Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Hukuman untuk Dion


__ADS_3

Seluruh orang yang berada di area tersebut membuka matanya secara lebar karena terkejut setalah apa yang dikatakan Zeno. Terkecuali Zhuo serta kaisarina Aurrora, justru mereka berdua hanya tersenyum lebar, bagaimanapun sesiapapun yang menghina keluarga mereka memang sepantasnya dihukum mati, karena telah dianggap sebagai tindakan pemberontak.


Wajah Duke Arlos dan Dion Nothan hanya diam membeku dan tidak berdaya. Arlos yang tersadar untuk tidak bisa tinggal diam, langsung melangkahkan kakinya ke depan untuk membujuk Zeno. “Maafkan aku tuan muda, tapi apakah itu tidak terlalu berlebihan?” Arlos tersenyum pahit, sebelum dia melanjutkan apa yang ia ucapkan, “Begini saja, aku mempunyai satu anak perempuan yang sangat cantik. Jika berminat, anda bisa mengambilnya tanpa perlu ragu sedikitpun. Tetapi saya benar-benar memohon maafkan putra saya Dion.”


Zeno menggelengkan kepala melihat sikap duke Arlos yang menjadi rendahan setelah apa yang dia utarakan, dengan begitu dingin dirinya mengeluarkan suara, “Anak perempuanmu bukanlah sosok murahan yang kau berikan semudah itu. Jadi aku tidak terlalu tertarik dengan anak perempuanmu walaupun secantik apapun.”


“Apa yang dikatakan anakku benar, anak perempuanmu bukanlah sebuah benda yang dengan mudah ditukarkan dengan sesuatu apapun, walaupun itu nyawa anakmu Dion sekalipun.” Kata Zhuo menambahkan apa yang anaknya katakan.


Zeno kemudian memberikan Ice Sword yang ia pegang kepada ayahnya, setelah itu dia kembali berbalik sambil melambaikan tangannya seakan-akan menantang Dion untuk bertarung. Wajah dingin Zeno terdapat aura kemarahan yang sangat pekat, bersamaan dengan itu, dirinya berkata, “Kemarilah, kita selesaikan sekarang. Kau lihat? Aku tidak menggunakan pusaka apapun, hanya menggunakan tangan kosong, sedangkan kau, kau bebas untuk menggunakan apapun.”


Dion hanya bergetar ketakutan, masalahnya, tanpa Ice Sword sekalipun, dirinya yang pasti terbunuh. Menolak atau tidak menolak, kabur atau menerima tantangan, pilihan tersebut hanya akan memberikan jawaban yang sama yaitu mati. Tetapi Dion melangkahkan kakinya ke depan dengan wajah yang dipenuhi ketakutan. Dia merasa setidaknya dengan menerima tantangan, kesempatan untuk menang itu pasti ada.


Duke Arlos tidak bisa membantah sedikitpun, dia hanya tersenyum kecut sambil memandang anaknya dengan rasa tidak tega. Bagaimanapun, Dion merupakan salah satu anaknya yang paling dia sayang karena hanya Dion yang bisa meneruskan status kebangsawanan ayahnya.


Zhuo dan kaisarina Aurrora juga mundur beberapa langkah, mereka berdua juga akan menyaksikan pembunuhan Dion secara perlahan menggunakan sebuah pertarungan dari jarak jauh tanpa adanya ikut campur. Karena mereka sendiri benar-benar telah menyerahkan semua hukuman itu kepada Zeno sebagai korban tuduhan yang sangat menyakitkan.

__ADS_1


“Sebelumnya, aku benar-benar berterima kasih kepadamu Dion. Mungkin jika bukan karena tuduhan bodoh yang kau buat, maka aku akan kesulitan untuk bertemu ayahku. Tetapi sayangnya itu merupakan sebuah kesalahan yang besar karena telah merusak nama baikku.” Tegas Zeno memperhatikan Dion dengan serius.


“Maka dari itu, aku akan memberikanmu sebuah kesempatan untuk mengeluarkan kata-kata terakhir sebelum bertarung sampai mati denganku.” Sambungnya dengan nda tinggi.


Dion tidak henti-hentinya untuk bergidik ketakutan, sesekali dia menoleh ke arah ayahnya untuk memberikan isyarat apa yang seharusnya dia lakukan. Sayangnya ayahnya memalingkan pandangannya seakan-akan sudah tidak peduli lagi dengan Dion, karena daripada dia ikut campur dan ikut diberikan hukuman.


