
Zeno menatap sedih kepergian pak tua Sura yang kini telah wafat dan menjadi roh. Rasa hatinya begitu sesak, karena sebelumnya, ia memaksa pak tua agar tidak meninggal karena permintaan ibunya, tetapi apa yang ada dipikiran pak tua Sura, sehingga ia memilih untuk bunuh diri.
Perihal jasad pak tua Sura, Zeno dan Selena berusaha menguburkan mayatnya tepat di belakang reruntuhan, walaupun dalam hati Zeno merasa sangat sedih saat menguburkan pak tua Sura, padahal di antara kedua orang tersebut tidak ada hubungan darah sama sekali.
Zeno dan juga Selena berjalan keluar dari reruntuhan. Entah kenapa suara pak tua Sura masih terngiang-ngiang di kepala Zeno, walaupun itu hanya sekejap, tetapi berhasil membuat kesedihan Zeno bangkit untuk kesekian kalinya.
"Zen, apa kau tidak berpikir, kenapa para roh Zanfal tidak mengincar kakek Sura? Padahal bisa saja para roh Zanfal membalas dendam kembali kepada kakek Sura?" Tanya Selena.
"Karena para roh keluarga Zanfal tidak mengerti bahwa dalang dibalik pembantaian mereka adalah pak tua Sura, jadi mereka biasa saja saat hidup berdampingan dengan pak tua Sura." Jawab Zeno.
"Ternyata begitu, tetapi dalam hidupku, aku masih memilki satu pertanyaan yang belum aku ketahui jawabannya." Ucap Selena sambil menyentuh dagunya.
"Kenapa roh itu bisa ada? Lebih tepatnya, kenapa tidak semua orang bisa menjadi roh setelah meninggal?" Sambungnya dengan bertanya kepada Zeno.
"Kenapa ya? Aku juga belum tahu." Ucap Zeno tersenyum meladeni pertanyaan Selena.
Mereka akhirnya keluar tepat di depan reruntuhan, cuaca juga sudah sangat panas menandakan waktu telah siang.
"Sepertinya perpisahan kita sampai disini." Ucap Selena dengan menundukkan wajahnya, terlihat bahwa raut muka yang begitu lesu dan juga sedih.
"Apa tujuanmu setelah ini." Tanya Zeno.
"Aku tidak tahu, aku sudah tidak punya tujuan lain selain berkelana." Jawab Selena dengan pergi terlebih dahulu meninggalkan Zeno.
"Lebih baik kau ikut aku, tujuanku kali ini adalah danau Vanzula, tempat petir abadi yang terus menerus menyambar permukaan danau." Sahut Zeno.
"Yaah, kemungkinan besar kau bisa memiliki elemen bukan?" Sambungnya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sebenarnya hanya berbohong agar Selena tidak lagi sedih.
__ADS_1
Walaupun keduanya baru mengenal satu sama lain, tetapi mereka justru saling dekat seakan-akan mereka adalah teman lama, walaupun terkadang mereka berdua juga sempat canggung saat berbicara satu sama lain, karena bagaimanapun juga mereka berdua adalah lawan jenis.
Wajah Selena yang tadinya nampak lesu kini perlahan ceria kembali seperti pada umumnya.
Sebenarnya Zeno sangat keberatan apabila mengajak orang lain untuk mengikuti dirinya, karena keberadaan orang tersebut hanya akan menjadi beban bagi Zeno. Tetapi mau bagaimana lagi, beberapa faktor membuat Zeno rela mengajak Selena untuk berpetualang.
Salah satunya ia sangat membutuhkan teman, apalagi saat ia berpetualang sendirian, tidak ada orang sekitar yang dikenal oleh Zeno untuk diajak mengobrol, bahkan Zeno sedikit menyesal karena tidak mengijinkan Lyana Ares mengikuti dirinya.
Faktor kedua mungkin karena Zeno sangat tahu bahwa Selena sangat kuat, walaupun hanya berbekal pedang dan tidak memiliki elemen, tetapi karena pengalaman berpetualangnya yang membuat ia sudah terbiasa menggunakan kemampuannya, sehingga Zeno seperti merasa tidak terbebani lagi karena keberadaan Selena.
"Tetapi aku tidak bisa menjagamu sepenuhnya." Ujar Zeno dengan nada suara yang rendah.
