Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Earthquake


__ADS_3

Fang Zeno, saat ini dia saling berhadapan dengan Skarlos setelah kepergian Turse yang telah masuk dan berburu di dalam hutan elemental beast. Walaupun terlihat sangat gelap dan juga mengerikan, Zeno tidak terlalu mengkhawatirkan Turse, bagaimanapun sebagai pemanah terhebat, tentunya melihat dalam kondisi gelap adalah kemampuannya, sehingga berburu di hutan pada malam hari tanpa sebuah penerangan, maka itu sama sekali bukan sebuah masalah bagi Turse.


Tapi sebelum Turse benar-benar masuk, Zeno berpesan apabila dirinya mendapatkan sebuah masalah berat, dia bisa menembakkan sebuah anak panah ke atas dan ia jatuhkan ke arah utara tempat Zeno menunggu Turse sambil mempelajari Earthquake.


“Skarlos, sekarang kau bisa menunjukkan cara mengeluarkan teknik tersebut.”


Skarlos mengangguk, dia lantas mengentakkan kakinya di atas tanah hingga sangat keras. Gelombang tanah tiba-tiba muncul membuat getaran yang luar biasa, bahkan pohon di hutan hampir tumbang di buatnya. Untungnya Zeno saat ini melayang setelah dirinya memasukkan Kiba kembali, sehingga dia tidak terlalu terkena dampak getaran tanah yang sepertinya sangat mengerikan.


“Tanah, anggap saja dia merupakan sahabat, bahkan jika Anda bisa berpikir lebih jauh, Anda bisa beranggapan bahwa tanah merupakan bagian dari diri Anda. Selain itu, pengaliran dan benturan orka pada sebuah hamparan tanah juga memengaruhi getaran yang dihasilkan.” Skarlos menjelaskan.


Zeno mengangguk, tapi dia belum benar-benar mengerti apabila tidak mencobanya, setidaknya menganggap tanah sebagai sahabat adalah hal utama, “Earthquake.” Zeno membenturkan tagannya di atas permukaan tanah.


Seketika dia tersenyum kecut setelah melihat hasil akhirnya, bagaimana tidak? Tanah yang seharusnya berguncang, kini tidak ada getaran sama sekali, yang ada tanah yang ada di hadapannya terbelah.


“Saya bilang pengaliran orka, bukan seberapa banyak orka yang dibenturkan dan di alirkan di atas tanah. Semakin kasar Anda benturkan dan aliri, maka semakin kuat pula getarannya, begitu juga dengan sebaliknya.”


“Semakin kasar dibenturkan dan dialiri, maka getarannya juga akan semakin besar. Bagaimana caraku mengibaratkannya ya?” Zeno berpikir sejenak, dia tidak bisa membuat perumpamaan benda lain untuk menyelesaikan masalah ini.


“Perumpamaan seperti ini, jika Anda memukul tanah secara kasar, maka tanah juga akan rusak, bahkan kerikil yang ada di atas tanah juga akan melompat karena getaran pukulan tersebut. Tapi bagaimana jika memukul tanah dengan orang banyak secara bersamaan, namun secara perlahan? Itu merupakan hal yang sia-sia.”

__ADS_1


“Berapa banyak Orka yang dibenturkan itu bukan menjadi tolak ukur sebuah getaran, karena akan percuma jika orka dikeluarkan secara lambat. Tapi bagaimana jika anda memfokuskan pada suatu titik menggunakan sedikit Orka, namun dikeluarkan secara kasar?” Skarlos menghela napas, dia membiarkan Zeno menjawab pertanyaan tersebut, karena dia yakin bahwa tuannya itu bisa menyelesaikan masalah yang terjadi.


Zeno membayangkan apa yang dikatakan oleh Skarlos, mengentakkan energi secara kasar, namun dalam jumlah sedikit tentunya bisa menghasilkan sebuah getaran. Dia berusaha untuk mengartikan arti tersebut


Tapi Zeno merasa ada yang aneh, atau mungkin dia belum pernah hal tersebut. Bukankah aliran energi atau orka mengalir secara normal? Zeno tidak habis pikir dengan hal tersebut. Dia tidak pernah mengetahui bahwa aliran orka mengalir keluar secara kasar ataupun lambat.


Selain itu, membenturkan sebuah orka elemen tanah pada permukaan tanah dapat memberikan sebuah getaran? Zeno sebenarnya baru tahu hal tersebut. Mungkin jika dia sudah tahu dari dulu, membenturkan orka elemen air pada permukaan sungai tentunya juga akan memberikan sebuah gelombang.


