Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Danau Vanzula


__ADS_3

Waktu untuk makan siang akhirnya berakhir, Zeno dan Selena kembali bergegas dan menunggangi kudanya masing-masing untuk pergi menuju wilayah Utara, tempat dimana danau Vanzula berada.


Beruntung saat dia berada di sebuah kedai kecil, dia tidak memiliki masalah kepada siapapun sehingga waktu nya tidak terbuang sia-sia saat berada di sebuah kedai.


Ditambah lagi saat ia berada di kedai, terdapat berita yang membuat Zeno menggelengkan kepala, pasalnya ia mendapatkan berita, bahwa putra kekaisaran juga memberanikan diri untuk pergi menuju danau Vanzula.


Banyak yang mencemooh dan mengkritik tingkah laku pangeran kekaisaran yang nekat untuk menuju danau Vanzula, karena dengan perginya seseorang ke danau Vanzul, besar kemungkinan tidak akan kembali.


Apabila pangeran Vanzula tidak kembali, tahta kekaisaran tidak akan ada penerusnya, karena pangeran tersebutlah satu-satunya keluarga inti yang ada.


Tetapi banyak juga yang memuji tindakan Kekaisaran, karena dengan keberanian itulah yang memang harus ada dalam diri seorang penerus tahta seorang kaisar.


Tetapi Zeno tidak peduli dengan keberadaan pangeran kekaisaran nanti, andaikata pangeran Kekaisaran negara petir memiliki sifat sombong yang membuat Zeno kurang suka, Zeno tidak akan segan berhadapan dengan pangeran tersebut walaupun pada akhirnya berurusan dengan satu negara sekalipun.


Zeno melupakan apa yang ia pikirkan, lebih baik ia fokus dengan jalan dan tujuan, daripada ia tidak fokus dan akhirnya tersesat.


Menurut informasi yang Zeno dengar, bahwa danau Vanzula berada di wilayah Utara, tetapi Zeno belum pasti tepat letaknya berada dimana. Namun ada yang mengatakan bahwa danau Vanzula dikelilingi oleh empat bukit yang sepertinya menjadi pagar di segala sisi.


"Sepertinya aku harus mencari empat bukit itu. Selena, apakah kau tahu empat bukit yang menjadi tempat danau Vanzula di antaranya?" Tanya Zeno yang menoleh kepada Selena.


"Aku pernah sempat melihat empat bukit dari kejauhan, tetapi aku baru kali ini mengerti bahwa di antara empat bukit tersebut terdapat danau." Kata Selena sambil berpikir.


"Kau bisa duluan!'' Zeno mempersilahkan.


Selena akhirnya bersedia berkuda terlebih dahulu untuk menunjukkan empat bukit yang menjadi pagar danau Vanzula di seluruh sisi.


Bagaimanapun juga Selena sangat berpengalaman saat berpetualang di seluruh negara, sehingga ia mengetahui letak pasti dimana keberadaan empat bukit itu. Tetapi selama hidupnya, ia tidak mengetahui, apa yang ada di antara empat bukit tersebut, dan baru kali ini ia menyadari bahwa terdapat danau dengan petir abadi yang terus menyambar.

__ADS_1


Hati Selena juga semakin penasaran tentang adanya petir abadi tersebut, petir yang terus menerus menyambar permukaan danau.


"Banyak orang yang tidak bisa keluar setelah berada di danau tersebut? Memangnya danau itu ada sesuatu yang aneh kecuali petir abadi?" Gumam Zeno Yang tak henti-hentinya memikirkan danau Vanzula, hati kecilnya begitu tidak sabar untuk menuju danau tersebut, karena ia setengah yakin bahwa elemennya akan bangkit di situ.


"Semoga keberuntunganku berada di situ." Gumamnya sambil berharap lebih.


Beberapa saat kemudian, keduanya telah melihat dua buah bukit yang terlihat dari kejauhan, mereka hanya melihat dua buah saja karena sisanya tertutup oleh dua bukit itu.


Zeno dan Selena mempercepat laju kudanya untuk menuju bukit tersebut. Keduanya juga merasa tidak sabar untuk mengunjungi danau, walaupun mereka akan mempertaruhkan nyawa mengenai bahaya yang ada pada waktu berada di danau Zanfal.


Akhirnya mereka berdua telah sampai di antara dua bukit yang menjadi gerbang masuknya menuju danau Vanzalu, kondisi gerbang ini sangat sepi menandakan tidak ada sesiapapun yang menuju danau ini.


