Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Selena memang hebat


__ADS_3

“Suatu kehormatan bisa bertemu dengan kaisar Danze. Aku benar-benar tidak menyangka, bahwa kaisar terkuat harus mengotori tangannya hanya karena ucapan kaisar Yin Shan yang tidak ada gunanya.” Zeno  sedikit menundukkan kepalanya sambil tersenyum, memberi hormat ala-ala bangsawan seperti biasanya.


Apa yang ia lakukan sebenarnya adalah meledek. Seharusnya kaisar seperti dia cukup untuk duduk dan menyuruh para bawahannya untuk mengurus benua ini. Apalagi dia merasa bahwa kaisar Danze turun tangan karena perintah Yin Shan yang membalas dendam.


Yin Shan, sebenarnya semenjak tadi dia dan pasukan yang ada di belakang Danze sedang bertarung dengan pasukan aliansi yang dipimpin oleh Zabuto dan kaisar Hanzi. Dan kini mereka tengah bertarung di tempat lain.


Tapi Zeno tidak mengurusi itu. Sang pelaku berada di sini, musuh yang ia ambil berada di hadapannya. Tidak mungkin dia lari dari musuh ini untuk membantu yang lainnya. Karena dia sedikit percaya, bahwa orang dekatnya bisa bertahan untuk hidup, dan harus tetap hidup.


“Aku kesini bukan hanya karena perintah Yin Shan. Beberapa penyebab aku tertarik adalah, fire Sword ada berada di sini. Dan selanjutnya, aku membutuhkan puluhan mayat dari benua luar untuk memba ...” Danze tidak melanjutkan ucapannya, sepertinya dia merasa sangat bodoh apabila memberitahu mengapa dia mengumpulkan mayat dari benua luar.


Zeno mengangkat alisnya, dia menjadi penasaran tentang ucapan Danze yang tidak dilanjutkan.


“Lupakan penyebab kedua. Karena saat ini aku lebih tertarik denganmu. Memiliki dua beast legenda menjadikanmu seolah-olah bukan manusia biasa. Dan terkadang, siapa saja yang melawanku, dia akan mati dalam beberapa menit. Tapi siapa yang menyangka bahwa kita sudah bertarung selama dua jam tanpa henti?” Danze mengangkat pedangnya, sebuah kegelapan kembali menyelimuti besi berwarna cerah.


Begitu juga dengan Zeno, dia kembali mengangkat pedangnya yang diselimuti oleh elemen air yang memiliki sebuah percikan petir berkedip.


Pada akhirnya mereka berdua melesat satu sama lain, beradu pedang dengan tenaga penuh agar salah satu dari mereka terbunuh. Suara dentuman pedang benar-benar terdengar paling keras di antara pertarungan lainnya.


//////


Selena dan Nora, keduanya menjaga Arina dibalik reruntuhan untuk bersembunyi dari Alie yang sedang bertarung dengan Turse dan Lyana. Selena merasa, bahwa keberadaannya seperti tidak berguna, hal itu membuat dia menggigit bibir bawahnya hingga memerah.


Dia juga melihat bahwa Turse dan Lyana sangat kesulitan. Kedua elemen mereka hanya bisa diserap oleh lubang kegelapan yang muncul di ujung tombak Alie. Bahkan, racun Turse sama sekali belum mengenai Alie sama sekali.


Melihat hal tersebut, Selena segera keluar dari persembunyiannya. Sampai kapan dia hanya akan bersembunyi? Temannya merasa kesulitan yang membuatnya tidak bisa tinggal diam.

__ADS_1


“Nora, aku harap kau menjaga Nyonya Arina dengan baik.” Selena menyeret pedangnya, dia memberikan sebuah pesan kepada Nora untuk tetap menjaga Arina.


“Selena, kau mau ke mana?” Protes Nora.


Sedangkan Arina, dia hanya terdiam dan melirik pertarungan Elderic dengan Zhuo. Menjadi istri yang tidak berguna, itulah yang dia rasakan. Suaminya sedang berjuang di sana, namun dia hanya bersembunyi? Istri macam apa dirinya? Apalagi Zhuo terlihat terluka berat saat bertarung melawan Elderic.


Selama menghampiri pertarungan Turse melawan Alie, dia terlihat menyeret pedangnya dan berwajah yang tidak santai.


“Lebih baik kalian mundur. Sepertinya terlihat percuma apabila bertarung dengan elemen. Maka dari itu, kemampuan berpedang tanpa elemen adalah kemampuanku.” Selena berkata dengan jelas, memerhatikan Turse dan Lyana yang sedang menoleh ke belakang menghadap dirinya.


