Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Menjadi buronan


__ADS_3

"Hei, apa yang kau lakukan?" Teriak bawahan sang raja kota dengan sangat keras.


Zeno tidak memperdulikannya, dia justru menekan lebih dalam lagi pedang yang menusuk anak raja kota itu, hingga membuatnya memuntahkan seteguk darah. 


"Dasar kau keparat, akan ku laporkan kau pada raja kota." Ucap bawahan anak raja kota, dia lantas mengepalkan tangannya dan memukul kepala Zeno.


Tetapi Zeno menangkisnya dan memukul perut bawahan anak raja kota tersebut. Bawahan anak raja kota terlempar cukup jauh hingga tersungkur di atas tanah, memegangi pinggangnya karena begitu sakit saat tersungkur di atas tanah.


Zeno menarik pedang yang tertancap di perut anak raja kota, melemparkan ke arah bawahan anak raja kota tersebut dengan wajah yang begitu dingin. "Itu pedangmu bukan? Jadi artinya kau yang membunuh si sialan ini." 


Sebuah kejadian, yang membuat orang-orang melihat dari jauh, kini semuanya mendekat dan melihat anak raja kota yang terbaring lemas dengan luka cukup fatal di perutnya.


"Apa yang kau lakukan? Kau telah melukai anak sang raja kota."


"Akan kami laporkan kau kepada raja kota."


Sebuah kecaman dilemparkan kepada Zeno, Zeno hanya mengabaikannya, dia hanya berbalik arah dan menunggangi kuda dan langsung pergi meninggalkan kejadian itu tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Namun sebelum dia pergi, dia hanya meninggalkan beberapa kata yang membuat orang-orang mengerutkan dahinya dan begitu kesal dengan tingkah Zeno, walaupun mereka sendiri juga tidak tahu Zeno itu siapa.


"Kalian ingin melaporkan? Laporkan saja! Aku tidak takut. Sekiranya ingin mencari ku, aku berada di wilayah tengah, kalau kalian ingin mengetahui namaku, namaku adalah Zen." Teriak Zeno yang kemudian bergegas pergi meninggalkan kerumunan.


"Dasar kau pengecut!" Teriak bawahan anak raja kota.


Zeno pergi dengan perasaan tidak peduli sedikitpun. Sebelumnya, Zeno bisa saja pergi dan memaafkan anak raja kota tersebut yang bertindak semena-mena terhadap dirinya, tetapi saat anak raja kota itu mengatakan hal yang tidak-tidak kepada ibu Zeno, membuat Zeno benar-benar begitu kesal.


****


“Apa?” Sang raja kota berteriak dengan begitu kaget, sampai membuatnya menjatuhkan segelas air yang baru saja ia akan minum. “Tidak bisa dibiarkan, cari anak yang bernama Zen itu di wilayah tengah.” Ucapnya dengan menginjak gelas yang baru saja ia jatuhkan.

__ADS_1


Raja kota memang terlihat begitu marah, wajahnya bakan sampai berapi-api saat mendengar berita dari bawahan atau pengawal khusus anaknya itu. Ditambah, sang bawahan juga tidak menyuguhkan cerita yang sebenarnya, dia hanya menambah-nambahkan cerita seakan-akan Zeno lah yang salah pada cerita bawahan anak raja kota tersebut.


“Baiklah yang mulia.” Kata bawahan tersebut, kemudian beranjak pergi meninggalkan singgasana sang raja.


Kini anak raja kota hanya terbaring tak berdaya di atas kamarnya, para tabib berusaha memperbaiki luka dalam yang ada di perutnya itu. Tetapi para tabib tidak memiliki harapan lagi, luka yang merusak organ dalam anak raja kota itu membuatnya kehilangan nyawa.


Raja kota yang baru datang hanya memukul-mukul tembok yang ada di depannya, rasa amarah dan dendamnya memuncak. Dia benar-benar berharap bahwa anak yang bernama Zen itu ditemukan. 


Tetapi sepertinya Raja kota sangatlah bodoh, dia hanya mendengar omong kosong dari bawahan anaknya dengan fakta yang sebaliknya. Hal penyesalan yang mungkin akan terjadi adalah, raja kota dan bawahan anaknya hanya menyesal, berlutut serta meminta maaf kepada Zeno, setelah mengetahui siapa itu Zeno sebenarnya.


 ****


Zeno sampai menuju wilayah tengah, keberadaannya dengan kekaisaran negeri angin juga sangatlah dekat, tetapi dia memutuskan untuk pergi menuju kedai terlebih dahulu untuk mengisi perutnya yang sedari tadi terus-menerus berbunyi.


