
“Ughh.” Zeno baru saja membentur permukaan tanah yang berada di gunung Apiluc. Wajahnya terlihat sedang menahan rasa sakit, namun tidak menghilangkan senyuman di wajahnya.
Punggungnya mungkin akan remuk apabila dia tidak melapisi dengan elemen es. Dia sudah tahu, bahwa ledakan cahaya tersebut sangat mengerikan, bahkan bisa menembakkan dirinya ke depan dengan sangat jauh, lebih tepatnya di lereng gunung Apiluc. Untungnya, bersamaan dengan ledakan tersebut, dia memang melepaskan Turse, tapi dia juga mengeluarkan Skarlos dengan tempurungnya yang sangat keras, sehingga berhasil menjadi tameng baginya.
“Tuan, Anda tidak apa-apa?” Tanya Skarlos yang berdiri dan menghampiri Zeno.
“Apanya? Seharusnya aku yang bertanya kepada dirimu, apakah kau baik-baik saja? Bagaimana dengan tempurungmu?” Tanya Zeno kembali, dia benar-benar sangat prihatin dengan Skarlos.
“Tidak masalah tuan, tempurungku sangat keras, bahkan elemen cahaya seperti itu tadi tidak akan berhasil memecah tempurungku.” Jawab Skarlos dengan begitu santai.
Sebenarnya tidak masalah bagi Skarlos untuk melindungi Zeno, bahkan sampai tempurungnya pecah sekalipun. Apa yang paling penting, tuannya, yaitu Zeno harus benar-benar selamat. Maka dari itu, Skarlos ada memang digunakan sebagai tameng tuannya, baik itu dewi Luna ataupun Zeno yang menjadi tuannya sekarang.
“Baguslah, sekarang kau bisa masuk! Sepertinya orang itu tadi tahu bahwa aku masih hidup.” Kata Zeno sambil kembali memasang kuda-kuda serta mengangkat Ice Swordnya. Dia tahu jelas, bahwa orang yang menyerangnya saat ini menuju ke sini, bagaimana tidak? Zeno tahu, bahwa orang itu pasti akan sangat merasa bodoh karena justru melemparkannya ke gunung Apiluc.
Skarlos mengangguk dan masuk kembali ke dalam tubuh Zeno, bagaimanapun, dia tidak ingin mengganggu pertarungan tuannya tanpa seizin tuannya. Itu berlaku kepada seluruh beast yang ada di tubuh Zeno.
Melihat setitik cahaya yang akan datang, Zeno mengulurkan salah satu tangannya, dia tahu, sepertinya cahaya tersebut bukan elemen, melainkan orang tadi yang menyerang Zeno. Dia yang tersadar akan hal tersebut, menghela napas dan mengalirkan Orka menuju tangannya.
__ADS_1
“Angin: sayatan angin tahap ke empat, Heftiga Windblatt.”
Pohon-pohon yang ada di belakang Zeno seketika bergoyang hebat ke arah barat, angin berembus kencang dengan melewati Zeno. Bahkan, debu-debu di pegunungan berterbangan membuat pandangan Zeno sedikit buram, tapi Zeno masih melihat setitik cahaya yang akan datang kepada dirinya tersebut.
Tapi sangat di sayangkan, cahaya tersebut bergerak ke kanan ke kiri dengan begitu cepat, seolah menghindari teknik milik Zeno. Hal itu, tidak membuat Zeno menjadi habis pikir, karena apa yang dia lakukan setelah melihat hal tersebut adalah, mengeluarkan tebasan tak terlihat miliknya, siapa tahu cahaya tersebut tidak menyadari teknik milik Zeno.
Namun siapa yang menyangka, dengan begitu cepat cahaya tersebut sudah menghantam tanah yang ada di hadapan Zeno, untungngya Zeno berhasil melompat ke belakang, tapi masih sempat untuk menegaskan pedangnya untuk mengeluarkan tebasan tak terlihat, dia tidak tahu, apakah teknik yang baru saja dia keluarkan berefek kepada orang tersebut?
Seperti apa yang dipikirkan Zeno, orang tersebut merupakan cahaya yang melesat ke arah dirinya, sekaligus yang menyerang dirinya pada awal-awal tadi. Dia berdiri dengan pedang patah yang dia hadapkan dengan Vertikal. Apa yang terjadi pada orang tersebut hannyalah membuka mulutnya secara lebar karena tidak mempercayai mengenai pedangnya yang sudah menyisakan separuh, serta sisanya jatuh di atas tanah.
