Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Usaha Mencari Sara


__ADS_3

Selang sepekan berlalu, di akhir pekan Belva berniat untuk mencari keberadaan Sara. Pria itu tampak berpikir harus mencari darimana, sebab Jakarta saja begitu luas.


“Kita harus mencari Sara dimulai dari mana Anin? Jakarta ini saja begitu luas dan padat,” tanya Belva kepada istrinya itu.


Anin lantas pergi sejenak, dia ingin melihat box yang dia terima dari Sara. Mungkin saja dari box itu terdapat alamat Sara. Sehingga tidak perlu mencari jauh-jauh, cukup mendatangi alamat pengiriman dari box ASIP itu.


Belva pun mengekori istrinya itu. “Kenapa Anin?” tanyanya.


“Aku pikir akan ada alamat Sara di sini, dari box ASIP yang dia kirimkan. Rupanya tidak ada. Hanya tertera nama pengirimannya saja, dan tidak ada alamat serta nomor teleponnya,” balas Anin.


Berbicara mengenai nomor telepon barulah keduanya sadar bahwa sejak Sara pergi hingga hari ini, Sara tidak pernah menelpon atau mengirimkan pesan baik kepada Anin dan juga kepada Belva. Wanita itu seakan pergi tanpa meninggalkan jejak.


“Apa Sara tidak menghubungi atau berkirim pesan padamu?” tanya Belva.


“Tidak. Sama sekali tidak ada pesan dan telepon dari Sara,” balas Anin.


Anin lantas mengambil handphonenya dan memulai mencoba melakukan panggilan kepada Sara.


Sara


Memanggil


Tutt … Tutt … Tutt …


Nomor yang sedang Anda hubungi tidak terdaftar.


Suara dari operator yang menyatakan bahwa nomor milik Sara sudah tidak terdaftar.


“Nomornya sudah tidak terdaftar,” ucap Anin lagi.


“Tidak apa-apa, aku akan coba mendatangi tempat pengiriman ini dan bertanya alamat pengirimnya. Walaupun susah, aku akan coba terlebih dahulu,” balas Belva.

__ADS_1


Setelahnya Belva pergi dengan membawa box itu, dan dia berniat mendatangi kantor cabang alamat pengiriman itu dan berniat bertanya alamat pengiriman dari Sara. Belva mengamati di resi yang sekarang dia pegang, bahwa box ASIP itu dikirimkan pada pagi hari, hanya selang beberapa saja box ASIP itu sudah diterima Anin. Itu berarti Belva bisa mengambil kesimpulan bahwa Sara tidak jauh dari Jakarta. Mungkin saja, Sara berada di beberapa kota yang berada di sekitar Jakarta.


Dengan melajukan mobilnya, Belva kemudian mendatangi kantor cabang perusahaan pengiriman barang itu. Berharap kali ini, Belva bisa menemukan titik keberadaan Sara.


“Selamat siang,” sapa Belva ketika memasuki kantor pengiriman itu.


“Ya, selamat siang Pak … ada yang bisa dibantu?” tanya seorang pekerja di kantor itu.


“Begini, saya beberapa hari menerima paket. Namun, tidak ada keterangan lengkap tentang pengirimnya. Hanya terdapat nama saja, tanpa alamat dan nomor telepon. Bisakah saya mendapatkan informasi dari pengirim barang tersebut?” tanya Belva.


Petugas pun menerima resi penerimaan dari tangan Belva dan melihat benarkah bahwa pengirim hanya mencantumkan namanya saja, tanpa alamat dan nomor telepon. Melihat itu, petugas pun mengernyitkan keningnya.


“Biasanya ada customer yang hanya mencantumkan nama dan nomor telepon. Alamat memang jarang dicantumkan langsung. Apalagi jika dari online shop, mereka hanya menuliskan alamat singkat misalnya toko A di Jakarta, begitu saja. Namun, kenapa ini hanya tertera namanya saja?” Petugas pengiriman itu pun bertanya-tanya.


“Iya benar … saya ingin mendapatkan informasi siapa pengirimnya, apakah bisa?” tanya Belva.


Akan tetapi, si petugas dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Maaf. Tidak bisa Pak, sebab kamu harus menjaga data dan informasi dari seluruh customer kami. Maaf, kami tidak bisa membantu.”


