
Angin kasar berwarna ungu berputar mengitari Zeno dan Akram. Akram sendiri menganggap bahwa angin ini benar-benar aneh, angin yang pada dasarnya tidak berwarna, atau sesuai kondisi debu, tapi kali ini berwarna ungu.
Zeno juga tidak menyangka, bahwa angin yang ia keluarkan merupakan elemen legendaris yang diceritakan Kiba. Mengingat, bahwa ia terakhir mengeluarkannya itu sudah sangat lama, mungkin lima tahun yang lalu pada saat bertemu dengan Fang Yoshi.
Elemen biru tua yang merupakan elemen air juga tidak pada umumnya, elemen legendaris yang hanya dimiliki oleh dewa, benar-benar kekuatannya meningkat sepuluh kali lipat. Bahkan bola api sebesar setengah negara seketika padam karena elemen air legendaris.
Bahkan, ratu Kura sendiri tercengang saat melihat Zeno hidup kembali dengan elemen legendaris, padahal ratu Kura sangat tahu pasti bahwa elemen legendaris merupakan elemental yang hanya dimiliki oleh dewa.
"Tidak salah, bahwa ia menjadi tuan Byakko."
Zeno mulai menarik napas yang panjang, bersiap melihat kemarahan Akram yang memuncak setelah mengatakan beberapa fakta yang ia sembunyikan, lagipula kali ini ia sama sekali tidak takut lagi dengan Akram.
"Fakta pertama, mungkin kau sudah mengetahui bahwa aku yang memegang Ice Sword."
Zeno mondar-mandir mengelilingi Akram, agar saat mengatakan Fakta kedua, Akram tidak akan bisa menyerang Zeno secara cepat. "Fakta kedua, pembunuh Geldhe, itu adalah aku."
Bulu Akram seketika berkobar dengan panas, sambil berteriak dan mengatakan. "Tidak kusangka, bahwa kau yang membunuh Geldhe." Amarah Akram naik saat ia mendengar fakta kedua.
Dengan amarah yang naik, Akram sama sekali tidak memikirkan akibatnya, sehingga ia terlilit nafsu untuk menyerang Zeno secara tiba-tiba.
Zeno menoleh dengan dingin bahwa Akram terpancing amarah besar, padahal Fakta kedua ini mungkin tidak seberapa daripada Fakta berikutnya.
"Dasar bodoh, diamlah! Aku belum menyelesaikan kata-kata ku." Zeno menancapkan Ice Sword ke tanah secara lembut.
Keadaan tanah menjadi membeku, bahkan Akram yang ada disitu seketika membeku dengan menyisakan kepalanya yang masih utuh. Akram juga merasakan hawa sangat dingin yang membuat bulu api nya tidak mengeluarkan api lagi.
Ia masih berusaha untuk memanaskan diri, membuat api, atau memunculkan api yang sangat besar dari tubuhnya untuk melelehkan es. Tapi es itu benar-benar sangat kuat dan tidak bisa mencair.
__ADS_1
"Fakta berikutnya, mungkin kau akan marah besar setelah mendengarnya." Zeno kembali melirik Akram yang sedang membeku sambil berusaha berat melepaskan diri.
Ia jelas tahu, bahwa saat Zeno memberitahukan ini, Akram akan mengeluarkan sebuah pusaka yang sama hebat dari Ice Sword. Tujuannya untuk mendapatkan Ice Sword mungkin akan ia lupakan, karena tujuannya terganti oleh balas dendam.
Zeno pun menarik Ice Swordnya, perlahan tanah yang membeku mencair seperti sedia kala. Dengan tarikan napas yang panjang, dan sudah bersiap menerima konsekuensinya, ia berkata, "Akulah yang membantai seluruh keluarga Agalia. Mulai dari Grisha, Ryan, Zayn, bahkan tetua sampah yang berlindung di bawah tanah."
Petir menggelegar dibalik awan hitam yang perlahan mulai menghilang, terlihat dengan jelas bahwa matahari telah turun dari cakrawala. Mega merah terlihat begitu jelas dengan cahaya terakhir matahari yang menyorot Akram yang memasang wajah membeku.
Tubuh yang terbalut es perlahan mulai mencair dengan memperlihatkan bulu kera Akram yang tertempel sisa-sisa es. Kakinya seketika lemah dan terboyong-oyong jatuh ketanah dengan tangan yang menggenggam erat. Benar-benar tidak menyangka bahwa orang yang dia lawan sedari tadi merupakan orang yang membunuh keluarganya sendiri.