Zeno mencoba menenangkan dirinya, dia berjongkok agar bisa membenturkan tangannya di atas tanah bisa lebih mudah. 


"Apabila dianggap sebagai sahabat, maka kita juga harus dekat dengannya." Ucap Zeno dengan sangat lirih, namun Skarlos juga dapat mendengarkannya.


"Earthquake." Zeno mencoba mengalirkan orka di permukaan tanah secara paksa, yaitu mengeluarkannya secara kasar. Tapi sama saja, yang keluar merupakan orka berjumlah besar.


Zeno membuka matanya karena merasa bahwa tanah di hadapannya terbelah. Bahkan tidak ada getaran sama sekali yang dihasilkan olehnya. 


Dia menggertakkan giginya, ternyata mengatur keluar orka dirinya belum bisa sama sekali. Dia tidak menyangka bahwa dirinya masih sangatlah lemah.


Tapi Zeno tidak berputus asa, mencoba memperhatikan telapak tangan untuk melihat, apa yang salah dari telapak tangannya, sehingga membuat orka keluar secara besar namun lembut. 

__ADS_1


"Membenturkan sebuah Orka ke permukaan tanah secara kasar." Zeno berpikir sejenak, dia masih bingung dengan kata-kata yang masuk ke dalam otaknya.


“Yaa Anda harus mengartikannya sendiri. Bagaimanapun, menemukan jawaban sendiri terasa lebih puas dari pada harus bergantung kepada orang lain. Dengan begitu, Anda juga bisa berkembang.” Skarlos memberikan sebuah dukungan.


Zeno tau itu, dan apa yang dikatakan oleh Skarlos ada benarnya. Sebenarnya jika Skalros langsung memberikan sebuah jawaban, maka Zeno akan menyuruhnya untuk diam. Memberikan sebuah perumpaan sudah lebih dari cukup bagi Zeno.


Dia juga tidak ingin untuk menyerah, dia berulang-ulang kali mencoba mengeluarkan Earthquake. Tapi setiap kali mencoba, hasil akhirnya tanah yang ada di hadapannya adalah retak. Skarlos hanya bisa tersenyum setiap kali tanah retak, bagaimana lagi, dia juga harus menambal tanah retak itu secara berulang kali.


“Membenturkan orka elemen tanah di atas permukaan tanah secara kasar? Apakah perkataanku ini terlalu sulit?” Skarlos bergumam, dia masih menunggu tuannya mendapatkan jawaban tersebut.


Tapi ini sudah percobaan yang ke sekian kalinya, bahkan Zeno sudah tidak dapat berhitung, dia mencoba sebanyak berapa lagi. Kali ini dia hanya bisa terengah-engah kelelahan karena banyak menguras orka secara sia-sia. Sia-sia? Tidak, Zeno sepertinya tidak menganggap bahwa kegagalan itu merupakan hal yang sia-sia. Tentu saja dia menganggap bahwa kesalahan tersebut dapat dijadikan sebuah kekuatan besar.


“Membenturkan orka secara kasar?” Zeno mengulangi perkataan tersebut secara perlahan, hingga akhirnya dia tersenyum lebar dan mengerti apa yang dimaksudkan. Tapi dia tidak yakin apakah cara itu berhasil apabila belum mencobanya.


“Tidak kusangka bahwa kata itu sangat mudah, tapi aku sendiri yang terlalu bodoh saat menelan perkataan tersebut.” Sebelum Zeno menyentuh permukaan tanah, dia telah mengeluarkan orka terlebih dahulu dari telapak tangannya, kemudian dia membenturkan tanah secara keras. Tidak hanya itu saja, Zeno membenturkan Orka tidak sedikit, melainkan sangat banyak.


Skarlos segera masuk ke dalam cangkang saat melihat bahwa Zeno mengeluarkan orka dalam jumlah banyak, dan juga membenturkan tanah begitu keras. Pasalnya, dia tahu persis apa yang akan terjadi setelahnya.


“Earthquake ....!” Zeno membenturkan tangannya yang berisi orka kental dengan permukaan tanah cukup keras, bahkan Skarlos yang berada di dalam tempurung mendengarkan benturan yang dikeluarkan oleh Zeno, dia hanya memejamkan matanya menunggu sesuatu yang besar tiba

__ADS_1


__ADS_2