“Baiklah, terima kasih,” sahut Belva.


Setibanya di kost, Belva segera keluar dari mobilnya dan menengok ke kanan dan ke kiri, mencari tahu pemilik kostnya. Sapa tahu, Sara kembali mengekost di tempat itu.


“Permisi, dengan pemilik kost?” tanya Belva.


“Ya, saya sendiri. Ada apa Pak? Maaf, jika mau mencari tempat kost, semuanya sudah penuh,” balas pemilik kost itu.


Dengan cepat Belva pun menggelengkan kepalanya karena dia tidak ingin mengekost di tempat itu. Tujuannya datang adalah untuk mencari Sara.


“Bukan, saya tidak ingin kost di sini. Hanya saja, saya ingin bertanya apakah ada wanita yang kost di sini bernama Sara?” tanya Belva.


“Oh … Mbak Sara. Dulu Pak … dulu dia kost di sini. Kurang lebih sudah satu tahun, setelahnya Mbak Sara pergi dan tidak kembali ke sini lagi,” jawab pemilik kost tersebut.

__ADS_1


Belva pun menghela nafasnya, jika sudah satu tahun berarti itu adalah awal kesepakatan dan pernikahannya dengan Sara. Memang sudah berjalan satu tahun lamanya.


“Jadi, apakah Sara tidak kost di sini?” tanya Belva.


“Tidak Pak,” sahut pemilik kost.


Usai itu Belva mengeluarkan kartu nama dari sakunya dan menyerahkannya kepada pemilik kost.


“Jika nanti Sara kembali dan kost lagi di sini, tolong hubungi saya,” ucap Belva.


“Baik-baik Pak,” jawab pemilik kost tersebut.


Lagi-lagi usahanya mencari Sara hasilnya nihil. Mereka tidak bisa menemukan keberadaan Sara. Sehingga Belva memikirkan satu tempat sekarang ini, Belva akan mencoba mendatanginya.


Ya, bar tempat Sara bekerja dulu. Belva akan mencoba mendatangi bar tersebut. Menempuh perjalanan lebih dari setengah jam, barulah Belva tiba di bar tersebut.


“Selamat sore,” sapa Belva begitu memasuki bar tersebut.


“Sore, bisa dibantu Pak?” tanya seorang pegawai di bar itu.


“Saya datang ingin mencari Sara Valeria, mungkinkah dia masih bekerja di sini?” tanya Belva.


Mendengar ada pria datang dan mencari pegawai di bar tersebut, pemilik bar yang sedang berada di situ pun mendatangi Belva.


“Maaf, Anda mencari Sara?” tanyanya.


“Iya, saya datang untuk mencari Sara Valeria. Mungkinkah dalam beberapa minggu terakhir dia datang kemari?” tanya Belva.


Rupanya si pemilik bar pun menggelengkan kepalanya, “Tidak … Sara sudah keluar dari bar ini kurang lebih satu tahun yang lalu. Usai pertikaian seorang pria yang membawa dan menolongnya saat itu dari Anthony. Sejak saat itu, Sara memutuskan keluar dari bar ini dan tidak pernah kemari lagi. Mungkin sudah satu tahun lamanya,” jawab pemilik bar.


Lagi-lagi Belva menghela nafas panjang, dia segera keluar dari bar itu. Rasanya aneh, dulu ketika suntuk dan melepas penat, Belva memilih mendatangi bar itu, sekadar menenggak minuman keras untuk melepaskan penatnya. Usai bertemu Sara, sudah satu tahun juga berlalu dan Belva tidak pernah lagi menyambangi tempat itu. Belva kembali memasuki mobilnya dengan perasaan resah, di mana lagi dia harus mencari Sara.

__ADS_1


“Sebenarnya kamu berada di mana Sara? Apa memang kamu berniat untuk sembunyi dariku?” gumam Belva dengan lirih. Pria itu menyandarkan keningnya di stir kemudi dan berpikir ke mana lagi dia harus menemukan Sara.


Mungkinkah masih ada kesempatan baginya untuk menemukan Sara dan akan mengembalikan segala sesuatunya seperti sedia kala?


__ADS_2