
Zeno terlihat masih sangat tenang walaupun akan menerima tiga serangan sekaligus dari ketiga sisi. Bahkan dia seakan masa bodoh dengan tindakan Rungdaf. Masalahnya, serangan kejut seperti ini tidak berpengaruh kepada Zeno sedikitpun.
Mungkin apabila Zeno merupakan orang biasa, dia akan menjadi panik dan tidak akan bisa bergerak ke depan walaupun di depan tidak ada serangan apapun. Tetapi Zeno bukan orang biasa, masalahnya, Zeno benar-benar tidak habis pikir dengan Rungdaf, yang mana seharusnya dia berpikir bahwa Zeno memiliki elemen petir yang bergerak secara bebas.
Benar, tentu saja apa yang dilakukan Zeno adalah bergerak secepat kilat ke arah depan, karena hanya arah depan lah yang tidak ada seranganpun.
Namun, saat dirinya bergerak ke arah depan, sesosok rubah berukuran tubuhnya mucul dari tanah bersalju yang kemudian memukul kepala Zeno. Akibatnya, Zeno kembali pada tempatnya yang mana dia akan di serang dalam tiga sisi. Tidak, ini lebih sial karena ada rubah besar di hadapannya yang mana dia menjadi diserang di segala sisi.
Rungdaf tertawa dengan lantang, kurang beberapa meter saja pusaran di tangan Rungdaf akan mengenai Zeno, begitupun dengan tongkat yang turun melesat ke arahnya. Sedangkan badai tornado kini sudah muncul dari tanah dan membuat Zeno terlempar ke atas.
Zeno kini sudah terjebak di dalam tornado dengan tongkat milik Rungdaf yang hamir melukai leher Zeno. Untungnya saat Zeno teerlempar ke atas, dia bisa bergerak walaupun sedikit dan menangkap tongkat milik Rungdaf. Apa yan menjadi masalah kali ini adalah rubah dan juga Rungdaf yang melompat di pusaran badai untuk menyerang Zeno.
Memanfaatkan tongkat milik Rungdaf, Zeno langsung memutar tongkat tersebut secara cepat, alhasil kini terdapat sebuah tornado di sebelah tornado yang menerbangkan Zeno. Tornado yang Zeno ciptakan cukup membuat Rungdaf juga terlempar.
“Siapa yang menyangka bahwa dia juga bisa mengeluarkan sebuah tornado seperti ini?” Gumam Rungdaf dengan begitu kesal. Tetapi dia masih memiliki beast yang masih berada di dekat Zeno.
Menjadi sangat kesal, Zeno langsung menghilangkan tornado yang terus menerbangkan dirinya secara tidak jelas. Namun, saat tornado itu hilang, Zeno terjun ke bawah alias terjatuh. Sialnya lagi, beast rubah yang tadi memukul Zeno, kini berada di atas Zeno dan memukulnya menggunakan ekor.
__ADS_1
“Baiklah Skarolos, aku benar-benar telah mengizinkanmu untuk keluar. Bagaimanapun ini merupakan beast milik Rungdaf yang sepertinya tidak dapat diremehkan.” Ucap Zeno secara cepat sebelum rubah tersebut memukulkan ekornya ke arah Zeno.
Skarlos tersenyum manis dan mengangguk dengan begitu bahagia, saat ini dia keluar dari atas Zeno dalam posisi tempurungnya berada di atas. Sedangkan ekornya yang merupakan sebuah kepala ular langsung menyerang rubah tersebut.
Bersamaan dengan tersebut, rubah memang memukulkan ekornya, tapi yang dipukul merupakan tempurung Skarlos yang sangat keras, sehingga Skarlos tidak berefek apa-apa. Sedangkan ekor Skarlos, dia langsung melilit rubah dengan begitu erat.
Melihat hal tersebut Zeno tersenyum lebar, apa yang harus ia lakukan saat ini adalah mendarat di tanah. Tapi masalahnya, senyum senangnya kini berubah menjadi senyum pahit saat menyadari apabila ia terjatuh maka Skarlos akan menimpanya. Dia merasa bahwa hari ini memang benar-benar sial.
“Ah, iya aku lupa.” Zeno mendesah dan teringat bahwa dirinya bisa melayang menggunakan kemampuan Kiba. Mengingat hal itu, dia langsung mengontrol dirinya untuk tidak jatuh ke tanah dan bergerak menghindari Skarlos yang terjatuh.
