
Teknik ini sekilas sangat mirip dengan aliran pemecah batu milik Ama yang biasa digunakan oleh Zeno. Namun, Zeno sendiri sudah memodifikasi sendiri dengan mengubah elemen air pada aliran pemecah batu menjadi elemen petir.
Menurutnya, elemen petir jauh lebih efektif daripada air pada teknik pemecah batu. Sehingga tidak hanya tertusuk dengan tangan, musuh yang terkena itu akan tersetrum hebat.
Arina palsu seketika langsung terjatuh tidak berdaya di tanah. Tapi Arina bukanlah manusia yang merasakan rasa sakit, sehingga ia hanya terjatuh seperti manekin yang menjadi sasaran empuk.
"Kloningan?" Zeno mengerutkan dahinya, melihat Arina palsu yang tidak berdaya perlahan-lahan berubah menjadi tanah gembur yang membentuk seperti sosok manusia.
Zeno menoleh wajahnya, tatapan sinis melihat manusia kloningan yang berwujud seperti keluarganya, entah siapa yang membuat kloningan tersebut, yang pasti Zeno tidak bisa memaafkannya. Namun yang pasti, Zeno menjadi yakin bahwa semua ini pelakunya adalah Elementalist tanah, akan tetapi, pertanyaan di benaknya adalah siapa pelakunya?
Sebelum Zeno menghabisi kloningan keluarganya, Zeno hanya perlu membuka mulut mereka agar mereka mengatakan siapa yang mengendalikan mereka. "Siapa yang ada di balik kalian? Bukankah itu merupakan tindakan pengecut, membuat boneka berwujud keluargaku?"
"Kau tidak perlu tau. Karena tugas kami hanya mencari informasi mengenai Fire Sword." Kata kloningan itu sambil mengangkat ujung bibirnya.
"Akram sialan itu, sepertinya tugasku belum benar-benar selesai ya." Zeno bergerak secepat kilat ke arah para boneka kloningan, walaupun ia hampir saja membentur sebuah tembok karena belum sempurna dalam mengendalikan elemen petir.
Tetapi setidaknya, Zeno tersenyum lebar saat sadar bahwa elemen petir juga akan mempengaruhi kecepatan, tetapi sayangnya Zeno sendiri juga belum bisa mengendalikan kecepatan kilat. Walaupun kecepatan kilat yang ia miliki hanya satu persepuluh dari kecepatan kilat yang sebenarnya. Tetapi walaupun begitu, Zeno sendiri merasakan bahwa kecepatan kilat yang ia miliki masih sangat cepat dibandingkan dengan milik Geldhe.
"Aku bertanya sekali lagi, apakah Akram masih hidup? Sehingga mengendalikan kalian untuk mencari Fire Sword?" Zeno masih menatap sinis mereka, tangan Zeno masih bersiap untuk melakukan pukulan fatal. Tetapi seketika ia berpikir, "Tidak, yang mengendalikan kalian bukan Akram, karena kalian adalah kloningan yang berasal dari elemen tanah." Zeno berubah pemikiran saat teringat bahwa elemen dasar Akram hanyalah api.
"Gongnyu?" Zeno memutar matanya, ia baru ingat bahwa Gongnyu terlihat kabur saat melawan ratu Kura, kemungkinan yang mengirim para kloningan ini adalah Gongnyu. Ditambah kemungkinan terbesar, Gongnyu berusaha membangkitkan Akram dengan cara apapun.
__ADS_1
"Banteng sialan itu sangat meresahkan." Ucap Zeno sambil melawan seluruh kloningan yang sangat mengerikan.
Zeno terlihat sangat lihai dalam melawan para kloningan, apalagi ia mengeluarkan sebuah bola petir di tangannya sebagai senjata untuk melawan mereka.
Beberapa kloningan yang kalah menjadi tanah dan menyisakan tiga orang yang mirip dengan Fang Tan serta dua orang yang mirip dengan anggota keluarga cabang lainnya.
"Yang mulia kaisar, maksudku yang mulia Fang Tan palsu. Apakah kau juga ingin menjadi tanah gembur? Kembalilah kepada benteng sialan itu, katakan bahwa Fire Sword tidak ada di sini, aku benar-benar tidak tertarik melawan kalian yang hanya kloningan.” Ucap Zeno mengabaikan sisa-sisa kloningan yang masih berdiri tegak sambil berpose seperti Zombie, karena Zeno sendiri lebih memilih untuk berbaring di atas kasurnya sambil memulihkan tenaganya.
