
"Tuan Zeno, kau sudah sadar?"
Zeno perlahan membuka matanya saat mendengar suara wanita yang agak sedikit mirip dengan seorang pria. Wanita itu tidak lain merupakan Turse yang setengah panik melihat kondisi Zeno yang pingsan satu hari yang lalu.
Zeno menyadari, bahwa dirinya terbaring di atas ranjang dengan Turse yang berdiri di sampingnya. Dia juga melihat, bahwa mata Turse berkaca-kaca. Entah, Zeno juga tidak tahu mengapa Turse seperti ini.
Dia tiba-tiba juga merasa sangat sedih, matanya sedikit memerah seakan habis menangis. Dia tidak tahu, apa yang terjadi pada tubuh aslinya selama dia bertemu dengan Dewi Luna.
Apa itu tadi? Apakah itu sebuah mimpi? Entah kenapa Zeno merasa memiliki sebuah ikatan yang kuat antara dirinya dengan Dewi Luna. Dia juga terlihat sangat sedih, bukan karena menceritakan mengenai keluarganya, melainkan bersedih karena keluar dari mimpi tersebut, seakan-akan jauh dan pergi meninggalkan Dewi Luna.
Tapi Zeno segera menyadarkan diri, Dewi Luna merupakan Dewi tertinggi, yang pasti memiliki ikatan dengannya adalah hal yang sangat wajar. Karena, sudah sepantasnya, manusia memiliki ikatan dan hubungan hari dengan seorang Dewi.
Namun, rasanya sangat berbeda, seakan Dewi Luna merupakan orang terdekat bagi Zeno, sehingga dia merasa bahwa ikatan tersebut bukanlah hubungan antara dewa dan manusia, melainkan sesuatu yang lebih. Hal itulah yang membuat Zeno merasa ingin menangis saat tubuhnya berubah menjadi serpihan cahaya.
Matanya sudah sepenuhnya terbuka, kesadarannya sudah penuh bahwa dirinya benar-benar sudah bangun.
"Turse, ada apa?" Zeno mencoba untuk bangkit, "Kenapa aku bisa ada di sini?" Dia juga cukup penasaran dengan tempat yang sangat mirip sebuah kamar. Masalahnya, ini rumah siapa? Bukankah terakhir kali dia berdiri di sebuah kuil sebelum bertemu dengan Dewi Luna?
"Kau tiba-tiba pingsan waktu berada di kuil 99 cahaya. Aku begitu panik, untungnya para orang tua di sana menggotongmu menuju rumah Hole." Turse mengusap air matanya yang hampir jatuh, wajahnya terlihat sedih saat melihat kondisi Zeno yang tiba-tiba aneh.
"Jika kau sakit, kau tidak perlu memaksa dirimu untuk mencari bunga teratai. Jika kau hanya menyuruhku saja, maka aku akan siap melaksanakannya." Kata Turse dengan lirih, dia benar-benar sangat prihatin dengan kondisi Zeno.
"Tidak perlu cemas." Zeno tersenyum ke arah Turse, "Tadi aku hanya sedikit tidak bisa menahan energi kehidupan di kuil sana." Sambungnya.
"Kau berbohong, kau adalah orang yang sangat kuat, bagaimana mungkin jika kau tidak bisa menahan energi kehidupan?" Protes Turse.
__ADS_1
Zeno berpikir sejenak, bagaimana caranya memberitahukan kepada Turse bahwa dia bertemu dengan Dewi Luna? Bukankah itu jika di dengar akan menghasilkan sebuah dongeng?
Maka dari itu, Zeno hanya menggelengkan kepala dan mengatakan, "Terserah kau saja."
Turse hanya menghela napas lega, melihat kondisi tuannya yang baik-baik saja membuatnya sangat bahagia.
"Tunggu sebentar." Zeno teringat perkataan Turse. "Apa kau bilang? Ini rumah Hole?" Zeno menatap Turse dengan begitu serius.
"Iya benar, Hole mengatakan, bahwa dirinya mempunyai rumah kecil di Nuvoleon. Sehingga, siang kemarin, dia membawa kita menuju ke sini."
Zeno berpikir sejenak mengenai ucapan Turse. Sepertinya, dia merasa ada yang tidak beres dengan Hole ini. Tapi, dia segera melupakannya karena apa yang dia kejutkan adalah, bahwa dirinya pingsan siang kemarin.
