
Hanof hanya mengeram kesakitan selama sepuluh detik sebelum sadar bahwa perutnya telah membeku akibat pukulan yang diberikan oleh Zeno. Hanof yang berwajah sombong kini mengubah raut wajahnya menjadi sangat buruk. Terlebih lagi dia harus menahan sakit dari perutnya yang sedikit hancur.
“Aku di sini tidak pernah mencari ulah, tuan mudamu Dion lah yang pertama kali mengangguku. Kalian, kalian justru menuduhku yang tidak-tidak, tindakan kalian yang menuduhku justru membuat aku tidak bisa tinggal diam. Jika kalian terus melakukan itu kepadaku, maka aku tidak akan segan lagi untuk membunuh kalian. Kembalilah, dan katakan kepada Duke Arlos untuk tidak menuduh dan mengincarku, kita anggap masalah ini selesai, dan aku tidak akan melakukan suatu kejahatan apapun!”
“Pantas saja orang-orang jahat semakin berulah, ternyata orang-orang baik sering melakukan tuduhan palsu sehingga membuat orang menjadi jahat dan membalas dendam. Aku jadi heran, siapa sebenarnya orang jahat tersebut.” Sambung Zeno.
Zeno sudah hampir habis kesabaran menghadapi Hanof, tetapi dia tidak langsung bertindak konyol untuk melepas kemarahannya, namun dia menunggu Hanof untuk bergerak, jika dia bergerak untuk kabur, maka Zeno akan membiarkan saja, tetapi jika Hanof bertingkah bodoh, sekali tebasan maka itu sudah cukup.
Hanof mencoba berdiri sambil memegang perutnya yang terluka, dia tidak menyangka bahwa Zeno yang diremehkan bisa sekuat ini, padahal dirinya sudah menjadi seperti orang terkuat di wilayah Duke. Tetapi ternyata dirinya bisa dikalahkan dengan satu pukulan, benar-benar dia merasa bahwa Zeno bukanlah tandingannya. Tetapi dia tidak menyerah begitu saja, dia berdiri sambil mengangkat tinjunya, setidaknya dia ingin berusaha untuk memukul Zeno satu pukulan saja.
Tapi apa yang Hanof lakukan justru membuat Zeno merasa bahwa Hanof ingin mencari mati, bukannya menyerah justru berulah kembali merupakan suatu kesalahan terbesar. Tanpa ragu sedikitpun, Zeno mengambil kembali Ice Sword dan menebaskan ke arah leher Hanof. Sayangnya Hanof disini tidak selemah itu, tangan yang ia gunakan untuk memukul Zeno kini dia gunakan untuk menangkis Ice Sword.
“Bodoh!” Gumam Zeno.
Walaupun begitu, Hanof membuka matanya lebar-lebar dan memperhatikan bahwa Ice Sword dapat menembus es yang melindungi tinjunya, hal tersebut membuat tangan Hanof terbelah dengan darah segar yang mengalir deras di antara es yang menjadi pelindung tinju Zeno.
“Tuan Hanof!” pemimpin prajurit yang bersama Hanof berteriak ketakutan saat melihat tinju Hanof terbelah menjadi dua. Wajahnya seakan tidak percaya bahwa es yang menjadi sarung tinju Hanof bisa ditembus menggunakan pedang, padahal selama hidupnya, dia belum pernah melihat pedang satupun yang menembus sarung tinju es yang melindungi tangan Hanof. Bahkan kebanyakan pedang akan patah.
__ADS_1
“Dasar kau anak buah Rungdaf, penyihir sialan!”
Zeno kemudian menaruh Ice Sword ke bawah dagu pemimpin prajurit, hal itu membuat orang tersebut menjadi bergetar ketakutan karena merasakan bahaya kematian apabila Zeno menggerakkan pedangnya maju. Bahkan dia merasa pedang Zeno sangat dingin melebihi suhu benua Artik.
“Katakan sekali lagi!” Pinta Zeno.
Pemimpin prajurit tidak bisa membuka mulut seakan mulutnya terkunci karena takut dengan Zeno, jantungnya berdebar kencang karena apabila salah tingkah, Zeno akan mendorong pedangnya dan menghancurkan lehernya. Sedangkan Hanof, dia masih memperhatikan tangannya dengan ketidak percayaan, tidak ada rasa sakit sekali karena pikirannya benar-benar kosong.
Zeno menarik Ice Sword dan beranjak pergi dari kedai ini, namun sebelum pergi, dia menaruh dua koin emas ke arah kasir. Mungkin dua koin emas terlalu kebanyakan, tetapi hal itu juga digunakan untuk mengganti kerugian kedai yang telah rusak akibat pertarungannya.
