
Keesokan harinya, Tetua pertama, yaitu Fang Rosh dimakamkan, secara layak di makam keluarga kekaisaran. Walaupun telah di cap sebagai pengkhianat, tetapi setidaknya, Rosh juga merupakan salah satu anggota kekaisaran juga. Sehingga, menaruh hormat kepadanya juga suatu hal yang terpenting.
Mungkin hanya beberapa yang menangisi kepergian Fang Rosh, bahkan Fang Yoshi juga terlihat meneteskan air matanya. Berbeda jauh dari cucu-cucu Fang Yoshi yang tampak biasa saja saat menanggapi kematian Rosh
Kematian Fang Rosh, menjadi butir-butir sebuah amanat bagi seluruh kekaisaran, bahwa pelaku pengkhianat harus di bunuh, Tak terkecuali itu juga merupakan salah satu keluarga kekaisaran sendiri.
Walaupun Fang Rosh di cap sebagai pengkhianat tidak berada di jalur pengadilan kekaisaran. Tetapi Zeno telah membunuhnya langsung, lagipula Fang Rosh sudah tertangkap basah telah melakukan pengkhianatan. Jadi, Fang Rosh tidak perlu lagi menuju jalur hukum.
Hal itu justru membuat Zeno merasa bersalah, tugas membunuh pengkhianat seharusnya bukan ia pegang saat itu. Tetapi apalah daya, itu hanya ketidak sengajaan saat melawan Rosh yang memberontak. Itu merupakan kesalahan Fang Rosh yang tidak menyerahkan diri dan memilih untuk keras kepala.
Usai upacara pemakaman, Zeno masuk ke dalam ruang kekaisaran dengan dihantui rasa bersalah. Dirinya kemudian menuju ruang pertemuan dan langsung menghadap kaisar yang sedang menduduki tahta, dengan dikelilingi oleh orang-orang penting yang sepertinya akan membicarakan sesuatu.
Tetapi, Zeno datang bukan untuk mengikuti musyawarah, apa yang ia lakukan adalah datang dengan membungkuk secara tiba-tiba di hadapan seorang kaisar atau kakaknya sendiri. Dengan memejamkan matanya, dengan hati yang penuh kesalahan, ia mengatakan. “Hukumlah aku, bagaimanapun seorang pembunuh yang membunuh keluarganya sendiri terutama kekaisaran harus diberi hukuman yang setimpal.”
Seketika wajah semua orang itu menjadi kaget, tak terkecuali Fang Tan sebagai kaisar yang ada di hadapan Zeno. Bahkan ibunya saja langsung berdiri dan memasang wajah yang tak biasa, “Zeno apa yang kau katakan!”
“Apakah kau merasa bersalah? Apa yang kau lakukan semuanya itu adalah hal yang benar, membunuh langsung seorang pengkhianat yang tertangkap basah sedang berkhianat. Itu justru mempermudah sesi hukuman bukan?” Jawab Fang Tan.
“Lagi pula ini bukan kesalahanmu, bukankah itu tidak kesengajaan?” Sambungnya sambil berusaha menenangkan hati Zeno.
Menyikapi hal itu, Fang Yoshi langsung berdiri dan mengeluarkan kata-katanya, “Kau harus dihukum.”
__ADS_1
Semua orang yang berada di ruangan itu kembali terkejut, bahkan rasa terkejutnya dua kali lipat daripada mereka mendengar apa yang Zeno ucapkan. Terkecuali Zeno, justru ia menunduk sambil tersenyum saat tahu bahwa rasa bersalahnya terbalaskan. Setidaknya keadilan masih berada di dalam keluarganya.
“Ayah apa yang kau katakan?”
“Kakek, kau tidak bercanda kan?”
Satu persatu orang menanyakan hal itu secara berulang kali, mereka berharap bahwa apa yang di dengar merupakan kesalahan, setidaknya Fang Yoshi lah yang salah bicara. Tapi terlihat dari raut wajah Fang Yoshi, menunjukkan bahwa ia benar-benar serius dan tidak bercanda. Apalagi Fang Yoshi juga terlihat sangat kesal setelah larut dalam kesedihan. Hal itu menandakan bahwa dia tidak rela untuk ditinggal pergi Rosh.
Memang benar, bahwa ia yang menyuruh Zeno untuk membiarkan Rosh yang tengah sekarat hingga akhirnya meninggal, tetapi rasanya entah kenapa sedikit menyesal dan tidak rela saat berada di pemakaman, walau peran Rosh sebagai pengkhianat.
