
Tanpa salam, tanpa penghormatan, Kirin datang dan langsung menjawab, “Iya benar, aku ditugaskan untuk mengabari bahwa pasukan pertama sudah hampi memasuki ibukota, jadi kau berkenan untuk bergerak ke arah ibukota.” Kirin menjelaskan tidak begitu formal seperti saat dia berbicara dengan Zeno. Hal itu karena memang dia tidak mau menghormati seseorang selain tuannya itu sendiri.
Aurrora hanya mengangguk dan tidak terlalu marah dengan roh milik Zeno, bagaimanapun dia tidak terlalu berurusan dengan roh, karena dia tahu bahwa roh bukan tandingannya.
“Baiklah, seluruh pasukan, kita akan berangkat sekarang juga!” Teriak kaisar Aurrora kepada seluruh pasukannya.
Seluruh pasukan yang mendirikan tenda langsung segera membereskan keseluruhannya dan berbaris rapi. Kemudian, mereka berteriak dengan penuh semangat untuk bergerak menuju utara lebih tepatnya menuju ibukota.
Sebelum berangkat, Aurrora teringat sesuatu mengenai Zeno yang berada di gerbang arah timur, lebih tepatnya di wilayah Rugdaf. Penasaran, dia menanyakan sesuatu ke Kirin, “Bagaimana dengan Rungdaf, apakah Zeno sudah mengalahkannya?” Terlihat Aurrora nampak sedikit khawatir, masalahnya Rungdaf merupakan sosok di Northern yang tidak dapat diremehkan.
“Rungdaf?” Kirin mengeluarkan napas berat sebelum kembali melanjutkan ucapannya, “Tidak ada apa-apanya bagi tuan.” Ucapnya sambil pergi terbang meninggalkan pasukan kedua utama ini.
Aurrora menghela napas lega, dia turut senang karena Zeno telah membunuhnya, setidaknya diposisi Northern sudah tidak ada lagi orang terkuat sehingga mereka akan sangat mudah untuk menguasai Northern. Bersamaan dengan memacu kuda yang baru saja ia tumpangi, Aurrora tersenyum manis dan bergumam, “Sejarah baru, bukan Akram ataupun Rungdaf yang merupakan orang paling kuat. Fang Zeno, yah benar, dia akan merupakan orang paling hebat di benua Artik apabila ia menetap di sini. Siapa yang menyangka bahwa dia dapat membunuh dua orang terkuat di masing-masing emperor?”
“Uron menghadap ke tuan.”
Saat ini Uron telah kembali dari pemantauan pasukan pertama yang diperintahkan oleh Zeno. Benar-benar cepat, bahkan tidak sampai memakan waktu sejam untuk kembali melapor, bagaimanapun jika dihitung, jarak dari sini menuju pasukan kedua utama memakan waktu seperempat malam. Zeno tidak terlalu heran, kemampuan roh naga petir memang benar-benar sangat cepat.
__ADS_1
“Mereka sudah sampai ke ibukota?” Zeno mengangkat alisnya.
“Hampir, bahkan Kirin sudah memastikan bahwa pasukan kedua utama telah bergerak ke arah ibukota. Tuan, sebaiknya kita menunggu beberapa menit lagi sampai kedua pasukan benar-benar sampai menuju ibukota.” Uron memberi saran.
“Kau benar.” Zeno mengangguk.
Namun, beberapa jam yang masih tersisa dia gunakan bukan untuk berleha-leha, berpesta pora ataupun bersenang-senang, melainkan juga memberi kebebasan para pasukan untuk berlatih, namun Zeno menyarankan untuk tidak latihan berat, melainkan latihan ala kadarnya.
Di sela-sela mengawasi para pasukan, Zeno teringat mengenai wanita yang dia temui senja tadi, yaitu Nora. Mungkin Zeno sedikit mengagumi Nora baik itu kecantikan bahkan tekadnya untuk membalas dendam. Sedikit menyesal, mengingat Nora saat ini mungkin kebingungan karena tidak ada siapa-siapa lagi, orang tuanya sudah terbunuh, bahkan dia juga kehilangan gurunya yaitu Rungdaf itu sendiri. Benar-benar menyesal mengapa Zeno tidak berkata lebih lembut di hadapan Nora.
Namun, dia meyakinkan diri bahwa tidak menerimanya menjadi pengikut adalah pilihan yang bijak, sehingga dia tidak terlalu memiliki beban apabila terdapat apa-apa. Bahkan bisa bebas dari kekangan. Berbeda lagi apabila Nora ingin menjadikan Zeno sebatas teman, mungkin Zeno bisa menerimanya.