“Untung saja, teknik ku tadi tidak berhasil membelahmu menjadi dua. Kau benar-benar harus bersyukur karena mempunyai pedang yang sebelumnya kau niatkan untuk menyerangku, tapi ternyata justru menjadi sebuah tameng .” Kata Zeno yang mengubah wajahnya menjadi tidak berekspresi sama sekali.
“Bagaimana kau bisa hidup?” Jenderal Tamichi, yang merupakan seseorang yang diutus kaisar Lexus untuk memimpin pasukan guna merebut bunga teratai dari kelompok kriminal. Namun siapa yang menyangka, dia yang mengira bahwa Zeno merupakan mata-mata dari kelompok kriminal ingin membereskan Zeno itu sendiri.
“Jangan tanya hal itu, kini kita sudah berada di permukaan tanah, jadi aku lebih leluasa lagi untuk bertarung.”
“Teknik berpedang, aliran petir, gerakan Kilat!” Zeno bergerak secepat kilat untuk menyerang itu secara langsung, daripada orang itu lah yang menyerang Zeno terlebih dahulu. Karena mungkin jika itu terjadi, maka Zeno akan sangat kerepotan.
__ADS_1
Tidak ingin kalah, jenderal Tamichi juga bergerak dengan begitu cepat untuk menghindari Zeno. Tapi siapa yang menyangka, Zeno menjadikan objek di sekitar seperti pohon dan batu untuk menjadikan sebuah pijakan seakan memantulkan diri. Hal itu membuat jenderal Tamichi kebingungan untuk menghindar dan melihat pergerakan Zeno, padahal jika dipikir-pikir, kecepatan Tamiichi jauh melebih Zeno.
“Teknik berpedang, aliran air, aliran pemurnian!”
Seketika Tamicihi yang bergerak secepat kilat merasakan bahwa permukaan tanah seakan banjir dan membasahi kakinya. Dia merasa itu cukup aneh, memangnya ada apa dengan air di sini? Apakah gunung akan terjadi banjir? Itulah yang dipikirkan oleh Tamichi, tapi dia merasa bahwa gerakan secepat cahayanya menjadi tidak berguna dan berubah menjadi pergerakan biasa. Dia juga merasa, bahwa dia seperti tidak memiliki elemen sama sekali.
“Kau kalah!” Zeno tiba-tiba sudah berada di hadapan Tamichi dan hendak mengayunkan pedangnya secara vertikal. “Roda air!” hal itu membuat Ice Sword yang di ayunkan secara vertikal memunculkan sebuah roda yang berputar ke atas bawah dan akan menyerang Tamichi.
“Sialan!” Tamichi menggeratkan giginya, dia merasa bahwa tidak ada elemen yang keluar dari tubuhnya untuk melindungi diri. Berpikir cepat, apa yang akan dia lakukan? Dalam keadaan terdesak seperti ini membuatnya kesulitan untuk mengontrol napasnya yang terengah-engah karena kelelahan berpikir.
Tiba-tiba, sesosok ular muncul di hadapan hadapan Tamichi dan berputar yang mana dia menyerang Zeno dari arah samping.
Untungnya Zeno segera menyadari dan langsung melompat ke samping pula. Benar-benar sangat disayangkan bahwa roda air miliknya tidak berhasil mengenai Tamichi.
Seketika aliran air yang ada di permukaan tanah menghilang secara tiba-tiba, Tamichi menghela napas lega karena hidupnya benar-benar terselamatkan setelah berhasil mengeluarkan beast ular. Selain itu, dia juga kembali terkejut saat elemennya kembali muncul di dalam dirinya.
“Aliran pemurnian tidak bisa menahan beast yang keluar?” Zeno berpikir sejenak, sepertinya teknik yang dia ciptakan di saat dirinya baru pulang dari benua Artrik tidak berlaku kepada seseorang yang hendak mengeluarkan beast. Hal itu membuat pelajaran baginya, bahwasanya dia ingin meningkatkan aliran pemurnian agar sang musuh yang terkena aliran tersebut tidak hanya tidak bisa mengeluarkan elemen, melainkan juga mengeluarkan beast.
__ADS_1
“Orang kriminal sepertimu tidak akan mempunyai beast sama seperti orang yang berpangkat jenderal sepertiku.” Kata Tamichi begitu sombong setelah mengeluarkan beast ularnya.