Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Ancaman (3)


__ADS_3

Zeno melepaskan mereka dengan penuh hati-hati. Setidaknya, Zeno harus memperhatikan bahwa mereka memiliki pergerakan mencurigakan yang mana membuat Zeno harus menyerangnya atau tidak? Masalahnya, walaupun sudah diberi racun sekalipun, tidak menutup kemungkinan mereka akan menyerang Zeno dan memaksa Turse untuk mengeluarkan penawarnya sekali lagi.


Untungnya, itu jauh dari apa yang dia pikirkan, dua orang itu masih bergidik ketakutan dengan tatapan sayu karena terlihat kelelahan. Hari yang begitu buruk bagi mereka, merasakan kejamnya seseorang membuat mereka ingin mengulang waktu dan tidak ingin menjadi bagian dari tuan sepuluh. Mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlambat, apa yang mereka lakukan juga harus dipertanggung jawabkan.


Kaki mereka mendadak juga lumpuh dan tidak kuat untuk berdiri saat melihat tatapan Zeno yang begitu dingin dan tampak menakutkan. Terlihat tatapan dengan seorang pembunuh yang begitu haus darah. Buktinya, mereka melihat, bahwa Zeno justru tersenyum di saat membunuh rekannya.


“Sebelumnya, aku ingin tahu nama kalian.” Zeno berjongkok dan berkata di depan mata mereka.


“Marut. Haha iya namaku adalah Marut.” Kata salah satu orang dengan luka dalam di dadanya.


Zeno segera mengingat, Marut, tentu saja nama yang cukup mudah diingat dan juga ciri fisiknya pula. Kulit setengah hitam bahkan di balik kegelapan sekalipun Zeno masih bisa melihatnya, serta tahi lalat kecil di atas bibir yang membuat orang tersebut begitu mudah dikenali.


Pandangannya diubah dengan menatap seseorang yang ada di sampingnya, mungkin orang ini terlihat tidak terlalu mencolok dengan fisik yang sama saja seperti manusia pada umumnya. Mungkin hanya berbekal bentuk wajah, Zeno bisa mengingatnya dengan begitu baik. Dan tentu saja nama, beberapa detik telah berlalu dan Zeno masih menunggu orang tersebut mengatakan siapa namanya.


“Hans. Anda bisa memanggilku Hans.” Jawab orang itu dengan tubuh gemetar karena menatap mata Zeno.


Zeno tersenyum senang, setidaknya dia tidak perlu lagi menguras energinya untuk mencari tahu siapa nama mereka. Karena Zeno juga tahu persis, bahwa kelompok kriminal dari berbagai wilayah manapun, mereka tidak akan memberitahu nama mereka. Hal itu bertujuan akan mempersulit pihak kekaisaran untuk mencari mereka yang telah menjadi seorang buronan.

__ADS_1


Dia juga berdiri dari jongkoknya, berbalik badan dan memasang postur bersedekap dengan melirik mereka sedikit. “Kalian ingat apa yang aku perintahkan?” Zeno menanyakan hal tersebut.


Hans dan Marut, keduanya mengangguk ketakutan sambil mengelap keringat mereka yang keluar. Darah dan juga keringat, dua cairan tersebut juga membasahi pakaian mereka sehingga mereka terlihat menjijikkan bagi Zeno ataupun Turse.


“Bagus.” Dia kemudian berjalan pergi meninggalkan mereka berdua, diikuti dengan Turse yang juga pergi sambil melirik mereka sedikit.


Di sela-sela itu, Turse berkata dengan nada yang sedikit tinggi sehingga mereka semua agar mendengar begitu baik, “Jangan berpikir bahwa ketika kalian melaporkan kepada tuan sepuluh, maka tuan sepuluh akan menyembuhkan kalian. Karena racun itu kubuat sendiri, maka obatnya juga hanya ada padaku. Mungkin kau bisa sembuh, tapi jangan bermimpi untuk mendapatkan bunga teratai emas.”


Suara Turse semakin lirih yang menandakan bahwa dirinya sudah pergi menjauh dari Hans dan Marut. Mereka berdua benar-benar menghela napas lega karena diberi sebuah kesempatan hidup yang sangat berbeda dengan kedelapan rekannya. Apa yang perlu mereka lakukan adalah pergi dan menuruti apa yang dikatakan oleh Zeno, karena mereka juga ingin mendapatkan penawar itu untuk bisa hidup lebih.


