Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Kematian Dion


__ADS_3

Sebelum Zeno melancarkan serangan, Zeno memperhatikan sekeliling dan melihat bahwa para pengepung masih tetap berdiri memperhatikan pertarungan hidup dan mati Dion. “Sebelumnya, aku tidak menyarankan kalian berada di dekat sini. Jika kalian masih keras kepala untuk tidak pergi, maka jangan salahkan aku ketika kalian terluka.”


Seluruh orang yang menyadari hal tersebut langsung beranjak pergi menjauhi pertarungan, terkecuali Zhuo dan Aurrora, dia masih tetap berdiri di belakang Zeno karena mereka percaya bahwa serangan Zeno tidak menjangkau mereka yang ada di belakang. Sedangkan Krum dan keluarganya, mereka langsung masuk ke dalam rumah mereka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Saat ini Zeno berdiri dengan Kiba yang ada di sebelahnya, menatap Dion yang sudah tidak mampu lagi untuk melawan maupun lari karena tubuhnya yang sangat lemah. Tetapi di sisi itu, Dion masih berani-beraninya membuka mulut, “Kau, kau adalah iblis terkejam yang pernah ku temui. Jika kau berani membunuhku, maka leluhurku akan terus menghantuimu. Ingat itu! Penyihir iblis sepertimu sudah seharusnya mati! Sebenarnya kau bukan anak jenderal, tetapi kau memang penyihir yang mempengaruhi pikiran jenderal!”


“Bukan bermaksud sombong, tetapi jika kau memang sangat lemah, jangan sekali-kali menunjukkan sebuah kelemahanmu dengan membawa orang terkuat seperti leluhurmu atau orang yang memiliki hak untuk berlaku seenaknya seperti Duke untuk mengancam seseorang. Aku bisa saja membawa nama leluhur untuk mengancammu, bahkan aku mempunyai dua  yang sangat hebat. Apa kau ingin tahu siapa nama dua leluhurku yang sangat hebat?” Zeno masih bersikap dingin.


“Tanyakan itu kepada leluhurmu di alam sana, dia pasti tahu siapa leluhurku.”


Perlahan, sebuah angin lembut yang keluar dari belakang tubuh Zeno menerjang Dion. Lembut tetapi sangat mengerikan, satu persatu luka sayatan muncul di tubuh Dion. Hal itu membuat Dion mengalami rasa perih yang luar biasa karena luka sayatan yang sangat banyak. “Zen! kau adalah iblis!” Dion mengulangi perkataanya sebelum tubuhnya terpotong-potong menjadi puluhan bagian yang sangat kecil.


Mungkin sesiapapun yang melihat kondisi Dion akan menjadi muntah darah, karena saat ini Dion bagaikan daging yang dicincang dengan potongan kecil. Salju yang menjadi pertumpahan darah Dion menjadi berwarna merah pekat.


Duke Arlos yang melihat dari kejauhan hanya bisa terjatuh sambil berteriak menyebut nama Dion. Wajahnya menjadi seputih kertas menahan rasa sakit yang ada di dalam hatinya. Bagaimana lagi, dirinya mungkin akan sangat sulit untuk bergerak membalas dendam, karena Zeno dikelilingi oleh orang yang penting, selain itu, Dion juga telah melakukan kesalahan besar sehingga membuat dirinya dihukum seperti itu.


“Baik, siapa yang tidak terima Dion seperti itu? Langkahkan kaki kalian maju ke depan!” Jenderal Zhuo berteriak.

__ADS_1


Tidak ada sesiapapun yang berani untuk melangkahkan kakinya ke depan. Mereka dari tadi benar-benar terkejut, pasalnya kaisar maupun jenderal jarang-jarang memberikan hukuman seseorang separah itu. Mungkin paling parah hanyalah hukuman penggal tanpa adanya penyiksaan.


“Kau terlihat sangat kejam.” Kaisar Aurrora memandang Zeno sangat sinis. Tetapi dia tidak begitu marah atas tindakan Zeno, lagi pula menurutnya calon pemimpin memang harus memiliki jiwa yang kejam, maksudnya kejam kepada musuhnya.


“Maafkan aku kaisar, jika menurut Anda aku terlalu kejam, maka Anda bisa menghukumku balik.” Zeno membungkukkan badannya.


“Tidak, itu lebih dari cukup. Itu merupakan keputusanmu untuk menghukum Dion. Aku benar-benar berharap kau datang menuju kekaisaran, jaraknya mungkin sangat dekat dengan wilayah kerajaan Alvalos, karena ibukota Prosxia atau pusat emperor ini memang berada di barat daya wilayah Alvalos.”


