
Zeno tiba-tiba terbangun di kamarnya dengan sebuah selimut yang berada di tubuhnya. Air matanya masih mengalir yang mana dia masih larut dalam sebuah kesedihan. “Apa itu hanyalah mimpi? Aku harap kematian ibu adalah mimpi pula.” Kata Zeno dengan begitu lirih, dia menarik napas begitu sesak.
Turse yang ada di dekatnya, akhirnya menghela napas saat Zeno terbangun dari pingsannya. “Akhirnya Anda bangun juga tuan.” Katanya dengan mengusap air matanya dan tidak ingin menunjukkan kesedihannya, “Aku mengerti bagaimana rasanya kehilangan seorang ibu. Pingsan? Aku juga pernah seperti itu.”
“Jadi ini bukan mimpi? Di mana orang-orang sekarang?” Zeno berkata dengan nada yang tinggi.
“Mereka sedang melakukan upacara pemakaman kepada ibu Anda.” Kata Turse dengan tidak begitu tega.
“Apa?” Zeno langsung beranjak berdiri dari tempat tidurnya, dia berlari ke arah sebuah pemakaman pribadi keluarga kekaisaran yang tepatnya berada di sebelah taman yaitu belakang istana kekaisaran. Karena dia tidak ingin melewatkan kesempatan melihat ibunya untuk yang terakhir kalinya.
Turse yang melihat itu langsung mengejar Zeno, mungkin sudah beberapa jam dia menunggunya. Selain itu, dia juga memilih untuk menunggu Zeno yang pingsan akibat syok yang menurut Turse itu sendiri. Dibandingkan untuk menghadiri upacara pemakaman ibu Zeno.
.....
“Tunggu sebentar!” Teriak Zeno sebelum sebuah tanah ditimpakan di atas sebuah peti mati ibunya.
Orang-orang tersebut menghentikan apa yang mereka lakukan. Membiarkan seorang pangeran untuk melihat kesempatan terakhir ibunya. Rasanya juga sangat sedih, bahkan Fang Tan harus memalingkan wajahnya hanya karena tidak ingin kesedihan yang terjadi pada adiknya.
Zeno mengusap wajahnya di atas tanah kubur, melihat ibunya terbaring di atas sebuah peti kayu dengan wajah begitu pucat sambil mengenakan gaun seorang permaisuri yang dipakai selama menjadi seorang istri kaisar jenderal Zhuo, walaupun Zeno sendiri baru tahu bahwa itu adalah gaun yang digunakan saat menjadi istri ayahnya yang menjadi kaisar.
Rasanya sedikit berat, bahkan Zeno kesulitan untuk bernapas karena hidungnya dipenuhi lendir yang membuatnya begitu sesak. Tapi mau bagaimana lagi, ini semua sudah takdir, walaupun begitu kejam saat tahu bahwa nyawa ibunya ditukarkan oleh sebuah elemen cahaya kepada dirinya.
Di samping makam ibunya, terdapat dua buah makam yang tampaknya begitu baru. Makam tersebut tidak lain merupakan makam jenderal Zhuo dan juga Fang Yoshi yang meninggal akibat insiden kala itu. Zeno juga menjadi lebih sedih lagi dan menyesal saat tidak menghadiri pemakaman ayah dan kakeknya.
__ADS_1
“Zeno, aku harap kau bisa menerimanya.” Hanzi Ares, atau kakek Zeno dari mendiang ibunya merangkul Zeno, menenangkan cucunya yang sedih hingga berlarut-larut. Walaupun dia sendiri juga sangat berat saat kehilangan putri tercintanya.
Zeno menghadap ke atas, tersenyum terpaksa di hadapan para keluarganya bahwa dia bisa menerimanya, meskipun itu benar-benar sangat sulit. “Yah aku menerimanya, segera kuburkan jasad ibuku.”
Zeno kemudian pergi setelah orang-orang menutup peti dan meletakkan tanah sedikit demi sedikit di atas peti tersebut. Dia pergi dengan tidak memiliki semangat sekali, masih menangis dan tersenyum terpaksa di wajahnya. Dengan Turse yang muncul di hadapannya, sambil tersenyum ramah di hadapan Zeno dan mencoba untuk menghiburnya.
“Jauhi aku Turse, berikan aku waktu untuk sendiri.”
Turse mangangguk, dia mengerti bahwa Zeno membutuhkan masa untuk berkabung. Tidak mungkin dirinya bertatap muka sekarang juga untuk membahas kembali menuju benua Artrik. Selain itu, terdapat Aure, Nora dan Selena yang ikut kembali ke benua Artrik terlebih dahulu untuk mengikuti prosesi pemakaman kaisar Aurrora, selain itu, dia menjadi lebih sedikit santai saat Fang Tan mengatakan bahwa Aure memimpin kekaisaran untuk sementara. Walaupun Turse sendiri juga tidak yakin apakah Aure bisa? Tapi mungkin yang pasti itu bisa, pasalnya Aure merupakan anak dari kaisar Northern yang pastinya diajarkan sebuah kepemimpinan.