Seluruh warga yang berada di dalam ibukota, mereka langsung kalang kabut setelah mendengar bahwa kekaisaran sebentar lagi akan diserang. Beberapa yang kaya akan memilih untuk pergi meninggalkan ibukota agar tidak terkena dampak peperangan, serta yang hidup sederhana, mereka lebih memilih mengunci diri di rumah. Entah, mereka tidak tahu apakah rumah yang mereka tempat akan hancur. Lagi pula, mereka juga tidak memiliki biaya yang cukup untuk pergi secepatnya.
Mereka mungkin merasa sial, bangun di pagi hari bukannya mendengar ayam berkokok melainkan mendengar berita bahwa terdapat ketiga pasukan dari Southern yang telah mengepung ibukota dan menuju kekaisaran.
Saat ini Artruk hanya bingung mondar-mandir sambil menggigit bibir bawahnya. Dia tidak menyangka bahwa dia telah dibodohi dan merasa sial, rencana yang dibuat oleh bawahannya tidak berjalan dengan lancar yaitu menyerang pasukan Aurrora terlebih dahulu. Bagaimana tidak, 300.000 pasukan yang ia kerahkan justru masih berdiam diri karena pasukan yang dipimpin Aurrora belum tiba. Justru saat ini pasukan Aurrora sudah mulai memasuki ibukota, namun terdapat pasukan dari barat yang juga mulai memasuki ibukota.
__ADS_1
Hal tersebut membuat Artruk bingung, 300.000 pasukan tersebut dia taruh di mana? Jika dia kerahkan ke barat, maka pasukan Aurrora akan menyerang kekaisaran dengan mudah, begitu pun sebaliknya. Artruk yang mondar-mandir, kini dianggap aneh oleh seluruh bawahannya seperti tangan kanan dan juga para petinggi kekaisaran.
“Meminta bantuan Rungdaf?” Tanya Daris yang merupakan tangan kanan Artruk.
“Tidak!” Artruk teringat bahwa pasukan Rungdaf saat ini sedang menghadapi pasukan pecahan milik kaisar Aurroa. Entah, dia tidak tahu bagaimana jalannya pertempuran di wilayah timur. Namun, dia memiliki keyakinan bahwa pasukan milik Rungdaf bisa menang dengan mudah karena Artruk tau dengan jelas seberapa mengerikan kekuatan Rungdaf.
“Tidak ada cara lagi, aku akan menghadapi pasukan milik Aurrora dengan mengambil sebagian dari 300.000 pasukan untuk membantuku dan Daris, dan sisanya akan ku kerahkan menuju Barat yang dipimpin oleh kalian para tetua. Dan timur, aku masih berharap lebih kepada Rungdaf. Semoga saja saat ini dia masih bertahan dan akan menang.” Artruk bergumam dan akhirnya pergi dari ruangannya. Sambil melanjutkan gumamannya, “Bagaimanapun aku harus mempertahankan kekaisaran.”
Seluruh orang yang mengikuti rapat secara mendadak kini mengangguk mengerti. Bagaimanapun kekaisaran yang lama berdiri harus tetap berdiri. Meskipun itu nyawa mereka sebagai taruhan. Mengenai kematia jenderal Gare, mereka semua sangat terpukul dan bersiap membalas dendam.
Beberapa menit kemudian, Zeno merasa bahwa seluruh pasukan sudah sampai ke ibukota, dan itu memang benar, bahwa pasukan jenderal Zhuo telah sampai menuju ibukota, begitu pun dengan Aurrora yang juga telah sampai di ibukota.
Tidak mau membuang waktu, Zeno langsung memberangkatkan seluruh pasukannya menuju kekaisaran agar bisa membantu pasukan lainnya, karena kemungkinan mereka telah mengalami kendala dan perlawanan.
“Seluruh prajurit! Kita kembali bergerak!” Teriak Zeno.
Seluruh pasukan berteriak dengan penuh semangat, kemudian Zeno memberikan isyarat dan bergerak dengan memacu kudanya yang kemudian di ikuti oleh seluruh prajurit yang juga bergerak meninggalkan bekas peperangan dengan pasukan penyihir.
__ADS_1
Tidak lupa, Zeno juga membawa kepala Rungdaf yang dia gunakan untuk menggertak apabila bertemu dengan kaisar Northern emperor. Saat ini Zeno benar-benar tersenyum cerah, karena kemenangan sudah berada di depannya. Tetapi dia tidak terlalu senang terlebih dahulu karena ini merupakan peperangan yang sebenarnya.