Fang Tan palsu langsung menyerang Zeno menggunakan sebuah palu tanah yang diciptakan dari tanah gembur sisa para kloningan yang mati. Meskipun itu berasal dari tanah gembur, tetapi Fang Tan palsu justru bisa menciptakan palu tanah yang sangat keras.
Zeno menguap sambil menutup mulutnya, dia menatap lubang mata Fang Tan palsu dengan begitu serius. Karena ia merasa bahwa melawan orang-orangan ini hanya membuang waktu dan tenaganya untuk beristirahat.
Zeno menatap malas kondisi kamarnya, “Benar-benar berantakan.” Itulah mungkin yang digumamkan oleh Zeno saat kamarnya dipenuhi tanah yang membuat kamarnya benar-benar kotor. Bahkan Yuna yang baru masuk ke dalam kamar Zeno hanya bisa menutup mulutnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Apa? apakah kau merupakan orang-orangan kloningan juga?” Kata Zeno menatap sinis Yuna sambil mengeluarkan sebuah bola angin di tangannya.
Melihat adiknya yang mengeluarkan sebuah bola elemen, Yuna mundur perlahan-lahan karena takut melihat tingkah aneh Zeno. “Tunggu sebentar, apa yang kau katakan? aku adalah kakakmu, Yuna. Aku kesini karena mendengar keributan yang terjadi.”
“Jadi, apakah Aliya sudah pulang?” Tanya Zeno tersenyum cerah sambil menghilangkan bola elemennya.
“Aliya siapa? bukankah temanmu bernama Selena? Kau kenapa, apakah kepalamu terbentur sehingga melupakan nama temanmu?” Yuna menatap sinis Zeno, ia benar-benar kebingungan dengan tingkah laku Zeno, apalagi setelah melihat tanah yang banyak yang membuat kamar Zeno berantakan.
__ADS_1
“Bukankah pangeran Rey memberitahukan bahwa nama temanku bernama Aliya?”
Yuna semakin memandang aneh Zeno, sekaligus ia menarik kain lengan panjangnya hingga ke siku. Selain itu, ia juga berjalan ke arah Zeno dengan mengepalkan tangannya.
Bukkk.
Zeno hanya meringis kesakitan saat kakaknya, Yuna memukul kepalanya. wajahnya terlihat jelek sambil memegang kepalanya yang perlahan membekas akibat pukulan keras Yuna.
“Mungkin kau sedang mengigau akibat bangun dari pingsan, atau mungkin kau terjatuh dari ranjang dan kepalamu terbentur. Kini aku telah menyadarkanmu.”
Zeno masih meringis kesakitan sambil berkata, “Maafkan aku kak, aku hanya waspada karena tadi ada orang-orangan yang terbentuk dari tanah berwujud seperti ibu, atau kakak juga.”
Zeno juga menceritakan secara detail mengenai penyerangan dadakan yang dilakukan oleh orang-orangan tanah, mulai dari sifat ibu palsunya yang sangat mencurigakan, sampai penyebab tanah itu ada di kamar ini.
Yuna kali ini kembali memukul kepala Zeno menggunakan kepalan tangannya, raut wajahnya menjadi sangat marah setelah mendengar apa yang Zeno ceritakan. "Bodoh, apakah kau ingin membuat satu kekaisaran menjadi cemas lagi? Kau baru saja siuman, dan kau sudah melakukan pertarungan yang berbahaya?"
"Apakah aku harus diam saja saat musuh di depanku? Lagipula apa yang perlu dicemaskan? Kau lihat sendiri bukan bahwa musuh telah kalah" Sahut Zeno membantah ucapan kakaknya, ditambah pipinya terlihat sangat lebam karena pukulan kakaknya.
"Kau bisa saja berteriak 'tolong!' dengan mudah. Apakah kau ingin dicap sebagai jagoan? Aku memarahimu bukan karena aku iri melihat kekuatanmu yang sangat mengerikan. Tetapi aku sebagai kakakmu sangat mencemaskan keadaanmu. " Sahut Yuna yang mengotot sampai uratnya sangat nampak di tenggorokannya.
Zeno menunduk dan menganggap bahwa ucapan kakaknya ada benarnya juga. Ia tidak bisa membuat anggota keluarganya cemas terutama ibunya. Tetapi tadi ia tidak memikirkannya sama sekali, karena dirinya terlalu gembira tentang bangkitnya sebuah elemen petir.
__ADS_1