanah padat karena lumpur tersebut kehilangan airnya seratus persen. Apa yang dia lakukan adalah menghancurkan batu tersebut yang menuju ke arah dirinya. Hitung-hitung, dia juga ingin menggunakan sebuah elemen baru yaitu elemen cahaya.
Zeno mengulurkan tangannya seperti apa yang dilakukan oleh para elementalist cahaya. Dengan memfokuskan sebuah orka pada telapak tangan, dia memperhitungkan bahwa teknik kali ini kurang lebih sama dengan mengeluarkan sebuah sambaran petir. Lagipula, pada awal dia menyadari, dia berhasil menggunakan teknik tersebut.
“Ledakan cahaya.”
Seketika sebuah tembakan cahaya yang begitu besar muncul dari telapak tangan Zeno seperti sebuah laser. Kemudian cahaya tersebut menghancurkan batu besar dalam sekejap. Bahkan tidak ada serpihan yang menyisakan akibat hancurnya batu tersebut, semua seolah dimakan elemen cahaya yang baru saja dikeluarkan oleh Zeno.
Namun, elemen cahayanya tiba-tiba terhenti, untungnya batu besar itu sudah hancur sepenuhnya. Menyadari hal tersebut, Zeno kembali menoleh ke depan, dan melihat bahwa kelima orang pilar sang penguasa elemen sudah keluar jebakan tanah padat. Tidak heran, mungkin Ert mengeluarkan mereka berlima dengan begitu mudah karena pada dasarnya, dia bisa menundukkan elemen tanah, bahkan membalikkan sebuah pulau mungkin sangat mudah baginya.
__ADS_1
Leght memukulkan kedua tangannya yang bercahaya, dia masih tersenyum ramah seperti wanita berkulit coklat atau Ert. Tampaknya, para wanita tersebut memang sangat ramah dibandingkan para pilar pria. “Baiklah, kali ini kami tidak akan maju satu persatu.” Katanya dengan begitu serius.
“Aku sudah mengatakannya bukan, jikalau aku tidak bisa menghadiri pemakaman ibuku karena mengurus badut seperti kalian. Maka aku yang akan mengirim kalian ke pemakaman ibuku.” Zeno mengatur napasnya, sehingga matanya berubah menjadi warna merah dengan suaranya yang sedikit berat.
Selain itu, angin berwarna ungu berhembus berputar mengelilingi Zeno, dengan Zeno yang mengulurkan kedua tangannya yang mana di tangan kirinya terdapat sebuah elemen air berwarna biru tua yang mengitari lengannya, dan di tangan kanannya, terdapat sebuah elemen petir yang mengeluarkan sebuah suara khas dengan warna merah darah.
“Elemen legendaris.” Mereka semua membatin dengan serentak, namun mereka semua terlihat tampak tenang dan tidak kaget dengan semua itu. Masalahnya, elemen legendaris merupakan hal yang sangat mudah bagi mereka, hanya saja, mereka menggunakan satu perseribu dari kemampuannya, elemen mereka seolah biasa saja.
Zeno menghilangkan itu semua, mencoba mengontrol emosinya karena dia tahu bahwa mengeluarkan elemen legendaris pun tampaknya akan begitu sia-sia di hadapan para penguasa. Sehingga, Zeno memilih menggunakan kekuatan fisik dan gabungan dari dua elemen seperti es, kayu, lumpur dan juga debu.
“Kenapa kau justru menghilangkan semua elemen legendaris yang kau baru munculkan?” Winder bertanya dengan begitu penasaran.
Dalam sekejap, angin tersebut menghilang dengan mudah karena Winder menyapu tangannya, namun menyisakan debu yang berjatuhan membuat pandangan mereka terganggu. Karena Ert, penguasa elemen tanah, dia juga menghilangkan debu itu dalam sekejap.