Dion kembali mengalihkan pandangannya ke Zeno setelah ayahnya tidak merespons apa pun,  dia kesulitan untuk mengeluarkan kata-kata terakhir seakan mulutnya terkunci.


“Ayolah, jika kau tidak mengeluarkan kata-katamu, setidaknya maju dan seranglah aku terlebih dahulu!” Zeno mengerutkan dahinya dan sudah mulai kesal.


Zeno tersenyum lebar saat melihat tekat Dion, ditambah saat ini Dion menarik sebuah pedang dari selongsongnya. Bersamaan dengan itu, sosok macan salju muncul dari belakang Dion dan melompat ke arah Zeno. Zeno tidak terlalu terkejut, dan ikut meloncat ke belakang, dirinya menjadi semakin bersemangat setelah Dion mengeluarkan seekor elemental beast. Karena dirinya benar-benar sudah lama tidak bertarung dengan sosok yang mengeluarkan elemental beast.


Saat ini macan salju milik Dion mengaum keras di hadapan Zeno, hal tersebut membuat Dion menjadi tersenyum lebar saat melihat Zeno harus memundurkan kepalanya saat elemental beast miliknya mengaum dengan mengerikan.


Mungkin bagi Dion, hal itu merupakan keputusan yang bagus karena akan membuat Zeno menjadi takut karena elemental beastnya. Tapi menurut orang lain yang melihat, mereka hanya menggelengkan kepala karena melihat tingkah bodoh Dion, karena bagaimanapun Dion dan mereka sendiri belum pernah melihat seperti apa elemental beast yang Zeno miliki. Masalahnya,  jika beast itu terlalu kuat dan dikeluarkan, maka akan menjadi sosok yang sangat mengerikan.

__ADS_1


Macan salju saat ini sedang mengitari Zeno dengan air liur yang menetes serta kuku tajam yang keluar, tetapi Zeno tidak terlalu panik, dan tetap tenang. Karena hanya sebatas macan salju bukanlah masalah bagi Kiba.


Mungkin dalam hitungan detik, macan salju tersebut akan melompat dan akan menerkam Zeno, atau mungkin jika Zeno melawan, maka macan salju tersebut juga akan mengeluarkan kemampuannya untuk melawan Zeno.


Tepat saat macam salju itu kembali berada di hadapan Zeno setelah putara yang kesekian kali, sosok macan salju tiba-tiba berguling karena ada sosok yang melompat dan mencengkeram dengan sangat kuat. Tidak hanya itu saja, sosok macan salju yang terbaring dengan tidak bisa bergerak langsung ketakutan saat ada harimau putih yang mengaum begitu keras tepat di wajahnya.


“Apakah sesuatu yang bodoh jika mengeluarkan beast? Haha aku bercanda, itu merupakan sesuatu yang sangat bagus. Karena semasa hidupku, aku jarang sekali mengeluarkan beast sebelum orang yang ku lawan mengeluarkan beast.” Zeno bergerak perlahan menuju arah Dion.


“Sepertinya terlalu banyak bicara pada saat akan melakukan pertarungan akan sangat membosankan bukan? Baiklah, jika kau tidak ingin memulai serangan pertama, maka aku akan memulainya terlebih dahulu.” Ucap Zeno yang menatap Dion yang kembali menjadi sangat takut, karena tidak memiliki harapan lagi. “Kiba, apakah kau bisa membunuh beastnya dalam waktu yang singkat? Setidaknya satu menit sudah sangat cukup.”


“Itu hal yang sangat mudah tuan.”


Kiba kemudian mencabik-cabik beast yang ia cengkeram menggunakan kuku tajamnya. Walaupun beast milik Dion masih sempat melawan seperti mengeluarkan panah es yang tiba-tiba muncul dari atas Kiba, tetapi Kiba masih bisa membuangnya menggunakan sebuah kemampuan elemen angin.


Perlahan beast milik Dion tidak berdaya dan mati karena serangan brutal dari Dion. Hal tersebut membuat Dion memutahkan seteguk darah karena beast yang dia miliki telah mati. Wajahnya menjadi seputih kertas saat melihat bahwa Zeno udah berada di depan matanya.

__ADS_1


 


__ADS_2