Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Gelombang petir


__ADS_3

"Aku hanya memberitahu, kau boleh menagih hutang kepada seseorang yang memiliki hutang kepadamu. Tetapi ingatlah baik-baik, etika kepada orang tua juga harus kau jaga. Kau mengerti?" Ucap suara berat Zeno.


“Bertindak pemberani di depan ku? Memangnya kau siapa? Apakah kau tidak mengenalku?” Geldhe menaikkan kepalanya, menunjukkan kesombongannya dihadapan Zeno.


“Siapapun kau, entah itu status mu yang tinggi, atau rendah, aku juga tidak peduli.” Zeno memukul perut Geldhe dengan begitu keras, tidak hanya itu saja, pukulan yang ia daratkan juga dialiri dengan orka yang begitu kental. Sehingga, dua elemen Zeno menyatu pada pukulan yang ia buat itu.


Zeno juga berjalan ke arah bawahan Geldhe yang sedang berusaha merebut anak dari wanita tua pemilik kedai. Sorot matanya begitu tajam mengisyaratkan kepada bawahan Geldhe untuk melepaskan anak wanita tua dan pergi dari sini.


Tetapi para bawahan Geldhe tidak terlalu peka dengan sorotan tajam dari mata Zeno. Sebagian dari mereka justru beranjak dari tempat berdirinya dan mencoba menyerang Zeno setelah ia melihat tingkah Zeno menyerang tuannya.


Sebagian bawahan Geldhe, mereka menyerang Zeno dengan mengeluarkan gelombang petir yang membuat Zeno harus meloncat ke belakang terlebih dahulu. Karena ia tahu pasti, bahwa elemen petir merupakan elemen paling berbahaya di benua ini, karena gelombang kejutnya mampu membuat seorang target akan mengalami lemas, bahkan kemungkinan terburuknya akan hangus dan meninggal.


Apalagi jika targetnya merupakan seorang pengguna elemen air, petir akan sangat mudah merambat walaupun pengguna elemen air tersebut membuat pertahanan dari elemen air. Karena air merupakan sebuah konduktor listrik yang sangat bagus, sehingga membuat kelemahan elemen air adalah sebuah petir.


Tetapi Zeno tidak mempercayai sepenuhnya tentang sebuah kelebihan dan kekurangan mengenai elemental. Karena ia yakin, apabila sang pengguna elemen air lebih menguasai dan lebih ahli, bisa dipastikan bahwa pengguna elemen petir juga akan kalah. Zeno benar-benar sudah beberapa kali mengingat hal itu.


Selain itu juga, kelemahan elemen air justru sangat menguntungkan apabila dua pengguna elemen air dan petir melakukan sebuah gabungan. Karena jangkauan petir yang sangat pendek mungkin akan bisa diperpanjang menggunakan sebuah aliran air sebagai konduktor yang begitu baik, sehingga orang yang tidak sengaja menyentuh aliran air tersebut, akan tersengat hebat di sekujur tubuhnya.


Kesimpulannya, Zeno berpikir  bahwa elemen yang lemah dengan elemen lain bisa sangat beruntung apabila digunakan orang yang memiliki kepercayaan yang tepat. Baiknya lagi, kedua elemen tersebut sangat bagus apabila dimiliki oleh orang yang sama, sehingga orang tersebut juga akan sangat mudah menyerang seorang musuh.


Zeno kini berdiri tepat di samping meja yang ditempati pengunjung kedai, membuat pengunjung kedai tersebut merasa ketakutan dengan apa yang baru saja terjadi. Zeno yang melihat itu menatap mata pengunjung itu sejenak. “Apa kau hanya ingin melihat pertarungan ini? Pergilah jika kau merasa takut.”  

__ADS_1


Pengunjung itu, dia akhirnya keluar dan juga lari ketakutan. Melihat salah satu pengunjung yang keluar, seluruh pengunjung yang ada di lantai bawah juga ikut berlari keluar. Tetapi banyak dari mereka juga ikut keluar tetapi memilih untuk melihat dari luar, bisa dipastikan mereka masih berani melihat tetapi hanya takut akan kedai ini roboh.


Mendengar sesuatu yang berisik pada lantai pertama, para pengunjung yang berada di penginapan lantai kedua juga ikut turun untuk memastikan tentang kegaduhan ini. Tetapi ujung-ujungnya mereka juga ikut keluar untuk menghindari dampak pertarungan yang terjadi apabila terkena elemental milik Zeno ataupun bawahan Geldhe.