.....
Zeno kini kembali lagi berada di kamarnya, merebahkan dirinya di atas ranjang dengan menutup mukanya dengan bantal. Dia mencoba untuk menenangkan diri karena kehilangan ibunya, mencoba menghentikan sebuah tangisan dengan meyakinkan dirinya bahwa dirinya adalah seorang lelaki, yang mana laki-laki harus kuat.
Namun menghibur diri sendiri justru membuatnya menangis tersedu-sedu. Kehilangan sang ibu rasanya seperti kehilangan harapan hidup, rasanya, Zeno juga ingin ikut mati menyusul ibunya. Namun, dia merasa, seolah ada yang mengelus kepalanya dengan lembut, dia juga mendengar bahwa dirinya harus tetap untuk hidup. Akan tetapi, saat Zeno membuka bantalnya dan menoleh ke atas, dia tidak menemukan sesiapapun.
Zeno mencoba bangun, menghilangkan air mata kesedihannya dan kembali tersenyum. Dia juga memejamkan matanya sambil berbicara kepada ketiga beastnya yang mungkin bisa menghilangkan kesedihannya.
“Apa kalian bertiga tahu para pilar penguasa elemen?” Tanya Zeno yang mana matanya merah karena terlalu banyak bersedih di hadapan ketiga beastnya.
“Maksud Anda Ert, Leght, Winder dan yang lainnya? Memangnya kenapa tuan?” Tanya Skarlos dengan lirih, karena rasanya tidak pantas untuk berkata dengan nada tinggi kepada seseorang yang baru saja bersedih.
“Aku baru saja bertemu dengan mereka.”
__ADS_1
“Benarkah?” Azure mengerutkan dahinya, “Aku harap mereka tidak membuat tuan kesakitan.”
“Tidak, justru sebelumnya mereka mengujiku hingga aku mendapatkan kekuatan dari masing-masing mereka. Sehingga aku bisa menguasai dan mengendalikan lima elemen yang aku miliki. Tunggu sebentar, kalian tidak tahu ujian itu untukku?” Zeno menjelaskan.
Mendengar hal tersebut, Kiba, Skarlos dan Azure tersenyum senang di antara wajah hewan mereka. Kini, sang tuan mereka telah menjadi penguasa lima elemental seperti yang mereka tunggu-tunggu. Sehingga, apa yang mereka lakukan adalah mengucapkan selamat kepada Zeno agar Zeno tampak lebih bahagia kembali.
Seperti apa yang mereka harapkan, Zeno mengusap air matanya dan kembali tersenyum setelah para beastnya mencoba untuk menghiburnya. Bahkan hatinya sedikit lebih lega saat dia bisa tersenyum dengan senang hati.
“Serius tuan, tapi sebelumnya aku tidak pernah tau ujian itu. Mungkin para pilar merencanakannya saat kami belum bangkit kembali.” Kiba angkat suara.
“Entahlah, para pilar penguasa itu mengatakan bahwa rencana itu dibuat saat aku mendapatkan elemen pertama, itu terjadi saat lima tahun sebelum kau menjadi beastku, sehingga dewi Luna juga masih ada sebelum dia menghilang lima tahun kemudian.” Ujar Zeno.
“Lima tahun sebelum aku menjadi beast Anda?” Kiba berpikir sejenak hingga akhirnya dia menggelengkan kepala, “Tidak, aku baru saja bangkit satu bulan sebelum menjadi beast Anda.”
Tanpa disangka-sangka, Azure dan juga Skarlos menembakkan salah satu teknik dari mereka ke arah Zeno. Hal tersebut membuat Kiba terkejut dan berteriak, “Apa yang kalian lakukan kepada tuan.”
Dengan begitu muda, Zeno mengulurkan tangannya dan menggenggam secara perlahan, sehingga teknik yang dikeluarkan oleh Azure dan juga Skarlos hilang begitu saja seolah tunduk dengan Zeno.
Zeno menatap kedua beastnya dengan begitu sinis, dia tahu apa maksud Azure dan juga Skarlos melakukan itu. “Apakah kalian ingin mengetesku?”
“Tidak, maafkan aku tuan, Skarlos yang mengajakku.” Kata Azure menuduh Skarlos.
“Hey kau cacing tanah, kenapa kau justru menuduhku. Bukankah kau duluan yang ingin menguji kekuatan penguasa tuan?”
__ADS_1
Melihat Sakarlos dan juga Azure bertengkar, Zeno memejamkan matanya sambil tersenyum, “Kalian ini, apakah kalian akan menjadi beast yang bertengkar di dalam tubuhku? Itu tidak masalah, setidaknya kalian bisa menjadi akrab kembali.”
“Ada-ada saja cara kalian untuk menghibur tuan.” Batin Kiba.