Walaupun Zeno mengetahui bahwa Selena bukan menjadi beban baginya, tetapi Zeno juga harus memberitahukan dan memperingatkan kepada Selena agar menjaga dirinya sendiri.
"Tidak masalah, tetapi jangan sampai aku yang malah menjagamu sepenuhnya." Jawab Selena dengan ujung bibir yang terangkat.
"Apa kau tidak mau makan siang? Aku akan mentraktirmu." Ucap Selena dengan kuda pelan di samping kuda Zeno.
"Tidak, aku akan mentraktirmu, tidak ada cerita yang mengatakan bahwa wanita yang mentraktir laki-laki." Sahut Zeno.
"Baiklah, padahal aku mempunyai dua kantong perak." Ucap Selena dengan menunjukkan dua kantong yang berisi puluhan keping perak.
"Benarkah? Lebih baik kau simpan saja uangmu itu, karena aku memiliki dua kantong emas yang tersisa." Ucap Zeno yang juga menunjukkan dua kantong emas.
Senyuman mengejek Zeno membuat wajah Selena dipalingkan dan begitu kesal, tetapi tidak lama dia tidak memperdulikannya karena Selena percaya bahwa kemungkinan terbesar bahwa Zeno merupakan anak seorang dari keluarga kaya.
"Baiklah aku menyerah, silahkan, kau bisa mentraktirku makan siang." Ujar Selena sambil menggembungkan pipi sebelahnya.
__ADS_1
"Hey Selena, sebenarnya kau berasal dari negara mana? Apakah kau asli negara petir?" Tanya Zeno di sela-sela keheningan.
"Aku? Aku berasal dari negara tanah, sedangkan dirimu sendiri?" Jawab Selena dirinya dengan bertanya balik kepada Zeno.
"Aku berasal dari negara air." Jawab Zeno.
"Negara air ya, aku dengar beberapa bulan yang lalu, ibu dan adik kaisar negara air telah ditemukan setelah lima belas tahun dikabarkan meninggal?"
"Kalau tidak salah, nama pangeran itu adalah Zeno, Fang Zeno. Apakah benar?" Sambungnya dengan menatap Zeno.
Zeno memutar matanya dan sedikit tersenyum setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Selena. Memang wajar saja Selena tidak mengetahui siapa laki-laki yang berkuda di sampingnya, pasalnya Zeno sama sekali tidak memberikan nama aslinya kepada Selena, dia hanya memberikan nama samaran yaitu Zen kepada Selena.
Lagipula Selena juga tidak mengetahui wajah asli Zeno, sehingga memang sebuah kewajaran bahwa Selena benar-benar tidak mengenal Zeno.
Tetapi memang itulah yang diharapkan Zeno, kehidupannya benar bahagia ketika orang-orang tidak mengenal dirinya, karena ia agak risih apabila terdapat orang yang berbicara terlalu formal kepada dirinya.
"Hey kenapa kau diam saja? Apakah kau tidak mengenal pangeran Fang Zeno?" Tanya Selena kepada Zeno yang melamun.
"Iya, iya aku mengenalnya, bahkan aku sempat bertemu saat itu." Ucap Zeno yang memutar matanya.
"Bagaimana wajahnya? Apa dia tampan? Keluarga kekaisaran seharusnya tampan bukan?" Mulut Selena terbuka, membayangkan bagaimana wajah Fang Zeno.
"Dia sangat jelek, apa kau pernah bertemu beast kera dalam hidupmu? Yah wajahnya bahkan lebih buruk dari kera."
Selena memandang Zeno begitu kesal. "Tidak seharusnya kau berkata seperti itu, suatu saat aku akan melaporkan hal tersebut kepada pangeran Zeno agar kau diberi hukuman setimpal."
"Melaporkan orang bahwa orang tersebut menghina diri sendiri? Bukankah itu terlalu aneh?" Gumam Kiba yang sedari tadi hanya mendengarkan ocehan dari tuannya dan juga Selena.
__ADS_1
Mereka akhirnya berada di sebuah kedai untuk mengisi perut mereka. Sekaligus Zeno yang juga bertujuan mencari informasi mengenai danau Vanzula secara menyeluruh, atau mungkin berita penting lainnya