Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Pertandingan yang masih berlanjut


__ADS_3

Tiga arena yang digunakan delapan pertandingan menghasilkan delapan pemenang juga, termasuk Zeno dan juga Yuna. Fang Tian mengumumkan, bahwa babak selanjutnya adalah pertarungan satu lawan satu. Dimana arena yang digunakan berbeda dari arena pertama. Para peserta tidak akan mengeluh karena arena kali ini luas. Lebih tepatnya pertarungan mereka tepat di atas lapangan colloseum, sehingga para penonton juga akan bisa lebih fokus dalam satu pertandingan itu.


Dua orang peserta kemudian dipanggil untuk melakukan pertandingan, sedangkan Zeno, dirinya hanya sedang duduk untuk menikmati pertandingan tersebut. Selain untuk menikmati sebuah pertandingan itu, Zeno juga menilai kelebihan-kelebihan dari masing-masing peserta.


Hingga pada akhirnya, pertandingan pertama dari babak kedua berhasil merebutkan sebuah pemenang. Pemenang tersebut kembali ke tempat istirahatnya dan akan kembali pada babak selanjutnya.


Pada pertandingan ini, Zeno dipanggil untuk melakukan pertandingan. Lawan yang akan melawan Zeno bergetar sangat hebat saat melihat Zeno memasuki lapangan, matanya begitu akan keluar karena melihat Zeno.


“Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang salah denganku?” Zeno mengerutkan dahinya.


“Tidak ada apa-apa.” Kata pemuda yang menjadi lawan Zeno dengan memasang muka pasrah.


Zeno tidak memperdulikannya, ia kemudian melangkahkan kaki nya secara pelan yang perlahan-lahan semakin cepat.


Benteng pertahanan diri sudah melemah, rasa takut hanya akan merusak kepercayaan diri, sehingga menimbulkan rasa pesimis yang membuat orang berpikir kalah sebelum pertandingan. Rasa pesimis lah yang membuat orang merasa bahwa melakukan apapun termasuk  hal sia-sia.


Tetapi hal tersebut juga merupakan kesempatan emas bagi Zeno, benteng pertahanan pikiran yang menjadi rusak karena rasa takut, membuat Zeno semakin melangkahkan kakinya ke depan. Tetapi, walaupun lawan Zeno merasa ketakutan, dia justru juga ikut melangkahkan kakinya ke depan dan berlari ke arah Zeno.


Tidak ada yang mengeluarkan elemen sama sekali pada pertarungan kali ini, jadi mereka berdua hanya melakukan serangan melalui fisik mereka masing-masing. Seperti biasa, Zeno lebih unggul bahkan dalam melakukan pertarungan fisik. Sehingga, lawan Zeno bisa dibilang babak belur.


"Aku menyerah." Teriak pemuda itu. Hatinya begitu ketakutan saat bertarung dengan Zeno.


Lantas keduanya turun dalam kondisi yang berbeda, keadaan Zeno masih dibilang masih tetap sehat dibandingkan dengan lawannya yang baru saja dibuat babak-belur, dengan wajah dengan banyaknya luka lebam, bahkan sampai mengeluarkan darah. Melihat hal tersebut, banyak penonton yang merasa ngilu.

__ADS_1


Pertandingan menuju grand final, dimana Zeno kembali melakukan pertandingan. Musuh Zeno kali ini bisa dibilang cukup berani, tubuhnya juga tidak bergetar seperti lawan Zeno sebelumnya. 


Bahkan dia mengawali serangan pertama, kemudian disusul dengan teknik yang berkali-kali digunakan dan diarahkan tepat kepada Zeno. 


Zeno cukup mudah saat membuat kewalahan lawannya. Pasalnya, teknik elemental air apapun tidak berdampak pada Zeno, bahkan Zeno bisa melawan teknik yang dikeluarkan dengan mudah. Tetapi Zeno tidak pernah memandang remeh musuhnya, menurut Zeno, dirinya juga hampir kewalahan saat lawan Zeno terus menerus mengeluarkan tekniknya untuk Zeno. Selain itu, Zeno bahkan juga tidak sempat untuk melakukan serangan balik, jadi kali ini dia hanya menghindari dan juga melawan teknik orang tersebut.


Lawan Zeno sepertinya terlalu memaksa, dia tidak peduli apa-apa dan hanya memikirkan untuk mengerahkan semuanya. Sehingga membuat dia berhenti setelah dia terlalu lama mengeluarkan tekniknya.


