Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Pertarungan dua belah pihak


__ADS_3

“Serang!!” Tuan sepuluh berteriak dengan begitu keras saat melihat pasukan dari Nuvoleon sudah menampakkan dirinya. 


Sudah hampir seperempat malam tuan sepuluh menunggu, dan ini benar-benar hampir fajar. Tidak lama, namun dibilang sebentar juga terlihat aneh, sehingga tuan Sepuluh yang menunggu mereka juga benar-benar merasa bosan. Serta saat dia sudah melihat pasukan Nuvoleon yang ditunggu lama, dia tersenyum puas.


“Tunggu sebentar?” Kata salah satu prajurit yang terkejut saat melihat ribuan, bahkan ratusan prajurit menuju ke arah dirinya. Dengan sedikit kebingungan, dia bertanya kepada pembawa pesan yang ikut naik menuju lereng bersama dengan pasukan Nuvoleon. “Apa yang terjadi, bukankah pasukan mereka yang akan menyerang dari belakang.”


Pembawa pesan itu hanya tersenyum lebar sesaat sebelum dia menarik pedangnya dan menusukkan ke arah prajurit yang baru saja berbicara. Selain itu, dia segera menarik pedangnya dengan cepat dan melompat ke belakang. Bersamana dengan hal tersebut, dia berkata dengan begitu dingin, “Jenderal Tamichi sudah mati, jadi jangan berpikir bahwa kalian naik ke lereng ini atas perintahnya.”


“Peng-pengkhianat!” Kata prajurit yang berbicara dengan terbata-bata, tubuhnya sudah tidak berdaya saat menerima tusukan telak yang tidak diduga.


Hal itu membuat prajurit lainnya menggertakkan giginya, bahkan mereka juga langsung mengangkat pedangnya untuk melawan kelompok tuan sepuluh yang sudah berjarak beberapa meter dari mereka. dengan begitu keras, salah satu dari mereka berteriak penuh emosi, “Walaupun kita dijebak, tapi jangan sampai kalah. Semuanya serang!!!” 


Seluruh prajurit berteriak, mereka langsung berlari ke arah pasukan kelompok tuan sepuluh yang mana rata-rata dari mereka mengenakan pakaian Assassin, sehingga wajah yang ada di balik penutup kepala itu tidak terlalu tampak. 


Peperangan hanya karena setangkai bunga kini benar-benar sudah terjadi, medan perang yang berada di lereng gunung terlihat sangat aneh. Bahkan kondisi tersebut sangat mengerikan karena bisa-bisa mereka jatuh ke jurang yang mereka sendiri tidak tahu kedalamannya. Hanya mengandalkan cahaya yang menjadi elemen mereka juga tidak terlalu sulit, tapi itu benar-benar mencengkam karena dentuman pedang, genangan darah dan kilatan cahaya benar-benar sudah muncul.

__ADS_1


Tentu saja, peperangan itu bisa di saksikan dengan jelas di tebing yang berada di sebelah medan perang itu. Dan hal yang menarik, terdapat Zeno dan juga Turse yang berhasil mendapatkan tempat aman dan nyaman untuk bisa melihat peperangan tersebut. Setidaknya tuan sepuluh atau pasukan yang lainnya tidak akan bisa menemukannya.


“Benar-benar licik, pasukan Nuvoleon sebelumnya terlihat sangat banyak, tapi saat ini tinggal separuh karena tuan sepuluh yang memberikan informasi palsu bahwa mereka diperintahkan jenderal mereka.” Turse angkat suara sambil menyipitkan matanya, cahaya yang dihasikan oleh peperangan membuatnya silau. Bahkan tidak sedikit dia mendengarkan beberapa cahaya yang meledak membuatnya tersentak kaget.


Begitu juga dengan Zeno, dia mengangguk karena setuju dengan apa yang dikatakan oleh Turse, bahwa orang yang bernama tuan sepuluh itu benar-benar licik. Jika dia bertemu dengannya sekali lagi, Zeno ingin meminta bayaran karena membunuh jenderal Tamichi. Yang mana hal tersebut membuat rencana tuan sepuluh berjalan mulus.


Berjalan mulus, tidak sepertinya itu akan kurang tepat, karena rencana tuan sepuluh untuk mendapatkan bunga teratai emas mungkin akan semulus di awal, dan akan buruk di akhir karena Zeno sendiri belum melakukan apa-apa. Yaah, bisa dibilang Zeno belum melakukan apa-apa, hanya saja dia sudah membuat langkah kecil agar rencana yang dia buat terlihat sangat baik.