“Aku bersedia menerima apapun hukumannya, kakek.” Kata Zeno dengan senang hati.
Fang Yoshi tidak menanggapi apa yang Fang Tan katakan, justru dia menatap serius Zeno yang sedang menunduk bersiap menanggung apa pun hukumannya. Dengan tarikan napas yang panjang, ia mengatakan, “Aku menghukummu untuk tidak pulang sebelum membawa ayahmu kembali.” Katanya dengan tersenyum manis ke arah Zeno.
Semua orang menghela napas lega setelah mendengar pernyataan yang tidak di sangka-sangka dari Fang Yoshi. Bahkan jantung Arina berdebar sangat kencang saat menunggu keputusan dari ayah mertuanya, mungkin kemungkinan terburuk yang Arina alami hanyalah pingsan.
Bahkan Zeno tersenyum lega saat mendapat hukuman seperti itu, setidaknya dengan tugas membawa pulang ayahnya dapat menghapus kesalahan yang ia perbuat. Dengan hal seperti itu, rasa bersalah yang akan menghantuinya telah sirna.
Ditambah tugas tersebut merupakan janjinya kepada ibunya yang belum ia tepati, membawa pulang ayahnya agar sang ibu tidak merasa sedih belum ia turuti sama sekali, karena beberapa kendala dan konflik yang akhirnya telah diselesaikan.
Apa yang Fang Yoshi putuskan, lebih tepatnya bukan sebuah hukuman, terlihat sangat jelas bahwa hal tersebut merupakan suatu permohonan yang sungguh-sungguh. Mungkin karena lima belas tahun lamanya tidak bertemu. Lagipula, mana mungkin Fang Yoshi menghukum cucunya dengan hukuman berat.
__ADS_1
“Aku sarankan jika kau ingin kembali membawa pulang ayahmu, maka pergilah ke benua Artik. Sebenarnya dulu aku ingin mengatakan hal itu, tetapi karena kau ingin berpetualang, aku tidak mengakuinya.” Ucapnya.
“Baiklah aku mengerti, kali ini aku akan memfokuskan tujuanku untuk mencari ayah.”
“Tapi ketahuilah Zeno, ibumu ini memberimu satu kesempatan, jika bahaya mengancam mu sekali lagi. Maka di kemudian hari aku tidak akan mengizinkanmu.” Kata Arina begitu lantang, karena dia tidak ingin Zeno mengalami bahaya yang besar, walaupun ia tahu bahwa Zeno lah yang paling berjasa dalam kemaslahatan benua kala itu.
Zeno berdiri dari membungkuknya, menatap ibunya dengan senyuman yang cerah di wajahnya, menandakan ia sedang meyakinkan ibunya bahwa dirinya akan baik-baik saja.
Terlebih bahwa perjalanan kali ini merupakan satu tujuan, bukan untuk berpetualang atau yang lainnya. Meskipun sepertinya perjalanan ini juga memiliki unsur berpetualang.
“Baiklah, kau bisa berangkat besok.” Ucap kakeknya sembari pergi dari ruang pertemuan.
Zeno mengangguk i apa yang kakeknya ucapkan, rasanya dia akan meninggalkan keluarga ini dalam jangka waktu yang lama, setidaknya sampai ayahnya kembali. Tentu itu bukanlah hal yang mudah, terlebih dirinya akan menuju benua yang sangat jauh dari benua ini yaitu benua es atau Artik.
Yang pasti perjalanan itu membutuhkan waktu yang sangat lama, apalagi menuju benua Artik membutuhkan sebuah pelayaran yang tentu saja memakan waktu yang banyak.
Zeno tidak berencana untuk menunggangi Kiba, bagaimanapun perjalanan ini sangatlah jauh, sehingga dirinya masih memiliki rasa kasihan kepada Kiba.
Setidaknya dia membutuhkan Kiba hanya untuk menuju pelabuhan, selebihnya dirinya benar-benar membutuhkan transportasi laut. Penyebabnya mungkin Zeno merasa kasihan kepada Kiba, tetapi sebenarnya Zeno juga ingin merasakan sensasi naik kapal.
“Benua Artik, benua dengan daratan yang dipenuhi es. Sepertinya itu merupakan tempat yang cocok dengan Ice Sword, maka dari itu aku akan membawanya.” Gumamnya sambil meminta izin dan pergi dari ruang pertemuan. Bagaimanapun, dirinya membutuhkan perlengkapan yang sangat matang untuk pergi ke sana.
__ADS_1