Nafas lawan Zeno tidak teratur, orkanya terkuras begitu banyak hanya karena terlalu berlebihan untuk mengeluarkan teknik yang diserangkan kepada Zeno. Kepalanya mendadak pusing membuat mata dia semakin memburam, tetapi dia tetap memaksakan untuk berdiri tegak dan masih berani melawan Zeno.


“Apakah sudah selesai?” Kata Zeno dengan santainya.


“Masih belum.” Kata lawan Zeno dengan nafas terengah-engah.


“Lebih baik jangan memaksakan diri sendiri.” Zeno benar-benar tahu, bahwa lawannya benar-benar sudah hampir mendekati batasnya. Hal buruk yang akan terjadi mungkin dia akan pingsan apabila ingin terus melanjutkan pertempuran.


“Baiklah akan ku akhiri.” Kata Zeno yang terus melangkahkan kakinya ke depan. Dia benar-benar ingin mengakhiri sebuah pertandingan hanya menggunakan teknik dasar bagi seseorang yang baru menguasai elemen.


Pemuda yang menjadi lawan Zeno akhirnya pingsan, setelah dia berusaha ingin mengeluarkan sebuah tekniknya. Tubuhnya ambruk ke tanah menandakan bahwa dia sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi.


Pemenang pertandingan kali ini adalah Zeno, pertandingan selanjutnya yang merupakan babak grand final merupakan babak yang bukan main-main menurut Zeno, karena bisa dibilang bahwa sistem penyisihan dalam pertandingan terakhir memiliki peserta yang sangat kuat karena bisa menyisihkan sebagian pemain lainnya.


Pertandingan berikutnya, pertandingan yang merupakan salah satu momen yang diharapkan oleh seluruh penonton. Bahkan, dua pihak keluarga sebenarnya juga sangat ingin melihat momen ini. Bagaimana tidak, di kedua sisi lapangan muncul dua putri yang sangat cantik nan rupawan, dua putri yang berbeda keluarga.

__ADS_1


Fang Yuna, Lyana Ares, keduanya menjadi simbol kecantikan dari kekaisaran masing, banyak orang yang juga diam-diam suka kepada salah satu dari mereka. Bahkan, Zeno sendiri pernah hampir terjebak hingga membuatnya diam-diam suka kepadanya. Tetapi untungnya, rasa suka itu malah tiba-tiba menghilang setelah mengetahui bahwa dirinya dan juga Yuna adalah saudara.


Lyana Ares, atau cucu kaisar negeri Air bernama Hanzi Ares mungkin masih memiliki hubungan saudara yang sangat dekat dengan Yuna dan juga saudaranya, termasuk Zeno juga. Jadi bisa dibilang, bahwa Yuna dan Juga Lyana adalah sepupu.


“Pertarungan dari para putri dua kekaisaran memang sangat menakjubkan.” Batin Zeno sambil menyentuh dagunya. Dia bahkan hampir  tidak mengedipkan matanya hanya demi melihat pertarungan dua putri itu.


Pertarungan antara air dan juga angin yang begitu hebat, membuat hawa dingin mengganggu para penonton. Teknik mereka membuat seisi lapangan colosseum seakan akan menjadi lautan dengan badai di tengahnya, tetapi diantara keduanya masih berdiri tegak dan belum ada yang mau menyerah.


“Yuna, lebih baik kau menyerah saja!" Kata Lyana Ares dengan begitu keras.


"Tidak!" 


Sifat dari kedua putri itu bisa dibilang cukup jauh, Lyana Ares memiliki sifat yang sangat keras kepala, bahkan dirinya sering menyombongkan diri kepada seseorang.


Berbeda dengan Lyana, Fang Yuna justru memiliki sifat yang sangat berbanding terbalik dengan Lyana. Sifatnya yang lemah lembut, dan juga tidak terlalu sombong membuat kaisar Hanzi lebih suka Yuna daripada Lyana.


Mereka berdua pun melanjutkan pertarungannya yang cukup sengit, istirahat sejenak untuk menata nafas yang saat itu sedang kacau sudah cukup bagi mereka. 


"Kau tidak mau menyerah?" 


"Baiklah akan ku selesaikan." 


Lyana berteriak dengan kencang, melihat Yuna yang sepertinya juga agak kelelahan membuat Lyana mengeluarkan sebuah teknik untuk mengakhiri pertarungan.

__ADS_1


"Angin: kurungan tornado, tahap kedua."


 


__ADS_2