
Zeno, sebenarnya dia masih menahan tangisan. Wajahnya nampak memerah karena berusaha agar air mata yang dia bendung tidak tumpah. Walaupun dia sudah membunuh Elderic, tapi dia merasa belum puas. Bahkan, terbunuhnya Elderic tidaklah cukup atas kemarin ayahnya.
Zeno juga tidak tahu, bagaimana kondisi ibunya ke depannya. Mendengar kata ‘sementara waktu’ dari Turse sudah cukup untuk membuatnya merasa sangat gila. Bahkan dia ingin sekali mengamuk di saat kekuatannya berkali-kali lipat seperti ini.
Maka dari itu, dia juga ingin mencari sebuah pelampiasan untuk menghabisi seseorang. Dia ingin mencari dua orang dari empat orang lainnya yang Zeno lihat melesat ke arah reruntuhan istana. Tapi di mana dia? Apakah dia juga bertarung? Kemungkinan terbesar dua orang tersebut bertarung dengan Kakek neneknya, serta Fang Tan. Selain itu, Hanzi dan juga Zabuto telah mengurus para pasukan milik Yin.
Lagi pula tidak ada orang lain di sini. Orang-orang sudah dibawa menuju ke tempat yang aman agar bisa meredakan ketakutan mereka. Bagaimanapun, gelombang kejut yang meruntuhkan istana sudah cukup membuat mereka syok.
“Seharusnya kakak dan kakek tidak jauh dari pertarungan ayah. Karena mereka semua saat pesta sedang duduk bersama.” Zeno mempercepat langkahnya untuk mencari di mana kakaknya yaitu Fang Tan.
Tidak ada cara lain, Zeno terbang ke atas untuk melihat seluruh pertarungan, guna untuk mencari di mana kakaknya sekarang.
Selain itu, dia juga mengandalkan sebuah indra penciuman untuk mengendus bau Fang Tan. Kemampuan tersebut sebenarnya merupakan milik Kiba, sehingga Zeno yang bergabung dengan Kiba pun dapat menguasai segala kemampuan Kiba baik itu dari penguasaan elemen ataupun penguasaan fisik.
“Ketemu!” Kata Zeno, dia langsung bergegas untuk menuju selatan tempat Fang Tan berada.
“Siapa yang menyangka musuh kali ini tidak menggunakan pedang? Baiklah, aku akan bertarung tanpa pedang. Sudah lama sekali aku tidak bertarung hanya mengandalkan sebuah ilmu bela diri.”
Zeno memasukkan perangnya, dan mengepalkan tangannya saat berada di dekat Imaro yang sepertinya tidak bertarung karena sedang menggertak Fang Tan.
Seketika Imaro menoleh saat dia juga merasakan sebuah bahaya yang luar biasa. Dia juga menyilangkan tangannya saat menyadari bahwa musuh hendak memukulnya dengan begitu keras.
“Krakkk!!” Suara tulang retak terdengar begitu jelas. Selain itu, Imaro juga terlempar sejauh beberapa meter karena pukulan Zeno yang sangat luar biasa.
__ADS_1
Zeno berdiri dengan sangat mengerikan. Bahkan Aure mengakui bahwa Zeno tampak seperti monster hidup yang memiliki tubuh separuh harimau.
“Apa yang terjadi pada kakek nenek?” Zeno terkejut, pasalnya dia juga melihat kakek neneknya tengah terbaring tidak berdaya tidak berdaya. Melihat hal tersebut, lagi-lagi Zeno menggertakkan giginya karena merasakan kesedihan yang kesekian kalinya.
Tanpa jawaban dari Fang Tan, Zeno bergegas ke arah Imaro dan menendangnya begitu keras saat dia akan berdiri. Selain itu, dia juga menginjak dadanya dengan begitu keras. Bahkan lagi-lagi terdengar suara tulang rusuk yang patah.
“Apa kau tahu apa yang kau perbuat?” Zeno menginjak-injak dada Imaro begitu kuat secara berulang kali.
Imaro memuntahkan seteguk darah, organ dalamnya sepertinya telah rusak karena perbuatan Zeno yang mengerikan. Bahkan apa yang ia lihat juga jauh mengerikan dari Danze.
Ingin rasanya untuk melawan, tapi kekuatan jauh lebih lemah dari seseorang yang ada di hadapannya. Bahkan pukulannya membuat tulangnya retak begitu saja.
