
Siang itu, Anin dan Sara tampak tengah mengobrol bersama di sebuah taman yang berada di belakang kediaman Belva. Melihat taman yang cukup besar, tetapi tidak ada tanaman atau bunga di sana, rasanya Sara menamami area tanah itu dengan beberapa bunga. Rasanya pasti akan menyenangkan bisa menanam beberapa bunga di taman itu.
"Kak, boleh enggak kalau aku menanam beberapa bunga di taman ini?" tanya Sara kepada Anin.
"Boleh, memangnya bunga apa yang ingin kamu tanam?" tanya Anin.
Sara tampak berpikir, kemudian dia teringat dengan beberapa jenis tanaman yang bisa tumbuh dengan mudah, "Mungkin bunga Kencana Ungu. Bunga itu bisa tumbuh dengan sendirinya dan tidak membutuhkan banyak air," jawabnya.
Anin kemudian tersenyum, "Kalau kamu mau, kamu bisa menanam apa pun yang kamu mau di sini. Nanti biar Bi Wati yang menyiraminya," sahut Anin.
"Perlu izin Pak Belva dulu enggak Kak?" tanya Sara lagi.
Anin kemudian mengangguk, "Iyalah, ini kan rumahnya. Kamu berani minta izin padanya?" tanya Anin kepada Sara.
Tampak Sara menggigit bibir bagian dalamnya, tetapi beberapa saat kemudian Sara mengangguk, "Aku akan mencoba untuk minta izin pada Pak Belva dan sekaligus membeli media tanaman nanti," sahutnya kali ini.
Melihat Sara yang rupanya berani mencoba dan tidak takut dengan Belva, Anin mulai memikirkan dirinya. Ya, dirinya adalah pribadi yang bertolak belakang dengan Sara. Anin adalah pribadi yang tidak berani mencoba hal baru, menyukai rutinitas, bahkan dia enggan untuk meminta izin kepada seseorang. Anin lebih menyukai berada di dalam zona nyaman.
"Sara, apa kamu tidak takut sama Belva? Bukankah dia pria yang dingin?" tanya Anin kali ini.
Sebelum menjawab, Sara tampak menghela nafasnya perlahan kemudian dia menatap Anin, "Aku tidak takut, Kak ... tetapi, aku menaruh hormat padanya," jawab Sara dengan lirih.
Pada kenyataannya memang Sara tidak merasa harus takut dengan Belva. Terlebih beberapa bulan belakangan hubungan Sara dengan Belva justru lebih mencair. Hanya saja bagaimana dengan perasaan keduanya, sama-sama tidak terucap. Bahkan Belva pun juga tidak menggumuli Sara. Beberapa kali pria itu hanya memeluk dan menciumnya saja, tetapi tidak hanya menggumulinya. Untuk tekad dan keteguhan Belva itulah, Sara menghormati Belva.
Anin yang mendengarkan ucapan Sara kemudian bertanya-tanya, "Kenapa bisa begitu?" tanyanya perlahan.
Sara kemudian tersenyum samar, "Ada rasa menghormati saja di antara kami berdua," balas Sara pada akhirnya.
__ADS_1
Tidak mungkin Sara menjelaskan semuanya dengan gamblang dan detail kepada Anin. Yang perlu Anin ketahui bahwa ada rasa hormat dari Sara untuk Belva.
Anin kemudian mengangguk perlahan, kemudian wanita itu kembali bersuara, "Sara, bolehkah aku memegang perutmu?" tanyanya kini.
Jujur saja beberapa hari ini, Anin memikirkan apakah dirinya akan berani melawan ketakutannya. Membayangkan menyentuh perut Sara yang besar saja terasa mengerikan. Bahkan wanita itu berkeringat dingin, tetapi dorongan hatinya memintanya untuk berani menghadapi ketakutannya sendiri.
Memahami pertanyaan Anin, Sara lantas teringat dengan advice yang diberikan oleh Dokter Astrid. Maka dari itu, Sara pun mengangguk, "Boleh Kak, silakan," jawabnya.
Tangan Anin terasa bergetar. Terkadang ada rasa enggan dan takut, kemudian Sara menggenggam tangan Anin perlahan dan menaruhnya di atas perutnya yang sudah besar itu. Nyatanya saat tangan Anin berada di atas perut Sara, wanita itu tiba-tiba menangis.
Hiksss.
"Aku tidak menyangka, aku berani memegang perutmu, Sara," ucapnya dengan terisak.
Sara kemudian mengulas senyuman di wajahnya, "Milikilah sedikit keberanian, Kak. Andai kamu mau mencoba, Tokophobia itu akan sembuh," ucap Sara.
