
Zeno tidak bisa berkata-kata lagi, raut wajahnya membeku karena melihat bola api yang ukurannya sebesar setengah negara. Pandangannya fokus ke atas dengan lamunan kebingungan.
"Raging Ape, daripada kau mati, lebih baik bergabung denganku kembali."
"Baik tuan" Ape yang merupakan beast Akram berubah menjadi hembusan api yang mengalir memutari Akram.
Tubuh Akram kembali semula dengan bulu nya yang menyala kobaran api, tugasnya untuk mencari Ice Sword akan selesai apabila salah satu dari mereka menjadi takut akan bola api.
"Tidak mungkin, bola api sebesar ini, jangankan satu negara, satu benua akan hancur dibuatnya." Gumam Zeno dengan matanya yang terbuka lebar, ia mungkin akan sedikit tenang apabila itu meteor yang jatuh. Tapi dia sadar bahwa bola api dua kali lipat dari meteor.
Kiba, ratu Kura, keduanya sama-sama bingung, keadaan krisis seperti ini akan membuat benua lima negara akan musnah dalam sekejap. Tidak ada jalan lagi walaupun lari di negara manapun.
Akram memuntahkan seteguk darah yang keluar dari mulutnya, wajahnya yang merah api menjadi pucat bersamaan dengan muntah darah.
"Sial, teknik itu sangat mengerikan, bahkan aku yang mengeluarkannya pun harus rela kehabisan Orka."
Zeno melihat Akram memuntahkan seteguk darah, karena ia sadar, rasanya tidak mungkin untuk mengeluarkan bola api sebesar itu tanpa menguras orka. Jadi ia tidak membuang kesempatan untuk menyerang Akram yang sudah lemas.
Zeno berlari ke arah Akram dan memegang erat pedangnya, senyumannya kembali cerah saat ia tahu, apabila Akram mati, maka bola api itu juga akan padam.
"Hah, kau pikir jika aku lemah, aku tidak bisa menyerang ku lagi? Jangan harap." Akram memunculkan sebuah tali dari telapak tangannya, tetapi itu bukan tali yang berbahan dasar pada umumnya, Akram membuat itu dari elemen apinya yang memadat sehingga membentuk sebuah tali.
"Sialan." Kondisi tubuh Zeno terikat oleh tali api yang dibuat oleh Akram, ia juga merasakan rasa panas yang teramat di sekujur tubuhnya. Benar-benar terjebak dan tidak bisa bergerak, berusaha memadamkan api itu menggunakan elemen airnya, tetapi itu tidak bisa.
__ADS_1
Kiba yang tidak bertarung dengan Raging Ape, kemudian berlari ke arah Akram untuk menyelamatkan tuannya.
"Kucing, kau urusan kami." Beberapa manusia setengah beast meloncat ke arah Kiba dan mengepungnya.
Zeno sendiri sudah tidak bisa bergerak lagi, Kiba kini berhadapan dengan beberapa manusia setengah beast yang merupakan bawahan Akram. Ratu Kura, ia juga sedang beristirahat sambil menyembuhkan diri.
"Sepertinya kau tidak mau membuka mulut ya."
"Teknik teratai, aliran pertama, teratai mekar!" Perlahan, di telapak tangan Akram terdapat sebuah bunga teratai yang terbuat dari api. Teratai tersebut perlahan mekar dengan sangat indah walaupun terbuat dari api.
"Tamatlah riwayatmu nak." Akram berlari ke arah Zeno dengan aura membunuh yang sangat kuat, mata nya Semerah darah membuat siapa saja yang melihatnya merasa ngeri.
Zeno yang terikat di tali api tidak bisa bergerak, dia hanya bisa tersenyum, tersenyum manis bahwa hidupnya telah berakhir. Sangat disayangkan bahwa hidupnya akan berakhir di sini sebelum ia melihat wajah ayahnya.
Bola api yang semakin mendekat, namun jarak masih jauh, tidak ada lagi kata selamat di dunia ini. Zeno memejamkan matanya dan tidak mau melihat tubuhnya terkena serangan teratai mekar milik Akram.
