
Zeno keluar dari ruangan tersebut dengan begitu puas, dendamnya kepada seluruh keluarga Agalia sudah terbalaskan. Namun sepertinya pembalasan tersebut belum lah tuntas, dia harus benar-benar memastikan bahwa seluruh keluarga Agalia tidak tersisa satupun.
Zeno berjalan di atas tumpukan mayat, membuka setiap ruangan dan kamar apakah ada seseorang yang bersembunyi dan masih hidup. Bahkan apabila bayi sekalipun yang masih hidup, Zeno tidak segan-segan untuk membunuhnya, karena hal tersebut untuk menghindari rantai balas dendam yang terus berlanjut.
Darah berceceran di setiap ruangan, membuat Zeno harus selalu menutup hidung untuk menahan bau anyir yang begitu menyengat. Jasad tanpa kepala, kepala hampir terpenggal, semuanya bisa diperhatikan Zeno dengan seksama.
Zeno menghela nafas lega begitu mengetahui bahwa seluruh ruangan tidak ada orang yang tersisa, dia benar-benar memuji kakaknya karena melakukan tugas yang begitu baik tanpa melewatkan satupun.
Dirinya bergegas untuk segera keluar dan menyusul ibu dan kakaknya, bagaimanapun juga dirinya harus segera keluar sebelum orang-orang di sekitar mengetahui kejanggalan yang ada. Atau sesuatu yang buruk akan menimpa dirinya.
Mungkin hal yang Zeno takutkan apabila pembantaian ini diketahui oleh warga, pihak negara tidak akan segan-segan melakukan peperangan apabila dalang dari pembantaian ini diketahui merupakan salah satu orang dari negara air.
“Tunggu sebentar.” Batin Zeno dengan menghentikan langkahnya. Dia baru teringat bahwa di kediaman ini memiliki sebuah ruangan bawah tanah yang tidak ada orang yang tahu keberadaanya.
Sebagai seorang yang pernah menjadi bagian dari keluarga ini, Zeno sudah pasti mengetahui dimana letak ruangan bawah tersebut, sehingga membuatnya bergegas menuju kesana. Ruangan tersebut memang sengaja di bangun untuk menghindari peperangan yang mendadak terjadi, sehingga belum melakukan persiapan apapun.
Zeno berjalan menuju tengah-tengah ruangan pertemuan, menginjak lantai yang hanya terbuat dari kayu dengan begitu keras. Tidak hanya sekali menginjak, Zeno bahkan berkali-kali menginjakkan kakinya dengan begitu keras sehingga mengakibatkan lantai tersebut terbuka seakan-akan sebuah pintu.
Dengan sebuah tangga menuju kebawah, Zeno tanpa takut sedikitpun masuk menuruni tangga tersebut tepat sampai kebawah. Sebuah lorong yang memiliki pencahayaan api membuat dirinya semakin yakin bahwa ada orang yang baru melewati tangga dan lorong ini, sehingga Zeno meneruskan berjalannya melewati lorong tersebut.
Zeno akhirnya telah sampai di depan pintu yang sedang tertutup rapat. Tanpa berpikir panjang lagi, Zeno memfokuskan orkanya tepat di telapak tangannya, membuatnya mengeluarkan semburan air yang kuat sehingga dapat dengan mudah menghancurkan pintu tersebut.
“Sepertinya dugaanku memang benar, para tetua seperti kalian memanglah begitu licik.” Kata Zeno dengan wajah begitu datar kepada belasan orang yang berada di ruangan tersebut.
__ADS_1
Belasan orang tersebut bukan lain adalah tetua pertama dan ketiga Agalia beserta dengan pengikutnya yang seperti nya kabur setelah menyadari terdapat pembantaian di keluarga mereka.
Tetua pertama, ketiga dan para pengikutnya dari dulu memang sangat membenci kepemimpinan Grisha sebagai patriark. Bahkan saat keluarga Agalia mengalami kesulitan, kedua tetua tersebut beserta dengan pengikutnya memilih untuk diam dan tidak peduli dengan masalah yang ada.
Ditambah tepat hari ini, mereka bukannya membantu Grisha untuk mencari pelaku pembantaian justru malah kabur di ruangan bawah ini, dengan sikap yang begitu egois, mereka tidak peduli apa yang terjadi di ruangan atas.
Walaupun kedua tetua tersebut sangat membenci Grisha, buka berarti Zeno memberi kesempatan dan bekerja sama kepada mereka. Zeno akan tetap membunuh mereka semua, karena menurut Zeno, mereka itu sama saja seperti Grisha dalam hal menyudutkan Zeno dan ibunya.
“Zeno, kau Zeno?”
“Bukannya kau sudah mati.”
“Apa kau yang melakukan semua ini?”
