Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Hancurnya Armada kapal musuh


__ADS_3

Kabut dingin hilang, saat ini Izar terbaring dengan sebuah pedang yang menancap di permukaan es tepat di samping telinganya. Hal tersebut membuatnya syok karena dia merasa beruntung saat pedangnya tidak menancap tepat di kepalanya.


Jika bukan karena dia mengangkat pedangnya untuk menahan hunusan, mungkin dia sudah mati tadi.


Namun, dia langsung menggertakkan giginya dan berdiri dengan cepat karena ada seseorang wanita yang menarik pedang yang hampir menusuk Izar sendiri. 


Lebih tepatnya itu adalah Selena, dia yang mengangkat pedang langsung menghunuskan pedangnya ke arah Izar. Sangat di sayangkan, Izar berdiri lebih cepat dan mengayunkan pedangnya ke arah Selena dengan sebuah kegelapan yang melapisinya.


Namun, dengan begitu lincah, Selena bisa menghindar dengan begitu baik. Tepat di udara, dia langsung mengayunkan pedangnya kembali, sehingga apabila itu kena, akan menebas kepala Izar.


Izar mengulurkan tangan kirinya, sehingga sebuah elemen kegelapan muncul dan melapisi tubuh Selena sehingga membuatnya tidak bisa bergerak. Tentu saja hal itu membuat Selena gagal dalam menebaskan pedangnya ke arah kepala Izar.


Kemudian, Izar memunculkan sebuah elemen kegelapan di tangan kanannya, tanpa berpikir panjang, dia langsung menyerang Selena yang melayang di udara dan tidak bergerak karena tubuhnya terbalut elemen kegelapan yang dikendalikan oleh Izar.


Namun, Izar terkena sebuah anak panah yang menusuk dada kanannya, sehingga membuatnya sedikit kaget dan melompat ke belakang. Sehingga, elemen kegelapan yang mengikat Selena hingga tidak bisa bergerak terlepas dan membuat Selena kembali jatuh ke permukaan es. 


Tanpa ragu, Selena langsung bergerak dengan sangat gesit ke arah Izar sambil memposisikan pedangnya dan bersiap untuk menghunus seseorang yang ada di hadapannya yang tidak lain merupakan laksamana Izar.

__ADS_1


Izar menebaskan pedangnya, berharap bahwa sebuah tebasan kegelapan muncul untuk menyerang Selena. Tapi siapa yang menyangka, bahwa tidak ada elemen kegelapan sama sekali yang keluar, bahkan pedang yang seharusnya dilapisi oleh kegelapan, kini hanya ada besi pedang saja.


Dia berpikir pendek, kenapa elemennya tidak keluar? Akan tetapi, dia tidak memikirkan itu secara panjang karena harus menghadapi Selena yang bersiap untuk menghunusnya.


"Selena, bunuh tanpa berpikir panjang!" Laksamana Mahaa yang ada di belakang berteriak. Semenjak dia mengeluarkan kabut dingin, serta Selena yang turun tangan, dia hanya berada di belakang dan berusaha agar permukaan air tetap membeku, sehingga Selena dan laksamana musuh bisa bertarung.


"Kau mengatakan seperti itu kepada seorang pembunuh?" Selena membalas perkataan Mahaa sambil memutar pedangnya untuk menebas laksamana Izar dengan cepat. 


Memang, laksamana Izar mengangkat pedangnya, namun pedangnya seketika patah saat berbenturan dengan pedang Selena. Tidak hanya itu saja, Izar juga terlempar ke belakang karena tidak sanggup menahan kekuatan pedang milik Selena.


Semakin ke belakang, maka akan masuk ke Zona jangkauan para pemanah milik kekaisaran untuk jatuh. Sehingga apabila tidak berhati-hati, maka terhujani ribuan anak panah adalah akibatnya.


Bisa dibilang, hanya tersisa beberapa kapal milik Mare yang dapat kembali menuju pelabuhan. Sedangkan ratusan kapal lainnya harus hancur serta para prajurit yang merenggut nyawa, menyisakan Laksamana Izar yang kini berdiri di depan bangkai kapal sambil menyaksikan ribuan anak panah yang akan menghujani dirinya.


