
Sara kian bertanya-tanya di mana Anin sesungguhnya. Sebab, dirinya ingin bertemu dengan Anin, tetapi saat Sara menanyakannya yang ada Belva hanya mengatakan bahwa dirinya akan mengantarkannya. Kian bertanya-tanyalah Sara dalam hatinya, di mana Anin sesungguhnya?
“Kamu tidak ingin makan dulu?” tanya Belva kepada Sara.
“Tidak Pak … aku tidak lapar,” sahut Sara.
Saat film kartun anak-anak masih diputar, dengan Evan yang tertidur pulas di pelukan Sara. Sementara Belva dan Sara masih sibuk untuk mencairkan suasana. Berkali-kali membangun komunikasi untuk membuat hubungan keduanya lebih hangat tentunya.
“Kamu senang bertemu Evan?” tanya Belva kini.
Tentu saja pertanyaan Belva bersifat retoris. Akan tetapi, bagi Belva itu jauh lebih baik daripada hanya terus-menerus diam.
“Senang Pak, makasih sudah mengizinkan Evan bertemu denganku,” ucap Sara.
“Sebenarnya aku sudah lama mencarimu, Sara … bahkan sejak kamu meninggalkan rumah ini. Selang tiga hari aku mencarimu seperti orang gila. Saat menerima ASIP yang kamu kirimkan juga hanya tertera namamu di sana, tanpa ada alamat dan nomor handphonemu. Apa kamu tidak ingin berhubungan lagi denganku?” tanya Belva kali ini.
Apa yang diucapkan Belva ada benarnya, karena dulu Sara mengganti nomor handphonenya adalah untuk tidak berhubungan lagi Belva. Rupanya pria itu bisa membaca jalan pikiran Sara.
Bak mengikuti kata hatinya, Belva lantas menyandarkan kepalanya di bahu Sara.
“Aku kangen kamu Sara … kangen kamu,” ucap Belva.
Pria itu bahkan memejamkan matanya sekarang dan membiarkan kepalanya masih bersandar di bahu Sara. Sebenarnya Belva pun juga merindukan Sara, tetapi selama ini pria itu hanya bisa diam dan tidak pernah mengucapkan perasaan rindunya kepada siapa pun. Kini, Belva lagi-lagi mengucapkan bahwa dirinya begitu merindukan Sara.
Sara menggigit bibir bagian dalamnya sendiri, kenapa sekarang Belva dengan mudahnya mengatakan perasaannya kepada Sara. Dulu saja, pria itu nyaris hanya diam dan tidak pernah mengutarakan perasaannya. Jika pun mengatakan Belva hanya akan mengatakan bahwa dirinya mempedulikan Sara.
Rupanya tidak berselang lama, Evan pun terbangun. Tentu dengan bangunnya Evan, membuat Belva menarik kembali kepalanya dari
__ADS_1
“Mama masih di sini? Evan mimpi, Mama pergi jauh dari Evan,” ucap anak itu dengan memeluk Sara dengan begitu eratnya.
“Tidak Evan, Mama masih di sini,” balas Sara kemudian.
“Mama, tadi mau ketemu sama Mama Anin kan? Ayo Pa, kita mengunjungi Mama sekarang,” ajak Evan.
Belva melingkar jam di arloji miliknya kemudian berdiri dan mengajak Evan dan Sara. “Ayo, kita ke sana,” ucap Evan.
Ketiganya berjalan dan memasuki mobil. Belva sendiri yang mengemudikan mobilnya. Sara cukup terkejut karena mobil yang Belva kemudikan perlahan menjauh dari pusat kota dan menuju ke arah Karawang, Jawa Barat. Sara pun bertanya-tanya di manakah sekarang Anin berada.
Kian terkejut, saat mobil Belva rupanya berhenti di sebuah pemakaman mewah yang bertajuk Memorial Park di daerah Karawang - Jawa Barat. Belva mengajak Evan dan Sara untuk turun dari mobil.
“Pak Belva, ini apa maksudnya?” tanya Sara. Hatinya seketika terasa sesak dan tidak enak. Dirinya mencari Anin, tetapi justru sekarang Belva membawanya ke Memorial Park. Yang benar saja, mengapa bisa demikian.
Beberapa saat berjalan, akhirnya Belva menunjukkan sebuah makam dengan nisan yang tertulis nama ‘Anindiya’ melihat tanggal dan tahun yang tertera di sana, berarti sudah hampir 2 tahun lamanya Anin telah tiada.
“Kak Anin … kenapa Kakak pergi, Kak? Kenapa Kakak pergi padahal aku yakin dan memohon kepada Tuhan supaya Kakak sehat dan bahagia,” ucap Sara dengan terisak.