Mereka semua tidak henti-hentinya terkejut dengan keberadaan Zeno yang masih hidup, dengan datang diwaktu seperti ini, bisa dipastikan mereka beranggapan bahwa Zeno yang melakukan semua ini.
“Tunggu Zeno, apa kau tidak tahu? Sebenarnya kami sangat senang jika patriark sudah mati. Rasa kekesalan kami pada patriark juga sudah tersalurkan, dengan begitu aku akan mendirikan kembali keluarga Agalia, dan kau ku angkat menjadi tetua.” Kata Tetua pertama dengan senyum manis di wajahnya.
Zeno sangat tidak percaya dengan ucapan manis tetua pertama. Tetua tersebut sangatlah licik sehingga akan sangat berbahaya jika sudah masuk ke dalam perangkapnya.
“Angin: Tebasan tak terlihat tahap kedua.” Batin Zeno sambil mengayunkan pedangnya di udara kosong.
Teknik yang begitu cepat, dengan energi yang sulit ditebak membuat kepala tertua pertama terputus dan jatuh ketanah. Tetua pertama begitu terkejut beberapa detik sebelum mati saat melihat anggota badannya yang masih berdiri tanpa kepala.
__ADS_1
“Tidak peduli apa tawaran kalian, kalian itu sama saja.” Zeno berlari dan langsing menyerang kesepuluh orang yang masih hidup tanpa ragu.
“Air: Tarian naga tahap pertama.”
Tarian berpedang dengan seekor naga di atasnya membuat seseorang sangat sulit untuk menyentuh Zeno. Keahlian Zeno menggunakan teknik ini bisa dibilang belum cukup sempurna dan perlu latihan untuk mengontrolnya, walaupun begitu, seluruh orang yang menyerang Zeno cukup kesusahan untuk menghindari tarian naga.
Beberapa orang terpenggal saat naga tersebut melayang tepat mengenai leher orang itu, sehingga membuat tettua ketiga dan sisanya memilih menjaga jarak dan melakukan serangan jarak jauh.
Tetapi Zeno tidak begitu tertarik untuk melakukan serangan jarak jauh, waktu Zeno begitu sedikit untuk bergegas keluar dari kediaman ini. Jadi dirinya hanya menyerang tanpa memberi ampun seseorang yang langsung mencoba mundur, sehingga saat orang tersebut fokus untuk menjaga jarak, justru Zeno dapat membunuhnya dengan begitu mudah.
Hal tersebut Zeno lakukan dengan berkali-kali, sehingga tidak ada kesempatan bagi mereka untuk melakukan serangan jarak jauh. Apalagi di tempat yang tidak begitu luas, Zeno justru sangat mudah untuk membunuh mereka.
“Sisa kau tetua ketiga.” Kata Zeno dengan tatapan sinis.
Seluruh bawahannya sudah mati terbunuh oleh pedang Zeno, tubuhnya begitu bergetar ketakutan melihat mata Zeno yang terdapat aura ingin membunuh dirinya. “Ku mohon Zeno, maafkan aku, beri aku kesempatan sekali lagi, aku akan menjadi pengikutmu yang setia.” Kata tetua ketiga dengan menangis begitu kencang, dia bahkan rela berlutut di hadapan Zeno berharap bahwa kesalahannya diampuni.
Tetapi Zeno tidak peduli dengan rengekan tetua tetiga. Zeno dulu pernah menangis dengan begitu keras agar dirinya tidak selalu disiksa, namun sikap keluarga Agalia justru semakin kasar apabila Zeno menangis. Jadi kali ini Zeno benar-benar menerapkan prinsip itu, membuat tetua tetiga merengek untuk dimaafkan, tetapi Zeno justru memberi rasa sakit yang begitu parah.
Zeno menendang kepala tetua tertiga yang sedang berlutut itu, mengakibatkan luka lebam muncul di wajahnya. “Ayo, meminta maaf kembali, aku tidak punya waktu.” Ucap Zeno.
Tetua ketiga tersebut hanya menurut, meminta maaf dengan begitu keras kepada Zeno. Tetapi Zeno justru menebas salah satu kaki tetua tersebut sehingga membuat ia berteriak kesakitan.
“Kau terlalu keras untuk meminta maaf, bagaimana jadinya jika seluruh orang mendengarmu.” Ucap Zeno mengerutkan dahinya.
__ADS_1
Tetua tersebut dengan bodohnya kembali menurut, dia kemudian meminta maaf kepada Zeno dengan begitu lembut. Tetapi Zeno justru membelah kepala tetua tersebut tepat pada bagian mulutnya.
“Aku tidak dengar dengan permintaan maafmu, tetapi waktuku juga sangat terbatas, sehingga aku segera mengakhiri saja.” Zeno keluar degan mengunci pintu ruangan bawah tersebut, ia kemudian berjalan kembali di lorong da naik ke tangga serta menutup rapat kembali lantai tersebut agar berharap tidak ada yang menemukannya.