Zeno saat ini mendarat di atas tanah dengan aman. Kemudian dia membalas perbuatan Rungdaf barusan dengan melemparkan tongkatnya, selain itu tongkatnya telah ia aliri sebuah elemen petir sehingga bergerak melesat begitu cepat.
Namun, saat dia berusaha mengendalikannya, tiba-tiba tornado tersebut menghilang dengan sekejap bak dimakan bumi. Kemudian dia mencari Zeno saat ini. Sialnya, dia membuka matanya lebar-lebar saat melihat ke belakang bahwa tongkatnya melesat ke arahnya.
“Arggghh...” Rungdaf langsung memutahkan seteguk darah saat tongkat miliknya melesat dan tertombak tepat di perutnya. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa senjata makan tuan itu benar.
Selain itu, dia juga membuka matanya saat melihat ada sosok Genbu yang sedang melawan beast miliknya. Genbu? Mungkin itulah dalam hati Rungdaf yang melihat sesosok beast agung dari utara yang melegenda tersebut. Dia mengusap matanya seakan apa yang ia lihat tidaklah salah, namun berkali-kali mengusap, dia masih melihat sosok yang jelas bahwa jauh di hadapannya merupakan sosok kura-kura dengan ekor ular.
__ADS_1
“Pantas saja Akram benar-benar kalah, dia memiliki beast agung.”
Saat ini Skarlos melawan seekor rubah yang menurutnya tidak ada apa-apanya. Bagaimana tidak, saat Skarlos mendarat, dia langsung memunculkan sebuah kristal tanah yang dia tembakkan di kepala rubah tersebut dalam kondisi terikan ekor Genbu.
Mungkin awalnya, Rubah tersebut dapat menghalau seluruh kristal talah tersebut menggunakan sebuah angin. Tetapi beberapa kali dia mencoba, dia tidak bisa menghalau kristal tersebut sehingga melesat dan membocorkan kepalanya. Si rubah tersebut sebenarnya tahu siapa yang dia hadapi, yaitu penjaga arah mata angin utara. Tetapi dia lebih takut lagi kepada Rungdaf.
“Hentikan Fuhs, kau tidak akan bisa melawannya!” Rungdaf berusaha menarik kembali beastnya yang sedang berusaha melawan Skarlos atau Genbu. Tetapi sayangnya, cengkraman ular Genbu terlalu kuat, sehingga Rungdaf tidak bisa menariknya.
“Tuan, hentikan! Aku menyerah! Aku benar-benar salah memilih lawan. Kau bisa menguasai wilayahku, namun jangan membunuhku maupun Fush.” Saat ini Rungdaf menjadi suram dan berkata lebih sopan kepada Zeno. Pasalnya dia melihat Zeno bukanlah sosok biasa. Bagaimana tidak, menaklukkan salah satu penjaga mata angin merupakan hal yang sangat sulit.
Zeno tertawa begitu keras setelah mendengar teriakan Rungdaf. “Wilayahmu? Aku benar-benar tidak tertarik dengan sebuah kekuasaan. Tunggu sebentar, mengapa kau lebih sopan sekarang?” Zeno mengerutkan dahinya.
“Bagaimana mungkin aku tidak sopan kepada pemilik Genbu? Aku benar-benar meminta maaf karena salah memilih lawan.”
Zeno menghela napas, dia sudah menduga saat melepaskan Genbu maka ujungnya akan menjadi begini. Masalahnya Genbu benar-benar terlalu mencolok sehingga sesiapapun yang melihatnya langsung tunduk.
“Wanita tua! Sebaiknya kau mati saja!” Tiba-tiba sebuah hembusan berkumpul di belakang Rungdaf dan membentuk sebuah wanita dengan pedang yang akan ia ayunkan kepada leher Rungdaf.
__ADS_1
Melihat hal tersebut, Zeno langsung bergerak secepat kilat dan menahan wanita itu agar pedang tidak terayun di leher Rungdaf. Wanita tersebut sangat terkejut saat pria yang jauh di hadapannya mencegahnya.
“Kau tidak mempunyai hak untuk membunuhnya. Tunggu, apa? Kau juga penyihir?” Zeno sedikit terkejut saat melihat bahwa wanita yang akan menebas leher Rungdaf mengenakan topi penyihir.