
Masalah kini selesai, Zahjyen benar-benar telah menyusul anaknya ke dalam alam kematian. Keluarga Zahjyen yang melihat kematian Zahjyen hanya menggeleng kepala, karena mereka tahu bahwa hal bodoh seperti apa yang dilakukan Zahjyen sebelumnya sama saja mengundang kematian.
Zeno menghela nafas, tidak ada lagi hama yang perlu diselesaikan kembali. Sebelumnya dia juga ingin membantai seluruh keluarganya, tetapi setelah mendengar sesaat bahwa seluruh keluarga membenci Zahjyen, Zeno langsung mengurungkan niatnya untuk membunuh orang-orang tidak bersalah.
Tetapi Zeno tidak bisa mempercayai keluarga milik Zahjyen sepenuhnya, bisa jadi mereka bermuka dua dan masih menuntut balas dendam atas kematian anak Zahjyan atau Zahjyan sendiri.
"Zahjyen telah mati, sisa kalian." Kata Zeno berbalik arah, memperhatikan keluarga Zahjyen dengan begitu dingin.
Keluarga Zahjyen mundur beberapa langkah dengan tubuh yang bergetar karena tatapan Zeno yang begitu dingin, sekaligus ucapan Zeno membuat keluarga Zahjyen begitu takut.
"Tidak, maafkan kami. Kami tidak ikut campur dalam masalah Zahjyen, tolong ampuni kami." Ucap salah satu dari mereka dengan memohon.
"Bagaimana aku bisa mempercayai kalian?" Zeno mengerutkan dahinya.
"Jika sekali lagi kami berencana untuk membunuh pangeran, maka pangeran bisa membunuh seluruh keluarga kami." Ujarnya dengan terbata-bata.
Zeno menghela nafas, dia lantas melangkahkan kakinya keluar menuju pintu istana kerajaan. Dia juga tidak memiliki niat untuk membunuh keluarga Zahjyen yang lainnya.
"Ayo Kiba, kita kembali."
Kiba akhirnya kembali melesat terbang ke arah barat lagi, dengan Zeno yang menungganginya, meninggalkan kota Bulu Merak karena urusan Zeno telah berakhir.
Ia merasa waktu yang ia gunakan terbuang sia-sia. Karena siang sore tadi seharusnya ia sudah memasuki negara petir, tetapi sempat tertunda hanya karena hama yang mengganggu Zeno.
Zeno kini telah sampai di pinggiran hutan elemental beast tepat pada malam hari. Dia merasa begitu beruntung memiliki Kiba, karena entah apa yang terjadi kalau tidak ada Kiba, Zeno kembali menuju pinggiran hutan elemental beast atau biasa disebut wilayah aman mungkin pada waktu tengah malam.
__ADS_1
Lantas kenapa Zeno balik menuju wilayah aman di dekat negara petir? Karena kuda yang Zeno gunakan ia tinggal di pinggiran hutan elemental beast atau wilayah aman pada waktu memancing para pembunuh bayaran itu.
"Untung saja ini kuda tidak termakan beast elemental." Zeno yang habis turun dari punggung Kiba kemudian melepaskan kuda dari ikatan yang terikat pada pohon.
Zeno menarik Kiba karena kini ia hanya perlu memasuki negara petir menggunakan sebuah kuda. Karena dia juga tidak mungkin untuk memasuki sebuah negara dengan menunggangi sebuah hewan yang kodratnya bukan untuk tunggangan seperti harimau putih.
Dengan menjadi hewan buas sebagai tunggangan, Zeno seratus persen tidak diizinkan masuk kedalam negara petir, karena beberapa peraturan ketat yang harus ditaati oleh pendatang baru di negara petir.
Tetapi Kiba seekor harimau putih tidak mempermasalahkan Zeno yang selalu menunggangi dirinya, karena sudah menjadi tanggung jawab seekor beast untuk menuruti perintah tuannya bahkan perintah itu merupakan kematian sekalipun.
Apalagi Kiba yang sudah diberikan kepercayaan penuh kepada Dewi Luna untuk menjadi bawahan Zeno. Jiwa Kiba juga tergantung kepada Zeno. Hidup, atau mati, semua yang Zeno alami akan Kiba rasakan seperti halnya dengan beast-beast yang lainnya.
Zeno memandangi sejenak mengenai sesuatu yang berbeda dari negara ini. Pasalnya, saat Zeno sedang berada di wilayah aman, ia melihat tembok menjulang tinggi yang menjadi pembatas antara negara petir dengan wilayah aman. Dengan begitu, besar kemungkinan, penyusup juga akan mengalami kesulitan untuk menerobos sebuah negara.