"Itulah mengapa aku ingin melawanmu, karena aku tahu bahwa kau merupakan sisa keluarga Agalia yang masih hidup. Dan satu lagi, mengapa aku memanggilmu kakek buyut? Karena aku juga merupakan mantan keluarga Agalia."
"Tapi itu dulu, namaku bukan Zeno Agalia lagi, dan aku adalah Fang Zeno kau tahu? Fang Zeno!" Zeno berteriak di hadapan Akram menyebutkan nama aslinya, darahnya naik seketika saat tidak sabar untuk menghabisi Akram.
Pangeran Rouya, serta Kaisar Shima dibuat tercengang. Mereka bahkan menggosok telinganya berharap telinganya itu tidak bermasalah.
"Fang Zeno? Bukankah itu nama pangeran negara air?" Kata Rouya dengan Diam seribu bahasa setelahnya, selama ini ternyata yang menolong Rouya adalah pangeran Fang Zeno.
Kaisar Shima dan Rouya benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi, tercengang serasa tidak percaya bahwa selama ini ia ditolong oleh seseorang dari negara lain.
"Pangeran Zeno?" Ratu Kura dari kejauhan juga tidak sengaja mendengar pembicaraan Zeno dan Akram. Zeno sebagai sosok istimewa berhasil membuatnya kaget selama berulang kali, entah apa lagi nanti yang membuat ratu Kura terkejut dengan Zeno.
Kembali ke Akram yang tersungkur dengan wajahnya yang memerah, suhu tubuhnya meningkat dengan bulu api yang berkobar lebih besar sehingga menguapkan lelehan es milik Zeno.
Mungkin kali ini Akram tidak seperti bulunya yang membara, lebih tepatnya Akram seperti memakai jas dan celana yang terbalut dengan api. Dengan bulu kera di wajahnya, membuat Akram seolah-olah seperti monster terbakar yang hidup.
"Zeno! Akan kupastikan kau akan mati di bawah tanganku!"
__ADS_1
Akram berdiri dengan tubuh yang lebih besar, mungkin itu karena api yang membakar dirinya. Ia juga mengangkat salah satu tangannya seperti akan menangkap sesuatu.
"Fire Sword!" Akram mengais sebuah pedang yang berwarna merah kehitaman yang jatuh dari langit, dengan lambang api yang berada di salah satu sisinya.
"Aku tidak menyangka bahwa ada pedang pusaka lain selain Fire Sword." Kata Zeno begitu dingin, namun ia juga menatap tajam pedang yang sangat membara dengan api yang keluar dari pedang itu.
"Kiba, apakah kau serius kita tidak bisa bergabung?" Tanya Zeno melirik ke arah Kiba.
"Bisa sebenarnya, tapi kita memiliki hubungan belum lama akan membahayakan." Kata Kiba begitu gugup, ia sangat prihatin dengan ucapan Zeno yang akan datang.
"Lakukan!"
Kiba menghela napas, rasanya ia ingin menolak apa yang diperintahkan tuannya, karena Kiba dan Zeno masih berhubungan belum lama, sehingga itu sangat membahayakan Zeno. Mungkin akibat yang paling parah adalah pingsan selama berbulan-bulan.
Tetapi ia tidak bisa menolak, ia hanya bisa mengangguk dan masuk kedalam diri Zeno untuk melakukan penggabungan.
Zeno merasakan hawa sejuk di dalam dirinya, angin yang ia milik seperti berputar-putar di dalam tubuh. Tetapi ia juga merasakan orka yang luar biasa.
Entah kenapa ia juga merasakan fisik secara perlahan dengan gigi taringnya yang perlahan memanjang.
Akram yang melihat itu langsung menebaskan Fire Sword, agar Zeno tidak berhasil melakukan penggabungan. Karena menurut dia, Zeno akan sangat membahayakan apabila telah melakukan penggabungan.
*****
***Hai semuanya, terimakasih untuk kalian semua yang masih setia dalam cerita ini. jangan lupa tinggalkan jejak agar author lebih semangat lagi untuk menulis chapter berikutnya👊😾
oh ya, untuk kritik dan saran, ini benar-benar terbuka untuk kalian. kalian bebas ngasih kritik apapun dan saran apapun, agar author lebih berkembang 😉
__ADS_1
untuk update chapternya belum pasti ya, kadang sehari sekali, sehari dua kali. kalau sibuk 2 hari sekali.
udah itu aja, tetap semangat dan jangan lupa bernapas. I love you all (terutama yang cewek***) >\<