Sebenarnya dia bisa saja menuju ke istana kekaisaran terlebih dahulu untuk menumpang makan. Tetapi tujuan Zeno menuju istana kekaisaran adalah meminta izin kepada kakeknya, bukan untuk makan.


"Aku dengar anak raja kota sebelah baru saja meninggal, dan pelaku pembunuhannya adalah seseorang bernama Zen, dia kabur menuju wilayah ini." Kata salah satu orang yang mengobrol dengan temannya, mereka berdua tepat masuk ke dalam sebuah kedai yang Zeno tempati.


"Zen? Maksudmu cucu dari dua kaisar yaitu Fang Zeno? Sepertinya anak raja kota sebelah tidak mengenal yang mulia pangeran dan memperlakukannya tidak baik, sehingga pangeran begitu marah."


"Begitukah? Kurasa itu tidak, pelaku pembunuhan bernama Zen, dan bukan pangeran Fang Zeno. Bagaimana pemikiranmu bisa sampai kesitu?"


"Entahlah."


Setelah cukup untuk mendengarkan pembicaraan orang-orang dalam kedai tersebut, Zeno akhirnya pergi meninggalkan kedai itu. 


Zeno menuntun kudanya, berjalan perlahan-lahan sambil menikmati kembali aliran angin. Istana kekaisaran juga sudah nampak menjulang tinggi dari Zeno berdiri, jadi dia tidak perlu untuk menunggangi kudanya kembali. 


Lagipula Zeno juga tidak terburu-buru untuk pergi setelah menuju kekaisaran, karena kepergiannya akan ia lanjutkan besok pagi, keadaan matahari juga sudah tenggelam, bintang sudah menampakkan dirinya, membuat Zeno memutuskan untuk tinggal satu malam di kekaisaran.

__ADS_1


"Berhenti, itulah pemuda yang bernama Zen." Teriak salah satu orang dengan membawa beberapa prajurit dibelakangnya.


Zeno sudah terkepung sekarang, dengan beberapa tombak yang dijulurkan kepadanya, membuatnya tidak bisa untuk kemanapun. Tetapi Zeno nampak tenang dan tidak panik sedikitpun, dia hanya nampak mengerutkan dahinya karena kedatangan sebuah tamu yang datang secara tiba-tiba.


"Serahkan dirimu nak, kau sudah menjadi incaran raja kota kami." Kata orang tersebut yang tidak lain adalah bawahan anak raja kota yang telah dibunuh Zeno.


Zeno hanya tersenyum sambil berkata, "Kalian terlalu bersemangat untuk mencari ku sampai di kota ini yang jauh dari kota kalian." 


"Kau sudah menjadi buronan di kota Bulu Merak, kota dimana kau membunuh tuan muda. Jadi menyerahlah, atau kami yang akan membuatmu benar-benar menyerah." 


"Angin: sayatan serib……." 


"Ada apa ini?" Kata perempuan cantik yang turun dari sebuah kereta kuda dengan begitu anggun. Bau semerbak harum melekat pada hidung Zeno, yang membuatnya begitu nyaman dan membatalkan mengeluarkan sebuah tekniknya. 


"Salam kami kepada tuan putri, nona Lyana." Kata seluruh prajurit yang membungkuk menghadap ke arah Lyana.


"Hey, kau pemuda sialan, kenapa kau tidak memberi hormat kepada tuan putri?" Kata salah satu prajurit dengan wajah begitu kesal saat melihat Zeno yang sangat tidak sopan ketika di hadapan Lyana.


"Aku? Membungkuk? Memangnya dia siapa?" Tanya Zeno bercanda.


Salah satu prajurit menggertakkan giginya


"Apakah ibumu tidak mengajarkan sopan santun?" Katanya dengan begitu kesal. "Tidak perlu marah tuan putri, kami akan mengurusnya, lagi pula dia menjadi buronan di kota kami.'


"Buronan? Memangnya dia memiliki masalah apa?" Tanya Lyana mengerutkan dahinya.


"Dia membunuh tuan muda di kota kami." Ucap salah satu prajurit.


Lyana kemudian melangkahkan kakinya ke depan, beberapa prajurit dengan senang hati membukakan jalannya untuk sang tuan putri itu. 

__ADS_1


Bawahan anak raja kota bergumam dengan begitu bahagia saat Lyana berjalan dengan wajah yang begitu menyeramkan ke arah Zeno. "Sepertinya tuan putri sendiri yang menyelesaikan masalah ini, kau pemuda yang bernama Zen, sepertinya nasibmu akan berakhir sampai disini saja."


__ADS_2