
Selain itu, dia juga bergerak maju ke depan untuk mendekat ke arah musuh. Tapi sayangnya, musuh menyadari sehingga dia keluar dari pohon dan memanah Turse yang tidak berada dalam perlindungan apapun.
Tapi Turse tidak sebodoh itu, tentu saja dia menciptakan sebuah bongkahan es di hadapannya. Tapi, bongkahan itu sangat kecil dan tidak sebesar yang Zeno keluarkan pada umumnya. Wajar, Turse memang bisa mengeluarkan bongkahan es, sayang, dia juga tidak terlalu berbakat saat mengeluarkan elemen es.
Sehingga, anak panah milik musuh menancap ke bongkahan es tersebut hingga retak. Hal itu cukup membuktikan, bahwa pertahanan milik Turse cukup lemah. Dia tidak mau kalah, dia kembali bergerak ke depan sambil mengeluarkan bongkahan es lagi, mengingat bahwa tidak ada pepohonan lagi di depan kecuali berada di sekitar musuh.
Tidak mau kalah, sang musuh bukannya menjauh, dia juga mendekat ke arah Turse, tapi dia tidak memiliki perlindungan apapun, melainkan dia bergerak sambil bersiap melepaskan anak panahnya untuk berjaga-jaga apabila Turse melepaskan anak panahnya.
Melihat hal tersebut, Turse hanya tersenyum manis sambil melirik pergerakan musuh yang semakin mendekat ke arah dirinya. Dia juga memperlihatkan badannya dan bersiap untuk melepaskan anak panah kepada musuh tersebut.
Tapi siapa yang menyangka, sang musuh tiba-tiba bergerak secepat kilat seakan menghilang dari pandangan Turse. Hal itu membuat Turse kaget dan segera menoleh ke belakang, karena dia tahu strategi orang yang menghilang pasti akan menyerangnya dari belakang.
Benar, seperti apa yang diduga oleh Turse, seseorang tersebut sudah berada di belakang, serta mata panah milik musuh sudah berjarak sangat dekat dengan kepala Turse.
Melihat hal itu, Turse hanya tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya, yang mana salah satu tangannya masih memegang busur panah.
“Menyerah!” Kata orang itu dengan tegas.
“Belum.” Jawab Turse yang masih tidak menghilangkan senyumannya.
“Dan mengapa engkau mengangkat kedua tanganmu?” Tanya orang itu dengan curiga.
__ADS_1
Turse tidak menjawab lebih, dia menoleh ke atas dan memperhatikan ribuan anak panah hendak menghujani dirinya dan musuh. Tentu saja, jika dia tidak segera menghindar, maka istilah senjata makan tuan itu benar-benar ada. Maka dari itu, dia memberi isyarat kepada sang musuh untuk menoleh ke atas.
“Tunggu apa?” Seketika wajah musuh berubah menjadi seputih kertas, tapi dia tidak segera melupakan hal itu, karena apa yang paling penting adalah meloncat jauh untuk menghindari hujan anak panah.
“Akghhh!” Tiba-tiba orang itu berteriak dengan nada yang tidak terlalu tinggi karena lengannya seperti tertancap anak panah. Dia pun akhirnya memastikan dan melihat lengannya.
Benar saja, lengannya tertancap sebuah anak panah, tapi tidak terlalu begitu dalam, sehingga darah yang keluar juga tidak terlalu mengucur deras.
Orang itu juga menyadari bahwa Turse sudah tidak berada di pandangannya, selain itu, kedua kaki orang tersebut sudah membeku dan tidak bisa bergerak.
“Bodoh sekali.” Kata orang itu begitu santai, wajah uang tadinya pucat kini berubah tampak biasa, sudah tidak ada rasa panik lagi dari dirimu.
Siapa yang menyangka, bahwa tidak ada setitik cahaya yang keluar. Dia begitu panik dan mencoba berkali-kali untuk mengeluarkan elemen cahaya.
“Sia-sia, kau tidak akan bisa mengeluarkan elemen cahayamu.” Kata Turse yang kini menampakkan dirinya dari balik bongkahan es miliknya.