“Sial, dia sangat mengerikan!” Imaro membatin, dia merasakan bahwa Zeno memiliki sebuah aura yang juga tidak kalah jauh dari Danze.
Mata Zeno semakin memerah, dia juga menyadari bahwa Imaro masih bersikeras untuk melawannya. Maka dari itu, Zeno memotong kaki Imaro menggunakan tangan kosong di saat kaki Imaro menyentuh selakangannya.
Imaro berteriak kesakitan, sambil memutantahkan darah untuk kesekian kalinya. Sepertinya seseorang yang ada di hadapannya benar-benar marah.
“Jawab aku!” Zeno tidak henti-hentinya untuk menginjak dada Imaro. Bahkan Zeno sudah tidak merasakan lagi adanya sebuah tulang yang melindungi organ dalamnya. Hal tersebut menandakan bahwa tulang rusuk Imaro benar-benar hancur dan melukai organ dalamnya.
“Aku hanya dip ....” Tidak melanjutkan ucapannya, Imaro memuntahkan secuil organ dalam dari mulutnya. Tubuhnya sudah benar-benar lemah dan tidak berdaya untuk menghadapi monster mengerikan.
Bukan lawannya, mungkin jika Zeno tidak melakukan transformasi, Zeno akan kewalahan. Tapi kali ini dia bisa membunuh musuh dalam sekejap.
__ADS_1
“Aliran pemecah batu, tahap keempat.” Zeno kembali mengepalkan tangannya yang kini di lapisi oleh sebuah air berwarna biru tua.
Zeno langsung memukul perut Imaro dengan begitu keras, bahkan Zeno juga merasa bahwa pukulannya menembus lapisan tanah yang ada di bawah Imaro.
“Kondisi hariku saat ini benar-benar sangat buruk. Jika ayah ku tidak meninggal, ibu dan kakek nenekku tidak dalam keadaan hampir meninggal, aku tidak akan membunuhmu semengerikan ini.” Kata Zeno dengan nada tinggi, sepertinya dia benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya lagi.
“Semudah itu?” Kata Fang Tan yang kesulitan bicara. Dia merasa bahwa pertarungannya dengan Imaro sangat sia-sia. Bagaimana tidak, adiknya yang baru datang justru bisa membunuh Imaro dalam hitungan menit.
“Tunggu, itu Zeno?” Nora yang baru datang terkejut mengenai sosok Zeno yang berubah menjadi setengah harimau.
“Nora, ada apa?” Tanya Fang Tan dengan napas yang tidak teratur karena kelelahan.
“Aku diperintahkan oleh nyonya Arina untuk mencari kaisar. Dan kau Zeno, kau dicari Selena untuk menghadap ibumu.”
Mendengar penjelasan Nora, Zeno meneteskan air mata. Sepertinya Nora belum tahu keadaan ibu Zeno sebenarnya.
“Aku sudah bertemu Selena. Lagi pula, aku ingin mencari salah satu dari empat musuh yang menuju ke sini.” Zeno sebenarnya berkata dengan begitu sedih, apalagi di dekatnya ada Fang Tan.
“Salah satu dari empat musuh? Aku melihat bahwa Turse dan Selena sudah membunuh salah satu musuh sebelum diperintahkan Nyonya Arina. Jadi tinggal dua musuh bukan? Karena kau sudah membunuh salah satu musuh yang di hadapi kaisar dan si beban?” Kata Nora begitu tenang.
“Salah satu dari musuh sudah dibunuh Turse dan Selena? Sedangkan aku telah membunuh tiga musuh lainnya. Itu berarti ....” Zeno tidak melanjutkan ucapannya, sepertinya anak buah pribadi milik Danze semua sudah dikalahkan.
“Danzeeee!!!” Zeno berteriak dengan penuh emosi. Jika semua empat musuh yang dilihat Zeno sudah di kalahkan, dan seluruh keluarga dan temannya dalam kondisi aman, walaupun kesedihan menerpanya, setidaknya saat ini dia lebih tenang sekarang, karena bisa berhadapan dengan Danze sang biang kerok yang membuat ayah nya terbunuh.
__ADS_1
Dia merasa bahwa jika tidak ada Danze, maka semua ini tidak akan terjadi. Ayah, ibu, dan kakeknya masih tertawa bahagia melihat Fang Yuna menikah. Tapi siapa yang menyangka, bahwa hal tersebut dihancurkan begitu mudah.