Mereka kemudian tidak menyangka, bahwa Zeno sudah tidak ada dari pandangan mereka berlima. Terutama Leght yang bisa melihat pergerakan elemen cahaya sekalipun, dia tidak bisa melihat kemana Zeno, karena terganggu oleh debu-debu tersebut.
Sontak, Zeno yang ada di belakang mereka mengeluarkan sebuah pohon besar tanpa daun dengan cabang-cabang yang tajam dan bersiap untuk menusuk mereka. Ert yang menyadari langsung berbalik badan sambil memukul pohon itu menggunakan Hammernya, sedangkan Winder dia langsung bergerak mengendarai tornado untuk menyerang Zeno dari atas.
__ADS_1
Tidak tinggal dia, Zeno melapisi tangannya menggunakan sebuah elemen es, dia dengan sekuat tenaga langsung memukul permukaan tanah dan memunculkan sebuah es tajam yang keluar dari atas tanah. Hal tersebut secara refleks membuat mereka berempat melompat secara bersamaan dengan Ert yang memukul permukaan tanah sehingga es tajam itu hilang dalam sekejap.
“Sinar Gamma tahap ketiga belas. Cahaya suci dewi agung.” Legt yang melayang menyatukan di antara jari kedua tangannya, kemudian dia memejamkan matanya. Hal tersebut membuat sebuah cahaya yang muncul di antara kedua tangannya dan menembak ke arah Zeno.
Zeno yang merasa ada ancaman dari salah satu sisi, memunculkan sebuah pelindung kubah dari kelima elemennya secara berlapis. Namun, para penguasa tidak membiarkan itu, dia menghilangkan kubah yang digunakan Zeno sebagai sebuah perlindungan. Bersamaan dengan itu, sebuah sinar cahaya milik Leght meledak tepat dimana Zeno berpijak.
Siapa yang menyangka, saat udara kotor akibat ledakan menghilang, Zeno sudah tidak berada di tempat. Melainkan dia sudah bergerak secepat cahaya, di saat para penguasa itu membuka kubahnya, sehingga tidak ada yang menyadari bahwa Zeno bergerak bahkan Leght sekalipun, karena dia terfokus dengan sinar gammanya.
“Benar-benar terhibur. Aku berterimakasih kepada kalian, paman, bibi sang penguasa elemental.” Kata lima Zeno secara serentak.
Benar, Zeno memecah tubuhnya menjadi lima dan masing-masing berdiri di belakang sang penguasa dengan bola matanya yang berbeda warna seolah masing-masing Zeno menggunakan salah satu elemen yang Zeno miliki.
Tanpa menggunakan sebuah elemen, Zeno memukul masing-masing mereka secara bersamaan, namu yang cepat menyadari hanyalah Eghtning, Leght dan juga Winder, sedangkan Watur dan Ert, dia terlempar ke depan saat Zeno memukulnya. Sedangkan para pilar yang menyadari, mereka langsung menahan tangan Zeno dan melakukan sebuah serangan balasan.
Namun, Zeno cukup mudah untuk menghindari balasan dari mereka bahkan mereka adalah seorang dewa atau pilar penguasa sekalipun. Bahkan ketiga dari mereka masih menambahkan masing-masing elemen untuk menyerang Zeno, dan hasilnya sama saja bahwa Zeno bisa menghindarinya dengan begitu mudah.
Baik itu Ert dan juga Watur, mereka langsung berdiri dan berlari ke arah masing-masing Zeno yang melawan mereka.
__ADS_1
“Elemental blast.”
Masing-masing dari Zeno menembakkan sebuah elemen yang berbeda-beda dengan melawan para pilar yang tidak menguasai elemen yang Zeno keluarkan. Sebagai contoh, Leght menghadapi Zeno yang mengeluarkan sebuah elemen petir, karena dia tahu bahwa Eghting tidak akan bisa mengurusnya, pasalnya Egtning juga berfokus untuk melawan Zeno yang berelemen tanah. Begitupun para pilar lainnya.