
“Kaisar Lumenlus IV, bagaimana? Apakah tidurmu benar-benar nyenyak malam ini?” Di sebuah gubuk kecil, dengan sungai yang mengalir deras di depannya, Kirin duduk disebuah kursi rotan dengan kaisar Lumenlus IV yang baru saja datang menyusuri sungai dan masuk ke dalam gubuk tersebut.
Nampaknya, Lumenlus IV merasa kebingungan saat berada di sini. Padahal, sebelumnya pria tua itu mengingat bahwa dirinya tengah terbaring tidur di atas ranjang, walaupun dia benar-benar kesulitan untuk tertidur setelah mendengar kabar bahwa jenderal Gorb meninggal. Rasanya sangat berat, dan benar-benar menyakitkan, bahwa jendral utama pasukan perangnya hilang begitu saja, padahal Gorb merupakan jenderal terbaik.
Lumenlus IV tentunya juga tidak tinggal diam. Tidak peduli apakah kekaisaran Nuvoleon merupakan kaisar terkuat kedua di dunia, jika membuat dirinya merasa terhina, Lumenlus juga berencana untuk berperang untuk meminta sebuah pertanggungjawaban. Padahal, dia sendiri lah yang membuat ulah yaitu membiarkan jenderal terbaiknya untuk membawa pasukan demi sebuah kepentingan jenderal itu pribadi.
Akan tetapi, dia berpikiran bahwa meredakan sebuah hal yang memukul hatinya dengan tidur bukanlah sebuah masalah. Sehingga dia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan membuat rencana esok pagi.
Namun, kali ini Lumenlus IV dihadapkan sebuah pemandangan yang dia sendiri tidak tahu dirinya ada di mana. Yang ada, dia tersadar bahwa dirinya berada di dalam gubuk dengan seseorang yang duduk di sebuah kursi yang terbuat dari rotan. Selain itu, Lumenlus juga merasa aneh dengan seseorang yang ada di hadapannya.
“Katakan, aku berada di mana?” Tanya Lumenlus IV dengan nada yang sedikit tinggi.
“Jika aku bilang bahwa ini merupakan dunia yang berada di alam bawah sadarmu, apakah kau percaya?” Orang tersebut, yang tidak lain merupakan Kirin berbicara.
“Jangan main-main! Apakah kau tidak tahu siapakah aku? Aku bisa membunuhmu dalam sekejap, karena aku adalah kaisar peringkat ketujuh, Lumenlus IV.” Lumenlus IV menyombongkan diri.
__ADS_1
“Benarkah? Tetapi, ketika kau sudah berada di sini, kau bisa apa?” Kirin mengulurkan tangannya dan menembakkan sebuah sambaran petir berwarna biru ke arah kaisar Lumenlus IV.
Alih-alih menghindar, justru kaisar Lumenlus IV tersenyum percaya diri sambil mengulurkan tangannya pula. Berpikir, bahwa elemen petir milik Kirin dapat dihancurkan dengan elemen cahaya miliknya dengan begitu mudah.
Namun siapa yang menyangka, Lumenlus IV merasakan bahwa dirinya tidak memiliki elemen sama sekali. Sehingga dirinya yang terlambat untuk menghindar membuat dirinya terlempar jauh keluar dari gubuk dengan tubuh mati rasa karena dampak dari sambaran petir yang Kirin keluarkan.
Sayangnya, Kirin tidak mengeluarkan sambaran tersebut secara dahsyat, karena kali ini dia hanya akan membuat Lumenlus IV tersiksa, agar dirinya mati di dunia nyata. Sehingga rencana peperangan melawan Nuvoleon itu tidak akan terjadi.
“Bagaimana kaisar?” Kirin berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri kaisar yang sedang mencoba berdiri di pinggir sungai. “Selamat datang di duniaku. Dunia di bawah alam sadar seseorang yang sedang mengalami keputusasaan, merasa lelah, dan juga terluka berat.”
“Apa maksudmu?” Pria tua itu berdiri sepenuhnya dan berusaha mengeluarkan elemen cahaya untuk menyerang Kirin. Namun, dia berlagak seperti orang gila yang memainkan tangannya tanpa mengeluarkan elemen apapun. Sehingga Kirin hanya tersenyum sombong di depannya tanpa melakukan apapun.