Wajah musuh Turse seketika membeku, ia juga kembali pucat dan sangat putih di balik penutup kepalanya. Menyadari bahwa dirinya sudah tidak memiliki elemen lagi. Mengapa? Dia tampak kebingungan. Bagaimana dia tidak bisa mengeluarkan elemen cahaya? Berkali-kali dia menanyakan hal tersebut dengan hati yang berdebar kencang.
Bergerak untuk menghindar juga tidak mungkin, kakinya sudah dilapisi es yang membuatnya kesulitan untuk bergerak.
Orang tersebut berteriak dengan marah, emosinya meliat siasat licik milik Turse. Dia juga tidak menyadari, sejak kapan ribuan anak panah itu ditembakkan? Hal itu lah yang membuat orang itu marah dan mencoba untuk memukul-mukul es yang ada di kakinya, berharap bahwa es itu pecah sebelum anak panah yang ada di atasnya menghujani dirinya.
__ADS_1
“Selamat tinggal.” Ucap Turse dengan begitu dingin, dia juga berbalik badan meninggalkan musuhnya dan memilih untuk mencari Zeno.
Bersamaan dengan hal itu, ribuan anak panah sudah jatuh dengan sangat tragis, bahkan musuh Turse sudah tak berbentuk lagi. Entah itu kepala, lengan bahkan perutnya sudah tertancap banyak anak panah yang membuatnya harus hancur
Bahkan, Turse melirik sedikit ke belakang, memastikan bahwa musuhnya benar-benar telah mati. Namun dia terkejut, saat menyadari bahwa orang tersebut berubah menjadi serpihan cahaya yang menghilang. Hal itu tentu saja membuat Turse sontak berbalik badan dan menyadari bahwa apa yang terjadi barusan.
“Kloningan?” Turse kembali memasang kuda-kuda, sepertinya musuh masih hidup. Sedangkan itu tadi, seseorang yang bergerak untuk mengejutkan Turse dari belakang, dia merasa itu adalah kloningan dan bukan tubuh aslinya. “Di mana tubuh aslinya?” Turse bertanya pada dirinya sendiri, dia juga berputar atau menghadap ke arah yang berbeda-beda untuk mencari musuhnya.
“Kau terjebak!” Teriak seseorang yang memiliki suara yang sama dengan musuh Turse baru-baru ini.
Perlahan, sekitar sepuluh orang dengan pakaian yang sama, keluar dari persembunyiannya yang mana saat ini mereka mengepung Turse dari segala sisi. Bahkan, Turse sedikit kaget saat kesepuluh orang itu menarik anak panah dengan setitik cahaya yang menyala pada anak panah mereka.
Turse nampak linglung, dia juga tampak kebingungan, bagaimana caranya menghindari sepuluh anak panah yang akan mengarah ke dirinya dari sisi yang berbeda-beda? Namun, dia mencoba untuk tidak menyerah, pasti ada seribu satu cara untuk melewat masalah tersebut.
“Kami adalah kloningan, namun salah satu dari kami adalah yang asli. Akan ku beri kesempatan untukmu untuk memanah salah satu dari kami, dan tentu saja yang asli. Namun, jika kau gagal, otomatis sembilan anak panah lainnya akan melesat ke arahmu.” Kata mereka dengan serentak.
Benar-benar menjadi masalah, tentu saja ini menjadi sesuatu yang merepotkan bagi Turse. Bagaimana tidak, dia harus menebak mana musuh yang asli. Dan jika dia berhasil menembak yang asli, maka otomatis para kloningan juga akan hilang. Namun, apabila dia memanah yang palsu, maka sembilan yang lainnya akan masih bertahan dan melepaskan masing-masing anak panah.
Entah kenapa, dia menjadi sedikit menyesal, kenapa dari dulu dia tidak mempelajari teknik kloningan? Jika dia mempunyai ilmu memecah diri, tentu saja jika menghadapi masalah seperti ini dia akan membuat kloningan untuk menghadapi musuh yang mengeluarkan kloningan pula.
Mau bagaimana lagi, sudah terlanjur, apa yang perlu di sesali. Turse memutar badannya dan terus menerus mencari perbedaan, mana tubuh asli, mana tubuh kloningan.
__ADS_1