
“Sudah satu minggu kita berlayar, sedangkan pasukan berkuda sudah dua minggu yang lalu. Kita akan menyusul dan bertemu mereka dalam satu minggu lagi di lautan Mare Enbarum.” Laksamana Mahaa berbicara kepada Turse. Masalahnya, Turse terlihat berlagak untuk tidak sabar yang membuat laksamana Mahaa angkat bicara.
“Aku tahu itu, tetapi rasanya sangat lama sekali.” Turse menundukkan kepalanya dan pergi, rasanya dia ingin menyendiri dan tidak ingin ditemani siapa-siapa lagi.
“Dasar anak muda.” Laksamana Mahaa tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat Turse yang beranjak pergi. Entah kenapa, wanita yang hampir berkepala tiga itu sangat ingin untuk kembali ke masa remaja dan berumur belasan tahun untuk mengalami masa pertumbuhan seperti Turse.
.....
Turse kini memilih menyendiri dan menenangkan diri, dengan cara berlatih di area panahan yang sudah ada di kapal ini. Tentu saja, walaupun kali ini dia benar-benar jauh dengan kaisar, namun dia tidak ingin mengecewakan kaisar nantinya.
Dia menghela napas saat menarik tiga anak panah dalam satu busur, kemudian ada tiga papan sasaran pula yang letaknya berjauhan. Tentu saja, busur panah Turse juga berposisi horizontal, karena dia ingin memanah tiga papan sasaran yang letaknya sangat berjauhan.
Seketika bunyi yang khas timbul saat ketiga anak panah milik Turse mengenai ketiga papan sasaran dengan sangat akurat. Meskipun begitu, dia tidak menunjukkan ekspresi senang atau bahagia karena ketiga anak panahnya mengenai sasaran. Itu terjadi, karena hal itu adalah hal yang sangat mudah baginya dan terlihat biasa, sehingga dia tidak terlalu bahagia.
Hanya sekedar menenangkan diri, itulah yang dilakukan oleh Turse. Akan tetapi, ketenangan itu tiba-tiba hancur saat ada seseorang yang bertepuk tangan di belakang Turse sambil berkata dengan suara yang sedikit menggema, “Hebat, tangan kanan kaisar terkuat benar-benar hebat.”
Tentu saja, dari nada bicara seperti itu, Turse langsung menaruh curiga dan kewaspadaan dan langsung berbalik badan untuk melihat, siapa penyusup yang berani masuk kedalam kapal ini. Namun, saat berbalik badan, tak di sangka orang yang berbicara seperti itu mengenakan pakaian Assassin kekaisaran yang merupakan prajurit khusus Glacies Empire.
__ADS_1
“Kenapa kau berani masuk ke sini tanpa permisi terlebih dahulu?” Turse semakin mengerutkan dahinya karena dia benar-benar menaruh curiga kepada salah satu pasukan khusus ini.
“Apa salahnya? Aku juga merupakan pasukan khusus, jadi aku bebas untuk melakukan apapun di kapal ini bukan?”
“Benar sekali, kau juga bebas untuk bertarung denganku.” Dengan begitu cepat, Turse langsung menarik tali busurnya ke arah orang tersebut tanpa ragu. Karena dia yakin bahwa seseorang yang ada di hadapannya bukan seorang prajurit khusus, dia berspekulasi bahwa seseorang yang ada di hadapannya adalah mata-mata dari kekaisaran Mare Enbarum.
Mungkin sejak kejadian satu bulan yang lalu, yang mana ada dua mata-mata yang ada di Glacies, dua mata-mata itu sebenarnya tidak memberitahu bahwa ada mata-mata lainnya hingga menyusup sampai sejauh ini, bahkan juga menyamar menjadi pasukan khusus.
“Yaah, sepertinya pekerjaan mata-mataku ketahuan. Padahal aku bertahan satu bulan di Glacies dibandingkan dua sampah itu. Tapi itu yang kuharapkan, aku menyusup sejauh ini untuk membunuh kalian satu persatu.” Orang itu membuka pakaian Assassinya dan bergerak begitu cepat ke arah Turse dan melewati anak panahnya dengan begitu cepat.