"Kita menang! Hentikan menembakkan anak panah lagi!" Turse berteriak di atas kapal sambil memperhatikan bahwa armada kapal milik musuh sudah hancur, dengan ribuan, tidak, bahkan jutaan anak panah memenuhi ratusan kapal baik itu badan kapal yang membuat papan kayu hancur, atau membunuh prajurit yang ada di atas kapal.


Setelah mendengar perintah komandan mereka, yaitu Turse, mereka semua berhenti menarik busurnya kembali, karena mereka merasa tidak ada target lagi yang harus mereka panah. Laksamana Izar juga tergeletak dengan puluhan anak panah menancap di atas kepalanya.

__ADS_1


Baik itu Selena dan juga laksamana Mahaa, mereka berdua kembali naik ke atas kapal. Karena, penyerangan mereka tidak hanya berada di sini saja, mereka harus membantu kavaleri yang dipimpin oleh jenderal Lois untuk menuju daratan, pasalnya, di pesisir sudah ada ribuan pasukan berkuda yang menunggu pasukan Lois untuk menuju ke sini.


Tanpa berpikir panjang, laksamana Mahaa menggerakkan kapal ke arah jenderal Lois yang telah lama menunggu di atas permukaan laut. Selain itu, dia juga tahu bahwa pasukan yang dipimpin kaisar Zeno secara langsung sudah berpisah dengan mereka.


Selain itu, pasukan jenderal Lois juga tidak bisa menunggu lama untuk berdiri di atas permukaan es, yang mana permukaan es semakin bergerak menuju pesisir. Sehingga, apabila itu terjadi sangat lama, pasukan berkuda musuh juga akan bisa menyerang pasukan Lois melewati permukaan es yang diciptakan oleh Zeno.


"Baiklah, Armada kapal sudah mendekat, kita akan menginjak daratan dengan aman sambil menghindari sebuah pertempuran. Namun, tunggu perintahku untuk bergerak!" Lois berteriak dengan lantang, dia menunggu momen yang begitu tepat untuk bergerak, setidaknya kapal barisan paling depan menembakkan ribuan anak panah untuk menghujani ribuan pasukan yang sedang menunggu di pesisir pantai.


Sesuai apa yang dipikirkan oleh Lois, kapal kekaisaran sudah semakin mendekat ke arah dirinya sambil menembakkan anak panahnya ke atas untuk menghujani pasukan musuh, itu artinya, maka adalah momen yang begitu tepat untuk bergerak ke depan tanpa masalah, mungkin masalahnya hanyalah bangkai kapal yang diledakkan oleh Kirin dan Uron yang pada akhirnya juga tenggelam dengan permukaan es yang hancur akibat kapal-kapal itu juga hancur, setidaknya agar Armada kapal juga bisa melewatinya dengan begitu mudah.


"Serang!!" Lois berteriak dengan lantang sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


Semua pasukan berkuda yang berjumlah 300.000 pasukan bergerak ke depan, menghadapi pasukan yang mungkin jumlahnya jauh lebih banyak. Walaupun begitu, mereka cukup tenang karena memiliki pasukan pemanah yang sangat diuntungkan.


Perlahan, permukaan es tiba-tiba berubah menjadi lautan semula, sehingga mungkin bangkai kapal yang tidak sempat tenggelam karena tertahan oleh permukaan es yang utuh, kini sepenuhnya tenggelam. Namun anehnya, para pasukan tersebut masih biasa untuk berkuda di atas air seolah tanpa masalah sedikitpun. Padahal bisa dibilang, Zeno sudah tidak ada pada jangkauan mereka.


….

__ADS_1


"Hoy Hoy Hoy. Tampaknya, kita harus menjaga jarak untuk mundur, agar para pemanah musuh tidak bisa menjangkau kita!" Pemimpin pasukan berkuda milik Mare Enbarum tersentak kaget saat pasukan berkuda milik Glacies sudah bergerak ke arah mereka dengan berkuda di atas laut, terlebih lagi, dia juga memerintahkan untuk mundur agar tidak berperang di pesisir laut, karena itu benar-benar sangat dirugikan bagi mereka karena pihak Glacies ada seorang pemanah.


__ADS_2