
Baik kaisar Aurrora dan jenderal Zhuo, keduanya sama-sama terkejut setalah mendengar apa yang Zeno katakan. Jenderal Zhuo yang tidak percaya lantas langsung membuka gulungan yang baru saja dilemparkan oleh Zeno.
Tulisan tersebut intinya berisi menyuruh Zeno untuk pulang, baik itu menemukan ayahnya atau belum, pasalnya dalam satu bulan lagi, Fang Yuna akan segera menikah. Zhuo yang membuka surat tersebut langsung menutup mulutnya dan berkaca seakan tidak percaya mengenai apa yang ia baca.
“Bagaimana dengan Fang Tan? Padahal dia anak pertama, mengapa dia juga belum menikah?” Jenderal Zhuo mengusap air matanya.
“Bujangan itu butuh seribu tahun lagi untuk menikah.” Zeno bercanda.
Fang Zhuo menoleh ke arah kaisar Aurrora untuk mendapatkan Izin. Aurrora yang melihat itu hanya tersenyum dan mengangguk. Bagaimanapun masalah di benua Artrik telah selesai, jadi Zhuo juga diizinkan kembali ayahnya. Lagipula anaknya akan segera menikah, jadi Aurrora benar-benar tidak bisa untuk melarang Zhuo untuk pulang.
“Jadi Zeno akan segera kembali?” Nora yang ada di belakang Zeno nampak sedih, butuh beberapa tahun lagi agar Zeno kembali ke benua Artrik. Menolak jauh dari Zeno, Nora berkata dengan nada yang tinggi, “Izinkan aku untuk ikut.”
“Hey penyihir, jangan menganggu kehidupan tuan Zeno, karena pada dasarnya kau adalah pengganggu. Jadi hanya aku yang berhak ikut.” Turse tidak mau mengalah. Dia sebenarnya juga bersedih mendengar bahwa Zeno akan dari asalnya.
“Diam!” Zeno berteriak dengan wajah yang sangat jengkel. “Apakah begini sikap kalian di hadapan kaisar?”
Baik Turse dan Nora, keduanya langsung menundukkan kepalanya dan meminta maaf. Yaah meminta maaf untuk kesekian kalinya. Bahkan Zeno sudah mendengar kata maaf berulang kali dari mereka, tetapi mereka selalu saja terus mengulangi pertengkaran sehingga membuat telinga Zeno panas.
Hal tersebut membuat jenderal Zhuo dan Aurrora tertawa lirih melihat Zeno yang marah hanya karena wanita. Bahkan mereka juga tidak menyangka Nora yang mantan penyihir bisa berteman dengan Turse yang sangat membenci Rungdaf.
__ADS_1
Melihat tingkah kasihan Nora dan Turse, Zhuo melangkahkan kakinya kedepan dan berkata, “Tenang saja, kalian bisa ikut menuju benua lima negara. Tapi perlu diingat, Zeno tidak akan kembali ke benua Artrik untuk waktu yang sangat lama, sehingga kalian akan terus di negara air.”
“Benarkah?” Nora dan Turse saling memandangi, dia berteriak senang dan memutuskan untuk mengikuti Zeno walaupun risikonya tidak akan kembali dalam jangka waktu yang sangat lama.
Berbeda dengan Nora dan Turse, Zeno hanya menghela napas dan menatap malas Nora dan Turse. Tentu saja membawa pulang mereka adalah sebuah tindakan yang sangat bodoh baginya. Tapi mau bagaimana lagi, Nora dan Turse di ajak oleh ayahnya yang mana Zeno tidak bisa untuk membantah.
“Kaisar, bolehkah aku mengikuti Zeno pulang?” Tanya Aure yang berdiri di belakang Aurrora.
Sebelum kaisar Aurrora menjawab, Nora yang ada di belakang Zeno menyahut, “Tidak, beban tidak boleh ikut.”
Mendengar hal itu, Turse tersenyum dan memilih untuk pergi karena dia tidak ingin terlibat dalam masalah tersebut. Sedangkan Zeno dia menggertakkan giginya dan berjalan ke arah Nora. “Sepertinya kau butuh pelajaran sopan santun dariku.” Sambil memukul perlahan kepala Nora.
