
Bersamaan dengan Zeno yang sedang berlatih, bahkan bisa dibilang sesaat sebelum Zeno benar-benar mengeluarkan teknik Earthquake, Turse tengah melihat sosok Flamingo tengah tertidur di sarang dekat sebuah danau. Tidak seperti Flamingo pada umumnya, flamingo ini jauh lebih besar pada umumnya, bahkan ukurannya dua kali lipat dari biasanya.
Dari warnanya, masih tetap sama yaitu berwarna merah nuda. Bahkan Turse melihat jelas warna tersebut pada sebuah kegelapan. Pasalnya, mata Turse seperti mata burung hantu yang dapat melihat kondisi di kegelapan. Tidak heran, jika ia disebut pemanah terhebat dengan julukan pemanah racun di benua Artrik. Yang mana, penglihatan merupakan salah satu yang dibutuhkan dalam keadaan memanah.
“Flamingo yang malang.” Bibir Turse melengking ke bawah. Bersamaan dengan itu, dia mengangkat busurnya dan menarik tali tersebut hingga meunculkman sebuah panah es. Selain itu, dia memberi sebuah racun yang mana dapat menurunkan aliran orka di dalam tubuh Flamingo. “Tapi aku menyukainya, jadi mau bagaimana lagi, dia harus tunduk kepadaku.”
Turse langsung melepaskan anak panah setelah mengeluarkan kata-kata. Dia pasti yakin, bahwa panahannya akan mengenai sasaran, pasalnya flamingo sedang tertidur. Jika flamingo merasakan kesakitan, dia langsung terbangun dan menyerang siapa saja yang menyerangnya. Namun, Flamingo pasti tidak akan bisa mengeluarkan seluruh teknik elemennya karena keterbatasan orka. Dengan begitu, dia bisa menaklukkan flamingo dengan mudah.
Mengapa Turse tidak melepaskan anak panah dengan racun anti elemen sama seperti yang diberikan oleh Zeno? Karena Turse sendiri belum mengerti, elemen apa yang dimiliki oleh sang flamingo. Masalahnya, Turse harus mengontrak beast yang memiliki elemen yang sama dengannya. Jika flamingo tersebut ternyata tidak memiliki salah satu elemen yang dimiliki oleh Turse, maka Turse akan segera berlari daripada harus membuang-buang waktu.
Sayang seribu sayang, flamingo langsung terbangun menyadari ada anak panah yang melesat ke arahnya. Sehingga dia berdiri dan mengibaskan sayap untuk menghalau anak panah tersebut.
“Sial ...!” Turse berdecak kesal, dia tidak bisa menyangka bahwa flamingo bisa peka terhadap kepekaan. Tapi dia juga menghela napas setelah tahu bahwa elemen yang dimiliki oleh flamingo adalah elemen angin, yang mana itu cocok dengan elemen yang dia miliki.
“Tapi tenang, dia tidak akan bisa melihat kegelapan sama seperti burung hantu. Jadi aku bisa membidiknya secara diam dari sini.” Turse bersembunyi di balik pohon dan melihat flamingo sedang menuju ke arah panah itu datang.
Walaupun flamingo buta malam, setidaknya dia juga tahu dari mana panah itu berasal, sehingga dia tidak ragu untuk segera menghampiri asal lemparan anak panah tersebut.
Melihat hal tersebut, secara perlahan Turse bergerak ke sisi lain tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Selain itu, dia juga lebih berjaga-jaga apabila ada beast lainnya yang tiba-tiba menyerang dirinya.
“Slaaap ...!” Turse menembakkan anak panah dari belakang flamingo tepat pada kakinya.
Lagi-lagi flamingo menyadari dan berbalik ke belakang, dia juga langsung mengibaskan sayapnya untuk mengeluarkan sebuah elemen angin. Tidak hanya itu saja, flamingo langsung bergerak dengan cepat ke arah asalnya anak panah tersebut.
__ADS_1
“Sialan.” Turse bergumam. “sepertinya dia mengandalkan sebuah elemen angin untuk merasakan keberadaan.” Dia langsung berlari ke arah sisi lain agar flamingo tidak menyerangnya. Tapi sepertinya keputusan berlari merupakan hal bodoh, pasalnya suara berisik dari langkah kaki pasti menimbulkan suara yang besar. Sehingga flamingo akan menyadari keberadaannya.
“Jika berlari merupakan hal bodoh. Maka malangkah maju merupakan sesuatu yang tepat.” Turse berbalik arah, dia langsung berlari ke arah flamingo dengan menembakkan anak panah secara berulang kali.
Flamingo mengubah sayapnya menjadi sangat keras, sehingga tidak masalah untuk menghancurkan puluhan anak panah menggunakan anak panahnya. Tidak hanya itu, Flamingo langsung mengeluarkan serpihan angin untuk menyerang asal musuh yang ada di depannya.