Hari juga sudah mulai malam, Zeno ingin mencari penginapan untuk menenangkan diri. Rasanya dia ingin keluar dari wilayah kerajaan Alvolus ini dan menuju kerajaan lain agar tidak dikejar-kejar. Setidaknya mungkin berita tentang adanya bawahan Rundaf akan sampai keluar wilayah dan menuju kerajaan lain besok pagi, sehingga Zeno bisa beristirahat pada malam hari.
Tapi menuju kerajaan lain pastinya terlalu jauh, jadi Zeno memilih untuk mencari penginapan terdekat untuk beristirahat, serta lebih baik dia tidak memberikan namanya yaitu Zen, agar orang-orang tidak terlalu takut kepadanya. Mungkin menggunakan nama asli adalah pilihan bagus seperti Zeno. Karena selama di sini dia menggunakan nama yang bernama Zen.
Suhu benua Artik semakin malam juga semakin dingin, hal itu membuat Zeno memeluk dirinya sendiri sambil mencari penginapan agar dirinya bisa lebih hangat. Dirinya entah kenapa tersenyum sendiri, membayangkan ternyata mencari ayahnya tidak semudah yang ia bayangkan. Padahal ini baru satu diantara ratusan wilayah di Southern Empire.
Setelah sekian lama berjalan, akhirnya Zeno menemukan sebuah penginapan yang cukup ramai. Dirinya pun akhirnya masuk dan berjalan ke arah resepsionis dan memesan satu kamar yang layak untuk beristirahat.
__ADS_1
“Apa anda bisa menunjukkan identitas anda?” Tanya resepsionis tersebut.
Zeno tahu bahwa berita mengenai dirinya yang merupakan anak buang Rungdaf telah menyebar kesini, sehingga pemilik hotel juga pastinya berjaga-jaga agar tidak sembarangan untuk melayani tamu. Zeno pun akhirnya memberikan sebuah lencana yang berasal dari negaranya.
“Tuan Fang Zeno, sepertinya anda bukan berasal dari emperor ini. Namun tuan harus berhati-hati, akhir-akhir ini ada seseorang yang bernama Zen yang merupakan bawahan Rungdaf.” Kata Resepsionis wanita itu berbisik.
“Aku juga tahu, bahkan saat di kedai tadi, orang-orang dari Duke sedang bertarung dengannya, untung saja aku sempat pergi, karena orang yang bernama Hanof itu sangat mengerikan saat bertarung.” Kata Zeno tersenyum lebar dan berbohong, karena jika tidak berbohong dan tidak meyakinkan resepsionis tersebut, maka identitas Zeno akan mudah terbuka.
“Tuan Hanof tidak semengerikan yang tuan bayangkan. Dia sebenarnya baik kepada orang-orang, bahkan dia menghancurkan tulang leher bagi siapa saja yang mengganggu orang di wilayah kerajaan Alvolus, atau lebih tepatnya lagi pada wilayah milik Duke Arlos.” Kata Resepsionis menjelaskan.
Zeno hanya menggelengkan kepala sambil tertawa dalam hatinya, semua mengenai Hanof hanyalah sebuah omong kosong, nyatanya Hanof tidak sekuat yang orang katakan. Tetapi ada sebuah pertanyaan yang membuat Zeno penasaran, siapa sebenarnya Rungdaf. Untuk menghilangkan rasa penasaran tersebut, Zeno bertanya kepada resepsionis di depannya. “Jika boleh tau, siapa itu Rundaf, kenapa orang tersebut seperti sosok yang sangat dibenci?”
Resepsionis yang ada di hadapan Zeno melihat sekeliling, memastikan bahwa tidak ada sesiapapun yang mendengarnya. Kemudian dia membisikkan sesuatu kepada Zeno, “Rundaf merupakan seorang penyihir badai yang membunuh orang tua kaisar Aurrora. Bahkan Rundaf sendiri telah menjadi musuh bebuyutan kaisar Aurrora, belasan tahun yang lalu, Rundaf muncul lagi untuk menguasai emperor. Tapi untungnya ada anak kaisar, yaitu jenderal emmm sebentar aku lupa.”
Wanita tersebut akhirnya menyerah untuk berpikir, sehingga memilih untuk melanjutkan ucapannya, “Yang pasti anak kaisar Aurrora berhasil memukul mundur penyihir badai tersebut. Tapi sayang sekali, mereka tidak sempat untuk membunuhnya.”
“Baiklah, terimakasih atas informasinya.” Zeno tersenyum ke arah resepsionis sambil mengambil kembali lencana keluarganya.
__ADS_1