Padahal, Zeno bertemu Dewi Luna tidak sampai berjam-jam. Dia hanya bercerita sebentar mengenai elemen dan hidupnya yang baru saja tertimpa sebuah kesedihan. Tapi siapa yang menyangka, bahwa di dunia nyata dia sudah pingsan selama satu hari lebih.
"Di mana Hole?" Zeno mengangkat alisnya.
"Apa?" Lagi-lagi Zeno terkejut, ini sudah larut malam, dia juga tidak menyangka bahwa dia tidak sadarkan diri ternyata sudah sangat lama yaitu dua malam.
Zeno kemudian mengatur napas untuk meredakan keterkejutannya. Jika tidak salah, hari ini adalah hari ke empat sebelum bunga teratai mekar, dan kurang dua puluh lima hari lagi efek dari racun yang ada di ibunya akan berada dalam fase puncak. Sehingga, setelah hari tersebut, maka ibunya benar-benar tidak bisa diselamatkan.
"Dan kau tidak tidur?" Zeno berkata dengan wajah datar.
"Bagaimana aku bisa tidur? Sedangkan kondisi Anda yang tidak normal."
"Dan aku sekarang sudah normal, maka dari itu, tidurlah." Perintah Zeno.
__ADS_1
Turse kemudian mengangguk, kemudian dia menduduki sebuah kursi yang ada di sampingnya. Serta melipat kedua tangannya di atas ranjang Zeno dan meletakkan kepalanya di atas tangan tersebut.
Zeno kembali tersenyum setelah wajahnya datar lagi. Dia juga menggelengkan kepala saat melihat sikap Turse yang dinilai terlalu berlebihan dalam menghormati dirinya, sebenarnya jika Turse mau, Zeno juga berbagi ranjang dengan dirinya lagi.
Tapi Zeno tidak mau mengurus itu lagi, yang lebih penting, dia ingin kembali tertidur untuk mengisi energinya kembali, karena besok, dia harus segera menuju pegunungan Apiluc untuk segera menguasai pegunungan. Karena peperangan antara dua pihak tidak mungkin berlangsung selama satu hari, paling sebentar pasti membutuhkan dua hari. Apalagi pegunungan merupakan medan yang sangat sulit untuk dilaksanakan pertempuran.
……
Keesokan harinya, Zeno membuka matanya dan mendapati bahwa Turse sedang tidur di sampingnya, hal itu membuatnya menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena sikap Turse.
Di sisi lain, Hole sudah berdiri di depan pintu dengan bersedekap sambil memandang Zeno yang baru bangun dengan begitu sinis.
"Akhirnya kau sudah sadar dari pingsanmu, tapi sayang sekali kau kesiangan. Apakah kemarin kau berpura-pura pingsan untuk menghindari perjanjian?" Hole mengerutkan dahinya dan menatap mata Zeno dengan begitu serius.
"Ayolah." Zeno memutar matanya, "Tidak perlu takut, lagipula bunga tersebut mekar dalam tiga hari lagi, jadi mengapa kita harus tergesa-gesa menuju ke sana?"
"Bodoh, pertempuran antara dua pihak akan berlangsung lama, bahkan bisa dua hari karena Medan pertempuran yang ada di gunung. Jika kita terlalu santai, kita tidak akan tahu, kapan perang itu selesai dan kita mengambil kesempatan tersebut." Hole berbalik badan dan keluar dari kamar yang Zeno dan Turse tempati, namun sesaat dia belum benar-benar keluar, dia masih melanjutkan ucapannya, "Aku tunggu kau dan Turse di ruang makan, sekaligus membahas strategi."
Zeno sebenarnya tahu bahwa dia tidak boleh santai, namun, dia berpura-pura bodoh agar Hole tidak terlalu curiga bahwa dirinya sendiri juga sedang memburu bunga teratai emas.
"Turse bangun." Zeno membangunkan Turse dengan menggoyangkan tubuhnya.
Turse membuka matanya perlahan, dia mendapati bahwa tuan Zeno tepat di hadapannya.
Hal itu membuat Turse terkejut dan segera menggulingkan badannya, karena jika dia bangun, maka sesuatu hal yang buruk akan terjadi.
__ADS_1
"Tuan, maafkan aku. Aku tidak bermaksud tidur di sebelahmu." Kata Turse yang kini berdiri di lantai.
"Makan, apa kau tidak ingin sarapan? Lagipula kita akan berangkat menuju gunung Apiluc hari ini."