Turse dan Lyana terengah-engah, kemampuan mereka terlihat percuma di hadapan Alie. Lyana yang memegang pedang  hanya menebaskan pedangnya untuk mengeluarkan teknik, dan tidak menyerang secara langsung.


Selena berlari ke arah Alie. Di bantu dengan Lyana yang juga berlari untuk memulai pertarungan secara langsung.


Alie hanya tersenyum, dia mengulurkan tombaknya untuk mengeluarkan bola kegelapan dari ujung tombaknya dan ditembakkan ke arah Selan dan Lyana.


Baik itu Turse, maupun Layana, keduanya hanya bisa ternganga. Bagaimana mungkin, bola kegelapan yang ditembakkan sangat banyak bisa di hindari Selena dengan sangat mudah.


Alie juga terkejut, dia memainkan tombaknya di saat Selena menebaskan pedang ke arahnya.


“Tombak kegelapan.” Alie berusaha menancapkan tombaknya ke arah Selena. Lagi pula dia tahu bahwa Selena tidak memiliki elemen apapun, sehingga tidak ada sebuah pertahanan ataupun kekuatan yang bisa menyaingi elemen kegelapan.


Selena masih nampak tenang, bukan sebuah kesulitan apabila dia tidak memiliki elemen untuk pertahanan. Cukup menghindar adalah cara yang baik, dan juga mengandalkan sebuah kelincahan. Selain itu, dia harus berhati-hati dengan tombak yang dimiliki oleh musuh, bagaimanapun dia tidak boleh membenturkan pedagangnya, atau yang terjadi pedang tersebut akan patah dan dirinya terpental.


Pertarungan yang cukup hebat, bahkan Alie benar-benar sangat dirugikan. Walaupun Selena tidak memiliki elemen. Tetapi Alie tidak bisa meremehkannya secara langsung.

__ADS_1


“Selena memang hebat, itulah mengapa tuan Zeno menyukainya. Tidak peduli apakah dia memiliki elemen, tapi kemampuan tidak bisa diremehkan.” Kata Turse sambil menarik tali busur panahnya, memunculkan tiga buah panah es yang masing-masing dilapisi oleh racun yang berbeda-beda.


Lyana juga tidak tinggal diam. Seharusnya dia tidak mundur waktu itu. Dia merasa cukup diremehkan oleh Selena, karena dia tersadar, jika dirinya memiliki elemen, mengapa dirinya takut? Berbeda dengan Selena yang maju melawannya secara langsung.


“Benar-benar tidak bisa diremehkan.” Alie mundur sejenak, dia mengatur napas sebelum kembali menyerang Selena menggunakan tombaknya. Bertarung menggunakan elemen hanya akan membuatnya kesulitan, karena lawannya kali ini tidak mengandalkan sebuah elemen pula.


Dia juga melihat tiga anak panah yang melesat ke arah dirinya, serta Lyana yang juga berlari dengan penuh semangat.


Lagi-lagi Alie memunculkan sebuah lubang hitam di atas ujung tombak untuk menelan anak panah es milik Turse.


Tapi siapa yang menyangka, Selena dan Lyana sudah berada di hadapannya sebelum anak panah milik Turse.


Alie mundur melompat sambil mengarahkan tombaknya ke arah anak panah. Dia lebih memfokuskan anak panah itu terlebih dahulu daripada bertarung dengan Selena dan Lyana.


Salah satu anak panah yang akan masuk ke dalam bola kegelapan milik Turse di tangkap oleh Selena. Sedangkan yang lainnya berhasil ditelan oleh bola kegelapan milik Alie


“Putri Lyana, sekarang!” Selena berteriak sambil mengarahkan anak panah milik Turse tepat di leher Alie.


Begitu juga dengan Lyana, dia yang mendengar perintah Selena. Segera mengeluarkan sebuah teknik dari arah dekat, sehingga mungkin teknik tersebut tidak akan ditelan bola kegelapan dengan mudah.


“Teknik angin, tarian dewa angin!” Lyana berputar dengan cepat tepat di atas Alie. Saat ini dia berada di belakang Alie agar Alie tidak bisa menghindar dan melompat ke belakang.


Alie tidak percaya, sebagai salah pilar kegelapan milik Danze bisa dikalahkan semudah itu. Tapi dia tidak ingin mati secepatnya, setidaknya dia masih berusaha dengan melompat ke arah samping.


Terlambat, benar-benar terlambat. Lehernya tergores panah milik Turse yang memiliki racun pelumpuh secara langsung. Sehingga tubuhnya begitu lemas dan terhuyung-huyung yang pada akhirnya dia terjatuh.

__ADS_1


“Slaaap ...!” Tubuhnya terbelah menjadi dua setelah terkena tebasan pedang milik Lyana yang terlapisi oleh elemen angin yang berputar seperti sebuah gerigi.


__ADS_2