Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Berangkat menuju Kekaisaran Nuvoleon


__ADS_3

“Tuan, apa Anda serius ingin meninggalkan Kirin dan Uron sendirian? Kita akan pergi selama lebih dari seminggu.” Ucap Turse kepada Zeno.


“Dua naga bodoh itu akan beristirahat selama satu hari lagi, dan setelah itu biarkan dia mencariku sendiri. Lagi pula, aku sudah meminta pelayan untuk mengatakan kepada dua naga bodoh itu bahwa aku menuju kekaisaran Nuvoleon.” Zeno menjelaskan.


“Ayo berangkat, Hole sudah menunggu kita di bawah.” Sambungnya.


Akhirnya mereka berdua keluar dari kamar dan segera turun dari lantai. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan sebuah kesepakatan yang mana menurut Zeno itu sangat menguntungkan. Entah jika itu bagi Hole sendiri. Mungkin kesepakatan tersebut sangat menguntungkan dirinya sendiri, dan sangat merugikan Zeno. Bagaimana tidak, Hole percaya, apabila Zeno dan Turse merupakan orang kuat, sehingga dia bisa meminta bantuan kepadanya untuk mengambil teratai emas yang diburu oleh pihak lainnya. Jika Zeno tidak mau, maka dengan mudah Hole akan melaporkan tindakan Zeno kepada kekaisaran.


Tapi siapa yang menyangka, kesepakatan tersebut justru akan merugikan Hole. Dan Zeno dapat dengan mudah mendapatkan teratai emas dengan bantuan Hole sendiri. Apapun yang berhubungan dengan teratai emas, seperti pihak Nuvoleon, atau kelompok kriminal, Zeno bisa mengetahuinya dengan jelas berkat Hole sendiri.


“Hole, kami sudah bersiap dan akan memenuhi kesepakatan itu. Apakah kau berani bersumpah, bahwa kau belum dan tidak pernah melaporkan kejadian itu sama sekali?”


Zeno dan Turse yang sudah keluar dari penginapan menemui Hole yang sudah ada di depan.


“Tenang saja, belum ada sesiapapun yang tahu. Tapi, jika kau tidak memenuhi kesepakatan itu, maka aku juga tidak akan ragu.”


Zeno hanya mengangguk dan tahu dari raut wajah Hole tidak ada sebuah kebohongan sama sekali, yang mana dia melaporkan kepada jenderal kekaisaran ataupun kaisar itu sendiri. Bukan karena takut, karena Zeno sendiri tidak ingin mendapatkan sebuah masalah yang berat. Bisa saja, dia bersikap biasa saja dan membiarkan sesiapapun yang melapor, namun, karena dia berada di sini dalam waktu terbatas, dia berusaha menyembunyikan hal tersebut.


Setidaknya dia berniat berada di sini setelah satu minggu. Mungkin setelah mendapatkan apa yang dia cari, maka dia segera pulang. Karena ini menyangkut sebuah nyawa. Memang, memang umur ibunda Zeno masih tersisa dua puluh enam hari lagi, tapi, prinsipnya adalah lebih cepat lebih baik.


“Aku sudah memperkenalkan diriku, siapa namamu?” Tanya Hole sambil mengulurkan tangannya.


“Zen, dan dia temanku, Turse.” Zeno menjabat tangan Hole sambil menjawabnya.

__ADS_1


“Salam kenal Zen, Tturse, aku harap kau bisa di ajak bekerja sama.” Hole mengangkat salah satu ujung bibirnya.


Zeno melepaskan jabat tangannya, wajahnya tampak tidak berekspresi sama sekali dan juga tidak memberikan sepatah kata apapun. Selain itu, dia menjadi semakin berhati-hati dengan Hole, bisa jadi dia juga merencanakan sesuatu yang membuatnya rugi.


Mereka bertiga akhirnya berangkat menuju arah utara dengan Hole yang menjadi pemimpin, bagaimanapun hanya Hole yang tahu jalur menuju Nuvoleon Empire.


“Tunggu sebentar, mengapa kita tidak menaiki kereta kuda atau sesuatu yang lainnya? Itu dapat mempersingkat waktu” Kata Zeno sambil mengerutkan dahinya.


“Apakah menurutmu aku merupakan orang kaya? Tentu saja tidak, biaya hidup di sini sangat mahal, bahkan jika kau ingin naik kereta kuda, kau perlu membayar satu koin emas.” Hole menjelaskan.