"Mengapa ini sepi? Bagaimana dengan para penjaga Kekaisaran yang menunggu pangeran keluar?" Tanyanya Selena kepada dia sendiri.


"Kau bertanya kepada siapa? Pada diriku? Aku juga tidak tahu itu." Jawab Zeno dengan begitu dingin.


Zeno tidak lagi memperdulikan perkataan Selena, lebih baik ia memilih untuk turun dari kuda dan memasuki gerbang di antara dua bukit. Begitupun dengan Selena, ia juga mengikuti Zeno memasuki gerbang tersebut.


Zeno sempat ternganga, karena langit yang terlihat dari luar kini malah hitam gelap saat ia berada di dalam. Seakan-akan mereka semua berpindah dimensi pasca memasuki gerbang tersebut.


Di hadapan Zeno dan Selena juga terdapat danau dengan petir yang menyambar terus menerus di permukaan danau, serta bukit-bukit yang dari luar menjulang tinggi mengelilingi danau, kini juga berubah menjadi sebuah hutan.


Baik Zeno dan Selena, keduanya memiliki sedikit ketakutan saat melihat petir menyambar, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya apabila yang tersambar adalah dirinya sendiri.


Hal yang membuat Selena bertambah rasa takut adalah, saat ia menoleh kebelakang dan mendapati bahwa gerbang yang dirinya dan Zeno masuki telah hilang dan berganti dengan hutan rimba yang sangat gelap.


Selena sempat panik dan hampir berteriak ketakutan, tetapi untungnya Zeno mencegahnya.

__ADS_1


"Diamlah, rasa panik tidak akan memecahkan masalah." Kata Zeno lirih sambil membungkam mulut Selena.


Zeno kemudian mengajak Selena untuk mengelilingi danau Vanzula, karena ia ingin melihat lebih jelas dari segala sisi danau.


Zeno juga berhati-hati terhadap petir yang menyambar, karena petir tersebut tidak pasti menyambar daerah permukaan danau di mana saja, sebab itulah Zeno berjalan dengan agak jauh dari tepi danau.


Kilatan petir juga membuat pandangan terganggu karena cahaya petir yang begitu terang, hal itu membuat Zeno tidak kesulitan untuk melihat secara jelas. Serta suara gemuruh petir membuat mereka tak henti-hentinya menutup telinga.


Bisa dibayangkan orang yang terjebak disitu sepertinya sangat tersiksa, padahal Zeno dan Selena baru beberapa menit berada disitu, tetapi ia merasa ingin keluar dari area yang kata orang-orang terlarang.


"Akh." Zeno berteriak setelah ia terkena sebuah sambaran petir yang sedikit mengenai dirinya.


"Zen!" Selena juga sontak berteriak setelah melihat Zeno yang terkena Sambaran petir. 


"Auuu." Tiba-tiba saat Selena mencoba menyentuh Zeno, tangannya tersengat sebuah aliran listrik yang membuatnya terkejut.


"Apa apa?" Tanya Zeno yang wajahnya terkejut dan merasa kesakitan setelah menyentuh Zeno.


"Aku tersengat setelah mencoba menolongmu." Ucapnya dengan wajah polos.


Mata Zeno terbuka lebar setelah apa yang dikatakan oleh Selena. "Elemen petir?" Dia sendiri juga bergumam dan tidak percaya bahwa elemen petirnya telah bangkit.


Demi menghilangkan rasa ketidak percayaan ya itu, ia mencoba mengeluarkan sebuah teknik dasar yang dikeluarkan oleh anak kecil yang baru memiliki elemen.


"Bola petir ayolah keluar." Itulah yang diharapkan Zeno kali ini setelah menyadari bahwa tubuhnya mengandung sebuah petir, ia menjadi yakin bahwa elemen petirnya bangkit setelah terkena dari petir abadi.


Akan tetapi apa yang dipikirkan Zeno tidak sesuai dengan ekspektasi, bola petir tidak keluar dari tangan Zeno, wajahnya menjadi murung setelah ternyata dia belum memiliki elemen. Zeno kemudian berdiri dengan wajah yang begitu kesal.

__ADS_1


"Itu tadi hanya dampak Sambaran petir yang mengenalku." Ucap Zeno kepada Selena dengan begitu malas.


__ADS_2