.....


“Secara harfiah, pasukan yang sudah kehilangan jenderal mereka akan kalah. Tapi kalian benar-benar bersikeras untuk bertarung.” Tuan Sepuluh terlihat begitu santai dengan duduk di atas batang pohon yang telah tumbang tanpa melakukan apapun. Walaupun, di hadapannya sudah ada lima prajurit kekaisaran yang sudah siap untuk mengangkat pedangnya. 


Mendengar hal tersebut, tuan Sepuluh hanya menghela napas dan berkata, “Aku katakan, bukan aku yang membunuh jenderal Tamichi.”


“Bohong!” Seru mereka dengan serentak sambil mencoba menyerang tuan sepuluh dengan pedang mereka.

__ADS_1


Melihat hal itu tuan Sepuluh terlihat masih bersikap begitu tenang, bahkan dia hanya menunjuk ke depan. Mungkin tuan sepuluh terlihat sangat aneh, hanya menunjuk dan tidak melakukan suatu yang lebih seperti berdiri dan menyerang balik. Tapi siapa yang menyangka, bahwa telunjuknya mengeluarkan tembakan cahaya yang menembak mereka semua.


Sayangnya ke lima prajurit itu mungkin bisa menghindar dengan baik, bahkan beberapa dari mereka juga menembakkan beberapa cahaya kepada tuan sepuluh. Akan tetapi, tuan sepuluh dapat menahan serangan itu dengan cahaya miliknya pula. Sehingga, saat cahaya milik tuan sepuluh berbenturan dengan cahaya milik prajurit itu tadi, akan menghasilkan sebuah ledakan kecil yang cukup membuat mereka berlima terlempar beberapa meter.


Berbeda dengan tuan sepuluh, dia juga merasakan ledakan itu tapi juga tidak terlempar sedikitpun. Bahkan bisa dibilang, dia belum bergerak sama sekali di tempat duduknya. 


“Ini yang disebut prajurit kaisar terkuat kedua di dunia?” Tuan Sepuluh meledek, dia kembali menunjuk dan menembakkan beberapa cahaya ke arah kelima prajurit tersebut.


Melihat hal tersebut, beberapa prajurit langsung melompat dan bergerak dengan cepat ke arah tuan sepuluh. Sayangnya, dua orang prajurit tidak sempat menghindar dan terkena ledakan cahaya yang ditembakkan oleh tuan sepuluh.


Tuan sepuluh masih terlihat santai dan masih duduk di tempat walaupun di ketiga sisi yang berbeda, ada pedang yang saat ini ditebaskan. Mungkin orang biasa hal itu akan menjadi panik dan tidak sempat menghindar, hingga pada akhirnya kepalanya akan putus. Berbeda dengan tuan sepuluh, dia tampak tenang. Tapi siapa yang menyangka, di tubuhnya perlahan mengeluarkan cahaya yang membuat silau ketiga prajurit.


Sontak prajurit itu langsung terlempar di saat cahaya yang keluar dari tubuh tuan sepuluh membesar. 


Lagi-lagi, tuan sepuluh masih tidak berpindah dari duduknya. Bahkan dia meletakkan sebelah kakinya di atas kaki lain seolah begitu sombong. Wajah di balik topengnya terlihat menunjukkan bahwa dia sangat angkuh, sayangnya tidak ada sesiapapun yang mengetahuinya. 

__ADS_1


Tuan Sepuluh mengulurkan tangannya, membuka telapak tangan dan memunculkan butiran cahaya yang melayang di atas telapak tangan. Butiran-butiran cahaya itu perlahan terbang ke arah para prajurit dengan menerang kegelapan di sekitarnya, walaupun di belakang mereka sudah ada cahaya yang menyilaukan mata karena pertarungan.


Siapa saja yang melihatnya mungkin akan kagum dengan butiran cahaya yang terbang di udara ke arah tiga prajurit yang melawan tuan sepuluh. Tapi itu semua salah besar, keindahan tersebut berubah menjadi kengerian yang mana akan membuat bulu kuduk merinding. Bagaimana tidak, butiran cahaya itu berubah menjadi ledakan.


__ADS_2