Perlahan, tubuh kaisar Aurrora berubah menjadi udara dingin berwarna putih yang tersapu angin. Mungkinkah itu kemampuan kaisar? Zeno hanya bisa takjub dengan kemampuan seperti itu.


Saat ini, Zeno memandang sekilas jasad tidak utuh Dion yang berceceran di atas tumpukan tanah es. Jika dipikir-pikir, Zeno juga merasa  kasihan, namun tidak ada rasa penyesalan. Dia juga merasa mual sendiri dan beranjak pergi meninggalkan jasad Dion, dan orang-orang yang masih tetap berdiri memalingkan wajah mereka karena jijik dengan jasad Dion.


Skarlos menjadi tersenyum setelah mendengar apa yang Zeno katakan, setidaknya dia menjadi lega mengapa Zeno tidak menyuruh dirinya untuk melawan beast milik Dion. Dia juga mengingat mengenai bentuk fisiknya yang terlalu mencolok bahwa dirinya adalah Genbu.


Seluruh warga perlahan berkumpul dan penasaran mengenai apa yang terjadi. Karena sebelumnya saat melakukan pertarungan, seluruh warga di halau oleh beberapa prajurit sehingga mereka tidak diberi kesempatan untuk melihat.


Saat ini, hanya ada Arlos yang sedang menyentuh potongan Dion. Sambil mengeluarkan air mata yang membasahi pipi dan janggut tipisnya. Dan hanya disaksikan oleh warga sekitar yang pada akhirnya juga pergi karena merasa sangat jijik.

__ADS_1


Sedangkan orang-orang yang pernah berhubungan dengan Zeno seperti Hanof, dan Turse. Mereka semua beranjak pergi tanpa memedulikan Duke Arlos sedikitpun.


Sedikit, sedikit ada rasa dendam dalam hati Duke, wajahnya berlumuran darah karena dia membasahinya dengan darah milik Dion. Benar-benar sangat mengerikan. Sesiapapun yang melihat apa yang dilakukan Duke mungkin mereka akan menganggap sebuah kegilaan.


Tapi Duke masih normal, dirinya masih normal. Itu hanya sebatas upacara pengucapan janji sumpah dibalik amarahnya yang kian semakin tidak terkendali. Mulutnya bergetar, berteriak memanggil Zeno yang sudah beranjak pergi meninggalkan jasad Dion seakan tidak memiliki rasa bersalah.


“Tunggu, Zen! apakah kau pergi tanpa adanya rasa penyesalan?” Arlos menggertak. “Mungkin kau merupakan anak jenderal, tetapi hatimu terselimuti oleh iblis. Aku sebagai ayah Dion tidak terima dengan perlakuan seperti ini, Aku, aku berjanji untuk menghabisimu. Tidak peduli apakah kau cucu kaisar atau bukan.”


Zen berhenti sejenak, dia melirik sedikit Arlos yang menangis sambil meraupkan darah Dion ke wajahnya. Sekali lagi Zeno merasa kasihan, tetapi masih tetap tidak ada rasa penyesalan untuk membunuh yang terkandung di dalam hatinya. Membunuh? Itu merupakan hal yang sangat biasa, bahkan Zeno pernah membantai habis satu keluarga tanpa ada rasa bersalah.


“Dunia memang kejam, adakalanya yang kuat dan berkuasa akan menindas yang lemah. Bukankah itu yang dilakukan Dion?” Zeno menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya, “Aku benar-benar teringat dengan wajah anakmu yang merasa paling berkuasa, menjadikan jati dirinya dipenuhi dengan kesombongan.”


“Dan itu tidak ada bedanya dengan kau!” Teriak Arlos.


“Yah benar, tidak ada bedanya dengan aku, maupun kau. Aku akan menindas yang lemah, dalam artian yang lemah itu musuhku, dan bukan orang biasa yang tidak bersalah.” Zeno kemudian tidak melanjutkan ucapannya, dia hanya kembali mengarah ke depan sambil berjalan meninggalkan Arlos.


“Tunggu sebentar--.” Teriak kembali Arlos.

__ADS_1


“Apa perlu aku membunuhnya? Dia terlalu banyak bicara.” Kata Zeno yang menoleh ke arah ayahnya.


“Tidak perlu, kita tidak memiliki perintah.” Ucapnya sambil melemparkan Ice Sword ke arah Zeno dengan niat mengembalikannya.


__ADS_2