Mendengar hal tersebut, Zeno hanya menghela napas. Walaupun mahal, tapi jika itu penting maka juga tidak masalah. Bahkan jika terdesakpun, atau sangat penting, maka Zeno bisa membayar lebih hingga tidak wajar. Mengingat, dia pernah membayar satu kantong berisi koin emas kepada seorang pemilik kereta kuda.


“Baiklah, kita cari kereta kuda. Aku yang akan membayar.” Sahut Zeno dengan begitu malas.


“Braaakk!” Suara gebrakan meja terdengar hingga sudut ruangan. Bahkan, barang-barang yang ada di sekitarnya juga hancur karena perbuatan seseorang yang tidak dapat mengontrol emosi marahnya.


“Kalian tidak menemukan pembunuh anakku?”


“Brakk!”


Bukannya menggebrak, kali ini orang tersebut justru membanting sebuah meja hingga rusak. Sepertinya memang, orang tersebut sudah terselimuti sebuah amarah yang luar biasa.


“Benar jenderal, sang pembunuh benar-benar membersihkan jejak hingga tidak yang tahu.” Kata seorang pengawal yang kini tengah menundukkan kepalanya, tubuhnya gemetar ketakutan karena melihat tingkah jenderal di hadapannya.

__ADS_1


Jenderal menggertakkan giginya, wajahnya terlihat sangat jelek dengan keriput yang sedikit tampak. Menandakan bahwa jenderal kekaisaran memang sudah hampir sedikit tua. Tapi, jangan salah menilai, menurut orang-orang, jenderal tersebut sudah menjabat selama dua puluh lima tahun dan jarang sekali kalah dalam perang.


“Sebaiknya Anda tidur dulu Jenderal, hari sudah benar-benar larut malam.” Kata prajurit tersebut.


Mendengar apa yang dikatakan prajurit, Jenderal Gorb berbalik badan dan berjalan pelan dengan tatapan serius kepada prajurit tersebut. Dia juga meletakkan tangannya ke atas pundak prajurit yang kini tubuhnya bergetar karena merasa dirinya salah berbicara.


“Apakah menurutmu aku bisa tidur setelah kejadian ini?” Jenderal Gorb berkata dengan lirih, tapi dari nada bicaranya sangat jelas bahwa dia sangat marah. “Tentu saja tidak!” Sambungnya dengan meninggikan nada bicaranya.


“Jenderal!”


Gorb mengalihkan wajahnya ke arah pintu ruangan setelah ada yang berteriak memanggilnya. Suasana hatinya yang buruk, di tambah ada seseorang yang lancang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya, membuatnya membanting seorang prajurit yang ada di hadapannya.


“Maafkan aku jenderal karena lancang masuk ke ruangan Anda. Tapi ini ada berita penting.” Kata prajurit lain yang baru saja masuk ke dalam ruangan Gorb.


Gorb berjalan ke arah orang tersebut, tepat saat di depan prajurit, dia langsung mencekik prajurit tersebut namun tidak terlalu berlebihan, sehingga mungkin prajurit tersebut masih bisa mengeluarkan suara.


“Jika itu tidak penting, maka aku akan membunuhmu.”


“Maafkan aku, tapi penyakit istri Anda kambuh dan menjadi lebih buruk setelah mendengar kematian anak Anda.” Ucap prajurit itu dengan terbata-bata.


Gorb mengangkat alisnya, dia terkejut mengenai apa yang dikatakan prajurit barusan mengenai istrinya Gorb sendiri. Tentu saja, setelah mendengar kondisi sang istri memburuk, dia tidak tinggal diam, dia segera keluar dari ruangan dan pulang menuju ke rumahnya.


Memang, istri Gorb memang sakit parah semenjak beberapa bulan yang lalu. Dan penyakit tersebut lambat laun menghilang. Tapi siapa yang menyangka, bahwa penyakit tersebut kambuh kembali dan justru semakin parah setelah istri Gorb mendengar kematian anaknya. Tentu saja, Gorb tidak bisa memaafkan seorang pembunuh. Dia juga berjanji, apabila bertemu dengan pembunuh tersebut, dia akan menyiksanya secara perlahan.

__ADS_1


Namun, sebelum benar-benar pergi, Gorb meninggalkan sebuah pesan kepada dua prajurit yang ada di ruangannya. “Katakan kepada kaisar, aku benar-benar meminta bantuan kepadanya untuk menelusuri siapa pembunuh dari anakku.”


__ADS_2