Padahal bisa dibilang negara petir tidak memiliki konflik apapun dengan negara lain, berbeda dengan negara air ataupun api, kedua negara tersebut tidak membangun sistem tembok yang membatasi negara dengan wilayah aman. Sehingga penyusup bisa jadi memasuki negara tersebut dengan mudah.
"Tuan, anda tidak di perizinkan masuk karena anda sebagai orang luar membawa dua pedang. Tetapi jika anda bersikeras untuk masuk, maka anda diperkenankan membayar dua koin emas setiap pedangnya."
Zeno mengangguki perkataan sang penjaga. Dia lantas mengambil sekantong koin emas dan memberikan empat koin emas kepada sang penjaga.
Zeno menghela nafas, karena identitasnya sebagai pangeran dua kaisar juga tidak sampai di luar dua negara seperti negara petir. Keluasan dalam melakukan apapun, dan juga mungkin membantai orang-orang yang menyombongkan diri dihadapan orang dengan status kecil.
Karena pada dasarnya, Zeno sangat membenci orang yang menyombongkan diri dihadapan orang yang lemah, sebab itulah Zeno sangat menyukai identitas pangerannya tidak terbongkar agar orang-orang sombong itu bisa membuka sifat dihadapan Zeno sendiri.
*****
__ADS_1
"Apa rencanamu Akram, untuk mencari ice sword di benua ini merupakan sesuatu yang sulit, apabila kemungkinan besar jika ice sword merupakan benda pusaka yang dijaga oleh salah satu negara." Ucap salah satu orang yang memiliki sisik di seluruh badannya.
"Kemungkinan terbesar, ice sword berada di antara negara Air atau Angin, karena elemen dasar es yang berasal dari Air dan Angin." Akram menyentuh dahinya sendiri, memikirkan letak kemungkinan terbesar dimana Ice sword itu berada.
Ice sword, dan juga fire sword, merupakan dua pusaka terkuat yang ada di dunia ini. Bahkan tebasan Ice sword maupun fire sword bisa mengeluarkan semburan elemennya masing-masing yang dapat membelah gunung.
Itulah sebabnya Akram sebagai pemimpin organisasi Taruz sangat ingin mendapatkan dua pusaka itu karena ia juga ingin menaklukkan dunia di bawah kepemimpinannya. Tetapi ia melakukan itu bukan semata-mata karena nafsu, sebuah trauma masa kecil yang membuatnya begitu ingin terlihat tinggi dihadapan semua orang.
"Bagaimana kau akan mencarinya?"
"Kita akan melakukan adu domba antara negara Api dengan negara Air. Dengan membuat konflik yang semakin memanas, besar kemungkinan bahwa kedua negara tersebut akan melakukan peperangan besar. Aku akan bergabung di negara api dan menggunakan Fire sword untuk melawan mereka. Dengan begitu, negara Air pasti akan mengeluarkan Ice sword untuk melawan pusaka tiada tanding itu." Akram menjelaskan.
"Bagaimana jika pedang tersebut ternyata dimiliki oleh negara angin?" Tanya manusia ular tersebut kembali.
"Apa kau sangat bodoh? Tentu saja apabila negara Air diserang oleh negara Api, negara Angin akan membantu negara Air. Dan negara Angin akan mengeluarkan Ice sword apabila aku mengeluarkan Fire sword." Akram mengerutkan dahinya.
Manusia dengan sisik ular menganggukkan kepalanya di hadapan Akram sebagai bukti bahwa ia mengerti. Sebabnya, ia sangat takut apabila dirinya tidak mengerti dan berulang kali bertanya kepada Akram.
"Jadi kapan kita akan melakukan adu domba?" Tanya Gongnyu si kepala banteng.
"Aku akan melakukan adu domba saat pertemuan lima kaisar, jadi mengadu domba tiga kaisar sendiri akan sangat mudah memicu pertempuran. Saat ini, kita hanya perlu melatih para pasukan kita untuk ikut campur dalam peperangan itu nantinya."
Mengadu domba dua negara yang sebelumnya memiliki konflik yang belum selesai dalam bertahun-tahun, sehingga Akram begitu puas dalam rencana untuk mendapatkan Ice sword.
Tetapi Akram juga sempat berpikir, kemungkinan besar dua negara tersebut yaitu Air dan juga Angin tidak memiliki Ice sword.
__ADS_1
#tetap semangat dan jangan lupa bernapas