"Kiba, aku harap kau tidak sedih dalam kematian ku, walaupun kau ikut mati jika aku mati. Tapi kau adalah beast mulia, jadi ka bisa reinkarnasi kembali dan memilih tuan lagi. Katakan kepada Dewi Luna apabila aku tidak berhasil menyelesaikan tugasku. Selamat tinggal semuanya." Zeno langsung memuntahkan seteguk darah dan terlempar begitu jauh.
Luka di sekujur tubuhnya sangat membekas parah akibat terkena tali api yang membara. Tidak hanya itu saja, luka di perut Zeno semakin lebar dengan tidak ada darah yang menetes, tetapi terlihat bajunya robek dengan daging matang tepat di luka besarnya.
"Tuan! Tidak, dia masih pingsan, dia belum meninggal." Kiba sangat percaya itu, karena tubuhnya masih ada saat tuannya atau Zeno tergeletak, padahal jika tuannya itu mati maka Kiba juga ikut mati. Walaupun sepertinya itu tidak berlaku pada seseorang yang sangat hebat seperti pendiri negara.
"Tuan Zen!" Teriak ratu Kura saat melihat Zeno tergeletak di atas tanah. Ia sangat menyesal karena tidak membantunya melawan Akram.
__ADS_1
Suasana menjadi hening saat Zeno tergeletak tidak berdaya dengan luka bakar yang sangat parah.
"Akram…!" Kiba mengaum dengan begitu keras, bahkan kaisar Shima dan pangeran Rouya mendengar Auman Kiba dari kejauhan.
Kiba menyerang beberapa manusia beast pengganggu yang ada di depannya langsung muntah darah dalam serangan, amarahnya sudah sangat memuncak dan menyaksikan sendiri bahwa tuannya terkalahkan secara mengenaskan.
"Itulah akibatnya jika terlalu ikut campur, padahal kau bukan siapa-siapa!" Teriak Akram di hadapan Zeno yang pingsan.
Kiba sendiri berlari ke arah Akram, air matanya sebagai beast menetes perlahan saat merasakan detak jantung Zeno mulai melemah. Kaki belakangnya entah kenapa menghilang perlahan menjadi serpihan angin.
"Tidak, Tuanku, kau tidak boleh mati!"
"Hah, dasar kucing sialan! Walaupun kau membunuh ku, tapi bola api besar itu juga akan meledak." Sahut Akram yang berbalik arah menghadap ke arah Kiba.
"Tapi terlihat bahwa kau akan menghilang, tetaplah di sini dan rasakan detik-detik kematianmu kucing sialan!" Sambungnya dengan tertawa terbahak-bahak.
Tubuh Kiba perlahan menghilang hingga sampai di perutnya. Kiba hanya menyisakan tubuh utamanya yang tidak bisa berlari lagi. Lambat laun, ia juga merasakan bahwa detak jantung Zeno semakin melemah.
Hingga pada akhirnya, tubuh Kiba hilang dengan seutuhnya, berubah menjadi hembusan angin yang melewati jasad Zeno yang sudah tidak bernapas lagi.
Ratu Kura menumpahkan air mata saat menyaksikan sendiri bahwa beast Byakko menghilang. Itu menandakan bahwa tuan Zeno sudah mati seutuhnya.
"Benar-benar cerita yang buruk, padahal aku baru saja bertemu dengannya beberapa jam yang lalu." Ratu Kura tersungkur ke atas tanah, dia juga sudah tidak bisa berbuat apa-apa, kemungkinan ia juga akan mati di bawah ledakan yang dahsyat.
__ADS_1
Beberapa beast yang berperang menjadi kocar-kacir kesana kemari karena merasakan hawa panas di atas mereka. Bahkan beast dari dunia Metpo menghilang untuk kembali ke dunia mereka, karena mereka sendiri juga tidak ingin terkena dampak ledakan bola api yang sangat serius.
"Habislah cerita mengenai benua Lima negara." Kata kaisar Shima tersenyum pahit, ia tidak menyangka bahwa hidupnya berakhir tidak lama lagi. Lari Pun juga akan percuma, karena bola itu akan membuat hancur satu benua.