Lumenlus merasa bodoh dengan apa yang Kirin katakan. Jika elemen tidak berguna di sini, tanpa ragu dirinya langsung menyerang Kirin dengan kekuatan fisik.
Kirin hanya menghela napas sambil mengeluarkan sebuah sambaran petir yang sedikit dahsyat. Sehingga, Lumenlus IV terlempar jatuh ke sebuah sungai yang mengalir begitu deras.
__ADS_1
Tentu saja, Lumenlus Iv mencoba berenang untuk naik ke permukaan dengan tubuhnya yang begitu lemah. Namun, siapa sangka sosok jenderal Gorb di pinggir sungai dengan tampang mengerikan muncul sambil mengulurkan tangan Lumenlus seolah ingin menolongnya.
Lumenlus tidak menghiraukan uluran tangan tersebut, karena dia tahu bahwa sosok di pinggir sungai itu bukanlah jenderal Gorb yang merupakan jenderal kesayangannya. Dirinya sangat yakin bahwa ini hanyalah ilusi yang membuat dirinya hanya bersikap tenang sampai ilusi itu berhenti. Akan tetapi, rasanya itu sangat aneh, jelas-jelas rasa sakit yang dirinya rasakan tampak begitu nyata yang membuat dirinya semakin bimbang.
Kemudian, sosok Kirin tiba-tiba muncul dari atas pria tua berjanggut yang sedang berenang ke tepian. Lumenlus IV dengan begitu cepat untuk berenang ke pinggir karena dia tahu tidak ada gunanya untuk melawan, sehingga yang paling utama adalah menghindar sampai waktu ilusi ini benar-benar habis.
Sangat disayangkan, bahwa Lumenlus Iv tidak bisa berenang ke tepian dengan begitu cepat. Sehingga, dia langsung terkena sebuah pukulan mematikan yang diberikan oleh Kirin. Tidak hanya itu saja, pukulan Kirin juga memunculkan sebuah elemen petir berwarna biru yang membuat seolah pukulan tersebut benar-benar mengerikan.
Akibatnya, air sungai tersebut bergelombang dengan begitu hebat, dengan kaisar Lumenlus IV yang menjadi sebuah jasad dengan tubuh hangus. Kirin yang melihat hal tersebut, langsung menghela napas dengan lega karena berhasil membunuh Lumenlus IV dengan begitu cepat tanpa melalui sebuah peperangan besar. Karena pada dasarnya memang itu yang dihindari Kirin, yaitu sebuah perang yang membuat Zeno tidak pulang secepatnya.
Kaisar Lumenlus IV yang mati, membuat dunia yang Kirin ciptakan perlahan hancur dan berubah menjadi percikan-percikan petir yang hilang dan berubah menjadi ruangan gelap. Tentu saja, Kirin langsung segera keluar, karena jika tidak, dirinya tidak akan bisa keluar selamanya.
Saat dia keluar, Kirin memperhatikan kaisar Lumenlus IV yang terbaring di atas ranjang dengan kondisi tubuh yang masih normal tanpa terkena serangan Kirin sedikitpun. Sehingga, membunuh seperti ini benar-benar sangat efektif, karena para pengawal yang melihat akan mengira bahwa kaisar Lumenlus IV meninggal karena penyakit. Karena pada dasarnya kaisar mati dan tidak ada sebuah jejak membunuh.
Sebenarnya, teknik Kirin ini cukup mudah. Asal targetnya sedang dalam keadaan dimana dia lelah, marah, putus asa. Tanpa emosi tersebut sekalipun, tentu saja bisa. Namun targetnya harus berharap masuk ke dunia Kirin seolah membukakan celah untuk Kirin, orang tersebut bisa masuk dengan cukup mudah.
__ADS_1
“Akhirnya selesai, sehingga tuan bisa pulang dengan cepat.” Kirin menghela napas lega sebelum melanjutkan ucapannya, “Asalkan Uron sialan itu bisa melakukan sesuatu agar pihak Ampera tidak melakukan peperangan dengan Nuvoleon.”
“Tidak, sebaiknya aku langsung menuju Ampera untuk membantu Uron.” Kata Kirin yang beranjak pergi melewati jendela kamar Kirin dan berubah menjadi naga yang bergerak seperti sebuah sambaran petir.