“Langkah bayangan, cih itulah teknik yang selalu digunakan oleh para elementalist kegelapan.” Turse langsung memunculkan sebuah anak panah di tangan kirinya, kemudian dia berbalik badan ke belakang dan mengayunkan anak panah tersebut.
Tidak ingin membiarkan sesuatu terjadi pada dirinya, Turse langsung mendorong busur panahnya ke depan, alhasil orang tersebut gagal mengayunkan belatinya dan terdorong ke belakang. Sayangnya, orang tersebut berubah menjadi bayangan yang bergerak ke arah Turse dengan sangat cepat.
“Jangan main-main dengan elementalist kegelapan!” Orang itu muncul kembali dari permukaan lantai tepat di bawah Turse. Sehingga, apabila Turse terlambat untuk menghindar, maka sesuatu yang buruk terjadi padanya. Masalahnya, pergerakan bayangan tersebut yang menyerang Turse dari bawah terlalu cepat, bahkan mungkin Turse mampu untuk langsung meloncat ke belakang, namun tidak bisa untuk menghindar.
Akibatnya, dagu Turse terpukul dengan begitu keras hingga terlempar jauh ke belakang. Untungnya, mata-mata itu tidak menggunakan belatinya saat memukul dagu Turse.
__ADS_1
“Aku tidak membunuhmu agar kau bisa tahu seberapa mengerikannya elementalist kegelapan.” Orang itu langsung berdiri di hadapan Turse yang sedang mencoba untuk berdiri dan menyentuh rahangnya yang sakit. “Tapi kali ini, aku akan membunuhmu, tidak hanya kau, tapi seluruh orang yang ada di kapal ini.” Sambungnya sambil menusukkan belatinya ke arah kepala Turse.
“Benarkah?” Turse tersenyum tipis ke arah orang itu seolah ada sesuatu yang dia sembunyikan.
Namun, orang itu tidak menaruh curiga apapun, karena apa yang dia fokuskan adalah mendorong belatinya ke arah kepala Turse.
Siapa yang menyangka, tiga anak panah tiba-tiba menancap di punggung orang tersebut tanpa dia sadari. Sehingga, saat dia terkejut, dia refleks berteriak dan belatinya gagal menusuk Turse.
Tidak ingin membuang kesempatan lagi, Turse langsung berdiri dengan sangat anggun sambil menarik busurnya dengan begitu cepat dan berniat memanah orang tersebut dari jarak yang sangat dekat.
“Aku sudah berjanji kepada kaisarku untuk tidak mati dalam pertempuran ini. Dan karena kau yang merupakan pihak Mare Enbarum sudah muncul, itu artinya pertempuran sudah dimulai.” Bersamaan dengan dia berkata, anak panah milik Turse terlepas dari busurnya dan langsung menancap ke arah dada orang tersebut yang sebelumnya berusaha untuk mencabut tiga anak panah di punggungnya.
Sangat disayangkan, bahwa ternyata orang tersebut memakai Zirah yang cukup tebal, sehingga anak panah milik Turse tidak mampu untuk menembus dadanya. Menyadari hal itu, Turse langsung melompat ke belakang dan mencoba menjaga jarak agar dia bisa memanah kepalanya yang mana tanpa perlindungan apapun.
“Sialan! Darimana ketiga anak panah ini.” Orang itu berteriak dengan cukup keras, setelah berhasil mencabut anak panah di punggungnya. Kemudian, dia melihat sekeliling dan tersadar bahwa tiga anak panah milik Turse sudah tidak berada di papan sasaran seperti apa yang dia lihat.
Orang itu langsung melupakan mengenai ketiga anak panah, apa yang dia pentingkan adalah membunuh Turse yang ada di dekatnya. Namun, saat dia hadap ke arah Turse, sebuah anak panah sudah berada di depan matanya sebelum satu detik sepersekian menancap tepat di antara matanya.
__ADS_1
“Jika aku jadi kau, maka aku akan pulang terlebih dahulu menuju Mare Enbarum untuk melaporkan penyerangan ini, bukan dengan cara ceroboh menyelinap di armada kapal musuh.” Kata Turse sambil menghela napas lega, memperhatikan seorang mata-mata yang perlahan ambruk dengan matanya yang memutih setelah kepalanya tertancap sebuah anak panah.