“Hari sudah dingin yang menandakan ini benar-benar sudah malam. Tidak, lebih tepatnya ini sudah sepertiga malam terakhir atau sudah masuk dini hari. Kurang dua hari lagi bunga itu mekar, kedua belah pihak juga sudah mengeluarkan aksi mereka untuk mengamankan gunung ini. Dan aku juga tidak lupa, kurang sekitar dua puluh harinan lagi sebelum racun itu memuncak. Benar-benar tidak menyangka, bahwa akan menjadi sesulit ini.” Zeno berkata dengan lirih, wajahnya begitu menunjukkan bahwa dirinya begitu tidak sabar untuk mendapatkan bunga teratai emas.


Walaupun begitu, Turse melirik ke arah Zeno dan mendengar apa yang Zeno gumamkan. Terlihat begitu menyedihkan bagi anak laki-laki seperti Zeno saat tahu bahwa ibunya dalam keadaan kritis. Turse tidak tahu, apakah semenjak mereka berada di sini, Zeno bisa meredakan kesedihannya? Setidaknya Turse masih sedikit tahu bagaimana rasanya melihat seorang ibu yang sakit keras sama seperti ibu Zeno.


“Tuan, apa yang akan kita lakukan?” Tanya Turse.


“Aku akan membuat rencana dengan begitu sungguh-sungguh. Lagipula, rencana Hole sudah kacau, entahlah aku juga tidak tahu dia berada di mana.” Zeno berhenti sejenak yang diikuti oleh Turse yang penasaran dengan rencana Turse.

__ADS_1


“Kiba, pastikan tidak ada orang disekitar.” Perintah Zeno.


“Aman. Tidak ada orang disekitar dari jarak yang begitu dekat hingga bisa mendengar rencana tuan.” Jawab Kiba yang ada di dalam tubuh Zeno sambil mencoba untuk mencium bau manusia di sekitar.


“Baguslah.” Zeno mengangguk sambil memikirkan rencana itu sendiri.


“Kemungkinan terbesar, pertempuran akan dilakukan di jalur utara gunung Apiluc, dengan pihak tuan sepuluh yang sudah memisahkan pasukan Nuvoleon. Kemudian, tuan sepuluh akan menjadi lebih tenang, maksudku dia akan lengah karena tahu bahwa kita sudah mati, sehingga dia akan menjadi lebih fokus untuk menghadapi pihak Nuvoleon. Dengan begitu, kita biarkan saja pertarungan antar mereka.”


“Dan tentu saja kita akan menyerang pihak yang menang, tentu saja saat mereka sudah menang, maka mereka akan merasa tidak ada ancaman lain atau benar-benar sangat lengah. Sehingga begitu mudah untuk menghabisi mereka.” Zeno menjelaskan rencananya, “Kemungkinan juga Hole akan kembali, tapi aku akan berusaha agar dia tidak mendapatkan bunga tersebut.”


“Peperangan juga akan terjadi selama satu hari penuh, sehingga akan sisa satu hari sebelum bunga itu mekar. Dan pertarungan kedua akan terjadi yaitu tanpa sebuah pasukan, seperti kaisar Nuvoleon akan menyuruh salah satu orang terkuat untuk turun tangan, atau tuan sepuluh yang akan turun tangan apabila pihak tersebut akan kalah.” Zeno mengatur napas sebelum melanjutkan ucapannya, “Bahkan saat bunga itu sudah ku petik, yang pasti akan ada beberapa pihak yang belum mengaku untuk kalah.”


Zeno menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya, “Menurutmu, pihak mana yang akan menang?” Zeno menanyakan hal tersebut kepada Turse.


“Menurutku, pihak yang akan menang pada pertempuran tersebut adalah kelompok kriminal. Walaupun mereka sudah memisahkan sebagian pasukan milik Nuvoleon, tapi tidak ada pemimpin yang bisa memperkuat sebuah pasukan.” Turse menjawab sambil menyentuh dagunya.


Mendengar hal tersebut, Zeno melakukan hal yang tidak diduga oleh Turse. Yang mana, Zeno membelai kepala Turse sambil berkata dengan lembut, “Apakah temanku ini sudah berpihak kepada musuh? Tentu saja yang akan menang adalah pihak lain yaitu aku.” Kemudian dia melepaskan belaian rambut Turse sambil pergi.

__ADS_1


__ADS_2