Kini yang tersisa hanyalah Zeno, Geldhe dan para bawahannya, serta ibu dan anak yang menangis sambil berpelukan diantara keduanya.  Geldhe, kini ia berdiri dari jatuhnya akibat ulah Zeno, Geldhe berjalan perlahan di hadapan Zeno, dengan seluruh bawahannya yang telah melupakan untuk merebut wanita tadi.


Zeno menekuk seluruh jarinya, bunyi tulang yang ia buat menjadikan dirinya lebih bersemangat untuk melawan Geldhe dan bawahannya. Apalagi musuh yang ia hadapi kini merupakan pengguna elemen petir, elemen terkuat di benua ini, membuatnya lebih bersemangat.


“Aku akan membuatmu menyesal setelah apa yang kau lakukan.” Kata Geldhe dengan mengambil sebilah pedang dari selongsongnya.


“Pedang, dengan gagang pedang yang terbuat dari besi juga, bisa dipastikan pedang merupakan senjata paling baik yang digunakan oleh elementalist petir.” Zeno mengambil pedang katana dari selongsongnya.


“Bisa dikatakan seperti itu.”


Zeno memandangi sejenak kedua wanita yang menatap sekitar dengan begitu takut, sehingga Zeno menyuruhnya keluar terlebih dahulu karena pertarungan ini bisa dibilang sangat berbahaya.


“Aku harap kalian tidak ikut campur dalam hal ini. Aku hanya ingin diriku sendiri yang memberikan pelajaran pada anak ini.” Kata Geldhe menoleh ke seluruh bawahannya.


Zeno tertawa dengan sedikit keras karena melihat Geldhe malah membuang seluruh kesempatannya melawan Zeno. Justru saat Geldhe melawan Zeno secara bersamaan, mereka masih memiliki kesempatan menang walaupun kesempatan menang itu memiliki persentase yang begitu rendah.


“Dasar kau bocah sombong, rasakan ini.” Geldhe menebaskan sebuah pedangnya ke arah depan, menghasilkan sebuah gelombang petir dengan begitu cepat mengarah kepada Zeno

__ADS_1


Untung saja Zeno bisa melompat tepat waktu saat gelombang petir itu hampir mengenai dirinya. Ia kini begitu tahu, berapa kecepatan petir yang sanggup dikeluarkan oleh Geldhe. Kecepatan itu untungnya dibilang masih sangat lambat, sehingga Zeno saat ini masih bisa menghindari tepat waktu.


“Sekarang giliranku!”


“Angin: Tebasan angin tak terlihat, tahap kedua.”  Batin Zeno sambil menebaskan pedangnya, membuat kemunculan sebuah hembusan angin yang begitu tipis, dan juga cepat mengarah ke arah Geldhe.


Geldhe sedikit tersenyum seketika saat apa yang Zeno tebaskan tidak mengeluarkan elemen apa-apa. Sehingga lagi-lagi dia langsung ingin menyombongkan diri dihadapan Zeno sekali lagi. Tetapi apalah daya, Geldhe begitu sombong dan tidak tahu teknik apa yang Zeno bicarakan. Sepatah kata yang akan ia keluarkan seketika terhenti saat perutnya seperti disayat oleh sesuatu.


Geldhe kembali terlempar, namun tidak sejauh seperti Zeno memukulnya tadi. Geldhe melihat perutnya yang seakan terkena sesuatu itu dengan menahan sedikit rasa sakit. Dia membuka bajunya dan mendapati sebuah goresan kecil namun begitu panjang tepat berada di sekitar pusar Geldhe, ia begitu terkejut saat tahu bahwa ini merupakan ulah Zeno.


Para bawahannya membantu Geldhe berdiri, raut wajah Geldhe begitu suram saat melihat bahwa Zeno tidak bisa dipandang sebelah mata.


“Tuan, izinkan kami untuk membantu.” Kata salah satu bawahan Geldhe meminta.


“Tidak perlu, aku bisa mengatasinya sendiri. Lagipula dia hanya beruntung tadi.” Ucap Geldhe dengan menyentuh perutnya yang tergores itu.


Zeno mengangkat salah satu kakinya dan meletakkannya di atas kursi, sambil berkata, “Tuan Geldhe, sebelumnya perkenalkan aku. Namaku adalah Zen.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2