Satu-satunya cara untuk menghadapi ketakutan kita adalah berani menghadapinya. Andai saja Anin memiliki sedikit keberanian, tidak perlu wanita itu berlarut-larut mengidap Tokophobia selama bertahun-tahun lamanya.
Ya, Anin terlalu takut bahwa hamil itu menyakitkan, melahirkan itu penuh penderitaan, padahal ada kebahagiaan yang Tuhan selipkan dalam proses selama 9 bulan 10 hari itu. Sama halnya suka dan duka yang mewarnai hidup manusia, dalam masa kehamilan dan persalinan pun, Tuhan juga menyelipkan berbagai warna dan rasa di dalamnya.
"Aku terkadang heran, bagaimana perut yang rata, kemudian bisa mengembang sebesar ini. Apakah benar-benar tidak sakit?" tanya Anin kini.
Dengan cepat Sara pun menggelengkan kepalanya, "Tidak Kak, ini sama sekali tidak sakit," jawab Sara.
Sebab pada kenyataannya memang Sara tidak mengalami kesakitan selama mengandung. Semua berjalan biasa saja, dan Sara juga merasa bahwa dirinya sangat sehat.
"Kamu siap melahirkan nanti, Sara?" tanya Anin lagi.
__ADS_1
Lagi-lagi Sara mengangguk, "Siap tidak siap, aku harus siap Kak. Lagipula, jika aku tidak siap, jika aku tidak kuat, aku yakin Tuhan yang akan menguatkanku. Memberikan kekuatan bagiku untuk bisa melahirkan bayi ini dengan sehat dan selamat," sahut Sara.
Sekali pun tidak dipungkiri bahwa terkadang Sara merasa takut, tetapi dengan cepat Sara menepisnya. Sara amat percaya bahwa Tuhan yang akan menguatkannya, menolongnya saat bersalin nanti. Lagipula memang itulah doanya selama dia mengandung ini.
Anin kemudian menghela nafasnya, "Andai saja aku bisa berpikiran positif dan kuat sepertimu, Sara ... pada kenyataannya aku hanya seorang Anin yang rapuh," ucap Anin dengan tersenyum getir.
Sara kemudian menatap wajah Anin, "Kak, apa Kakak tidak ingin sembuh juga dari endometriosis itu?" tanya Sara kini.
"Kenapa?" tanya Anin dengan cepat.
"Aku ingin Kakak sembuh," jawabnya. "Aku yakin tidak lama lagi phobia Kakak akan sembuh. Kita bisa upayakan untuk kesembuhan dari endometriosis itu. Mau aku temani ke Dokter Kak?" tanya Sara kali ini.
Mendengar ketulusan Sara dan motivasi yang diberikan Sara membuat Anin lagi-lagi meneteskan air matanya, "Terima kasih, Sara ... hanya aku sendiri pun tidak yakin apakah ini akan sembuh," ucapnya.
"Pasti sembuh, Kak. Sekarang dunia medis sudah berkembang, banyak obat dan alat mutakhir yang ditemukan. Aku yakin kamu akan sembuh, Kak. Jadi, mau Kak aku temani berobat?" tanya Sara kali ini.
Sekali pun Sara begitu ingin Anin sembuh, tetapi Sara juga tidak ingin memaksa Anin. Dia hanya mengatakan bahwa dia akan menemani Anin untuk berobat.
"Thanks Sara, kamu begitu baik," ucap Anin.
"Sama-sama, Kak ... aku akan menjadi orang yang berbahagia jika kamu sembuh," sahut Sara kali ini.
Anin lantas tersenyum getir, "Ucapanmu seperti Belva, Sara. Dia juga selalu mendorongku untuk berobat dan dia juga mengatakan bahwa dia akan menjadi orang yang berbahagia jika aku sembuh," cerita Anin kini.
Wanita itu kemudian membawa matanya untuk menatap wajah Sara, "Di saat aku hampir menyerah dengan hidupku, dengan sakit yang kuderita, sekarang kamu justru menyemangatiku untuk sembuh," ucap Anin kali ini.
Anin kemudian kembali tersenyum, "Hmm, mungkin aku memang harus mencoba berobat lagi. Saat aku sembuh nanti, kita rayakan bersama yah?" ajak Anin kali ini.
__ADS_1
Sara kemudian mengangguk, "Iya Kak, semangat ya Kak," balasnya.
Sungguh dalam hatinya Sara benar-benar berharap bahwa Anin mau sedikit berusaha kali ini. Takdir bisa kita ubah jika kita mau, caranya adalah dengan berusaha.