Tapi dia tidak merasa bahwa serpihan anginnya tidak mengenai musuh, flamingo tersebut langsung berhenti dan kabur ke belakang agar tidak terkena serangan jarak dekat. Flamingo menggertakkan paruhnya, dia merasa bahwa menyerang dirinya pada malam hari merupakan tindakan pengecut. Atau, dia merasa bahwa akan ada yang ingin menjadikan dirinya sebagai beastnya.
Dia sebenarnya mau untuk tunduk kepada siapa saja, tapi dia juga harus melihat, bagaimana kemampuan orang tersebut. Dan kondisi ini merupakan tidak ada cahaya sama sekali, yang membuatnya tidak bisa melawan orang tersebut.
“Apakah aku harus menyerah?” Batin flamingo tersebut, dia tidak mau susah-susah untuk melawan seseorang lebih lama lagi. Lagi pula, dia juga sedikit terkejut, mengapa ada orang yang ingin menjadikan dirinya menjadi beastnya? Padahal dirinya merupakan beast yang lemah, setiap hari hanya menjadi incaran beast yang lebih kuat lainnya.
“Kena kau!” Turse menangkap flamingo dari depan yang sedang berlari. Flamingo tersebut terkejut, pasalnya dia tidak tahu bahwa di hadapannya ada seseorang.
“Aku tidak peduli apakah kau kuat atau tidak, yang terpenting aku menyukaimu, aku ingin kau menjadi peliharaanku.” Turse menjelaskan.
Flamingo tersentuh dia langsung menyerah saat di tangkap oleh Turse. Turse yang melihat itu langsung melepaskan Flamingo.
“Elemenmu hanya angin?” Turse mengangkat alisnya, dia penasaran elemen apa yang dimiliki oleh Flamingo.
“Tidak hanya angin, melainkan juga ada elemen api.”
Turse terkejut, dia tidak tahu apakah jika beast memiliki dua elemen, namun salah satu elemennya berbeda dari yang ia miliki dapat dikontrak? Turse benar-benar bersedih, dia ingin meninggalkan flamingo karena perbedaan elemen saja.
__ADS_1
“Sepertinya asal suara itu dari sini.”
Seketika Turse dan Flamingo kaget, Turse melihat bahwa ada beberapa serigala yang sedang mengepung dirinya, sedangkan flamingo, dia tidak dapat melihat namun juga bisa merasakan bahwa ada beberapa binatang buas yang mengepungnya.
Flamingo langsung berdiri mengitari Turse, dia berusaha melindungi Turse apabila beberapa serigala langsung menyerang dirinya. Dia tidak peduli mengenai kelemahannya, yang terpenting dia berusaha ingin melindungi anak manusia yang benar-benar menghargai dirinya. Hanya mengandalkan sebuah keberadaan menggunakan elemen angin, setidaknya dia dapat menghadang seluruh serigala agar Turse benar-benar pergi.
“Flamingo mundur, ini bukan tandinganmu.”
Flamingo menolak, dia terus mengitari Turse selagi serigala mendekat. Walaupun memiliki rasa takut, tapi dia berniat untuk melindungi Turse.
Suara gemuruh tiba-tiba muncul, tanah tiba-tiba bergelombang mengakibatkan getaran yang lauar biasa. Para serigala segera lari karena merasakan bahaya yang hebat, sedangkan Flamingo, dia langsun menaikkan Turse di punggungnya dan terbang menuju wilayah aman, agar Turse bisa pergi dari sini.
“Tunggu, Flamingo bisa terbang?” Turse berteriak ketakutan karena dia menumpangi Flamingo yang sedang terbang.
>>//<<
Zeno tersenyum lebar saat dia berhasil menghasilkan sebuah getaran yang luar biasa. Bahkan getaran yang dihasilkan melebih getaran yang dibuat oleh Skarlos. Namun siapa menyangka, bahwa getaran tersebut membuat beberapa pohon di dekatnya menjadi tumbang karena kuatnya getaran.
Skarlos keluar dari tempurung, dia menghela napas saat dirinya berhasil selamat dari getaran tersebut. “Getaran yang sangat hebat, bahkan saat aku di dalam tempurung, aku merasa pusing karena getaran yang hebat.” Skarlos tidak terlalu terkejut mengenai getaran hebat tersebut, pasalnya orka yang dibenturkan terlalu banyak dan kasar.
“Sekarang, kita hanya perlu menunggu Turse tiba. Apakah menurutmu dia mendapatkan beast yang dia inginkan?” Tanya Zeno kepada Skarlos sambil menariknya kembali.
“Entahlah, apakah tuan tidak ingin mengeceknya? Kita tidak tahu apa yang terjadi pada Turse.”
__ADS_1