Melihat Sara yang menangis, Evan pun langsung memeluk Mamanya itu.
“Mama … Mama jangan menangis. Kalau Mama menangis, Evan ikut menangis,” ucap Evan yang rupanya benar-benar menangis sekarang.
Sara masih terisak. Tidak mengira jika dalam waktu empat tahun begitu banyak waktu yang berlalu. Bahkan dia pun melewatkan kepergian Anin. Sungguh, Sara seakan kehabisan kata-kata sekarang. Hanya air mata yang bisa menggambarkan betapa sakit dan perih hatinya sekarang ini.
Belva pun turut berjongkok di depan pusara itu, dan merangkul bahu Sara yang bergetar.
“Aku pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dua tahun yang lalu, dia mengatakan ingin mencoba memiliki keturunan karena Dokter mengatakan masih ada peluang untuknya dengan memiliki keturunan dengan mengonsumsi obat kesuburan. Sehingga kami kembali membuat acara jalan-jalan bersama ke Bali. Usai itu, nyatanya kesehatan Anin terus menurun. Dia mengeluh sakit di pinggul. Hingga suatu hari Anin dilarikan ke Rumah Sakit karena mengalami pendarahan di duburnya, perutnya membengkak, kakinya ikut membengkak. Dokter menyebutnya Asites, lebih tepatnya terdapat kanker ganas di indung telurnya. Selama empat hari Anin dirawat di Rumah Sakit, akhirnya … dia berpulang,” cerita Belva dengan rasa sesak di dada. Terbayang lagi saat dia harus kehilangan Anin untuk selamanya.
__ADS_1
Sara mendengarkan cerita Belva, tidak menyangka bahwa Tuhan memanggil umat-Nya yaitu Anin untuk pulang dan menghadap-Nya terlebih dahulu. Sara yang mendengarkan cerita Belva saja turut terisak. Tidak menyangka dengan semua yang terjadi dengan begitu cepat.
“Lalu, Evan?” tanya Sara.
“Aku yang mengasuhnya dengan bantuan babysitter. Terkadang jika dia tantrum, aku lebih memilih bekerja dari rumah atau mengajaknya ke kantor,” jelas Belva.
Ya Tuhan, mendengarkan semua itu ada rasa sakit yang menyeruak begitu saja di dalam dada Sara. Bagaimana mungkin wanita yang dia kenal sangat baik, nyatanya sudah berpulang ke Rahmatullah. Di hari terakhirnya pun, Sara tidak hadir dan memberikan penghormatan terakhir untuk wanita yang sudah seperti kakaknya sendiri itu.
“Maaf,” ucap Sara dengan menyesal.
Belva dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu meminta maaf, Sara … semua itu sudah menjadi takdir-Nya, dan takdirku bersama Evan. Lagipula, sekarang dia sudah bahagia di sana, tidak mengalami sakit lagi karena Allah sudah mengangkat penyakitnya. Usai kehilangan Anin, berbulan-bulan lamanya aku terpuruk. Namun, aku harus bangkit demi Evan. Aku harus membesarkannya, mengasuhnya, dan memberikan kasih sayangku untuknya,” cerita Belva lagi.
Evan yang masih menangis dan terisak di dada Sara, perlahan menatap wajah Sara.
“Mama, maukah Mama hidup dan tinggal bersama Evan? Evan sayang Mama loh … Evan mau punya Mama,” ucap Evan dengan tiba-tiba.
Sungguh rasanya luar biasa, Sara tidak tahu bagaimana menjawab permintaan putranya sekarang ini. Mendapati fakta bahwa Anin telah tiada saja membuat dada Sara begitu sakit dan sesak rasanya.
Beberapa saat berada di sana, Belva, Sara, dan Evan lantas menaburkan bunga dan menyiramkan air mawar di atas pusara Anin.
“Lihatlah, Anin … sosok yang kamu tunggu-tunggu, sekarang sudah datang. Aku sudah memenuhi janjiku untuk membawa Sara. Hanya saja, kalian tidak bisa bertemu secara langsung,” gumam Belva dengan lirih.
“Maksud Pak Belva?” tanya Sara dengan kian bingung dan terpukul.
“Permintaan terakhirnya adalah bisa melihatmu Sara. Memintamu untuk mengasuh dan membesarkan Evan,” jawab Belva.
Tangis Sara kian pecah, tidak mengira bahwa itu adalah permintaan terakhir Anin. Sungguh, Anin adalah sosok wanita yang begitu baik baginya. Hanya saja saat itu, Sara memilih pergi karena tidak ingin menjadi orang ketiga bagi rumah tangga Evan bersama Anin.
__ADS_1