“Zhuo, kau sekarang boleh pulang. Terima kasih sudah mau tinggal bersama ibu dalam enam belas tahun terakhir. Dan yang terpenting, sampaikan pesanku kepada ayahmu bahwa aku mencintainya. Aku akan mampir dalam acara pernikahan anakmu.” Aurrora memeluk jenderal Zhuo sambil meneteskan air mata di atas pundak Zhuo.
Zhuo dan kaisar Aurrora keduanya bagaikan ibu dan anak yang masih kecil. Zeno yang melihat itu justru malu sendiri, bagaimanapun ayahnya sudah tua, apalagi neneknya.
Setelah cukup merasa puas, Aurrora melepas pelukannya dan menghampiri Zeno, dia kemudian memberi pesan, “Zeno, berjanjilah saat aku sudah mencapai ujung hidupku, kau datang ke sini. Ingat itu!”
Zeno mengangguk dan mengerti, dan dia tau itu artinya apa. Menjadi seorang pemimpin bukanlah suatu hal yang sangat dibanggakan, dia mengingat apa yang Aure katakan, menjadi pemimpin hanya akan membuat seseorang menjadi Arogan dan kasar. Dia harap di masa depan dia tidak melakukan seperti itu.
__ADS_1
----
Tepat sore menjelang malam, saat ini seluruh orang penting dalam kekaisaran berada di pelabuhan provinsi Alvalos untuk melihat perpisahan mereka dengan jenderal terbaik mereka selama ini. Banyak orang yang mungkin agak keberatan dengan jenderal Zhuo yang memilih kembali ke tempat asalnya, serta banyak orang juga yang ingin agar Zeno tidak kembali ke asalnya.
Saat ini, jenderal Zhuo hanya melambaikan tangan di atas kapal kepada seluruh orang yang melihat perginya jenderal Zhuo. Sedangkan Zeno, dia tidak tertarik melakukan hal seperti itu.
Di samping jenderal Zhuo, terdapat Nora yang penuh percaya diri melambaikan tangan kepada seluruh orang yang ada di bawah. Hal tersebut membuat Turse yang berdiri di samping Zeno yang tengah duduk hanya bisa tersenyum meledek tanpa sepengetahuan Nora.
“Lihat temanmu, dia penuh percaya diri melakukan salam perpisahan dengan orang-orang. Apa kau tidak melakukannya?” Tanya Zeno yang memperhatikan Turse.
“Tidak, itu menurutku sesuatu yang cukup bodoh?” Jawab Turse.
“Jadi ayahku bodoh?” Zeno mengerutkan dahinya setelah mendengar apa yang Turse katakan, yang mana melambaikan tangan untuk perpisahan merupakan hal yang cukup bodoh seperti apa yang Nora katakan. Padahal ayah Zeno juga melakukan hal tersebut.
“Tidak tuan, aku bercanda. Hanya penyihir sialan itu yang bodoh, jenderal Zhuo tentu saja melakukan hal tersebut melakukan untuk ibunya. Sedangkan Nora? Dia merasa seperti paling hebat dan berjasa di empire. Jadi siapa peduli tentang kepergianya?” Turse menjelaskan.
Zeno mengerti dan sadar, bahwa selama ini yang paling banyak bicara adalah Nora, bahkan dia seperti meminta perhatian dari orang lain seperti dirinya. Atau mungkin selama dia kecil, dia memang tidak pernah dapat perhatian penuh dari orang tuanya akibat di bunuh oleh Rungdaf. Dan saat dia menjadi murid Rungdaf, sepertinya dia membuang masa bahagianya dengan selalu memiliki hati yang dipenuhi amarah kepada Rundaf.
Mungkin pasca membunuh Rungdaflah, dia merasa lebih ceria. Entahlah, Zeno hanya menebak dan tidak tahu apa yang sebenarnya.
__ADS_1
Kapal besar nan mewah menjauh dari dermaga. Kapal sudah bergerak seakan ke arah selatan beriringan dengan matahari terbenam dari arah barat. Zhuo menjadi sangat tidak sabar untuk kembali bersama istrinya, dengan bersama anak-anaknya yang masih sehat.